Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 44


__ADS_3

Zia dengan sangat antusias memilih baju yang berjajar di sana, sedangkan Raya hanya melihat lihat saja baju yang berjajar dari depan pintu sampai ujung itu.


Raya teringat pada ucapan Rahma tentang Lingrie, Raya kemudian mencari Lingrie untuk dia pakai di hadapan Rayhan.


"Raya kalau kau ingin suami mu dekat dengan mu aku sarankan kau membeli lingrie" ucap Rahma temannya Raya di kampus pagi tadi.


"Apa hubungannya Lingrie dengan suami" tanya Raya pada Rahma temannya itu.


"Entah tapi tante aku kalau malam sering pakai lingrie, Ya aku juga gak tau fungsu Lingrie itu untuk apa" ucap Rahma.


"Baiklah aku akan coba beli" ucap Raya ragu ragu.


Percakapan itu masih bisa Raya ingat dalam benaknya.


"Apa ini Lingrie" gumam Raya melihat baju Lingrie yang transparan lebih mirip dengan saringan teh bubuk.


Raya melihat lihat dia tau seperti apa baju Lingrie karena pagi tadi Rahma memperlihatkan foto lingrie yang sangat pendek.


"Warna hitam bagus juga, lagian ini tak terlalu transparan" gumam Raya mengambil satu buah baju Lingrie berwarna Hitam.


Raya kembali mendekati Zia yang sekarang sedang membawa keranjang belanjaan yang penuh dengan makanan dan pakaian yang sangat banyak.


"Ayo kakak ipar kita bayar" ucap Zia.


"Ayo" ucap Raya.


"Tunggu kau hanya beli baju itu saja satu" tanya Zia menunjuk pada baju yang sekarang sedang Raya bawa namun baju itu terlihat jadi Zia tak melihat baju apa yang di beli Raya.


"Ya hanya ini saja lagi pula baju ku masih banyak" ucap Raya.


"Baiklah ayo" ucap Zia.


Mereka membayar baju yang mereka beli, Lingrie yang Raya beli seharga seratus ribu dan pakaian serta makanan yang Zia beli jumlahnya lebih dari lima ratus ribu.


"Kakak ipar bagaimana ini belanjaan ku lebih" ucap Zia memelas karena ini Raya yang membayar semuanya.


"Tenang saja Zia, biar aku yang bayar" ucap Raya.


"Tapi jangan bilang kakak" ucap Zia.


"Ya aku janji" ucap Raya.


"Yeayy terima kasih kakak ipar" ucap Zia.


"Sama sama".


Zia dan Raya pun berjalan karena hendak pulang namun lagi lagi Zia harus bertemu dengan Akash laki laki yang pernah menghianatinya sedang bersama dengan istri barunya.


"Hy Zia, sedang apa? Belanja? Oh aku tau kau sedang berusaha melupakan aku dengan belanja" ucap Akash mengejek Zia.


"Terlalu percaya diri" gumam Zia yang masih terdengar oleh pasutri yang beda usia itu.

__ADS_1


"Sayang bisa kan kau membelikan aku jam tangan mahal yang pernah aku perlihatkan padamu kemarin" tanya Akash pada istrinya itu.


"Apa pun yang kau mau, kau bisa membelinya" ucap wanita tua itu.


"Hahahah aku tak sangka ternyata Akash memanfaatkan mu" ucap Zia tertawa terbahak bahak.


Plakk


Wanita tua itu menampar Zia dan hal itu membuat Zia langsung diam dari tertawanya.


"Diam Bocah kau sangat berisik, kalau Akash tak meninggalkan mu karena aku, itu tandanya kau bod*h kau tak bisa memberikan kebahagiaan bagi Akash jadi pergilah kau memang tak berguna" ucap wanita itu pada Zia.


Raya yang melihat itu pun langsung marah.


"Hey Nyonya jaga bicara mu bukan adikku yang Bod*h tapi kau, kau yang bod*h karena sudah menerima laki laki matre seperti kadal buntung ini, dan kau mulut soang jaga sikap mu kau dan Zia sudah bukan siapa siapa lagi jadi aku harap kalau kalian bertemu jangan pernah menyapa adikku" ucap Raya marah sambil menunjuk nunjuk pasangan pasutri itu.


"Kau bocah beraninya kau bicara begitu padaku" ucap Akash marah pada Raya.


"Apa berani pada perempuan, dasar matre mulut soang, aku harap kau enyah dari muka bumi ini" ucap Raya.


"Ayo sayang kita pergi saja jangan dengarkan ocehan Bocah ini" ucap wanita itu menarik tangan Akash.


"Kalian semua memang keturunan Mafia tak sangka aku bukan Rayhan saja yang seorang Mafia tadi adik dan istrinya juga sama" ucap Akash yang langsung pergi dari sana.


Zia masih menatap Raya dengan tatapan tak percaya karena kakak iparnya yang masih kecil itu bisa membelanya layaknya kakak sendiri.


"Zia kau tak apa" tanya Raya pada Zia yang masih melongo tak percaya.


"Tak apa hanya begitu saja" ucap Raya.


"Tapi kau sudah membungkam mulut wanita tua itu" ucap Zia.


Saat ini perasaan Zia sedang tak baik baik saja rasa sedih dan bahagia bercampur dalam hartinya, sedih karena kehilangan Akash yang sangat Zia sayangi dan Bahagia karena Raya membelanya dan membuat Wanita yang menamparnya barusan itu bungkam.


"Ayo kita pulang, Zia aku sangat bersyukur kau bisa lepas dari laki laki itu karena Mulut soang seperti dia tak akan pernah diam" ucap Raya.


"Ya kak tapi aku sangat sayang pada Akash" ucap Zia.


"Tenang Zia, suatu hari nantin kau akan mendapatkan laki laki yang baik" ucap Raya.


Mereka berdua masuk kedalam mobil milik Rayhan, pesan masuk terdengar dari ponsel Zia, dengan cepat Zia membuka pesan itu.


{ mau kan main denganku malam ini } pesan dari Alena.


{ boleh } balas Zia.


Zia merasa sedikit bebas karena orang tuanya sudah pulang ke kampung jadi tak akan ada yang akan menanyakan dimana Zia sekarang, kalau hanya Rayhan saja Zia bisa mengatasinya.


"Kakak ipar malam ini aku boleh pergi" tanya Zia.


"Dengan siapa" tanya Raya.

__ADS_1


"Dengan Alena sepupu Aku dan kakak" ucap Zia.


"Zia sebaiknya kau langsung saja ijin pada Pak Ray aku takut dia akan marah" ucap Raya.


"Ya aku akan usahakan" ucap Zia.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di perusahaan Rayhan, Zia langsung turun dan berlari menuju ruangan Rayhan yang berada di lantai dua itu.


"kak" teriak Zia saat sampai di ruangan Rayhan.


"ada apa dimana Raya" tanya Rayhan menatap ke arah belakang Zia namun tak ada siapa siapa.


"kakak ipar ada di belakang mungkin dia sedang berada di tangga" jawab Zia.


"oh" ucap Rayhan.


"kak bolehkan aku pergi malam ini dengan Alena, aku mohon kak aku ingin melupakan Akash mungkin dengan kumpul dengan Alena dan yang lainnya aku bisa sedikit move on" ucap Zia.


"apa siang hari tak bisa" tanya Rayhan yang langsung di balas gelengan kepala oleh Rayhan.


"ayolah kak sebentar saja aku tak akan lama" ucap Zia memaksa.


"tetap tak boleh".


Raya baru saja sampai di sana dengan membawa barang belanjaan Zia yang sangat banyak, Rayhan menatap Raya dengan tatapan sendu sedangkan pada Zia dia menatap marah.


"kenapa kau tak membantu Kakak iparmu" tanya Rayhan menatap tajam pada Zia.


"kak itu hanya sedikit" ucap Zia.


"sedikit kau bilang sedikit? Kenapa kau tak berinisiatif membantunya bahkan aku yakin semua itu adalah belanjaan punya mu" ucap Rayhan.


"kak ayolah masalah sepele" ucap Zia.


"ya pak Ray tak apa lagian ini tak berat kok" ucap Raya membela Zia.


"kakak ipar, lihat kakak dia tak mengijinkan aku pergi malam ini" ucap Zia pada Raya.


"pak Ray" tanya Raya.


"Raya aku hanya tak mau Zia terbawa bawa dengan Alena aku tau betul bagaimana sikapnya" ucap Rayhan.


"tapi kak alena sekarang baik dia sangat baik sekarang" ucap Zia.


Raya menatap tajam pada Rayhan.


"baiklah aku mengijinkan kamu pergi tapi hanya untuk malam ini saja dan pukul delapan malam kau harus sudah pulang" ucap Rayhan.


"yeayy siap bos" ucap Zia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2