Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 30


__ADS_3

"Ini perusahaannya" tanya Rayhan pada Lukas yang sudah sampai di perusahaan mewah kepunyaan bu Ajeng.


"Ya tuan" jawab Lukas.


"Perusahaannya bagus" ucap Rayhan.


"Fikri Widirjda" gumam Rayhan.


"Fikri nama anak nya tuan" ucap Lukas yang mendengar gumaman Rayhan.


Rayhan dan Lukas masuk kedalam perusahaan mewah itu, sampailah Rayhan di Loby perusahaan itu sangat mewah dengan desain yang sangat rapih dan bagus.


"Apa Ibu Ajeng ada" tanya Lukas pada laki laki yang menjaga resepsionis itu.


"Apa anda tuan Rayhan dari perusahaan Wiguna Group" tanya Resepsionis itu.


"Ya" ucap Lukas.


"Bu Ajeng menunggu anda di ruangannya tuan" ucap Resepsionis itu.


Lukas dan Rayhan berjalan kearah ruangan Bu Ajeng, ruangan Ceo di sana.


Rayhan saat ini menjadi tatapan setiap mata para wanita yang bekerja di sana.


Pesona Rayhan membuat setiap wanita meleleh di buatnya, tetapi Rayhan tak memperdulikan tatapan para wanita itu karena baginya sudah biasa di tatap begitu oleh para wanita.


"Tuan mungkin ini ruangannya" ucap Lukas melihat ruangan yang bertuliskan Ceo Room.


"Ketuklah" titah Rayhan.


Tokkk


Tokkk


"Masuk" teriak Seorang wanita dari dalam sana.


Rayhan dan Lukas masuk dengan cepat Bu Ajeng langsung mendekat pada Rayhan dan memberikan hormat pada Rayhan dan Lukas.


"Nyonya anda berlebihan" ucap Rayhan tak enak karena Bu Ajeng sampai memberikan hormat padanya.


"Selamat datang tuan Ray maaf penyambutan anda biasa saja" ucap bu Ajeng.


"Ah Nyonya jangan panggil aku tuan, panggil saja Rayhan" ucap Rayhan.


"Ya silahkan duduk Ray" ucap Bu Ajeng mempersilahkan Rayhan dan Lukas untuk duduk di sofa mewah di ruangan itu.


Bu Ajeng mendekat pada meja kerjanya dia menelpon seseorang untuk datang ke ruangan itu, Lalu dia duduk di kursi bersebrangan dengan Rayhan.


"Nak Ray mau minum apa" tanya Bu Ajeng.


"Tidak perlu repot repot Nyonya" ucap Rayhan.


"Nak Ray jangan panggil Nyonya, panggil saja Ibu" ucap Bu Ajeng.


"Oh maaf kan saya" ucap Rayhan.

__ADS_1


Seorang wanita muda dan cantik datang kesana sambil membawa map berwarna coklat.


"Mah ada berkas yang harus di tanda tangani" ucap wanita itu dengan suara lembut.


Namun suara itu terasa tak asing bagi Rayhan, dengan cepat Rayhan menatap pada wanita cantik yang sedang berdiri tak jauh darinya itu.


"Raya" ucap Rayhan menatap pada Wanita itu.


"Nak Ray apa kau mengenal Raya" tanya Bu Ajeng.


"Tentu kami pernah bertemu dulu" ucap Rayhan.


"Oh Raya sini duduk nak" ucap Bu Ajeng pada Raya, dan Raya hanya patuh saja pada Bu ajeng.


"Raya ini anak Ibu kami baru bertemu satu bulan yang lalu" ucap Bu Ajeng.


"Oh ya" ucap Rayhan.


Mata Rayhan tak henti hentinya menatap pada Raya, kali ini Raya sangat cantik apa lagi pakaian Raya yang sedikit minim membuat Raya semakin terlihat cantik.


"Ada apa kamu datang kesini sayang" tanya Bu Ajeng pada Raya.


"Ini mah ada berkas yang harus mamah tanda tangani" ucap Raya.


"Sini biar mamah lihat" ucap Bu Ajeng.


"Pak Ray mau minum apa" tanya Raya pada Rayhan yang matanya masih menatap pada Raya.


Jujur saja Raya sangat malu karena mendapat tatapan dari Rayhan apa lagi mata Rayhan seakan tak mau beranjak dari Raya.


"Pak Ray" tanya Raya lagi yang berhasil membangunkan Rayhan dari lamunanya.


"Dia menawarkan anda minum tuan" bisik Lukas.


"Tak perlu repot repot Raya" ucap Rayhan.


"Tak apa aku akan membawakan kalian minum, tak pantas bukan seorang tamu tak di tawari minum" ucap Raya yang langsung bangkit dan mengambil dua gelas air minum yang ada di ruangan itu.


"Mah sore ini aku masuk kuliah" ucap Raya.


"Ya tak apa Ray, ajak juga kakak mu ya" ucap Bu Ajeng.


"Ya mah" ucap Raya sambil menyuguhkan dua gelas air minum pada Rayhan.


"Saya permisi" ucap Raya yang langsung pergi dari sana.


Bu Ajeng pun memulai pembicaraanya, setengah jam sudah Rayhan membicarakan semua detail perusahaannya bahkan keutungan Bu Ajeng jika bergabung dengan perusahaan Rayhan.


"Saya tertarik pada penawaran ibu" ucap Rayhan.


"Ya asalkan nak Ray mau menyuntikan dana pada perusahaan ini, ibu sangat senang sekali bisa bergabung dengan perusahaan Wiguna Group apa lagi perusahaan Nak Rayhan sekarang sedang terkenal" ucap Bu Ajeng.


"Kalau untuk penyuntikan dana saya bisa saja bu asalkan keutungannya sama seperti yang sudah ibu katakan tadi" ucap Rayhan.


"Nak Ray apa boleh ibu bertanya" tanya Bu ajeng.

__ADS_1


"Ya" ucap Rayhan.


"Apa nak Ray tau tentang Raya, atau Raya pernah bicara apa begitu pada nak Ray" tanya Bu Ajeng.


"Memangnya kenapa Bu" tanya Rayhan.


"Waktu itu Ibu tak sengaja melihat tubuh Raya yang banyak sekali luka seperti luka pukulan, apa nak Ray tau siapa yang melakukannya" tanya bu Ajeng.


Rayhan memberikan kode pada Lukas agar pergi dari sana.


"Bu apa Raya tak menceritakannya" tanya Rayhan.


"Ibu malu menanyakannya nak Ray, ya siapa tau saja nak Ray tau" ucap Bu Ajeng.


"Dulu waktu saya bertemu dengan Raya, saya mengantar Raya ke rumah pamannya namun paman Raya memukuli Raya dengan tongkat Bu, saya gak terlalu tau masalahnya apa tapi saya yang membawa Raya pergi dari rumah pamannya itu dan mencarikan kosan pada Raya" jelas Rayhan.


"Sudah aku duga" geram Bu Ajeng.


"Terima kasih nak Ray karena sudah memberi taukan pada Ibu masalah ini" ucap Bu Ajeng.


"Tak apa Bu, jika saya tau maka akan saya bicarakan" ucap Rayhan.


"Baiklah bu saya harus pamit sekarang, ada pekerjaan yang harus saya kerjakan" ucap Rayhan.


"Ya terima kasih nak Ray" ucap Bu Ajeng.


Rayhan pergi dari ruangan itu, karena sekarang Rayhan harus pergi ke markas untuk melihat apa anak buahnya itu sudah mencari tau masalah Dion.


"Lukas ayo ke markas" ajak Rayhan.


"Tapi tuan di perusahaan sangat banyak pekerjaan" ucap Lukas.


"Baiklah kau pergi ke perusahaan dan aku akan ke markas" ucap Rayhan.


"Ya tuan saya akan memesan taksi" ucap Lukas.


Rayhan berjalan keluar tanpa di duga Rayhan bertemu dengan Raya, saat itu Raya sedang berjalan masuk kedalam lift dan Rayhan pun mengikutinya.


Hanya ada Rayhan dan Raya di dalam lift itu karena Lukas memilih untuk turun dengan tangga saja karena hanya dari lantai dua ke lantai satu saja.


"Pak Ray" ucap Raya.


"Aku tak sangka kau anak bu Ajeng" tanya Rayhan.


"Aku lebih tak percaya pak Ray" ucap Raya.


"Bagaimana kuliah kamu" tanya Rayhan.


"Lancar" jawab Raya.


Tingg


Pintu Lift terbuka.


"Pak Ray saya permisi" ucap Raya yang langsung keluar dari dalam lift itu.

__ADS_1


Sedangkan Rayhan langsung tancap gas menuju ke markasnya karena saat ini dia sudah tak sabar mendengar berita dari anak buahnya.


Bersambung..


__ADS_2