Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 121


__ADS_3

Sekarang Raya dan Mutiya masih berada di cafe menikmati makanan yang baru saja mereka pesan.


{Di mana} pesan dari Rayhan pada Raya.


{Di cafe***} balas Raya.


{Aku akan jemput} pesan Rayhan.


"Lalu apa Tuan Rayhan tau kalau kau sudah tau siapa dia" tanya Mutiya.


"Tidak" ucap Raya sambil memakan makanan nya.


"Aku fikir lebih baik kau selidiki lagi karena kan, begini ya Ray aku juga tau bagai mana Van sekarang, dari sikap yang garang itu ada masalah terdahulu yang Van rasakan" ucap Mutiya.


"Maksudnya" tanya Raya.


"Ya jadi Van itu dulunya punya masalah kelam sampai membuat nya terjerumus ke dunia Mafia" ucap Mutiya.


"Lalu maksud mu, Mas Rayhan juga sama" tanya Raya.


"Bisa saja kan" ucap Mutiya.


"Aku bingung memikirkan nya" ucap Raya.


"Tenang saja nanti juga kau tau jawabannya" ucap Mutiya.


Beberapa orang datang ke sana karena akan membawa mutiya atmala ke hadapan Dion Adinata,


"Nona" ucap salah satu anak buah Van.


"Kalian" tanya Mutiya.


"Nona aku di perintahkan tuan Dion untuk membawa mu ke hadapan nya" ucapnya.


"Ck banyak bicara, tangkap saja dia langsung" ucap anak buah Dion.


Dua orang anak buah Dion langsung mencekal tangan Mutiya menguncinya supaya Mutiya tak bisa melawan.


"Hey lepaskan Mutiya" geram Raya.


"Siapa anda yang berani mengatur" tanya nya.


"Aku teman nya" ucap Raya.


"Tunggu kau istri nya Si Mafia Rayhan bocah itu kan" tanya nya menatap pada Raya.


"Rayhan? Mafia?" Gumam Raya.


"Hey bagai mana kalau kita tangkap saja dia sekalian kan" ucap anak buah Dion.


"Ya bawa saja dia" ucap nya.


"Kalian jangan macam macam kalau tidak aku tak akan segan segan memu kul Kalian" ucap Raya mengancam.


"Kau pikir aku takut" tanya nya.


Dengan cepat Raya dan Mutiya di bawa dari sana dengan naik mobil,


Sedangkan sekarang Van yang baru saja sampai dia langsung melihat kalau ada mobil anak buahnya yang baru saja berangkat dari cafe itu.


"Aku terlambat" ucap Van.


Sedangkan Rayhan sekarang dia baru saja sampai di Cafe itu.


"Aku melihat Raya di bawa tadi apa itu Raya atau penglihatan aku saja yang salah" gumam Rayhan.


Rayhan turun dari mobil nya dan melihat tak ada siapa siapa di cafe itu.


"Apa istri ku datang ke sini" tanya Rayhan pada pelayan cafe itu.


"Tuan Nona yang selalu datang bersama dengan mu dia di bawa orang lain, malahan makanan nya belum di bayar tuan" ucap pelayan.


"Apa" tanya Rayhan terkejut.


"Berarti benar apa yang aku lihat" gumam Rayhan.


Van datang ke sana.


"Bisa aku mencari bukti di sini" tanya Van pada pelayan.


"Tak ada tuan penculik itu tak meninggal kan jejak apa pun" ucap pelayan.


Rayhan mendekat pada Van.

__ADS_1


"Mutiya atmala itu istri mu" tanya Rayhan.


"Ya" ucap Van menatap pada Rayhan.


"Dan istri ku dia bertemu dengan istri mu" ucap Rayhan.


"Apa mereka membawa istri mu juga" tanya Van


"Ya Raya" ucap Rayhan.


"Pelaku nya Dion" ucap Van.


"Dion" gumam Rayhan.


"Aku tau dari anak buah ku" ucap Van.


"Lalu bagai mana sekarang" ucap Rayhan.


"Kita ke markas ku saja, aku yakin mereka ada di sana" ucap Van.


"Ikut lah bersama dengan ku" ucap Rayhan.


Van dan Rayhan pergi dari sana menuju markas Van karena sekarang mereka sedang menjalan kan misi untuk membebaskan istri mereka jadi Van dan Rayhan mau bekerja sama.


Andai saja kalau tak ada masalah mungkin Rayhan tak akan mau mengajak Van untuk bersama dengan nya.


"Apa kau tak akan menghubungi anak buah mu" tanya Van.


"Untuk" tanya Rayhan.


"Untuk melawan anak buah Dion" ucap Van.


"Bukan nya itu anak buah mu juga" tanya Rayhan.


"Sekarang beda" ucap Van.


"Semua nya anak buah mu kenapa harus takut, kau punya kendali atas mereka" ucap Rayhan.


"Kau tau Dion tak segan segan untuk membu nuh anak buah ku yang mengacuhkan permintaan nya" ucap Van.


"Ck kau ini, Dion itu sudah tua umur nya juga sama seperti papah ku, tenaga nya tak akan besar, kau tau apa yang membuat kita kalah darinya" tanya Rayhan.


"Apa" tanya Van.


"Ya aku paham" ucap Van.


"Dasar, Dion itu licik" ucap Rayhan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang" tanya Van.


"Kau ambil kendali atas anak buah mu, kita hancur kan anak buah Dion, dan dalam kesempatan ini aku tak akan menyia nyiakan nya, dendam yang sudah aku pendam ini akan terbalas kan sekarang" ucap Rayhan.


"Baik lah aku paham" ucap Van.


Mereka sampai di markas Blooder.


Van dan Rayhan turun dari sana namun Rayhan ingat dia membawa pistol.


"Van" sahut Rayhan pada Van yang sekarang sudah berada di luar mobil.


"Apa" tanya Van mendekati Rayhan lagi.


"Ambil ini, ingat jangan menembak yang lain karena peluru nya hanya tinggal beberapa biji saja" ucap Rayhan.


"Tapi aku harus nembak siapa" tanya Van.


"Tembak saja diri mu sendiri" gumam Rayhan.


"Baik lah ayo masuk" ucap Van.


Sedangkan Dion adinata sekarang tengah melihat kedua istri musuh musuhnya itu.


"Benar mereka tak salah pilih, lihatlah kedua wanita ini sangat cantik" ucap Dion.


"Tuan kita manfaatkan saja Rayhan untuk memberikan markas nya pada kita kalau tidak istri nya akan kau nikahi" ucap anak buah Dion.


"Bo doh kau pikir gampang mengelabui Rayhan" ucap Dion.


"Tuan kayanya istri Rayhan tak tau kalau suami nya itu seorang Mafia" ucap anak buahnya.


"Hah tak tau" tanya Dion.


Saat ini Raya dan Mutiya sudah di ikat bahkan mulut mereka juga di Lakban jadi apa pun yang mereka bicarakan tak akan jelas terdengar.

__ADS_1


"Sayang sekali, kemana saja kau" ucap Dion menatap pada Raya.


"Oh ya apa kau ingin tau sesuatu, suami mu itu pem Bu nuh kau tau dia sudah membu nuh mungkin 2 sampai 3 ratus orang, dan kau tak tau Astaga kemana saja kau" tanya Dion.


raya menatap dengan tatapan tak percaya.


"Kau mau tau bukti nya, kau akan lihat sendiri nanti" ucap Dion tertawa.


Rayhan datang ke sana, dia mengacung kan pistolnya ke arah atas.


Dorr


Suara peluru menggema di ruangan itu, semua anak buah Dion dan Van langsung melihat pada sumber suara.


"Jika kalian memang menganggap aku ketua kalian kembali lah pada ku" sahut Van pada seluruh anak buahnya.


Karena paham anak buah Van yang setia pada Van pun langsung bangkit dari duduk nya dan berdiri di samping Van armasta.


Dion menatap pada kedua Mafia yang baru saja datang itu.


Sedangkan Raya sekarang dia menangis karena baru tau kalau Rayhan benar benar Mafia.


"Ada apa datang kemari" tanya Dion.


"Apa lagi ingin membebaskan istri ku" ucap Rayhan datar.


"Bagus lah ternyata kalian sangat sayang pada istri kalian" ucap Dion.


"Jangan banyak ba cot" geram Van.


"Serang" teriak Van.


Raya dan Mutiya melihat mereka berkelahi bahkan sampai terdengar di telinga keduanya.


Raya menatap pada Rayhan yang sekarang tengah menyandra Dion dan membawa nya keluar dari sana.


Sedang kan Van armasta sekarang dia tengah membebaskan istrinya dan Raya yang sekarang di ikat.


"Van" ucap Mutiya yang langsung memeluk suami nya itu.


Raya membuka lakban yang ada di mulutnya karena tali yang mengikat nya sudah Van lepaskan.


"Ray kau akan ke mana" tanya Mutiya menata pada Raya yang sekarang akan pergi.


"Mut aku akan ke sana" ucap Raya.


Raya berlari, bahkan dia tak memperdulikan kalau di hadapan nya itu ada banyak orang yang sedang berkelahi.


Raya berhasil keluar karena dia ingin menemui Rayhan yang sekarang berada di luar.


Sedangkan Rayhan sekarang tengah memu kul dan menendang Dion sampai terjatuh ke tanah.


Rayhan menodong pistol pada Dion yang sekarang sudah tiduran di tanah yang kotor.


"Dion adinata, aku hanya akan membalas kan dendam Kematian nenek ku dan masa lalu yang kelam yang aku dan orang tua ku alami, aku harap kau paham" ucap Rayhan.


Secara bersamaan Raya melihat aksi Rayhan yang sekarang akan menembak Dion adinata.


Rayhan memejam kan matanya, ada rasa kasihan dari hati kecil Rayhan karena dia tak tega kalau harus menembak Dion adinata.


Rayhan menarik nafas nya dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Ini untuk kematian Nenek" ucap Rayhan.


Dorr


"Untuk orang tua ku yang sudah kau buat miskin".


Dorr


"Dan ini untuk masa lalu ku dan Zia yang kelam" ucap Rayhan.


Dorr


Tiga Peluru bersarang di jantung Dion, bahkan tak ada lagi alasan untuk Dion hidup.


Rayhan menatap pada Dion yang sekarang sudah tewas, Rayhan menjatuhkan peluru yang ada di tangan nya.


Rasa bersalah bersarang di hati Rayhan, walau pun Rayhan seorang Mafia tapi dia tetap seorang manusia yang punya hati, apa lagi setelah kenal dengan Raya, Rayhan tau apa artinya kemanusiaan.


Bahkan bukan itu saja Raya juga mengajar kan Rayhan untuk membalas mencintai orang yang mencintai.


Kaki Rayhan terasa lemas karena baru kali ini dia menghabisi orang dengan cara kejam begitu.

__ADS_1


"Astaga" gumam Rayhan.


__ADS_2