
Namun tiba tiba dari dalam gedung itu terdengar suara ledakan yang cukup menggetarkan tanah yang mereka injak.
Bledaggg..
Semua mata melihat kearah belakang ternyata markas Blooder di bom secara membabi buta. Mata mereka semua menatap pada Helikopter yang terbang di atas mereka.
"Imbang bukan" tanya Rayhan tersenyum tipis.
"Kau" ucap ketua Blooder yang semakin emosi pada Rayhan.
Ketua itu melempar pistolnya kesembarang arah dan langsung membogem mentah Rayhan tepat di wajah tampan Rayhan.
"Kau melukai wajahku" ucap Rayhan.
"Rasakan itu, Seeranggg" teriak Ketua pada anak buahnya.
Semuanya bertarung namun karena anak buah Rayhan yang sedikit maka Rayhan bisa saja kalah, Rayhan mencoba melawan karena Rayhan pandai ilmu bela diri jadi dia bisa menghabisi lawan dengan cepat.
Hiyaaa.
Slahh.
Bughh..
Dorrr..
Suara tembakan, suara pedang dan yang lainnya terdengar jelas di setiap telinga yang ada di sana.
Hidung dan sudut bibir Rayhan mengeluarkan darah tapi hal itu tak membuat Rayhan menyerah dia malah semakin semangat untuk melumpuhkan lawan.
Setengah jam berikutnya peperangan itu masih berlanjut bahkan anak buah lawan sudah tumbang dan hanya setegah saja.
Namun mata Rayhan menatap pada anak buahnya yang menurutnya aneh.
Bukannya melawan musuh tetapi dia malah melawan teman sendiri.
"Penghianat" gumam Rayhan.
Bughhh..
Sebuah bogem mentah mendarat tepat di dada Rayhan karena Rayhan tak Fokus jadi terkena bogem dari lawan, Rayhan menendang lawan dan tangannya memegang dadanya yang sakit.
Setelahnya Rayhan bisa mengalahkan lawan, begitu lah manusia jangan pernah menganggap remeh pada orang yang kecil karena orang besar pun belum tentu menang.
Rayhan menatap pada anak buah Blooder yang sekarang sedang meringis kesakitan.
Namun ketua mereka tak mendapat pelajaran dari Rayhan karena dia malah diam saja menonton pergulatan anak buahnya.
"Kita sudah imbang, aku harap kalian tak akan mengusik lagi anak buah ku" ucap Rayhan.
Ketua hanya mengepalkan tangannya karena marah pada Rayhan, mau melawan pun percuma karena mereka akan kalah dari Rayhan.
"Dan ada satu hal, ambil saja dia untuk mu aku tak butuh penghianat seperti dia" ucap Rayhan sambil mendorong salah tau anak buahnya yang melawan teman sendiri itu.
"Tuan maafkan saya, saya tak bermaksud" ucap anak buah itu memohon pada Rayhan.
"Aku tak berteman dengan penghianat jadi kau pergilah, mungkin gaji mu dari ku hanya sedikit" ucap Rayhan.
Rayhan dan seluruh anak buanya pergi dari sana meninggalkan penghianat yang sekarang masih berteriak minta maaf pada Rayhan.
"Kerja bagus, kalian pulang lah mungkin kita akan lama cuti" ucap Rayhan pada seluruh anak buahnya.
"Aku sudah memanggil ambulan kalian akan di obati" ucap Rayhan lagi.
"Baik tuan" serempak.
"Lukas kita pulang sekarang" ucap Rayhan.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Lukas.
Sesampainya di rumah Rayhan menatap pada jam dinding yang sekarang sedang menunjukan pukul dua dini hari, niatnya Rayhan akan membangunkan Bi Ratna untuk mengobati Lukas, Namun sepagi ini Bi Ratna pasti masih tidur.
Rayhan melihat Zia yang baru keluar dari kamarnya, mungkin saja Zia akan mengambil minum.
"Zia" teriak Rayhan.
"Apa kak, masih pagi teriak teriak" ucap Zia yang baru bangun tidur.
"Kesini".
"Apa kak, oh ya ampun kenapa wajah mu kak? Kenapa kalian babak beluk begini" tanya Zia sambil memegang pipi Rayhan yang babak belur.
"Jangan pegang, Sakit" ucap Rayhan menepis tangan Zia.
"Obati Lukas" titah Rayhan.
"What" pekik Zia.
"Kenapa gak mau, yasudah uang jajan mu kakak potong" ancam Rayhan.
"Ya mau" ucap Zia dengan terpaksa.
Rayhan pergi ke kamarnya meninggalkan Zia dan Lukas yang sekarang masih berada di ruang tengah.
"Duduk aku akan mengobati mu" ucap Zia ketus pada Lukas.
"Baik Nona" ucap Lukas menurut saja.
Zia mengobati luka yang ada di wajah Lukas dengan obat merah, Lukas menatap Zia dan langsung tersenyum.
"Jangan menatap aku seperti itu" ucap Zia marah.
"Maaf Nona" ucap Lukas.
"Ya Nona kau sangat cerewet" ucap Lukas.
"Huh beraninya kau" geram Zia.
"Maaf Nona".
" kalau saja kau tak di anggap saudara oleh Kakak mungkin aku tak akan mau mengobatimu" ucap Zia.
"Tak apa Nona kalau kau tak mau mengobati saya".
"Jangan Munaf*k Lukas, kalau aku tak mau Kakak sudah pasti memotong uang jajan ku".
Sedangkan di dalam kamar Rayhan mengobati lukanya sendiri, bukan apa apa Rayhan tak biasa menyusahkan orang lain hanya untuk mengobatinya.
"Perutku sakit" Rayhan meringis kesakitan.
Setelah selesai mengobati luka pada badannya Rayhan pun tertidur dengan sangat pulas.
Pagi hari..
Rayhan sudah bersiap dia menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Oh Ya ampun apa aku akan bertemu calon mertua ku dengan kondisi seperti ini" gumam Rayhan.
Banyak sekali luka lebam di wajahnya, tetapi itu pun tidak mengurangi ketampanan yang Rayhan miliki.
"Kakak kapan kau akan membawa aku pada kakak ipar" tanya Zia yang langsung masuk kedalam kamar Rayhan.
"Apa bisa kalau kau masuk ketuk dulu pintunya" ketus Rayhan.
"Ck hanya masalah pintu" ucap Zia.
__ADS_1
"Kakak kau akan kerja" tanya Zia.
"Kau pikir aku bod*h hah, mana ada minggu kerja" ucap Rayhan kesal pada adiknya itu.
"Lalu mau kemana kau" tanya Zia.
"Bertemu orang tua Alena" ucap Rayhan datar dan langsung berlalu meninggalkan Zia yang masih mematung.
"Alena? Aku jadi ingat pada teman kecil ku dulu, Alen di mana kau" gumam Zia mengingat teman masa kecilnya.
"Kak boleh aku ikut, aku ingin bertemu kakak ipar" teriak Zia sambil berlari mengikuti Rayhan.
"Kau gil* hah apa kau mau aku gak jadi menikah dan kau tak akan menikah dengan laki laki itu" ketus Rayhan.
"Ya ampun kak kau jahat padaku" kesal Zia.
"Diam lah di rumah kalau kau mau keluar rumah ada Lukas, ajak saja dia" ucap Rayhan.
"Baik Bos".
Rayhan mengendarai mobilnya menuju hotel milik Alena, mobil Rayhan berhenti di basemen hotel itu dia langsung masuk kedalam menuju resepsionis.
"Apa Alena ada di ruangannya" tanya Rayhan.
"Ada tuan, apa anda sudah buat janji" tanya resepsionis itu.
"Ya".
"Silahkan masuk tuan" ucap Resepsionis itu.
Rayhan berjalan masuk kedalam ruangan Alena.
"Permisi" sahut Rayhan dari luar dan langsung membuka pintu ruangan itu.
"Tuan Ray akhirnya kau datang juga" ucap Alena.
Rayhan hanya tersenyum tipis,
"Dimana orang tua mu" tanya Rayhan datar.
"Ada mereka sedang di hotel, apa kita akan bertemu dengan mereka sekarang" tanya Alena.
"Terserah kau" ucap Rayhan.
"Tapi tuan Ray, kenapa wajahmu" tanya Alena memegang wajah Rayhan.
"Ini hanya luka biasa, semalam aku berantem" ucap Rayhan jujur.
"Berantem? Dengan siapa" tanya Alena.
"Musuh".
"Kenapa berantem" tanya Alena.
"Karena masalah" jawab Rayhan datar dan tanpa ekspresi.
"Oke baiklah kita akan naik ke lantai atas menemui Dad dan Momyku" ucap Alena membawa Rayhan kepada orang tua nya.
"Ya tuhan betapa senang nya aku jika menikah dengan laki laki tampan ini" batin Alena melihat Rayhan dengan sangat kagum.
"Apa orang tua mu tak akan menolakku" tanya Rayhan.
"Tentu saja tidak akan, apa pun yang aku suka mereka akan menyukainya juga" ucap Alena.
"Mereka sangat sayang padamu".
"Tentu saja aku anak satu satunya" ucap Alena.
__ADS_1
Bersambung