Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 124


__ADS_3

Rayhan bangun dalam keadaan berantakan bahkan sekarang dia tidur di tangga paling atas.


"Astaga bagai mana kalau aku jatuh" gumam Rayhan.


Rayhan bangun lalu ke kamar mandi karena sekarang dia akan menemui Raya dan mencoba menjelaskan semuanya.


Rayhan dengan cepat bersiap karena Sekarang sudah pukul enam pagi jadi Rayhan tak mau kalau dia tak bertemu dengan Raya di rumah Bu Ajeng.


Karena kalau Raya sudah berangkat, Rayhan tak mungkin bisa menemui Raya di kampus karena banyak penjaga di sana.


Rayhan langsung mengendarai mobil nya menuju kediaman Widirdja,


Hanya sampai beberapa menit saja Rayhan sampai di sana.


Rayhan sampai di sana pukul enam lewat dua puluh menit, jadi Rayhan bisa menempuh jarak kurang lebih enam kilo meter dengan waktu dua puluh menit saja.


Untung saja keadaan jalanan tak terlalu macet jadi Rayhan bisa cepat sampai di sana.


"Pak tolong bilang pada Raya aku datang" ucap Rayhan pada satpam itu.


"Tuan aku akan tanya kan dulu kalau Nona tak mengijinkan aku tak tau" ucap satpam.


"Ya" ucap Rayhan.


Satpam itu masuk ke dalam rumah karena akan memberi tau Raya kalau Rayhan datang.


"Nona maaf ada tuan di luar" ucap satpam itu.


"Tuan siapa" tanya Raya.


"Tuan Rayhan" ucap satpam.


"Pak aku akan ke sana" ucap Raya.


"Baik nona" ucap Satpam.


Satpam itu kembali lagi ke tempat nya.


"Tuan kata Nona tunggu saja dia akan datang" ucap satpam.


"Syukur lah akhirnya Raya mau bertemu juga" ucap Rayhan.


Raya menghembus kan nafas nya kasar, dia sebenarnya tak mau menemui Rayhan tapi untuk sekarang Raya akan menjelaskan pada Rayhan bahwa dia ingin pisah dan Rayhan jangan menemuinya lagi.


Raya berjalan ke arah gerbang rumah nya.


"Ray tolong dengar kan aku dulu" ucap Rayhan.


"Apa lagi yang mau kau jelaskan" tanya Raya.


"Ray tolong beri aku kesempatan aku akan jelas kan semuanya" ucap Rayhan.


"Mas semua sudah jelas, aku sudah tak mau bersama dengan mu, mas kalau memang kau ingin mencari wanita yang bisa menerima mu maka silahkan saja aku tak akan melarang" ucap Raya.


"Tapi aku mau kau" ucap Rayhan.


"Maaf mas aku tak bisa menerima mu" ucap Raya.


"Aku sudah berubah sekarang, markas ku aku berikan pada Lukas dan sekarang aku bukan mafia lagi" ucap Rayhan.


"Tapi mas kau sudah salah" ucap Raya.


"Ayo lah Raya tolong pahami posisi aku" ucap Rayhan.


"Maaf mas aku tak bisa, aku harap kau bisa berhenti menemui ku dan berhenti menghubungi aku" ucap Raya.


"Tapi Raya" ucap Rayhan.


"Aku akan segera urus perceraian kita" ucap Raya dengan ekspresi datar seolah tak terjadi apa apa.


Tapi Rayhan bisa tau kalau Raya habis menangis apa lagi mata Raya sembab.


"Kau bisa bicara begitu Raya lalu bagai mana aku" tanya Rayhan.

__ADS_1


"Terserah apa mau mu aku tak peduli" ucap Raya.


"Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan mu kembali" ucap Rayhan.


"Dan aku tak akan bosan menolak mu" ucap Raya.


Rayhan pergi dari sana meninggal kan Raya yang masih berdiri mematung di sana.


Setelah Rayhan pergi dari sana Raya tak bisa menahan air matanya, sungguh Raya tak bisa jauh dari Rayhan apa lagi pura pura tak perduli pada Rayhan itu sangat sulit bagi raya.


Air mata Raya terjatuh membasahi pipi nya, dia berlari menuju ke kamar nya lagi untuk merenungi nasibnya di sana.


Raya mencoba menenangkan diri.


Fikri datang ke sana menatap adik tirinya yang sekarang tengah menangis.


"Ada apa Ray" tanya Fikri.


"Kau tau tadi mas Ray datang" ucap Raya.


"Lalu" tanya Fikri.


"Dia meminta kesempatan pada ku" ucap Raya.


"Ray aku saran kan kalau kau memang sayang padanya lebih baik kau maafkan saja dia, Ray akan sangat menyakit kan kalau orang yang kita sayang di ambil orang lain" ucap Fikri.


"Apa nasib ku ini adalah karma ku karena sudah meninggal kan mu" tanya Raya.


"CK tak begitu aku ikhlas lagi pula kita tak bisa menikah karena kau adalah adik ku" ucap Fikri.


"Tapi Fik aku tau kau dulu sakit hati" ucap Raya.


"Tak ada lah aku bisa cepat move on" ucap Fikri.


"Aku ingin memaaf kan nya tapi Bagai mana lagi aku masih ingat bagai mana dia menghabisi orang itu tanpa ampun" ucap Raya.


"Ray pikirkan saja apa yang tadi aku katakan" ucap Fikri.


"Aku akan pikirkan" ucap Raya.


"Tapi aku tak mau ke kampus sekarang" ucap Raya.


"Ayo lah" ucap Fikri.


"Ya sudah ayo berangkat" ucap Raya yang langsung menghapus air matanya dan berangkat ke kampus bersama dengan Fikri.


Sedangkan Rayhan sekarang dia tengah berada di meja kantor nya dia sekarang tengah menyibukkan diri supaya tak terlalu mengingat ingat Raya.


Karena sekarang Lukas tak ada jadi Rayhan lah yang mengurus semuanya.


"Kau bisa Ray kau bisa tanpa memikirkan Raya" ucap Rayhan bermonolog sendiri.


Sedangkan di kampus sekarang tengah di adakan tes urine untuk menentukan kalau mahasiswa tak ada yang positif nar koba.


Semuanya di tes bahkan Raya, Rahma dan Julia juga ikut di tes.


Setelah selesai mereka duduk di kantin karena menunggu hasil nya keluar mereka jajan dulu terlebih dahulu.


"Kenapa harus di adakan tes urin" tanya Julia.


"Entah mungkin karena di kampus ini banyak yang mengonsumsi nar koba" ucap Rahma.


"Kau benar" ucap Julia.


Rahma memberikan kode pada Julia kalau Sekarang Raya terlihat murung sekali.


"Ada apa Ray" tanya Julia.


"Ya Ray cerita saja" ucap Rahma.


"Aku mau pisah dengan mas Ray" ucap Raya.


"Hah kenapa" tanya Julia dan Rahma serempak.

__ADS_1


"Mas Ray adalah Mafia dan kalian tau kan apa pekerjaan mafia" ucap Raya.


"Lalu sekarang bagai mana" tanya Rahma.


"Entah aku akan mengurus perceraian nya nanti" ucap Raya.


"Apa kau sudah tak cinta pada Mas Ray" tanya Julia.


"Entah lah Jul aku bingung sekarang di sisi lain aku tak mau jauh dari nya tapi mau bagai mana lagi aku tak suka dengan pekerja nya" ucap Raya.


"Ray kau tanya saja pada mas Ray kalau dia mau berubah kamu mau kembali pada nya tapi kalau dia tak mau berubah ya kamu tinggal pilih mau apa nantinya" ucap Julia.


"Ya Julia benar Ray" ucap Rahma.


"Aku hanya tak mau kalau anak ku nantinya tau kalau ayah nya itu seorang mafia" ucap Raya.


"Kau hamil" tanya Julia.


"Bukan tapi aku tak mau" ucap Raya.


"Ray kau terlalu berfikir jauh sekali, siapa tau saja kalau Mas Ray berubah" ucap Julia.


"Tapi Jul" ucap Raya.


Seorang Dosen datang ke sana.


"Hasil sudah keluar mohon mahasiswa segera hadir" ucapnya.


"Siap Pak".


Raya, Julia dan Rahma datang ke sana berkumpul bersama dengan yang lain.


"Aku mulai bosan sekarang" ucap Julia.


"Sebentar lagi kita pulang" ucap Rahma.


"Yang namanya di panggil dia positif nar Koba" ucap Dosen di depan para mahasiswa semua.


"Untuk laki laki nya, ada Rida, Fikri, Kevin, Dendi, Andi, Wildan, Usep, Jaka, Wendi, Cepi, Januar, Vian, dan untuk wanitanya ada Shalsa, Nuri, Wanda, Raya, yang nama nya di panggil mohon segera ke kantor dosen" ucap Dosen.


"Raya" ucap Raya terkejut.


"Apa di kelas lain ada Raya" tanya Rahma.


"Entah" ucap Raya.


"Apa Raya ini pak Raya teman kita" tanya Julia pada Dosen.


"Ya apa ada nama Raya selain dia" tanya Dosen.


"Hah Raya kau positif pengonsumsi nar Koba" ucap Rahma.


"Tapi aku gak pernah mabuk" ucap Raya.


Raya mengingat ingat lagi kejadian yang pernah Raya alami, dan benar saja Raya teringat dengan kejadian malam itu bersama dengan Rayhan.


"Astaga" gumam Raya.


"Ayo Raya kita ke kantor Dosen" ucap Shalsa ketus.


"Ya" ucap Raya tak kalah ketus.


"Aku tak sangka kau pengonsumsi nar Koba" ucap Shalsa.


"Terserah" ucap Raya.


Semua kumpul di kantor Dosen, Raya hanya menunduk saja.


"Ray kau mengonsumsi" tanya Fikri marah.


"Ya Fik aku tak sengaja" ucap Raya.


"CK" Fikri berdecak kesal.

__ADS_1


"Apa mamah akan datang" tanya Raya.


"Ya aku sudah berikan nomor mamah pada dosen" ucap Fikri.


__ADS_2