
Rayhan terus saja memaksa pada sang istri.
"Ayo lah bahkan kita sudah lama tak melakukan aktifitas itu" ucap Rayhan.
"Benar kah bukan nya semalam kita melakukan nya" tanya Raya.
Rayhan menelan Saliva nya kasar karena kenapa dia bisa lupa masalah itu.
"Itu kan semalam" ucap Rayhan.
"Jangan sekarang mas malu" ucap Raya.
Namun Rayhan seolah tak mendengar kan Raya dia hanya fokus mendaratkan ciuman panas pada Raya.
"Tua....n" ucap Lukas yang datang ke sana dengan langsung membuka pintu tanpa mengetuk dahulu.
Lukas merasa malu karena melihat tuan nya sedang bersama sang istri.
Lukas berbalik dan membelakangi tuan nya itu.
"Ck ganggu saja" gerutu Rayhan.
"Mas" ucap Raya.
"Ada apa Lukas, jangan so polos Lukas kemari lah" ucap Rayhan.
Lukas mendekat pada Rayhan.
"Ini tuan ada berkas yang harus anda tanda tangani" ucap Lukas.
"Bukan kah itu tugas Raya" tanya Rayhan.
"Ya tadi aku memanggil Nona tapi Nona tak ada di meja nya" ucap Lukas.
"Ya tuan Lukas mas Rayhan memanggil tadi" ucap Raya.
Rayhan mengambil berkas nya dan langsung menanda tangani nya dengan cepat.
"Pergi lah aku sibuk" ucap Rayhan ketus.
Lukas pergi dari sana karena tak mau mengganggu tuan nya.
"Kau sangat kasar mas" tanya Raya.
"Aku bahkan bisa lebih kasar dari ini" ucap Rayhan.
"Oh ya" tanya Raya.
"Tentu saja" ucap Rayhan.
"Ayo lah sebentar saja" ucap Rayhan.
"Malu mas nanti ada yang datang lagi" ucap Raya.
"Gak akan" ucap Rayhan.
"Mas ayo lah kau kalau minta selalu lama" ucap Raya.
"Sekarang akan sebentar kok lima menit" ucap Rayhan.
"Malu mas lihat ruangan ini bahkan terlihat ke luar" ucap Raya.
"Kita lakukan di kamar ku" ucap Rayhan.
"Kamar" tanya Raya.
"Apa kita akan pulang dulu, mas sangat jauh" ucap Raya.
"Ikut aku" ucap Rayhan membawa Raya ke kamar pribadi nya di ruangan itu.
"Ini kamar pribadi mu mas, kenapa aku gak tau" tanya Raya.
"Kan sekarang tau" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Raya.
Di markas Blooder, Van Armasta tengah marah pada Dion karena bisa bisa nya anak buah Dion gagal menyerang Lukas dan Rega.
"Lalu bagai mana sekarang" tanya Van dengan amarah nya yang sudah tak terkendali kan lagi.
"Tuan kau jangan menyalahkan anak buah ku saja, lalu bagai mana dengan anak buah mu yang gagal tapi tak melakukan penyerangan" ucap Dion.
"Aku heran pada mu aku rasa kau tidak tertarik dengan kerja sama ini, bahkan aku sangat ragu pada mu" ucap Van.
"Ragu bagai mana aku sudah kerah kan anak buah aku untuk menyerang kedua pengawal pribadi Rayhan tapi mereka Gagal tak masalah kan yang paling penting anak buah ku menyerang Sampai babak belur" ucap Dion merasa kalau dirinya paling benar.
"Terserah" ucap Van.
"Bagai mana sekarang" tanya Dion.
"Biar kan aku berfikir dahulu" ucap Van.
"Kau sangat tak bisa di andalkan Tuan" ucap Dion.
"Aku punya ide dan kalau ide ku ini bagus maka aku yang akan memimpin" ucap Dion.
"Mana bisa begitu" tanya Van.
"Ya sudah terserah kau saja" ucap Dion.
"Baik lah apa " tanya Van menatap pada Dion.
"Bagai mana kalau kita bakar rumah kediaman Rayhan, atau kita bakar saja perusahaan nya" ucap Dion.
" Kau gi la apa sekarang polisi banyak bahkan anak buah Rayhan juga banyak kau gak akan selamat" ucap Van.
"Aku pernah melakukan nya dulu pada papah nya Rayhan, aku menge bom rumah nya kau tau selanjutnya apa, aku dapat kan semua kekayaan papah Rayhan sampai sekarang dari mana uang yang aku dapat kan kalau bukan dari harta Topan Wijaya" ucap Dion.
"Tapi itu dulu kan mungkin sudah sepuluh tahun lebih kau melakukan hal itu" ucap Van.
"Ya kenapa kita tak coba saja sekarang" ucap Dion.
"Apa kita akan menge bom kediaman papahnya Rayhan" tanya Van.
"Tentu saja tidak dia sudah miskin apa yang akan kita dapat kan" ucap Dion.
"Aku akan atur rencana nya kau diam saja" ucap Dion lagi.
"Ya" ucap Van.
"Dan aku akan menjadi pemimpin sekarang" ucap Dion dengan tersenyum penuh arti.
"Terserah kau saja" ucap Van.
Sore harinya Mutiya pulang ke rumahnya namun ada hal yang membuat nya malas untuk pulang, keadaan Van yang sekarang duduk di sofa dengan wajah nya yang di tekuk.
Mutiya langsung berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Apa begitu sikap mu pada suami mu" tanya Van ketus pada Mutiya.
"Lalu aku harus apa" tanya Mutiya.
"Pijitin atau tawar kan kopi" ucap Van.
"Ada pembantu kan aku capek kerja bayar pembantu buat apa" ucap Mutiya.
"Malas aku pulang melihat kau yang begitu egois" ucap Van.
"Lalu kenapa pulang tinggal saja di markas mu itu" ucap Mutiya.
"Ck kau besar kepala Mut" ucap Van.
"Oh ya, bagus dong" ucap Mutiya.
Van pergi dari sana meninggalkan Mutiya sendirian, setelah orang tua Mutiya meninggal Mutiya tinggal sendirian di rumah sebesar itu.
Kalau bukan karena wasiat dari papah dan mamah nya Mutiya mungkin tak akan mau menikah dengan Van yang terkenal sebagai Mafia kejam.
Tetapi sekarang setelah lama tinggal bersama dengan Van, Mutiya menganggap kalau Van hanya lah pecundang dan laki laki yang tak bertanggung jawab.
Bahkan Mutiya juga pernah melihat Van kencan dengan wanita di luaran sana namun hal itu tak membuat Mutiya cemburu malahan Mutiya merasa sangat kasihan pada kehidupannya.
Di perusahaan Rayhan, sekarang Raya dan Rayhan masih berada di ruangan karena akan menyelesaikan berkas yang tadi sempat tertinggal.
"Tuh kan mas kata aku juga apa" ucap Raya.
"Maaf aku gak sengaja aku kira hanya lima menit" ucap Rayhan.
"Sudah lah ayo selesai kan saja ini" ucap Raya.
Lukas datang ke sana.
"Tuan" sahut Lukas dari arah pintu.
"Masuk" ucap Rayhan.
"Tuan semua karyawan akan pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai" ucap Lukas.
"Ya pulang saja" ucap Rayhan.
"Baik tuan" ucap Lukas.
"Ayo pulang" ucap Rayhan pada Raya.
"Kenapa" tanya Raya.
"Sudah malam" ucap Rayhan.
"Bentar mas lihat pekerjaan sebentar lagi selesai" ucap Raya.
"Ya sudah ya" ucap Rayhan.
Sampai selesai Raya dan Rayhan berada di ruangan Rayhan, keadaan malam sangat berbeda apa lagi sekarang terasa sangat gelap dan dingin.
"Ayo pulang Ray sudah malam" ucap Rayhan.
"Ya ayo" ucap Raya.
Mereka berdua keluar dari perusahaan Rayhan.
Raya menatap ke sekeliling.
"Mas keadaan malam di sini sangat beda ya" ucap Raya.
"Ya kau benar" ucap Raya.
"Jangan lihat ke mana mana fokus saja pulang" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Raya.
Namun tiba tiba saja perusahaan itu padam listrik yang ada di sana semua padam hingga ruangan itu padam total.
"Aaaaa" teriak Raya yang langsung memeluk Rayhan suaminya karena takut.
"Kau tenang saja Raya" ucap Rayhan mengelus elus rambut Raya supaya Raya bisa sedikit tenang.
Rayhan melihat senter hp nya supaya ada sedikit penerangan di sana.
Rayhan menuntun Raya untuk keluar dari perusahaan nya itu.
"Sudah ayo pulang" ucap Rayhan.
Rayhan mengendarai mobilnya karena akan pulang ke rumah walau pun dalam keadaan gelap tadi karena cahaya lampu mobil Rayhan bisa pulang dengan selamat.
"Ayo masuk ke rumah" ucap Rayhan saat mereka sudah berada di kediaman nya.
"Mas aku melihat ada bayangan di sana" ucap Raya.
"Di mana" tanya Rayhan.
"Di perusahaan mas" ucap Raya.
"Masa sih" tanya Rayhan.
"Beneran mas aku gak bohong" ucap Raya.
"Besok kita lihat cctv saja" ucap Rayhan.
"Ya mas aku takut ada maling" ucap Raya.
"Ya aku akan cek" ucap Rayhan.
Pagi harinya Raya sudah di sibukkan dengan notif dari ponselnya yang sejak tadi tak berhenti.
"Raya coba lihat ponsel mu berdering" ucap Rayhan yang sekarang masih tidur.
"Ya mas" ucap Raya yang sekarang sudah mandi dan baru saja keluar dari kamar mandi.
Raya mengambil ponsel nya ternyata dari orang yang tak Raya kenal.
Raya membuka pesan yang di kirimkan oleh nomor yang tak Raya kenal itu.
"Mutiya" gumam Raya.
"Siapa" tanya Rayhan.
"Mutiya Atmala mas" ucap Raya.
"Ada apa menghubungi mu se pagi ini" tanya Rayhan.
"Dia ngajak temu mas" ucap Raya.
"Kau akan datang" tanya Rayhan.
"Boleh kah" tanya Raya.
__ADS_1
"Boleh" ucap Rayhan.
"Aku akan bertemu dengan nya setelah itu aku akan ke kantor" ucap Raya.
"Ya" ucap Rayhan.
Setelah selesai masak untuk Rayhan, Raya langsung berangkat ke cafe yang Mutiya sebutkan di Chat mereka.
Namun sebelum pergi Rayhan sudah mewanti wanti pada supir untuk menjaga Raya karena Rayhan takut ada yang macam macam pada Raya.
Setengah jam berlalu Raya sampai di sana dan benar saja ada Mutiya di sana yang sudah menunggu Raya.
"Mut maaf aku terlambat" ucap Raya.
"Tak masalah" ucap Mutiya.
"Aku tadi masak dulu" ucap Raya.
"Masak bukan kah kau punya pembantu tak mungkin kan seorang Rayhan Wiguna tak punya pembantu" tanya Mutiya.
"Ya punya tapi kan kalau urusan masak tugas istri kan" ucap Raya.
"Oh ya" tanya Mutiya.
"Ya aku sering melakukan nya" ucap Raya.
"Tapi aku tidak" ucap Mutiya.
"Oh ya maaf aku menghubungi mu pagi sekali" ucap Mutiya.
"Tak masalah ada apa" tanya Raya.
"Aku mau cerita" ucap Mutiya.
"Cerita lah" ucap Raya.
"Aku tak punya teman Raya aku harap kau bisa menjadi teman sharing ku" ucap Mutiya.
"Ya kau bisa percaya pada ku" ucap Raya.
"Ray suami ku entah lah aku sudah tak nyaman dengan nya apa kau tau Ray aku muak melihat nya " ucap Mutiya.
"Kenapa memangnya berapa lama kalian menikah" tanya Raya.
"Baru delapan bulan" ucap Mutiya.
"Hah baru delapan bulan saja kau sudah muak" tanya Raya.
"Ya kau tau dia itu sangat toxic Raya aku tau pekerjaan nya itu tak baik, aku dengar dari orang lain dia kejam dan tak berperasaan tapi kau tau di depan aku dia layak sebagai seorang pecundang" ucap Mutiya.
"Memang nya apa pekerjaan nya" tanya Raya.
"Mafia" ucap Mutiya.
"Mafia itu kerja apa" tanya Raya.
"Ya ampun Raya Mafia itu sebuah geng yang bergerak di bidang kek masalah gitu kalau ada yang nyuruh mem Bu nuh mereka akan lakukan, dia itu sangat banyak musuh Raya tapi suami aku ini kerja di bagian jual beli obat obatan terlarang" ucap Mutiya.
"Oh ya" tanya Raya.
"Heem sikap nya tuh aneh banget kalau lagi marah kan dia akan berteriak teriak tak jelas bahkan anak buah nya juga sering datang ke rumah, bahkan dulu pernah dia pulang dengan keadaan babak belur" ucap Mutiya.
"Separah itu kah" tanya Raya.
"Tentu saja" ucap Mutiya.
Namun Raya malah teringat pada sikap aneh Rayhan yang pernah saat pulang dia babak belur, Dan saat pulang dari Dermaga Rayhan sempat marah marah tak jelas pada Raya.
Bahkan banyak juga yang mengaku anak buah Rayhan datang ke rumah nya.
"Raya" ucap Mutiya yang sadar kalau Raya melamun.
"Maaf aku tak fokus" ucap Raya.
"Ya bagai mana cara nya agar aku bisa lepas dari nya" ucap Mutiya.
"Saran aku sih, jangan lah jangan pisah dia juga pilih an kamu kan" ucap Raya.
"Hah mana ada dia itu pilihan orang tua aku" ucap Mutiya.
"Apa kau sayang pada nya" tanya Raya.
"Hah bahkan sedikit saja aku tak pernah berfikir begitu Raya, aku akui dia memang tampan tapi aku gak suka pekerjaannya" ucap Mutiya.
"Coba dekati dia layani dia Mut kalau dia berubah dan bersikap baik pada mu maka kamu yang salah" ucap Raya.
"Aku salah mana mungkin aku sudah melakukan hal yang baik" ucap Mutiya.
"Aku saran kan coba layani dia" ucap Raya.
"Maksud nya layani di atas ranjang" tanya Mutiya.
"Ya bukan hanya itu saja makanan nya dan semua nya" ucap Raya.
"Aku akan coba" ucap Mutiya.
"Ya lebih baik begitu dulu kau istrinya kan kau berhak atas semua suami mu Mut" ucap Raya.
"Ya aku akan coba" ucap Mutiya.
"Tapi Ray kalau gagal aku bisa kan di pengadilan kau mau kan antar aku" ucap Mutiya lagi.
"Boleh" ucap Raya.
"Siapa nama suami mu" tanya Raya.
"Van Arm.." ucap Mutiya terpotong karena ada pelayan yang datang mengantar kan makanan.
"Silahkan Nona" ucap pelayan.
"Terima kasih" ucap Raya dan Mutiya.
Mereka berdua makan di sana sampai habis.
Sedangkan di perusahaan Rayhan sekarang tengah terjadi kekacauan karena perusahaan Rayhan semua barang barang di sana berantakan semua bahkan meja karyawan pun ada yang patah.
Bukan hanya itu saja komputer karyawan pun hancur bahkan hampir semua tak bisa hidup lagi komputer nya.
"Siapa yang melakukan itu" tanya Rayhan yang baru saja datang ke sana.
"Saya tidak tau tuan saya baru datang dan semuanya sudah begini" ucap Lukas.
"Cari tau siapa yang melakukan nya aku tak akan ampuni dia" ucap Rayhan marah pada orang itu.
"Baik tuan" ucap Lukas.
bersambung
__ADS_1