
Mereka bertiga sampai di kampus, semuanya membayar dengan cepat karena kampus juga sudah kosong karena orang lain sudah datang tadi pagi.
"Ray ayo ke cafe dulu" ucap Rahma.
"Ayo, bagai mana kamu Jul" tanya Raya pada Julia.
"Ayo lah Jul" ucap Rahma.
"Tapi aku harus kerja lagi" ucap Julia.
"Kapan kau kerja" tanya Raya.
"Jam 2 sore harus ada di kantor" ucap Julia.
Raya menatap pada jam tangan yany Rahma pakai.
"Masih jam 1 Jul ayo lah sebentar saja aku traktir" ucap Raya.
"Ayo lah" ucap Rahma membujuk.
"Ya baik lah" ucap Julia.
Mereka bertiga pun mampir ke cafe karena akan minum minum, Raya memesan makanan kesukaan teman temannya itu bahkan sekarang mereka sudah duduk di salah satu meja.
Cafe itu cukup sepi sekarang apa lagi sekarang waktunya para karyawan masuk lagi ke kantornya.
"Rahma kapan rencananya kau akan menikah" tanya Raya.
"Ray aku masih maju mundur Nih, apa lagi aku takut kurang sempurna buat kak El" ucap Rahma.
"Kurang sempurna bagai mana Ra, kau cantik, baik, kaya, turunan dari keluarga terpandang, lalu apa lagi yang kurang dari mu Ra, kau punya semuanya beruntung sekali laki laki yang akan mendapatkan mu" ucap Julia.
"Ya Julia benar Rah" ucap Raya.
"Aku akan fikirkan lagi nantinya, ya aku ingin menikah dengan kak El apa lagi sekarang kak El Care banget pada ku" ucap Rahma.
"Ya kalau aku jadi kamu sih, aku akan terima saja" ucap Julia.
"Doa kan saja semoga aku dan kak El berjodoh" ucap Rahma.
"Amin" serempak.
Di kediaman Rayhan sekarang Elpan dan Iqbal datang karena akan melihat kondisi terkini Rayhan, sambil membawa buah tangan.
"Kalian datang" tanya Nita yang membuka kan pintu rumah Rayhan.
"Ya tante kami akan menjenguk Rayhan" ucap Iqbal.
"apa Rayhan nya ada" tanya Elpan.
"Ada ayo masuk" ucap Nita mempersilahkan kedua laki laki itu masuk.
"Sebentar aku akan panggilkan" ucap Nita.
"Ya tante" ucap Elpan.
Nita berjalan kearah kamar Rayhan yang berada di lantai atas.
"Ray" sahur Nita yang langsung membuka pintu kamar Rayhan.
"Ya mah" tanya Rayhan.
"Ada teman teman kamu datang" ucap Nita.
"Siapa" tanya Rayhan.
"Iqbal sama Elpan" ucap Nita.
"Bilang pada mereka kalau aku akan segera datang" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Nita.
"Ada apa kedua orang ko nyol itu datang" gumam Rayhan.
Rayhan berjalan ke lantai bawah, ternyata benar kedua teman ko nyol nya itu sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Bagai mana sudah mendingan" tanya Iqbal.
"Seperti yang kau lihat" ucap Rayhan.
"Aku harap kau segera sembuh, aku sudah ingin nongkrong lagi" ucap Iqbal.
"Ya sebentar lagi aku akan sembuh" ucap Rayhan.
"Aku harap begitu" ucap Iqbal.
"Ray aku bawa ini, maaf ya hanya buah buahan saja" ucap Elpan.
"Tak apa, terima kasih sudah datang" ucap Rayhan.
"Ya sama sama" ucap Elpan.
"Oh ya aku ada pertanyaan buat kalian" ucap Rayhan.
"Apa" tanya Elpan dan Iqbal secara besamaan.
"Dulu saat aku tenggelam apa kau melihat ada Dion di sana" tanya Rayhan.
Iqbal sempat berfikir dahulu.
"Kaya nya gak ada" ucap Iqbal.
"Yang benar ingat ingat lebih detail" ucap Rayhan.
"Beneran gak ada" ucap Iqbal.
"Aku gak lihat soalnya" ucap Elpan.
"Kata nya Dion sudah meninggal tapi aku gak yakin" ucap Rayhan.
"Bukan nya seharusnya kau senang kalau dia meninggal karena kan musuh mu sudah tak ada" ucap Elpan.
"Tidak, aku senang tapi masa sih orang seperti Dion bisa mati secepat itu, kau tau kan dia itu ber kuasa aku saja yang tenggelam bisa di selamatkan apa lagi dia yang banyak uang dan banyak anak buah" ucap Rayhan.
"aku setuju pada mu Ray, benar juga ya mana mungkin dia akan secepat itu meninggal" ucap Iqbal.
"Sudah lah kalian ini jangan bahas dia lagi" ucap Elpan.
"Tapi El kau gak tau bagai mana geram nya aku pada dia" ucap Rayhan.
"aku tau tapi aku tak bisa apa apa Ray karena itu urusan pribadi mu aku tak akan ikut campur" ucap Elpan.
__ADS_1
"Kau tau El dia bilang pada papah kalau aku Mafia" ucap Rayhan sedikit mempelannya suara nya.
"Lalu apa papah kamu percaya" tanya Elpan.
"Gawat" ucap Iqbal.
"Dia gak percaya tapi tetap saja kalau sudah begitu aku bisa apa" ucap Rayhan.
"Kenapa tak bilang saja" tanya Iqbal.
"Aku belum siap, apa lagi sekarang aku punya Raya bagai mana kalau dia tau aku yang sebenarnya" ucap Rayhan.
"Ya aku fikir sembunyikan saja apa lagi sekarang ber beda kalau bisa jangan sampai ada yang tau" ucap Elpan.
"Ya aku juga ber harap begitu" ucap Rayhan.
"Apa Raya tau" tanya Iqbal.
"Belum" ucap Rayhan.
"aku saran kan Ray, ber hati hati lah pada Raya aku yakin dia sangat pintar bahkan dia bisa melihat watak seseorang hanya dengan menatap matanya saja" ucap Iqbal.
"Ahh mana mungkin" ucap Rayhan.
"Aku hanya menebak saja" ucap Iqbal.
"Sudah lah lupakan" ucap Rayhan.
"El kapan kau akan menikah" tanya Iqbal pada Elpan.
"Apa mau menikah" tanya Rayhan kaget.
"Dengan siapa" tanya Rayhan menatap pada Elpan dengan tatapan penuh selidik.
"Tentu saja dengan Rahma" bukan Elpan yang menjawab tapi Iqbal.
"Oh ya kapan" tanya Rayhan.
"Masih menunggu waktu yang pas Ray karena aku yakin Rahma belum siap" ucap Elpan.
"Pepet terus El" ucap Iqbal.
"aku yakin Rahma baik kau tak akan menyesal memilikinya" ucap Rayhan.
'Ya" ucap Elpan.
"Tapi Ray bagai mana dengan perusahaan mu" tanya Elpan pada Rayhan.
"Katanya ada masalah dengan Klien Raya yang akan membereskan nya" ucap Rayhan.
"apa lukanya sudah kering" tanya Iqbal.
"Masih bernanah, ini sakit" ucap Rayhan.
"Permisi" sahut seorang Dokter yang datang kesana, kali ini Dokter itu seorang wanita dan bahkan masih sangat muda sekali.
"Apa ini benar dengan rumahnya pak Rayhan" tanya Dokter itu.
"Ya" ucap Rayhan.
"Saya Acha Dokter yang di tugaskan pak heri untuk datang memeriksa" ucap nya.
"Masuklah" ucap Rayhan.
"Boleh, silahkan saja" ucap Rayhan.
Rayhan membuka bajunya di hadapan Acha dan kedua temannya itu, Acha melihat lihat luka pada punggung Rayhan.
"Apa masih sangat sakit" tanya nya.
"Masih" jawab Rayhan.
"Pak Rayhan, saya akan beri kan anda obat yang lebih matih dari ini" ucap Acha.
"Obat apa" tanya Rayhan.
"Obat untuk luka tenang saja pak aku memberikan kamu obat cair kok karena kata Dokter Heri anda tak suka obat kapsul" ucap Acha.
Hahahah
Iqbal dan Elpan mentertawakan Rayhan karena bukan mereka saja yang tau tapi para dokter juga tau kalau Rayhan tak suka obat kapsul.
"Minum lah tiga kali satu hari pak" ucap Acha.
"Terima kasih" ucap Rayhan.
"Saya permisi pak" ucap Acha.
"Ya" ucap Rayhan.
"Benar kau Ray semua dokter tau kalau kau tak suka obat kapsul" ucap Iqbal.
"Diam kau" ucap Rayhan.
"Ray aku harus pulang sekarang karena ada urusan penting" ucap Elpan.
"Ya hati hati di jalan" ucap Rayhan.
"Aku juga permisi akan pulang" ucap Iqbal.
"Ya" ucap Rayhan.
di cafe tempat Raya, Julia dan Rahma nongkrong saat ini mereka sudah akan hendak pulang, sekarang Raya sedang membayar makanan yang tadi dia pesan.
"baiklah ayo pulang" ucap Raya.
"aku akan naik taksi saja" ucap Rahma.
"kenapa" tanya Raya.
"aku harus ke kantor papah lagi karena pekerjaan belum beres" ucap Rahma.
"oh baiklah, aku akan pulang duluan ya Rah" ucap Raya.
"hati hati di jalan ya Rah" ucap Julia.
"ya aku bisa kok" ucap Rahma.
"kami pulang lebih dahulu ya" ucap Raya dan Julia.
"ya" ucap Rahma.
__ADS_1
Mobil melaju ke perusahaan ibu Ajeng yang tak lain adalah mamahnya Raya.
"Ray kau tau kalau sekarang Fikri bekerja di perusahaan" ucap Julia.
"oh ya" tanya Raya.
"ya kemarin aku lihat dia sedang mengcoppy berkas" ucap Julia.
"ya bagus lah setidaknya dia mau membantu" ucap Raya.
"kenapa Ray kau jarang datang menemui Bu Ajeng padahal aku yakin dia sangat ingin bertemu dengan mu" ucap Julia.
"jul aku masih sakit hati saja, coba kau bayangkan mamah datang saat aku sudah besar lalu waktu aku kecil aku kesusahan bersama dengan Ayah di kampung, kami hidup serba kecukupan dan mamah ada di kota" ucap Raya menatap pada jalanan.
"ya tapi mungkin mamah kamu melakukan itu karena ada alasan lain" tanya Julia.
"apa" tanya Raya.
"jul aku yakin mamah itu hanya mengingin kan harta saja karena dulu ayah miskin dan mamah meninggalkannya, dan sekarang dia datang mengaku sebagai mamah ku saat aku sudah besar" ucap Raya.
"maafkan saja Raya begitu pun kau masih di sayang sama ibu mu" ucap Julia.
"ya Jul aku sudah berusaha tapi tetap saja aku masih ingat dengan kejadian dimana Ayah sakit dan aku terpaksa menjual rumah di kampung karena ingin mengobati Ayah" ucap Raya.
"lalu aku pindah ke kota dulu tinggal di rumah paman kau tau kan semalang apa nasib aku di kota Jul, bahkan aku tak punya bekal untuk jajan aku selalu mendapat siksaan dari paman soni dan Bibi" ucap Raya.
"ya aku tau Ray" ucap Julia.
"aku mendapatkan siksaan Jul dari orang orang yang aku punya dan untung saja ada mas Ray dan kau yang mau membantu ku mencarikan kosan dan pekerjaan, aku dulu susah Jul dan sekarang mamah datang pada ku dan bilang aku mamah kandung mu" ucap Raya menarik nafasnya yang sekarang sudah mulai sesak.
"aku gak bisa menerima dia Jul, mungkin aku sudah memaafkannya dan menganggapnya ibu kandung, tapi Jul saat aku ingat dengan perjuangan aku dan ayah saat susah aku jadi ingat kalau ternyata benar yang tak punya apa apa akan kalah sama yang punya segalanya" ucap Raya sambil meneteskan air matanya.
"sabar Ray" ucap Julia memeluk temannya itu.
"aku harus apa Jul, aku cape seperti ini terus, aku tau dia memanja kan aku tapi tetap saja Jul kalau tak sayang untuk apa" tanya Raya.
"ya aku tau" ucap Julia.
"kita punya masalah yang sama Raya, masalah korban broken home" ucap Julia.
"kau juga" tanya Raya.
"ya tentu saja kalau mungkin aku punya orang tua yang lengkap tak akan aku merantau di sini sendirian Raya, aku takut terjadi apa apa pada ku tapi apa kau tau Raya bahkan papah dan mamah seolah tak peduli pada ku, lagi pula apa juga yang akan di harapkan dari aku anak yang tak di inginkan" ucap Julia.
"ya Jul kadang dunia memang kejam" ucap Raya.
"sudah sampai kau mau masuk dulu" tanya Julia saat mobil sudah berhenti di apartemen Julia.
"jangan aku harus segera pulang" ucap Raya.
"terima kasih tumpangannya Raya" ucap Julia.
"ya sama sama bekerja lah yang giat Jul" ucap Raya.
"siap Ray" ucap Julia yang langsung masuk kedalam apartemennya.
Raya menatap pada perusahaan mamahnya yang tak jauh dari sana.
"pak ke perusahaan mamah dulu" ucap Raya pada pak supir pribadinya.
"baik nona" ucapnya.
Mobil melaju ke perusahaan ternama kepunyaan Bu ajeng, sekarang Raya sudah berada di perusahaan mamah nya, Raya turun dari mobil dan langsung masuk kedalam.
semua karyawan menunduk pada Raya memberikan hormat pada anak sang pemilik perusahaan itu.
Sedangkan Raya sesekali tersenyum pada karyawan itu.
"apa mamah ada di dalam" tanya Raya pada resepsionis yang menjaga disana.
"ada Nona" jawab nya.
"terima kasih" ucap Raya.
"ya Nona" ucapnya.
Raya berjalan ke sana dan masuk ke ruangan mamahnya, terlihat jelas oleh Raya kalau mamahnya itu sedang fokus bekerja, bahkan dia tak sadar kalau Raya datang kesana.
"mah" sahut Raya.
"Raya kau datang" tanya Bu Ajeng.
"ya mah" ucap Raya.
"sini Ray duduk lah, maaf mamah sedang sibuk mengerjakan ini" ucap Bu Ajeng.
"kata Julia ada kak Fikri yang kerja" tanya Raya .
"ya sekarang lagi beli makan" ucap Bu Ajeng.
"kamu mau makan atau mau minum biar mamah yang bawakan" ucap Bu ajeng lagi.
"tidak usah mah" ucap Raya.
"kamu dari kampus ya" tanya Bu Ajeng.
"ya dengan Julia dan Rahma untuk membayar uang pendaftaran" ucap Raya.
"berapa biaya nya" tanya Bu Ajeng.
"delapan ratus ribu" ucap Raya.
bu ajeng mengambil uang cash dari dalam tas nya dan menyodorkan nya pada Raya.
"ambil lah" ucap Bu ajeng.
Hal seperti ini lah yang membuat Raya merasa tak di hargai sebagai seorang anak.
"tak usah mah aku punya uang dari suami ku" ucap Raya.
"ambil saja buat jajan kamu" ucap Bu Ajeng namun tatapan matanya masih fokus pada layar laptop.
"aku juga punya uang mah" ucap Raya.
"Raya hanya mengambil saja apa susahnya" ucap Bu ajeng.
"kalau aku bilang tidak ya tidak mah" ucap Raya.
"kenapa" tanya Bu ajeng menatap Raya dengan tatapan tajam.
"aku permisi" ucap Raya yang langsung pergi dari sana meninggalkan Bu ajeng.
__ADS_1
bersambung...