
Rayhan berjalan mendekati anak buah Van.
"Aku punya hadiah untuk tuan mu itu" ucap Rayhan.
Rayhan mengkode pada Lukas dan Rega untuk membawa kan anak buah Van yang sekarang Rayhan bawa ke sana.
"Ambil lah aku sudah tak butuh dia lagi" ucap Rayhan.
"Sombong" geram anak buah Van pada Rayhan.
"Banyak ba cot" ucap Rayhan.
"Habisi mereka" sahut Rayhan pada semua anak buahnya.
Semuanya langsung beraksi bahkan banyak anak buah Rayhan yang sekarang sudah maju dan menghabisi anak buah Van hingga sebagian orang sudah tumbang.
Di markas sana hanya ada beberapa orang saja dan itu memudahkan Rayhan untuk menghabisi anak buah Van, walaupun Rayhan Belum tau di mana Van sekarang tapi setidaknya Rayhan sudah akan menghabisi anak buahnya.
Slahh
Dorr.
Bughh
Bughh
Suara perkelahian di antara mereka terdengar di telinga semua yang ada di sana bahkan Rayhan pun ikut serta untuk menghabisi lawan.
Setelah semuanya tumbang Rayhan menyudahi anak buahnya karena dia tak mau kalau sampai anak buah Van mati karena kekerasan dari anak buah Rayhan.
"Ayo kita pulang biarkan mereka di sini" sahut Rayhan.
Semua anak buah Rayhan langsung pulang ke markas, karena sekarang Rayhan cukup lega karena sudah membalas kan dendam nya.
"Tinggal Dion adinata" gumam Rayhan.
Sedangkan di markas anggota Blooder, Dion dan semua anak buahnya datang ke sana untuk menguasai markas kepunyaan Van armasta.
"Ikat mereka semua di tembok" titah Dion.
"Baik tuan" ucap anak buah nya serempak.
"Haha haha Van Armasta sangat bo doh dia ikut ke Dubai tapi dia tak tau kalau sekarang markas nya sudah di tempati oleh ku Dion adinata" gumam Dion.
Dion menduduki kursi kebesaran Van armasta dia tersenyum ja hat saat duduk di sana.
"Aku tanya apa kalian akan ikut pada ku atau pada Van Armasta" tanya Dion pada anak buah Van yang sekarang sedang di ikat.
"Tak Sudi aku kalau harus ikut dengan mu, dasar musuh dalam selimut, kau mengambil keuntungan dari kekalahan orang lain, hahah semua yang kau punya itu adalah milik orang lain apa kau tak malu hah" ucapnya yang membuat Dion geram pada anak buah Van itu.
Dion mengambil pistol yang tadi mereka gunakan, Dion mengarahkan pelatuknya pada orang yang tadi bicara.
Dorr
Peluru itu tepat mengenai dada orang itu, bahkan tak ada lagi harapan untuk dia hidup sekarang.
"Masih ada yang mau membantah ku, kalau ada maka ini adalah akibatnya" ucap Dion.
Semua anak buah Van mau tak mau ikut pada Dion walau pun dalam hati mereka Sudi kalau ikut Dion tapi apa boleh buat mereka takut di tembak Dion.
Sedangkan sekarang Van Armasta baru saja pulang dari Dubai karena sudah melakukan transaksi berlian dengan pengusaha di Dubai.
Dia saat ini akan langsung pulang ke Markas karena kalau Van pulang ke rumah sudah dapat di pastikan kalau dia akan berdebat lagi dengan sang istri.
"Kita kembali ke markas lagi" ucap Van.
"Baik tuan" ucap anak buah nya.
Mobil yang membawa Van pergi dari sana menuju markas Blooder, namun setelah mereka sampai di markas, ada hal yang aneh yang membuat Van merasa ada yang tak beres dengan markasnya itu.
"Ayo masuk" titah Van pada anak buah nya yang ikut dengan nya.
Mereka semua masuk namun tiba tiba saja ada jaring dari atas yang membuat Van dan anak buahnya terjebak di dalam nya.
"Apa apaan ini" geram Van.
"Hahahaha" Dion tertawa melihat Van yang sekarang terkurung di jaring jebakan yang sudah dia siapkan.
"Rasain" ucap Dion yang masih tertawa terbahak bahak.
"Dasar kakek tua" geram Van.
"Van kau kalah sekarang aku sudah mengalahkan anak buah mu dan sekarang aku kuasa di markas ini, kau sekarang jadi anak buah ku" ucap Dion.
"Dasar pencuri" geram Van.
"Hahaha bukan pencuri tapi aku penguasa Sekarang" ucap Dion.
"Selesai kan masalah mu dengan ku jangan bawa markas dan anak buah ku" ucap Van.
"Baik lah kalau aku menang kau harus mengalah dan memberikan markas dan semua Anak buah mu pada ku tapi kalau aku kalah aku akan pergi dari sini" ucap Dion.
"Baik lah" ucap Van.
Dion memerintahkan pada anak buah nya untuk melepas kan Van dan semua anak buah nya.
"Baik lah kita satu lawan satu, yang lain mundur" ucap Van yang langsung maju ke depan Dion.
Dion mendekat pada Van dan langsung melayang kan pukulan pada dada Van, namun karena Van cukup kuat dan gagah jadi dia tak tumbang walau mendapatkan pukulan yang keras dari Dion.
Bughh
Plak
Tetap saja walau pun Dion memukul Van tetap saja Van tak tumbang bahkan dia tak merasa kesakitan.
"Lagi" tanya Van.
Plakk
Bugh
Dion memukul Van lagi namun tak membuat Van bergerak sama sekali.
Bughh
Van melayangkan pukulan nya pada perut Dion dan pukulan itu membuat Dion terhuyung ke tanah.
"Mau lagi" tanya Van.
Dion menatap pada Van.
Dion mengambil tanah dan menyembunyikan nya di tangan nya karena markas Van tak memakai lantai jadi tanah kering ada di mana mana.
Dion bangkit lagi dan menatap pada Van armasta.
"Apa kau mau aku pukul lagi" tanya Van.
"Rasakan ini" ucap Dion melemparkan tanah kering ke mata Van sehingga membuat Van kelilipan karena tanah itu masuk ke dalam matanya.
"Bren gsek" geram Van sambil mengucek matanya.
Hugh
Plakk
Hugh
Dion memukul Van dengan membabi buta sehingga membuat Van terhuyung ke tanah karena fokus pada matanya yang sakit.
"Aku memang" ucap Dion.
"Kau curang anj kau tak berhak untuk menerima markas ini" geram Van.
"Semua adil dalam perang dan cinta" ucap Dion.
Dion menatap pada semua anak buah Van.
"Keluarkan be debah ini dari sini, aku yang kuasa aku yang memerintah lagi di sini bukan Van" ucap Dion merasa paling menang.
Anak buah Van hanya menatap saja tanpa melaksanakan ucapan Dion.
"Kalian tak mau menuruti aku, baiklah kalian akan aku tembak satu persatu" ucap Dion menodong kan pistol pada semua anak buah Van yang sekarang diikat karena bertarung dengan Rayhan tadi.
"Ikat mereka semua" titah Dion pada anak buahnya.
Anak buah Dion mengikat anak buah Van karena mereka kalah jumlah mereka hanya diam saja.
Namun ada satu orang yang maju ke sana.
"Aku akan keluar kan dia" ucap anak buah Van menunjuk pada Van.
"Waw".
"Berani kau pada ku" geram Van.
Anak buah Van mencekal kuat tangan Van dan membawa nya keluar.
"Kau tenang lah tuan aku akan ambil lagi markas mu ini" bisik nya pada Van.
"Apa yang bisa aku harap kan dari penghianat seperti mu" ucap Van.
"Kau bisa harapkan ucapan ku benar" ucap Nya.
Sedangkan sekarang di kampus Raya sekarang sedang tak ada pelajaran bahkan banyak mahasiswa yang pulang karena tak ada pelajaran.
"Sekarang aku akan pulang ah, mau kerja saja di perusahaan mamah kamu Ray" ucap Julia.
"Baik lah aku juga akan pulang" ucap Rahma.
__ADS_1
Raya menatap pada sekeliling tak ada orang yang Raya kenal dan bisa membantu Raya mendatangi markas suaminya itu.
"Kevin" gumam Raya.
"Kevin" teriak Raya pada Kevin yang sekarang tengah berada di parkiran.
"Ray mau apa kau dengan Kevin" tanya Rahma.
"Ada aku mau ikut dia" ucap Raya.
"Oh" ucap Rahma.
"Aku duluan ya" ucap Raya.
"Ya Ray" ucap Julia.
Raya pergi menuju ke arah di mana Kevin berdiri sekarang.
"Vin kau sibuk gak" tanya Raya.
"Aku, aku sangat sangat sibuk Raya memang nya ada apa kalau dengan kamu aku tak sibuk" ucap Kevin.
"Kau ini" ucap Raya.
Raya mengeluarkan secarik kertas yang ada di saku celana nya.
"Bisa kau antar aku ke lokasi ini" tanya Raya.
"Ini aku pernah kayanya ke sini tapi kapan ya" ucap Kevin.
"Kau tau tak" tanya Raya.
"Tau, Ayo lah naik" ucap kevin.
Raya naik dan Kevin melajukan motornya ke lokasi yang Raya berikan tadi.
"Ray emang nya ada apa kamu mau ke sana" tanya Kevin.
"Kau tau Mafia" tanya Raya.
"Mafia? Tentu saja Raya kakak ku juga mafia" ucap Kevin.
"Hah yang benar saja" tanya Raya.
"Ya nama nya Kevan kau belum mendengar nya" tanya Kevin.
"Belum" ucap Raya.
"Wah sayang sekali padahal dia cukup terkenal di dunia hitam" ucap Kevin.
"Jadi kalau kakak mu Mafia lalu kau juga mafia dong" ucap Raya.
"Ya gak lah aku kan Kevin, tapi kalau aku sudah besar aku mau jadi seperti kakak" ucap Kevin.
"CK jadi mafia, apa mafia itu suka membu Nuh" tanya Raya.
"Tentu saja Raya tapi aku gak terlalu tau karena kata kakak dia hanya akan membu nuh kalau ada musuh saja" ucap Kevin.
"Oh lalu apa kakak mu sering membu Nuh" tanya Raya.
"Gak sering cuman pernah lah" ucap Kevin.
Mobil Kevin berhenti di sebuah bangunan yang seperti rumah tua, bahkan terlihat sangat angker.
"Apa ini tempat Mafia" tanya Kevin.
"Mungkin" ucap Raya.
"Siapa yang mau kau temui di sini" tanya Kevin.
"Tak ada" ucap Raya.
"Lalu buat apa kita kesini Raya" ucap Kevin.
"Kau antar saja aku" ucap Raya.
"Terserah" ucap Kevin.
"Bisa aku masuk ke dalam" tanya Raya.
"Kau mau mati apa" tanya Kevin.
"Apa tak bisa kah aku lihat dari pintu itu saja" ucap Raya.
"Begini saja kau masuk kedalam dan lihat di pintu yang kau inginkan aku akan melihat ke arah sekitar kalau ada orang aku akan beri tau kau" ucap Kevin.
"Ya" ucap Raya.
"Ya ampun senekat itu Raya" gumam Kevin melihat Raya yang sekarang sudah berjalan ke arah pintu gedung itu.
Kevin melihat ke sekeliling karena tak mau kalau sampai pemilik gedung itu mengetahui keberadaan mereka.
Raya melihat dalam gedung dari arah pintu yang terbuka itu, tak ada apa apa di dalam nya hanya ada kursi meja dan karpet saja.
Namun saat Raya hendak masuk, Kevin dengan cepat menarik Raya dan membawa nya menjauh dari sana.
"Ada apa" tanya Raya.
"Ada mobil yang akan datang ke sini" ucap Kevin.
"Apa" tanya Raya.
"Sebaik nya kita pergi dari sini takutnya ada yang melihat kita" ucap Kevin.
"Tapi Vin aku mau lihat siapa mereka" ucap Raya.
"Jangan bahaya" ucap Kevin.
"Tapi" ucap Raya.
"Ayo naik" ucap Kevin memerintah kan Raya untuk naik ke atas motor nya.
Mau tak mau Raya naik ke atas motor dan pergi dari sana, setelah Raya pergi dari sana Rayhan dan semua anak buah nya datang ke sana.
Rayhan turun dari mobil dengan semua anak buahnya.
"Aku yakin Van pasti akan hancur" ucap Rayhan.
"Ya tuan" ucap Rega.
"Kau jaga lah markas, aku dan Lukas akan ke perusahaan ada banyak kerjaan di sana" ucap Rayhan.
"Ya tuan".
"Ayo Lukas kita kerja di perusahaan" ucap Rayhan.
"Ayo tuan" ucap Lukas.
Rayhan dan Lukas pergi ke perusahaan menggunakan mobil Rayhan, sedangkan Raya sekarang dia sedang di antar oleh Kevin tadinya Raya akan langsung ke rumah tapi Raya masih sangat penasaran jadi Raya meminta Kevin mengantarkan ke perusahaan suami nya saja.
"Terima kasih kau sudah mengantarkan aku" ucap Raya.
"Tak masalah" ucap Kevin.
Raya Mengambil beberapa lembar uang dalam tas nya.
Raya menyodorkan uang itu pada Kevin.
"Buat apa" tanya Kevin mengerut kan kening nya.
"Anggap saja buat beli bensin" ucap Raya.
"Ya ampun kau menganggap aku kang ojeg Raya" ucap Kevin.
"Bukan hanya saja aku ingin berterima kasih" ucap Raya.
"Tidak usah, kau teman ku jadi kau mau kemana pun aku akan antar, kalau kau butuh aku hubungi saja" ucap Kevin.
"Ya terima kasih" ucap Raya.
Kevin melajukan kembali motor nya, sedang kan Raya sekarang dia masuk dan akan bertanya pada resepsionis karena takutnya Rayhan ada meeting penting.
"Apa tuan ada" tanya Raya.
"Nona Raya, selamat siang" ucapnya.
"Siang" ucap Raya.
"Tuan belum datang Nona, bahkan aku hubungi juga ponsel nya tak terhubung" ucap nya.
"Kemana dia, apa dia memberi tau mu sebelum nya" tanya Raya.
"Tidak" ucapnya.
"Oh".
"Nona ada banyak wanita yang akan melamar pekerjaan menjadi sekretaris di ruangan Tuan Lukas tapi tuan Lukas sekarang tak masuk juga" ucapnya.
"Lukas tak masuk" tanya Raya.
"Ya mungkin dia bersama dengan tuan" ucapnya.
"Apa sebelum nya tuan pernah begini" tanya Raya.
"Dulu sering Nona tapi saat sudah menikah dia jarang" ucap nya.
"Oh baik lah aku akan lihat wanita itu di ruangan Tuan Lukas" ucap Raya.
"Baik nona" ucapnya.
__ADS_1
Raya berjalan ke arah ruangan Lukas, Raya masuk ke dalam sana.
"Selamat siang" ucap Raya.
"Siang" serempak.
"Maaf ya tuan nya belum datang mohon menunggu beberapa menit lagi" ucap Raya.
"Apa masih lama" tanya seorang wanita yang sangat cantik dan se ksi.
"Tidak mereka sedang dalam perjalanan" ucap Raya.
"Oh ya ampun mereka cantik dan sangat pintar lagi apa Mas Ray tak akan terpincut ya" batin Raya.
Namun Raya teringat pada ucapan Kevin yang tadi di atas motor.
"apa mafia itu suka membu Nuh".
"Tentu saja Raya tapi aku gak terlalu tau karena kata kakak dia hanya akan membu nuh kalau ada musuh saja" ucap Kevin
"Aku harus hubungi Kevin" gumam Raya.
Raya mengambil ponsel nya di dalam tas, namun tak ada ponsel nya di sana.
"Astaga di mana ponsel ku" gumam Raya.
"Kau cari sesuatu Nona" tanya salah satu wanita yang akan melamar pekerjaan.
"Ya ponsel ku tak ada" ucap Raya.
"Hati hati Nona sekarang rawan pencurian" ucap yang lain.
"Ya aku akan ke sana sekarang" ucap Raya yang langsung keluar dari sana menuju resepsionis karena ingin meminjam ponsel nya.
"Aku pinjam ponsel" ucap Raya.
"Ya baik lah" ucap resepsionis menyerah kan ponsel nya pada Raya.
Raya mengutak Atik ponsel resepsionis itu untuk menghubungi ponselnya, raya takut kalau ponsel nya itu terjatuh di markas tadi.
"Ada yang angkat" gumam Raya.
📞📞
"Hallo" ucap Raya.
"Itu ponsel ku apa boleh aku minta alamat mu aku akan datang ke sana" ucap Raya.
"Hallo" ucap raya.
"Hey" ucap Raya namun tak mendapat jawaban.
Tuttt
📞📞
"Argghh kenapa di matikan" geram Raya.
"Kenapa Nona".
"Ponsel ku jatuh entah di mana dan sekarang ada yang angkat telpon nya tapi dia tak bicara" ucap Raya.
"Kemana saja Non Raya tadi" tanya nya.
"Tak ada Hanya di kampus dan..." Ucap Raya terhenti saat dia akan menyebutkan Markas.
Sedang kan di markas anak buah Rayhan tengah melihat ponsel yang terjatuh di dekat pintu masuk.
"Ada apa" tanya Rega.
"Ada ponsel jatuh katanya milik wanita" ucapnya.
"Coba Aku lihat" ucap Rega.
Rega melihat ponsel itu, mata mereka melotot saat melihat kalau wallpaper ponsel itu adalah Raya dan Rayhan.
"Ini ponsel Nona Raya" ucap Rega.
"Oh ya" tanya nya.
"Ya lihat Poto tuan dan Nona" ucap Rega.
"Kenapa bisa ada di sini".
"Entah" ucap Rega.
Refa mengambil ponsel nya yang ada di saku celana nya.
Dia mencari kontak Rayhan.
📞📞
"Tuan di markas ada ponsel nona Raya" ucap Rega.
"Apa" tanya Rayhan kaget.
"Ya tuan".
"Kenapa bisa ada di markas" ucap Rayhan.
"Entah tuan tapi ada di depan pintu" ucap Rega.
"Suruh anak buah yang lain untuk mengantar ke perusahaan ku" ucap Rayhan.
"Baik tuan" ucap Rega.
📞📞
Rayhan menatap datar ke arah depan.
"Dari siapa tuan" tanya Lukas.
"Ponsel Raya ada di Markas" ucap Rayhan.
"Apa? Tapi bagai mana mungkin Nona Raya ke markas" tanya Lukas.
"Aku juga tak tau" ucap Rayhan.
"Apa jangan jangan Nona Raya tau tentang kau" tanya Lukas.
"Ah tidak mungkin karena kan Raya gak tau tempat itu bahkan Raya juga gak tau aku siapa" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Lukas.
Sesampai nya di perusahaan Rayhan dan Lukas langsung turun.
Rayhan melihat ada Raya yang sekarang tengah berada di sana berdiri di depan resepsionis.
"Tuan, Nona Raya" ucap Lukas.
"Ya aku tau" ucap Rayhan.
Rayhan masuk ke dalam.
"Ray" ucap Rayhan yang langsung memeluk istrinya itu.
"Kau kenapa seperti sedang kebingungan" tanya Rayhan.
"Mas ini ponsel ku hilang, entah kemana saat aku coba telpon tadi ada yang angkat cuman tak ada yang bicara" ucap Raya.
"Apa ponsel mu ada yang nyuri" tanya Lukas.
"Atau kamu pernah jalan jalan Selain ke kampus" tanya Rayhan.
"Gak tadi dari kampus aku langsung ke sini, apa ada yang nyuri ya" Ucap Raya.
"Nyuri kenapa kau sangat teledor Raya" ucap Rayhan.
"Mas aku simpan di tas" ucap Raya.
"Kita beli lagi saja" ucap Rayhan.
"Tidak mas aku mau yang itu" ucap Raya.
"Baik lah aku akan bawa kan lagi" ucap Rayhan.
"Apa kau bisa'" tanya Raya.
"Tidak tapi aku yakin pasti ada orang baik yang akan mengembalikan nya" ucap Rayhan.
Satpam datang ke sana.
"Tuan ini ada kiriman dari seseorang katanya ini ponsel Nona Raya" ucap satpam.
"Apa" tanya Raya tak percaya.
"Terima kasih pak" ucap Rayhan.
"Pak di mana orang itu" tanya raya.
"Orang nya sudah pulang Non, setelah memberikan ini dia langsung pergi" ucap Satpam.
"Oh baik lah" ucap Raya.
"Kau senang ponsel mu kembali" tanya Rayhan.
"Aku sangat senang mas" ucap Raya.
"Jaga hati hati" ucap Rayhan.
__ADS_1
"Semoga saja orang itu panjang umur dan banyak rezeki" ucap Raya berdoa.
bersambung...