Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 21


__ADS_3

Hingga Nita saat itu berada di titik paling rendah dalam hidupnya, Nita pulang untuk melihat kondisi rumahnya yang hancur itu namun bagai di sambar petir di siang bolong.


Saat Nita pulang reruntuhan itu sedang di bereskan dan banyak sekali orang orang di sana yang terlihat seperti pekerja bangunan.


"Ada apa ini" tanya Nita pada semua orang yang ada di sana.


"Maaf Nyonya anda siapa" tanya seseorang yang sejak tadi mengatur disana.


"Saya Nita pemilik tanah dan rumah ini" ucap Nita.


"Jangan ngaku ngaku Nyonya, tuan kami sudah membeli ini" ucap Laki laki itu.


"Anda jangan menghina saya pak, saya pemilik bangunan ini dan saya tak merasa menjualnya" ucap Nita geram.


"Benar kata tuan yang menjual rumah ini, ada orang gila yang mengaku ngaku pemilik rumah ini padahal rumah ini dulunya punya tuan yang baik itu" ucap laki laki itu pada temannya.


"Baiklah aku mau melihat buktinya" tanya Nita.


"Anda kira kami berbohong Nyonya" ucap laki laki itu yang langsung menyerahkan sebuah map pada Nita.


Nita melihatnya dengan sangat teliti dan benar saja rumah itu sudah di rumah dari Topan Arya Wijaya menjadi nama pemilik yang baru.


Bahkan di sana pun tertulis kalau tanah itu di beli dengan harga yang pantastis.


"Ini tidak mungkin" gumam Nita tak percaya.


"Pergilah aku sibuk" ucap laki laki itu mengusir Nita.


"aku harus pergi ke kantor mas Topan" ucap Nita yang langsung pergi dari sana menuju kantor Topan yang tak jauh dari sana.


Nita sampai di kantor Topan dan semua masih sama seperti dulu namun nama perusahaan itu menjadi lain, yang kemarin bernama Topan Wijaya tetapi sekarang berubah menjadi Medina Skin.


Nita langsung masuk kedalam perusahaan itu tak peduli walau pun ada pak satpam yang menghentikannya.


"Zahra" panggil Nita pada sekertaris suaminya itu.


"Bu Nita" ucap Zahra senang karena melihat mantan bosnya itu.


"Dia tamu saya" ucap Zahra pada pak Satpam yang tak memperbolehkan Nita masuk.


"Zahra aku mohon bisa kita bicara sebentar" tanya Nita.


"Bisa Bu silahkan kita ke kantin saja" ucap Zahra.


Mereka berdua berada di kantin perusahaan itu.


"Zahra siapa Medina? Kenapa perusahaan ini berubah nama?" tanya Nita.


"Bu tenang bu" ucap Zahra yang melihat Nita sangat marah.


"Bukannya ibu yang sudah menjual perusahaan ini" ucap Zahra.


"Apa" ucap Nita terkejut.


"Aku gak menjualnya" ucap Nita.


"Tapi Bu katanya perusahaan ini sudah pak Topan jual pada Bu Medina pemilik baru perusahaan ini Bu, untung saja Bu Medina baik dia mau mempekerjakan semua karyawan bu" ucap Zahra.


"Bisa aku bertemu dengan Bu Medina itu" tanya Nita yang ingin langsung bertanya pada pemilik yang sekarang.


"Bisa bu" ucap Zahra dan langsung mengantarkan Nita menuju ruangan Bu Medina itu.


Nita dengan langkah tegap berjalan pada ruangan Medina yang dahulu ruangan ini adalah punya Topan, saat Nita masuk kedalam ruangan itu sangat berbeda apa lagi ruangan itu di Desains se bagus mungkin.


"Ada apa" tanya Medina yang heran melihat kedatangan Nita yang asing baginya.


"Bu, Bu Nita mau bertemu dengan Anda" ucap Zahra.


"Baiklah bawa dia masuk dan kau pergi saja lanjutkan pekerjaan mu" ucap Medina pada Zahra.


"Baik Bu" ucap Zahra yang langsung pergi dari sana meninggalkan Nita masih berdiri di sana.


"Silahkan Duduk Nyonya" ucap Medina.


"Terima kasih Nyonya, maafkan saya sudah menganggu waktu kerja anda" ucap Nita.


"Tak masalah" ucap Medina.


Nita duduk di sana berhadapan dengan Medina yang ia yakini kalau Medina itu adalah pemilik dari perusahaan itu karena Dia lah yang duduk di kursi paling tinggi di sana.

__ADS_1


"Nyonya ada hal yang mau saya tanyakan, dari siapa Nyonya membeli perusahaan ini" tanya Nita baik baik.


Medina Heran pada Nita karena baru saja mereka ketemu tapi Nita sudah menanyakan hal yang cukup merendahkan Medina.


"Memangnya ada apa" tanya Medina.


"Tidak Nyonya saya hanya ingin tau, karena begini Nyonya satu bulan yang lalu perusahaan ini milik suami saya tapi sekarang perusahaan ini menjadi milik anda, padahal kami tak tau kapan menjualnya" ucap Nita.


"Aku membelinya langsung dari tuan Wijaya bahkan dia sendiri yang menandatangani surat jual belinya" ucap Medina.


"Oh ya" tanya Nita.


Medina mengambil surat sertifikat perusahaan itu yang sekarang menjadi miliknya, Nita melihatnya dan cukup terkejut.


"Nyonya maaf saya sedang sibuk kalau anda tak ada pembicaraan lagi silahkan anda pergi" ucap Medina mengusir halus Nita.


"Maaf dan terima kasih" ucap Nita yang langsung pergi dari sana.


Nita kembali lagi ke rumah sakit yang dimana Topan sedang di rawat di rumah sakit itu.


Dan betapa bersyukurnya Nita saat melihat kalau Topan sudah siuman dengan anak anaknya yang masih menemaninya di sana.


"Nit dari mana kau" tanya Topan.


Nita menceritakan semuanya pada Topan dari rumah sampai perusahaan yang sudah berada di tangan orang lain, Topan mendengarkan perkataan Nita dengan menghela nafas.


"Tak apa Nit biarkan mereka mengambilnya" ucap Topan.


"Tapi mas" ucap Nita.


"Dimana Mamah" tanya Topan.


"Mamah sudah tiada mas" ucap Nita.


Beberapa hari yang lalu Topan mulai bisa melupakan Mamah Lynda, Topan menelpon anak buahnya yang dia tugaskan di perusahaan Wijaya Group.


Ternyata perusahaan itu masih aman bahkan para penjahat itu tak tau kalau itu masih milik Topan karena yang mereka tau pemilik perusahaan itu adalah Rayhan.


"Syukurlah perusahaan itu masih ada" ucap Topan.


Topan meminta pada anak buahnya untuk menganti perusahaan itu menjadi nama Wiguna Group karena Topan tak mau para penjahat itu menemukannya.


Saat itu Rayhan dan Aziya mereka Nita titipkan ke pada Puput dan Arka karena Mereka akan bersekolah di kota.


Kalau libur datang Aziya dan Rayhan akan pulang ke kampung.


Begitulah Rayhan dan Aziya di besarkan oleh Puput dan Arka tanpa kasih sayang Nita karena mereka berjauhan.


FLASH BACK OFF..


Semua orang yang mendengar cerita itu hanya sedih saja, apa lagi Sarah dia tak percaya kalau teman lamanya itu akan mengalami masalah sebesar itu.


"Penjahat si*lan kenapa mereka melakukan itu padamu" ucap Sarah marah.


"Aku tak tau karena selama ini mas Topan juga sudah mencarinya tapi tak ada yang mengetahuinya" ucap Nita.


"Aku tau mah" ucap Rayhan datar yang sejak tadi hanya diam saja.


"Siapa" serempak.


"Namanya Dion" ucap Rayhan mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto yang pernah Elpan berikan padanya.


"Apa ini orangnya, biar aku yang akan memberikan dia pelajaran" ucap Hilman.


"Paman sekarang dia tak ada mungkin orang ini sudah mengganti identitasnya" ucap Rayhan.


Topan melihat foto yang ada di ponsel putranya itu.


"Dion" gumam Topan.


"Pah kau mengenalinya" tanya Rayhan pada Topan.


"Ya dia Dion bahkan dulu kita pernah akan kerja sama tapi dia membatalkan sebelum bertemu, tapi sudah lama hal itu terjadi saat Rayhan baru lahir" ucap Topan.


"Apa tapi kenapa bisa" tanya Hilman.


"Aku gak tau" ucap Topan.


"Aku sudah cari tapi tak ada" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Biar paman yang akan bantu mencarinya" ucap Hilman.


"Ya Dad cari sampai dapat" ucap Sarah.


"Nit maafkan aku, aku gak tau kalau selama ini kau kesusahan maaf karena tak ada di setiap kesedihanmu kalau aku tau sejak awal aku akan membantumu mungkin aku akan membawa kalian juga ke kanada" ucap Sarah.


"Tak masalah Sarah sudah terjadi juga" ucap Nita.


Lama mereka berbincang bincang, dan Rayhan memilih masuk kedalam kamarnya yang sekarang sudah sedikit bagus karena sudah di renovasi.


Tanpa Rayhan ketahui Alena dan Aziya masuk kedalam kamarnya, mata Rayhan terpejam karena dia sedang memikirkan sesuatu.


Saat mata Rayhan terbuka dia sangat terkejut saat melihat wajah adiknya yang sekarang sudah berada tepat di depan wajahnya.


"Aaaaa Anj* lu" umpat Rayhan.


"Kak kau sangat kasar" ucap Aziya.


"Ada apa kalian kemari" tanya Rayhan.


"Alena mau bicara denganmu" ucap Zia.


"Bicara apa" tanya Rayhan.


"Tuan Ray, kita jadi kan nikah ayolah kita menikah ya" ucap Alena pada Rayhan.


"Kita gak akan punya restu, lagian aku juga gak akan menikah" ucap Rayhan.


"Kau jahat tuan Ray, ayolah kita kawin lari saja" ucap alena.


"Kau pikir aku bod*h Alen aku takut paman akan mencekik ku kalau membawa mu kawin lari" ucap Rayhan.


"Baiklah kalau begitu kita lakukan hal lain, tanam benih mu di rahimku biar kedua orang tua kita merestui kita" ucap Alena.


Rayhan membelalakan matanya saat mendengar hal itu, sedangkan Zia dia langsung menarik Alena karena sekarang Alena sudah mau membuka bajunya.


"Alen jangan lakukan itu" ucap Zia memarahi Alena.


"Kau Gil* Al" ucap Rayhan.


"Ayolah tuan Ray menikah lah denganku" ucap Alena memaksa.


"Aku gak bisa, keluar dari kamar ku atau aku akan marah" ucap Rayhan.


"ayo keluar Alen atau tidak kakak akan marah" ucap Zia menarik Alena keluar dari kamar kakaknya.


"Lalu bagaimana pernikahan ku Zia" tanya Alena merengek pada Zia.


"Kau pikir hanya pernikahanmu saja yang akan batal, pernikahan aku juga akan batal Alen karena kakak tak akan menikah" ucap Zia.


"Lalu bagaimana sekarang" ucap Alena.


Rayhan mendapat telpon dari Lukas kalau ada klien yang mau menemuinya besok, kalau Rayhan terlambat sedikit saja sudah bisa di pastikan kalau Klien itu akan membatalkan kontrak mereka.


"Mah aku akan pulang ke kota" ucap Rayhan.


"Kenapa pulang, menginap lah di sini Ray" ucap Nita.


"Tidak mah besok aku ada kerjaan" ucap Rayhan.


"Baiklah hati hati di jalan sayang" ucap Nita.


"Pah aku akan pulang" ucap Rayhan pada papahnya.


"Kenapa pulang menginap saja di sini" ucap Topan.


"Tidak pah aku ada pekerjaan besok" ucap Rayhan.


"Baiklah hati hati di jalan" ucap Topan.


"Ya pah, Zia aku menginjinkan kamu cuti selama dua hari" ucap Rayhan pada Zia.


"Ya kak" ucap Zia.


Sedangkan Alena hanya menatap memohon pada Rayhan, dan Rayhan tak memperdulikannya karena batal menikah itu adalah keinginan Rayhan dari kemarin kemarin dan sekarang Rayhan sangat bahagia karena bisa lepas dari gadis bar bar seperti Alena.


"Miris sekali aku akan menikahi teman kecilku sendiri" batin Rayhan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2