
Sepanjang perjalanan kembali ke penginapa, Rayhan tak bicara pada Raya bahkan sejak tadi Rayhan pun seolah mengacuhkan Raya.
Namun karena Raya polos dia tak tau kalau suaminya itu marah padanya.
"Tuan bisakah kita mampir ke salah satu restauran dulu, aku lapar" ucap Jeni yang membuka suara.
"Pak mampir ke restauran terdekat" titah Rayhan pada supir taksi.
"Baik tuan" ucapnya.
Mereka mampir ke salah satu restauran yang menyediakan makanan kumplit, Jeni sudah memesan makanan dengan porsi cukup banyak namun Rayhan masih berfikir akan makan apa.
"Pak Ray apa kau mau makan ayam goreng" tanya Raya, namun bukannya menjawab Rayhan malah berjalan menjauh dari Raya dan duduk bersama dengan Jeni.
Raya hanya tersenyum tipis saja, sungguh hatinya ingin sekali menjerit tapi dia tahan karena walau bagaimana pun juga Rayhan adalah suaminya.
Sikap datar dan tanpa ekspresi membuatnya semakin menyeramkan saat Rayhan marah, apa lagi dengan tatapan yang tajam seolah ingin menerkam mangsa.
"aku mau nasi dan telor saja" ucap Raya.
"Baik Nona silahkan tunggu" ucap pelayan.
Raya duduk sendirian di meja yang cukup jauh dari Jeni dan Rayhan, bukan tanpa alasan Raya hanya ingin menunggu pelayan membawakan pesanannya.
Helaan nafas terdengar dari hidung Raya, entah harus apa dia sekarang, yang Raya pikirkan adalah Jeni takutnya Rayhan tergoda pada Jeni apa lagi penampilan Jeni bak gitar spanyol itu pasti akan menimbul kan ketertarikan pada laki laki yang melihatnya.
Raya menatap penampilannya.
"Baju aku bagus, cuman body aku yang sekarang sedikit agak gendutan, apa karena ini ya Pak Ray gak suka" ucap Raya bertanya tanya sendiri.
"Lihat tuan istri mu di sana" ucap Jeni.
"Lalu" tanya Rayhan ketus.
"Kenapa kau memilih duduk bersama dengan sekertaris mu di bandingkan istrimu" ucap Jeni.
"Biarkan saja lah" ucap Rayhan.
Raya tadinya berniat akan mendekat pada Rayhan namun saat Raya melihat ke arah Rayhan, dia sedang mengobrol dengan Jeni bahkan Jeni sampai tertawa karena bicara dengan Rayhan.
"Huhh, aku makan saja di sini" gumam Raya sambil menghela nafasnya.
Suapan demi suapan Raya masuk kan kedalam mulutnya, tanpa Raya sadari sejak tadi Rayhan memperhatikannya dari jarak jauh.
Raya menghabiskan makanannya dan membayar pada kasir, Raya menyerahkan kartu Atm yang dia punya karena sekarang Raya tak membawa uang cash.
"Ini Mbak terima kasih" ucap penjaga kasir.
Raya berjalan menuju meja Rayhan dan Jeni, Raya langsung duduk disana tanpa bicara apa apa.
"Tuan Rayhan, apa kita bisa mampir dahulu ke Mall aku mau belanja dulu" ucap Jeni.
"Boleh" ketus Rayhan.
Raya membuka ponselnya karena jika melihat kedekataan suaminya dan Jeni, Raya bisa semakin cemburu memikirkannya.
__ADS_1
"Apa kau tak keberatan Nona Raya" tanya Jeni menatap pada Raya.
"Tentu saja tidak" jawab Raya sambil tersenyum.
"Ya aku mau beli oleh oleh buat keluarga ku" ucap Jeni.
"Ya kau sangat baik" puji Raya.
"Terima kasih" ucap Jeni.
Raya masuk kedalam mobil lebih dulu dari pada Jeni dan Rayhan, Raya melihat ponselnya yang selalu dia bawa.
Raya melihat sebuah akun yang mengikutinya.
( RayhanPW mulai mengikuti anda )
Raya mengklik akun itu dan Raya melihat kalau akun itu punya Rayhan suaminya, Raya mengscrool postingan Rayhan yang sudah lama itu.
Tak ada yang aneh hanya foto dokumen dan banyaknya berkas disana, bahkan Raya pun tak menemukan Foto Rayhan kecuali foto profil.
"Apa Pak Ray tak pernah update" gumam Raya.
Jeni dan Rayhan masuk dengan cepat Raya mematikan ponselnya dan menaruh lagi ponselnya di tasnya.
Mobil melaju menuju tempat perbelanjaan yang Jeni inginkan.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Raya masuk ikut bersama dengan Jeni sedangkan Rayhan hanya mengikuti dari belakang itu pun dari jarak yang cukup jauh.
Jeni berbelok pada sebuh toko baju yang sangat lengkap, sedangkan Raya melihat lihat pakaian yang berjajar itu tanpa ada niat untuk membelinya.
"Tidak" jawab Raya.
"Beli lah, aku punya uang untuk membahagia kan mu" ucap Rayhan.
"Pak Ray" ucap Raya menatap tak percaya pada Rayhan karena bisa bisanya dia bicara hal itu padanya.
"Tak perlu aku punya uang sendiri" ucap Raya yang sudah kepalang kesal pada sikap Rayhan.
Raya memilih untuk duduk menunggu Jeni belanja, Rayhan pun menunggu di samping Raya namun jarak duduk mereka cukup jauh.
Raya tak memperdulikan Rayhan yang ada di sana, dia hanya mengutak atik saja layar ponselnya yang sekarang berada di tangannya.
"Ck membosan kan" gumam Raya.
Namun setelah lama menunggu Jeni belum juga datang kesana, Rayhan sudah kesal karena sekertarisnya itu sangat lama, bahkan sudah hampir satu jam lebih tapi Jeni belum kembali.
"Waktu ku terpotong satu jam" gumam Raya tersenyum tipis.
Raya bangkit dari duduknya, dia berjalan masuk kedalam salah satu toko baju, Raya memilih pakaian untuk Zia itung itung memberikannya oleh oleh dari bali.
Raya melihat lihat pakaian yang cocok untuk Zia apa lagi Zia tak terlalu gemuk dan sedikit tinggi dari Raya.
"Apa ini cocok" gumam Raya melihat gaun selutut warna Dusty.
Raya mengambil gaun itu dan langsung membayarnya, setelah di bayar Raya kembali pada Rayhan dan benar dugaan Raya kalau Jeni belum juga kembali padahal sekarang sudah cukup sore.
__ADS_1
"Pak Ray dimana sekertaris mu itu" tanya Raya.
"Gak tau" ucap Rayhan.
"Bisa kah kita pulang pak, karena menunggu selama satu jam di Mall itu sangat membosankan" ucap Raya.
"Baiklah ayo" ucap Rayhan.
"Tapi Jeni" tanya Raya.
"Aku akan beri pesan padanya" ucap Rayhan.
Mereka berdua kembali ke penginapan karena Raya sudah merasa bosan disana, apa lagi hanya melihat orang orang yang berlalu lalang saja di sana.
"Baiklah pak Ray kau mau makan" tanya Raya saat mereka sudah sampai di penginapan.
"Tidak aku belum lapar" ucap Rayhan.
"Kau kenapa? Marah?" tanya Raya.
"Tidak" ketus Rayhan.
"Ya ampun pak kau sangat ke kanak kanakan, masalah sepele saja kau jadikan masalah besar, hanya karena aku tak suka pada sekertaris mu itu kau marah" ucap Raya.
"Kau yang ke kanak kanakan Nona Raya" ucap Rayhan.
"Oh ya" tanya Raya.
"Apa kau bersikap begini karena kita meninggalkan Jeni sekertaris mu yang cantik itu" ucap Raya.
"Beraninya kau" ucap Rayhan ketus.
"Aku sudah sangka ternyata kalian ada main" ucap Raya sambil melipat tangannya di dada.
"Raya tetap dalam batasan mu" ucap Rayhan.
"Lalu kalau aku lewat batas bagaimana" tanya Raya.
"Kau cemburu padaku Raya, lalu bagaimana dengan mu yang bicara berdua dengan laki laki, bahkan di hadapan suami mu sendiri" ucap Rayhan datar tanpa ekspresi.
"Kau cemburu pak Ray" tanya Raya tersenyum tipis.
"Tidak" ucap Rayhan.
"Kau cemburu pak Ray, terlihat jelas dari wajah mu kalau kamu cemburu" ucap Raya.
Rayhan dengan cepat meraih pingang Raya sehingga membuat Raya menempel padanya, Raya mendongakan wajahnya ke atas menatap wajah tampan Rayhan.
"Kau bicara apa tadi" tanya Rayhan.
"Kau cemburu" ucap Raya.
Bibir Raya di sumpal dengan bibir Rayhan sehingga membuat Raya bungkam, Raya tak percaya kalau saat ini mereka sedang melakukan hal yang sangat in tim.
Bersambung..
__ADS_1