Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 40


__ADS_3

Di dalam mobil yang sedang Lukas kendarai, Zia sejak tadi merajuk karena Lukas membicarakan semuanya pada Rayhan bahkan Lukas menyebutkan nama tempat yang akan Zia datangi.


"Nona jangan marah dan kembalikan ponsel ku" ucap Lukas sambil fokus menyetir mobil.


"Diam dan menyetirlah, mulut mu sangat ember Lukas aku tak sangka ternyata kau sama dengan ibu ibu yang sering menggosip" ucap Zia.


"Ya Nona maafkan saya, saya janji tak akan melakukan hal itu lagi" ucap Lukas.


"Diam" bentak Zia.


Lukas hanya bisa diam dan mengemudikan mobilnya dengan perasaan kesal, karena bisa bisanya Zia melakukan hal itu padanya.


"Untung aku suka kalau tidak, sudah aku kantongi Non Zia" batin Lukas.


Acara pernikahan Raya dan Rayhan sudah selesai Topan dan Nita memutuskan untuk pulang, namun tetap saja Nita tak henti hentinya menghubungi Zia.


"Tak ada jawaban dari Lukas" gumam Rayhan.


"Pak Ray ada apa" tanya Raya menatap laki laki yang baru saja menjadi suaminya siang tadi.


"Zia hilang Ray entah kemana" jawab Rayhan.


"Kemana Kak Zia, Pak Ray" tanya Raya.


"Kata Lukas mereka ke hotel Xxxx, aku tak tau letaknya dimana tapi yang aku hanya ingin tau kenapa Zia mengajak Lukas kesana" ucap Rayhan.


"Pak Ray coba kau cari, kasihan Kak Zia takutnya dia kenapa kenapa" ucap Raya.


"Tapi Raya aku tak tau tempatnya" ucap Rayhan.


{ tuan, jangan cemas Non Zia sekarang baik baik saja bersama saya, dia ingin ke hotel Xxx karena ingin menemui pacarnya} pesan dari Lukas pada ponsel Rayhan.


"Syukurlah kalau Zia baik baik saja" ucap Rayhan.


"Apa dia sudah memberi kabar" tanya Raya.


"Bukan Zia tapi Lukas" ucap Rayhan.


"Sekarang sudah malam ayo kita tidur" ucap Rayhan.


Raya langsung menatap tak percaya pada Rayhan, karena yang sekarang berada di pikiran Raya adalah malam ini mereka akan menghabiskan waktu bersama.


"Tapi aku belum siap" ucap Raya.


"Kalau begitu bersiaplah" ucap Rayhan enteng.


Raya menatap pada Rayhan dengan tatapan penuh arti karena dalam pikirannya malam ini dia akan melepas mahkota kesuciannya untuk Rayhan.


Namun Raya tak menyangka ternyata Rayhan tak melakukan apa apa padanya, Rayhan malah sudah tertidur pulas dan meninggalkan Raya tidur sendirian.


"Ck aku pikir" gumam Raya.

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi sekali Raya sudah bangun dan mandi bahkan Rayhan bisa melihat Raya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan rambutnya pun masih basah.


"Sudah bangun pak Ray" tanya Raya.


"Sudah, aku harus menyusul Zia sekarang maaf aku tak akan mengajak mu tapi saat nanti aku pulang kita pindah ke rumah ku" ucap Rayhan.


"Oh sekarang mandi lah" ucap Raya.


"Ya" ucap Rayhan.


"Tapi bagaimana aku akan mandi, aku tak punya baju ganti" ucap Rayhan.


"Oh ya aku tak punya baju laki laki" ucap Raya.


"Tunggu sebentar aku akan pinjamkan kau baju dari Fikri" ucap Raya.


Raya pergi ke kamar Fikri dan Raya menemui Fikri yang sekarang sedang berbaring di ranjang kamarnya.


Sejak kemarin Raya tak melihat Fikri, memang Fikri tak datang ke aula dia lebih memilih rebahan di kamarnya.


Sadar jika ada yang datang Fikri pun melihat siapa yang baru saja datang.


"Kak Fikri bisakah aku pinjam baju, pak Ray tak punya baju ganti" ucap Raya.


Raya terkejut karena melihat kondisi Fikri yang acak acakan, bahkan mata Fikri sembab seperti sudah menangis.


"Kak aku kenapa" tanya Raya.


"Terima kasih" ucap Raya.


Fikri hanya menatap Raya dengan tatapan menyesal karena, dia sangat menyesali karena bisa bersaudara dengan Raya padahal Fikri sangat mencintai Raya.


Begitu juga dengan Raya dia juga masih sangat mencintai Fikri, namun saat ini dia mencoba melupakan rasanya pada Fikri yang sangat salah itu.


Raya mengambil pakaian Fikri yang berada di dalam lemarinya, saat Raya hendak mendekat pada Fikri, ternyata Fikri sudah tak ada di ranjangnya.


Sedangkan Fikri sekarang sedang berada di kamar Rayhan, Rayhan menatap kedatangan Fikri dengan tatapan tajam bahkan Rayhan juga tau kedatangan Fikri untuk membahas apa.


"Ada apa" tanya Rayhan menatap Fikri yang sekarang sedang marah sampai sampai dadanya naik turun menatap Rayhan.


"Aku hanya ingin bilang, jaga lah Raya karena dia rela meninggalkan aku hanya karena ingin hidup bersamamu" ucap Fikri dengan terlalu percaya diri.


"Lalu" tanya Rayhan.


"Aku harap kau tak akan mengecewakan aku" ucap Fikri.


"Aku sudah pasti akan menjaganya aku sayang pada Raya, dan kau sekarang hanyalah kakak ipar ku saja jadi jangan terlalu banyak ikut campur" ucap Rayhan dingin menatap tajam pada Fikri.


"Sebelum bersama mu, Raya sudah bersama denganku" ucap Fikri.


"Kau mungkin memang mantan pacarnya tapi harusnya kau ingat sekarang kalian adik kakak jadi kau tak berhak ikut campur tentang kehidupan Raya" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Apa yang kau punya untuk membahagiakan Raya" tanya Fikri.


"Aku punya rumah, mobil, uang aku bisa bahagiakan Raya" ucap Rayhan percaya diri.


"Ck warisan saja bangga" gumam Fikri yang masih bisa terdengar jelas oleh Rayhan.


"Warisan ya? Tapi setidaknya aku mengembangkan perusahaan ku sendiri, aku tak meminta minta pada orang tuaku" ucap Rayhan.


Fikri tersulut emosi karena merasa kesindir atas ucapan Rayhan barusan.


Fikri menarik kerah baju Rayhan, sedangkan Rayhan ekspresinya sekarang hanya tersenyum tipis saja.


Rayhan mengambil tangan Fikri yang sekarang sedang berada di kerah bajunya, sangat mudah bagi Rayhan untuk membuat Fikri babak belur sekarang.


Apa lagi Fikri bukan tandingan Rayhan.


Secara bersamaan Raya datang kesana sambil membawa baju yang baru yang sudah bu Ajeng belikan untuknya.


Raya tak jadi meminjam baju punya Fikri dan dia mengembalikannya lagi ke lemari kamar Fikri.


"Kalian sedang apa" teriak Raya dan mencoba memisahkan keduanya.


"Raya kau menikahi laki laki seperti dia, lihat Raya dia sangat sombong" ucap Fikri menunjuk Rayhan.


"Memangnya kenapa salah? Terserah aku lah aku yang menikah" ucap Raya.


"Huuh banyak bac*t" ucap Fikri yang langsung melayangkan bogem mentah pada Rayhan.


Bughh


Satu pukulan mendarat di pipi Rayhan, dia tak bisa melawan karena di hadapannya ada Raya yang melindunginya jadi Rayhan takut pukulan itu kena pada Raya jadi Rayhan membiarkan pipinya kena pukul.


Plakk


Raya menampar Fikri dengan cukup keras karena suaranya sampai terdengar nyaring di setiap telinga yang mendengarnya.


"Raya" ucap Fikri menatap pada Raya.


"Fikri sudah cukup batasanmu sampai sini, jangan mengganggu lagi kehidupanku, kita hanya akan menjadi kakak dan adik jadi aku harap kau menjauh dariku" ucap Raya.


Fikri sekarang sudah sangat marah, dia memutuskan untuk pergi dari kamar Raya karena lama lama bersamanya maka Fikri akan semakin emosi.


"Pak Ray maafkan Fikri dia memang begitu" ucap Raya pada Rayhan.


"Tak apa" ucap Rayhan.


"Oh ya ini baju mu pak, tadinya aku mau meminjam baju Kak Fikri tapi kata mamah, mamah sengaja membelikan ini untukmu" ucap Raya.


"Terima kasih Raya" ucap Rayhan yang langsung pergi ke kamar mandi.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2