
Zia kembali ke parkiran mobil disana masih ada Alena yang setia menunggu Zia, Alena bingung melihat wajah Zia yang di tekuk begitu padahal tadi Zia sangat senang.
"Kamu kenapa Zi" tanya Alena.
"Biasa kakak memarahi aku" ucap Zia.
"Marah? Kenapa bisa marah?" tanya Alena.
"Aku menghabiskan uang yang ada di kartu kreditnya" ucap Zia.
"Dia marah" tanya alena.
"Ya begitulah kakak dia pelit" ucap Zia cemberut di hadapan Alena.
"Sudah ayo kita pulang saja, nanti juga tuan Ray pasti tak marah lagi" ucap Alena.
Zia hanya menurut saja pada perkataan Alena, karena baru kali ini Zia punya teman yang seprekuensi dengannya.
Malam harinya Rayhan pulang ke rumah bersama dengan Lukas, Rayhan merasa kasihan pada Lukas karena semalaman dia tak istirahat bahkan dari pagi pun Lukas tak istirahat.
Sesampainya di rumah Rayhan terkejut melihat Aziya dan Alena yang sedang menonton televisi, mereka memakan kuaci namun sampahnya di buat ke sembarang tempat.
"Zia apa apaan ini" tanya Rayhan.
"Apa kak" tanya Zia.
"Kenapa kulit kuacinya kamu buang ke lantai, lihat itu ada asbak bukan kenapa tak pakai itu saja" ucap Rayhan menunjuk Asbak yang sering di pakai Lukas.
"Kakak cerewet" ucap Zia kesal.
Rayhan hanya diam dan pergi ke kamarnya, Rayhan merebahkan dirinya di ranjang kamarnya, rasanya sangat ingin marah pada Zia tapi Rayhan selalu saja mengalah.
Namun tiba tiba Alena datang ke kamar Rayhan, malam ini Alena memakai lingrie berwana merah dengan bahan yang sedikit transparan.
"Mau apa" tanya Rayhan pada Alena yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya.
Namun tanpa Rayhan sangka, Alena sangat bar bar dia langsung mendekat kearah Rayhan dan hendak membuka baju lingrie yang melekat di tubuhnya itu.
"Mau apa kau Ale" tanya Rayhan sambil menjauh dari Alena.
"Ayolah tuan Ray kita lakukan" ucap Alena sambil terus mendekat pada Rayhan padahal Rayhan sudah jelas menghindar darinya.
"Lukassss" teriak Rayhan dari dalam kamarnya karena takut pada Alena yang sekarang semakin bar bar.
Dengan cepat kilat Lukas datang kesana dan langsung membuka pintu kamar Rayhan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" tanya Lukas.
"Lukas bawa gadis ini keluar dari kamarku" titah Rayhan yang sekarang dia sedang berdiri di ranjang untuk menghindari Alena.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Lukas patuh.
Lukas menarik Alena dari sana, namun Lukas sangat kesusahan karena alena memberontak bahkan berteriak membuat telinga Lukas sangat kesakitan.
"Lukas bawa ke kamar tamu kunci dia disana" titah Rayhan.
Karena Alena sangat susah untuk di bawa akhirnya Lukas menggendong tubuh Alena yang sekarang masih sangat berontak.
"Lepaskan aku supir si*lan kau beraninya menyentuh tubuhku" teriak Alena.
Lukas membawa Alena ke kamar tamu yang tak terlalu jauh dari kamar Rayhan hanya terhalang satu kamar saja, Lukas langsung mendudukan Alena di atas ranjang.
"Kau mengacaukan rencana ku saja" gerutu Alena pada Lukas.
"Maaf Nona saya hanya di perintahkan tuan" ucap Lukas.
Lukas kemudian membawa selimut yang ada di dalam lemari kamar itu dan menyelimuti tubuh Alena yang sangat transparan karena memakai lingrie itu.
"Tidurlah aku juga akan tidur" ucap Lukas.
Namun terlintas di pikiran Alena untuk mencoba menggoda Lukas, karena Rayhan saja jual mahal padanya jadi Alena berfikir untuk menggoda.
"Lukas bisa aku minta tolong" tanya Alena dengan suara manja.
"Apa" tanya Lukas.
Lukas mendekat pada Alena, hal itu membuat Alena tersenyum karena supir tampan itu masuk juga kedalam jebakannya, Namun bukannya mengaruk punggung Alena, Lukas malah memberikan Alena alat penggaruk punggung.
Alena terkejut dan juga merasa kesal pada Lukas.
"Aku mau kau yang menggaruknya" ucap Alena sambil bersedih.
"Maaf Nona tapi kita bukan muhrim" ucap Lukas.
"Ck kau Munaf*k Lukas" ucap Alena sambil menangis di hadapan Lukas.
"Jangan menangis nanti tuan menyalahkan aku" ucap Lukas mencoba menenangkan Alena.
Namun Alena memang sangat jahil dia masih menangis malah semakin kencang,
"Baiklah aku harus apa, menggaruk punggung mu" tanya Lukas yang langsung mendekat kearah Alena.
Bahkan mereka sekarang sangat dekat, wajah mereka hanya berjarak lima centi saja, Lukas mengaruk garuk punggung Alena dari balik bajunya.
Namun karena Lukas menggaruknya dengan kasar hal itu membuat Alena kesakitan dan malah semakin menangis.
"Nona aku sudah menggaruk punggung mu tapi kau masih menangis, diamlah Nona nanti Tuan Rayhan marah padaku" ucap Lukas.
"Punggung ku sakit kau yang melakukannya" ucap Alena.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa" tanya Lukas.
"Peluk aku" ucap Alena.
Lukas menatap heran pada Alena, kenapa ada wanita bar bar seperti Alena padahal yang Lukas tau wanita akan takut jika di peluk oleh laki laki tapi beda dengan Alena.
Lukas hanya menurut saja karena tak mau alena semakin menangis karena takut Rayhan akan marah padanya.
Lukas dan alena sekarang sangat dekat bahkan jantung Lukas sekarang sedang tak baik baik saja, tapi Alena malah merasa nyaman berada di pelukan laki laki yang berada di hadapannya itu.
Brakkk.
Zia datang kesana dan melihat adegan itu.
"Aaaaaa oh ya ampun kalian sedang apa" teriak Zia pada Alena dan Lukas.
"Nona aku harap kau tak salah paham, Nona Alena yang memaksa ku" ucap Lukas menjelaskan.
"Hah kalian melakukan hal yang di larang agama" ucap Zia tak percaya.
"Tidak Nona" bantah Lukas.
"Tapi tadi kalian" ucap Zia.
"Nona ayolah jelaskan pada Nona Zia kalau kita tak melakukan apa apa" ucap Lukas.
"Lukas kenapa kau sangat takut, aku tak melakukan apa apa Zia" ucap Alena.
"Lalu kenapa kalian saling memeluk, dan lihat baju mu sangat ***** Alena" ucap Zia.
"Sudah jangan membahas lagi, ayo Zi kita tidur" ucap Alena yang tak merasa bersalah padahal Lukas merasa sangat takut kalau Zia akan salah paham.
"Ayo" ucap Zia mengiyakan ucapan Alena yang mengajaknya ke kamar Zia.
Sedangkan Lukas dia hanya terduduk di ranjang.
"Ya ampun aku tau alasan kenapa tuan menjauh dari Nona Alena padahal Nona Alena sangat cantik dan kaya, namun sayang dia sangat bar bar" ucap Lukas yang sekarang sedang menetralkan kembali detak jantungnya yang tak beraturan itu.
Lukas memutuskan untuk tidur di kamarnya karena tak mau melihat Alena lagi.
Sedangkan Rayhan sekarang dia sudah selesai mandi dan tak lupa Rayhan mengunci kamarnya supaya Alena tak masuk lagi ke kamarnya.
Rayhan menatap pada jalanan dari jendela kamarnya, sangat ramai dan bising walau pun rumah Rayhan tak terlalu dekat dengan jalan raya namun tetap saja bising nya sampai ke rumah Rayhan.
"Malam ini aku bisa tidur di kamar yang empuk tapi bagaimana dengan Raya yang tinggal di kosan, ck kenapa aku malah memikirkan gadis mes*m itu" ucap Rayhan.
.
Bersambung..
__ADS_1