
Raya di antar pulang oleh kakak tirinya itu, tak ada pembicaraan di setiap perjalanan apa lagi sekarang mereka merasa cangung jika membicarakan masalah hubungan mereka.
"Terima kasih, maaf aku tak bisa membawa mu masuk karena Pak Ray mungkin sudah pulang" ucap Raya yang langsung masuk kedalam rumahnya meninggalkan Fikri yang masih mematung.
"Takdir sangat kejam padaku, aku mencintai adikku sendiri, Syukurlah dahulu aku tak pernah menyentuhnya, sadar Fikri sekarang Raya bukan pacar mu lagi sekarang dia adikmu" gumam Fikri bermonolog sendiri.
Raya masuk kedalam rumahnya dia melihat ada Zia yang sudah berada di sana yang sedang menonton televisi.
"Zia dimana pak Ray" tanya Raya pada adik iparnya itu.
"Aku gak tau, kakak ipar saat aku pulang tadi kak Rayhan sudah gak ada" jawab Zia.
"Oh ya kalau begitu aku ke kamar dulu" ucap Raya yang langsung masuk kedalam kamar dan mandi.
Raya sudah selesai berpakaian dia melihat layar ponselnya yang sejak tadi tak ada Notifikasi apa pun.
{ pak Ray kapan kau akan pulang } pesan Raya pada Rayhan.
"Kemana pak Ray? Nomornya gak aktif" ucap Raya.
Raya mendengar ada suara ponsel berbunyi di kamar itu, karena penasaran Raya mencari sumber dari suara itu namun suara itu terdengar dari laci yang tak jauh dari ranjang.
Raya membukanya dan menemukan ponsel yang sekarang sedang ada yang mencoba menelponnya.
"Ponsel siapa ini" gumam Raya melihat dengan jelas ponsel itu.
"Alena" gumam Raya menatap nama yang tertera di layar ponsel itu, namun Raya tak berani mengangkat telponnya karena takut Rayhan akan marah.
Setelah panggilan mati, Raya membuka ponsel itu melihat pesan dari aplikasi hijau yang berada di ponsel itu.
Hanya ada satu pesan saja dan itu pun dari kontak yang di beri nama "Alena".
{ tau gak apa bedanya bulan sama kamu }
{ ya tentu saja ada bedanya karena kan bulan besar dan ada di langit sedang kan aku ada di sini di hotelku } balas Alena.
{ Oh ya cantik apa kamu sudah punya pacar }
{ belum } balas Alena.
{ mau dong jadi pacar aku }
{ aku gak lagi cari pacar tapi cari calon suami } balas Alena.
Dan banyak lagi pesan dari aplikasi hijau itu.
" apa Pak Ray yang memberikan pesan ini, aku sampai mau muntah di buatnya, Pak Ray menggombal pada wanita namun padaku dia hanya tersenyum tipis saja dan... Argghh aku pusing membaca pesan ini" gerutu Raya sambil menaruh kembali ponsel itu pada laci.
"Awas saja pak Ray aku akan memberi hitungan pada masalah ini" ucap Raya.
Raya keluar dari kamarnya menemui Zia yang sekarang masih menonton televisi.
"Zia kau tau Alena" tanya Raya.
"Alena? Tentu saja dia teman ku bahkan kami sekarang sepupuan" ucap Zia.
"Lalu apa hubungannya dengan pak Ray" tanya Raya yang langsung duduk di samping Zia.
"Kak Rayhan dengan Alena itu dulunya mau menikah tapi gak jadi karena katanya sepupu gak boleh Nikah" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Raya tak percaya.
"Ya memangnya kenapa" tanya Zia.
__ADS_1
"Apa dia cantik" tanya Raya semakin pemasaran.
"Cantik, dia dari kanada dia se*si bahkan dia sangat kaya raya, dan kau tau kakak ipar dia sangat perpect tak akan ada laki laki yang bisa menolaknya, termasuk kakak" ucap Zia.
Api cemburu Raya semakin berkobar bahkan dia sangat marah pada Rayhan.
"Aku akan ke kamar dulu kakak ipar, kalau kau mau nonton silahkan saja aku bosan" ucap Zia yang langsung pergi dari sana meninggalkan Raya dengan banyaknya makanan.
Di Markas Tiger Group.
Rayhan saat ini masih belum sadarkan diri Lukas hanya bisa duduk dan memantau saja keadaan Rayhan.
Secara perlahan mata Rayhan terbuka dia menatap ke sekeliling.
"Tuan, Tuan Rayhan sudah sadar" sahut Dokter.
Dengan cepat semua anak buah Rayhan menghampiri Rayhan yang sekarang baru saja sadar dari pingsannya beberapa jam yang lalu.
"Tuan apa ada yang sakit" tanya Dokter.
"Jam berapa sekarang" tanya Rayhan.
"Sekarang pukul empat sore tuan" ucap Dokter.
Rayhan langsung bangun dari ranjang yang dia tiduri tadi, dengan cepat Rayhan melepas impus yang menempel pada tangannya.
"Tuan anda mau kemana" tanya Dokter.
"Aku akan menjemput Raya aku lupa tak menjemput Raya" ucap Rayhan yang langsung pergi dari sana walau pun luka pada tubuhnya terasa sangat sakit dan perih.
"Tuan sampai kan pada tuan kalau tuan harus istirahat total selama satu minggu" ucap Dokter pada Lukas.
"aku tak yakin Dok" ucap Lukas yang langsung pergi dari sana menyusul Rayhan.
"Ayo" titah Rayhan.
Lukas pertama tama dia menghubungi dahulu pak satpam yang berada di kediaman Rumah Rayhan.
📞📞
..."Apa Non Raya sudah pulang" tanya Lukas....
..."Sudah tuan" jawab pak Satpam....
📞📞
"Tuan, Non Raya sudah pulang, apa kita pulang ke rumah" tanya Lukas.
"Ya" ucap Rayhan.
Luka pada tubuh Rayhan sangat membuat Rayhan kesakitan apa lagi sesekali Rayhan meringis karena tak bisa lagi menahan rasa sakitnya.
Mobil yang Lukas bawa sudah terparkir di halaman rumah Rayhan, saat itu Rayhan hendak turun namun tiba tiba saja kakinya kram dan tak bisa Rayhan gerakkan.
"Tuan biarkan saya membantu" ucap Lukas menyodorkan tangannya pada Rayhan.
Rayhan di papah oleh Lukas sampai masuk kedalam rumah, Raya yang sekarang sedang menonton televisi pun langsung terkejut melihat Rayhan di papah oleh Lukas dengan luka yang banyak di tubuhnya.
"Pak Ray kau kenapa" tanya Raya cemas melihat kondisi suaminya itu.
"Tuan Lukas pak Ray kenapa" tanya Raya pada Lukas.
"Tuan berkelahi" jawab Lukas yang mendapat tatapan tajam dari Rayhan.
__ADS_1
"Tolong bawa Pak Ray masuk kedalam kamar" titah Raya pada Lukas.
"Baik Nona".
Rayhan berbaring di ranjang kamarnya.
Raya menatap pada Rayhan yang sekarang sangat mengkhawatirkan.
" pak Ray kau kenapa" tanya Raya.
"Maaf aku tak menjemput mu" ucap Rayhan pada Raya.
"Sudah lah jangan pikirkan itu, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kau sembuh" ucap Raya.
"Nona ini obat dari Dokter" ucap Lukas memberikan obat yang sempat Dokter berikan padanya.
"Terima kasih" ucap Raya.
"Baiklah sekarang kau harus ganti baju karena baju mu banyak darahnya" ucap Raya.
"Ya".
" aku akan bantu melepaskan pakaianmu" ucap Raya.
Rayhan menatap pada Lukas dan Lukas yang paham pun langsung berpamitan dan pergi dari kamar Rayhan meninggalkan Rayhan dan istrinya berdua.
"Aku bantu kau melepaskan kemeja" ucap Raya sambil melepas satu persatu kancing kemeja Rayhan.
"Pelan pelan" ucap Rayhan sambil meringis kesakitan.
"Ya maaf".
Kemeja yang melekat pada tubuh Rayhan pun sudah Raya buka, ternyata banyak sekali luka yang sudah mulai membiru di tubuh Rayhan.
Apa lagi tangan Rayhan terdapat bekas kaputan karena terkena samurai milik lawan.
" ya ampun ini sangat parah, kau harus di rawat" ucap Raya.
"Aku tak apa" jawab Rayhan.
Raya mengoleskan salep pada tubuh Rayhan, baru kali ini Raya melihat tubuh laki laki apa lagi roti sobek Rayhan sangat membuat Raya terpesona.
Rayhan yang melihat kalau Raya tak henti hentinya melihat perutnya pun langsung berdehem karena merasa malu.
"Apa kau akan mengobati ku atau tidak aku kedinginan" ucap Rayhan.
"Ya aku akan mengobati mu" ucap Raya gelagapan.
"Baiklah terima kasih" ucap Rayhan.
Raya menyentuh perut Rayhan dengan sangat gemas, bahkan Raya sampai tersenyum sendiri melihatnya.
"Aku akan ambilkan pakaian untukmu" ucap Raya membuka lemari pakaian Rayhan dan mencari pakaian yang cocok untuk Rayhan.
"Pakai kaos ini saja" ucap Raya sambil menyodorkan kaos itu pada Rayhan, namun Rayhan menatap pada tangannya yang terluka namun tangan itu sangat sakit Rayhan gerakkan.
"Biar aku bantu" ucap Raya yang langsung memakaikan kaos itu pada tubuh Rayhan walau pun Rayhan sampai meringis kesakitan karena Lukanya tersentuh tangan Raya.
"Aku akan buatkan bubur untuk mu pak Ray, tunggulah sepuluh menit saja" ucap Raya yang langsung pergi ke dapur membuatkan bubur.
"Awss tanganku sangat sakit" ucap Rayhan meringis kesakitan saat Raya sudah tak ada di kamar.
Bersambung
__ADS_1