
Rayhan mengantar Raya ke kampusnya, setelah sampai di kampus Raya menatap pada Rayhan.
Tanpa Rayhan sadari tangan Raya menyodor pada Rayhan.
"Pak Ray" ucap Raya.
Rayhan yang tak paham pada tangan Raya yang menyodor pun hanya mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Bukan pak" ucap Raya yang langsung menyalami tangan Rayhan dan membuat Rayhan terkejut.
"Aku tak akan minta uang mu" ucap Raya yang hendak turun.
Tangan Rayhan menarik tangan Raya.
"Tunggu Raya ambil saja uang ini, buat bekalmu" ucap Rayhan.
"Tidak usah pak Ray aku masih punya uang dari mamah" ucap Raya menolak.
"Ambil saja Raya, sudah menjadi kewajibanku untuk menafkahimu" ucap Rayhan.
"Baiklah, terima kasih pak Ray" ucap Raya yang langsung turun dari mobil dan masuk kedalam kampusnya.
"Raya kau sangat menggemaskan" gumam Rayhan sambil tersenyum.
Rayhan kembali mengemudikan mobilnya menuju kantornya, karena hari ini pekerjaan sangat banyak di kantor apa lagi Rayhan harus mencari banyak uang untuk mengganti kerugian perusahaan karena ulah Zia.
Rayhan masuk kedalam perusahaannya, seperti biasa Rayhan akan di hormat oleh semua karyawannya.
"Lanjut kan kerja" ucap Rayhan.
Rayhan duduk di kursi kebesarannya, kepalanya sangat pusing saat melihat banyak berkas dan file yang belum dia baca.
"Apa Lukas sudah pulang" gumam Rayhan.
📞📞
..."Lukas apa kau sudah pulang" tanya Rayhan....
..."Sudah tuan, tapi saya mau ijin untuk hari ini tuan karena saya sangat mengantuk" ucap Lukas....
..."Ya tak masalah" ucap Rayhan....
..."Terima kasih tuan" ucap Lukas....
..."Sama sama"....
📞📞
"Aku harus mengerjakannya sendirian" gumam Rayhan.
Setelah lama Rayhan bertatap dengan Layar laptop, akhirnya sekarang waktunya istirahat Rayhan langsung mengambil kunci mobilnya dan hendak menjemput Raya.
{Aku akan jemput} pesan singkat dari Rayhan.
{Ya} balas Raya.
Rayhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, jarak kantor dan kampus Raya cukup jauh tapi Rayhan sempatkan untuk menjemput Raya karena sekarang Raya sudah menjadi kewajiban Rayhan.
Rayhan sampai di kampus Raya disana hanya ada Raya berdiri sendirian, menunggu jemputan karena sadar kalau suaminya datang Raya langsung masuk kedalam mobil.
"Raya kenapa kau menunggu sendirian" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Aku sekarang memang sendirian pak Ray, Rahma sudah pulang di jemput supirnya dan Julia dia marah padaku" ucap Raya.
"Kenapa marah" tanya Rayhan.
"Karena kita menikah, kau tau kan kalau Julia sayang pada mu" ucap Raya.
"Sayang" gumam Rayhan tersenyum tipis.
"Kenapa kau tak bilang saja kalau aku memang cinta padamu dan tak cinta pada Julia" ucap Rayhan.
"Ya tapi dia bilang aku penghianat" ucap Raya.
"Besok aku akan bicarakan masalah ini dengannya" ucap Rayhan.
"Wah benarkah" tanya Raya yang di balas anggukan kepala oleh Rayhan.
"Apa kau mau pulang atau ikut ke perusahaanku" tanya Rayhan.
"Apa aku boleh melihat mu kerja pak Ray" tanya Raya.
"Boleh" ucap Rayhan.
Rayhan merasa bersemangat karena selama bekerja Raya selalu ada di dekatnya, walau pun berjarak satu meter tapi Rayhan merasa kalau Raya adalah moodBoster nya.
"Apa pekerjaan mu banyak pak Ray" tanya Raya.
"Ya cukup banyak" jawab Rayhan namun tatapan matanya Fokus pada layar laptop.
"Apa bisa aku bantu" tanya Raya.
Rayhan menatap pada Raya, bukannya meragukan Raya tapi Rayhan tak percaya kalau Raya bisa, padahal dulu juga Raya pernah melamar kerja ke perusahaannya itu tapi Rayhan menolak Raya mentah mentah karena penampilan Raya.
"Aku akan bantu" ucap Raya.
"Kau bisa" tanya Rayhan masih meragukan Raya.
"Tentu" ucap Raya.
Raya mengutak atik laptop Rayhan membuka satu persatu File dan membacanya dengan teliti, karena selama satu bulan ini Raya bekerja dengan Bu Ajeng jadi Raya tau sedikit sedikit tentang pekerjaan kantor.
Rayhan terus memperhatikan apa yang di lakukan Raya, karena takutnya Raya akan melakukan kesalahan pada File yang sudah dia kerjakan selama satu minggu itu.
Lama Raya berdiri di samping Rayhan, kaki Raya terasa pegal karena paham Raya merasa pegal Rayhan pun menarik Raya dan menjatuhkan tubuh ramping Raya di pangkuannya.
"Pak Ray kau apa apaan" tanya Raya.
"Lanjut saja kerjakan" ucap Rayhan.
Brakk.
"Kakak" panggil Zia yang langsung membuka pintu ruangan Rayhan.
Mata Zia terbelalak kaget melihat Raya yang sekarang berada di pangkuan Rayhan.
"Ada apa" tanya Rayhan dingin.
"Kak ya ampun apa kalian tak malu melakukan hal itu, lihat ini kantor" ucap Zia yang langsung menutup pintu ruangan Rayhan.
"Emangnya kami melakukan apa" tanya Rayhan.
"Lihat kakak ipar ada di atasmu" ucap Zia.
__ADS_1
Raya langsung turun dari pangkuan Rayhan dan mendekat pada Zia.
"Kak Zia senang bertemu denganmu" ucap Raya.
"Kak Zia" gumam Zia.
"Jangan panggil kakak aku kan adikmu" ucap Zia.
"Ya tapi tetap saja Kak Zia lebih tua dariku" ucap Raya.
"Pokoknya jangan panggil kakak panggil saja Zia" ucap Zia.
"Yasudah Zia" ucap Raya.
"Kak aku mau pinjam uang, aku mau belanja" ucap Zia.
"Pinjam? Memangnya kapan kau akan kembalikan" tanya Rayhan.
"Kak kau sangat pelit" ucap Zia.
"Baiklah sekarang kan gajian aku ambil gaji ku" ucap Zia.
Rayhan menyodorkan amplop berwarna coklat pada Zia.
"Uang itu sisa pemotongan dari utang mu pada Lukas dan utang mu pada perusahaan karena sudah mengambil uang perusahaan tanpa ijin dan utang mu pada perusahaan sebesar setengah M kurang dua ratus ribu" ucap Rayhan.
"Ck kau sangat itungan, lagian uang itu pun tak aku gunakan karena aku berikan pada Akash" ucap Zia.
"Ya karena kau Bod*h sudah mau di manfaatkan sama laki laki hidung belang itu" ucap Rayhan.
"Kak ayolah" ucap Zia sambil membuka amplop berwarna coklat itu.
"Hah hanya tiga ratus ribu" ucap Zia.
"Ya karena utang mu pada Lukas sebesar dua juta" ucap Rayhan.
"Lalu bagaimana aku belanja" tanya Zia.
"Ajak Raya, aku akan berikan kau uang lima ratus ribu" ucap Rayhan.
"Raya kau mau kan ikut dengan Zia" tanya Rayhan.
"Baiklah ayo kakak ipar" ucap Zia.
"Ayo" ucap Raya sambil mendekat pada Rayhan dan menyodorkan tangannya pada Rayhan.
Karena kelamaan Raya mengambil tangan Rayhan dengan paksa dan menciumnya dengan takzim,
"Ini ambilah kartu ku kau boleh belanja sepuasnya, tapi ingat Zia hanya lima ratus ribu" ucap Rayhan.
"Kau pelit" ucap Zia.
"Kakak Zia bukan Kau" ucap Rayhan.
"Ya kakak Pelit" ucap Zia.
Raya dan Zia pergi dari sana meninggalkan Rayhan yang masih mematung melihat tangannya yang baru saja di cium oleh Raya.
Sedangkan Raya dan Zia saat ini sudah berada di sebuah perbelanjaan yang sangat besar di kota itu.
bersambung
__ADS_1