
Rega dan Julia me nunggu di sana hingga pagi hari mereka masih stay di sana karena Lukas tak punya keluarga lain selain Rayhan.
"Antar kan aku pulang" ucap julia.
"Dari semalam kau meminta untuk pulang, kalau kau pulang aku sendirian Jul" ucap Rega.
"Lalu aku harus apa" tanya Julia.
"Diam disini" ucap Rega.
"Rega ya ampun lihat aku pakai baju yang kemarin bahkan aku belum mandi Rega" ucap Julia.
"Diam" ucap Rega.
"Ini salah kamu karena kamu mengajak aku kemari tanpa membawa uang, jadi aku gak bisa pulang" ucap Julia.
Di kediaman Rayhan.
"Bagai mana kondisi Rayhan, Ray" tanya Nita.
"Sudah mulai membaik mah, aku sudah oleskan salep pada lukanya bahkan dia juga sudah meminum obat" ucap Raya.
"Syukur lah" ucap Nita.
"Raya" teraik Rayhan dari kamarnya.
"Mah pak Ray memanggil aku akan kesana" ucap Raya.
"Ya" ucap Nita.
Raya pergi dari sana menuju kamarnya karena Rayhan tadi memanggilnya.
"Ada apa pak" tanya Raya.
"Kau dari mana saja" tanya Rayhan marah.
"Dari dapur" ucap Raya.
"Diam disini, aku sudah bayar pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, kau hanya tinggal ber leha leha saja di sini jangan melanggar peraturan dari ku" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Raya.
Semenjak pulang dari dermaga Rayhan selalu marah marah pada Raya, bahkan kesalahan Raya sekecil apa pun pasti Rayhan akan marah.
"aku haus" ucap Rayhan.
Raya mengambilkan minum untuk Rayhan, dan Rayhan meneguknya sampai habis.
"Duduklah" ucap Rayhan ketus.
Raya hanya diam dan menurut saja karena ber debat pun percuma apa lagi Raya selalu salah di mata Rayhan.
"Dimana mamah" tanya Rayhan.
"Di dapur sedang masak" ucap Raya.
"Mamah ini kenapa aku kan sudah bayar pembantu tapi kenapa dia malah memasak sendiri" gerutu Rayhan.
"Bantu aku turun ke bawah" ucap Rayhan ketus.
"Ayo" ucap Rayhan.
Rayhan turun ke bawah dengan di bantu oleh Raya, Raya mendudukan Rayhan di sofa ruang tamu nya.
"Apa mau makan" tanya Raya.
"Boleh" ucap Rayhan.
Raya mengambil kan makanan dan menyuapi Rayhan dengan pelan pelan karena Raya tak mau di marahi lagi oleh Rayhan.
Topan dan Nita datang kesana duduk bersama dengan anak dan menantunya.
"Bagai mana lukanya" tanya Nita.
"Sudah mulai kering mah" ucap Rayhan.
"Syukurlah" ucap Nita.
"Oh ya Raya, bagai mana kuliah mu" tanya Topan.
"Baik pah, sekarang aku gak masuk karena sudah bebas juga" ucap Raya.
"Oh ya, semangat kuliah nya Raya, kau perempuan nanti kau yang akan mendidik anak mu" ucap Topan.
"aku dulu gak kuliah tapi aku bisa mendidik anak anak" ucap Nita.
"Bukan begitu mah, maksud papah itu kan Raya perempuan jadi nantinya Raya yang akan mengajar anaknya" ucap Topan.
"Lalu kalau gak sekolah apa gak bisa ngurus anak" tanya Nita.
"Makin panjang urusannya" ucap Topan.
Raya hanya tersenyum melihat perdebatan kecil orang tuanya.
"Maksud papah mungkin begini, Raya kamu harus semangat kuliah, karena Raya walau pun sudau punya suami tetap saja Raya wanita itu harus di bekali dengan ilmu" ucap Nita.
"Ya mah" ucap Raya.
"Ya itu maksud papah" ucap Topan.
Zia berjalan kesana dia sudah rapih sekarang.
"Mah aku akan berangkat" tanya Zia.
"Mau kemana" tanya Rayhan yang sekarang berada di ruang tamu bersama dengan yang lain.
"Aku mau beli hadiah buat Ustadz Haddad yang akan menikah" ucap Zia.
"Jangan lama lama apa lagi dengan Alena" ucap Rayhan.
"Ya kak" ucap Zia.
"Zia jangan main lagi ya" ucap Nita.
"Ya mah, aku berangkat Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" serempak.
Zia keluar dari rumah,
"Aku gak bisa percaya pada Alena" ucap Rayhan.
"Jangan begitu siapa tau Alena sudah berubah" ucap Nita.
"Ya mah tapi tetap saja" ucap Rayhan.
Raya mendapat pesan dari Julia.
{Ray, tuan Lukas sedang di rawat di rumah sakit} pesan Julia.
"Pak Ray, kata Julia tuan Lukas sedang di rawat di rumah sakit" ucap Raya.
"Kenapa Lukas, kemarin dia tak terkena peluru" ucap Rayhan.
"Gak tau" ucap Raya.
{Sakit apa Jul} pesan dari Raya.
{Lambung}.
__ADS_1
{Dimana tuan Lukas di rawat} tanya Raya.
{Di rumah sakit ***} pesan Julia.
"Karena lambung katanya" ucap Raya.
"Kenapa Lukas sakit lambung" tanya Rayhan.
"Apa kita akan kesana" tanya Raya.
"Nanti saja" ucap Rayhan.
Raya menghubungi Zia, siapa tau saja Zia akan menengok.
📞📞
..."Ya ada apa kak" tanya Zia pada Raya yang sekarang menghubunginya....
..."Kata Julia Tuan Lukas pingsan, kau sedang di mana" tanya Raya....
..."Aku di perjalanan" ucap Zia....
..."Oh baik lah" ucap Raya....
..."Sekarang kak Lukas di mana" tanya Zia....
..."Di rumah sakit ****" ucap Raya....
..."Aku akan kesana" ucap Zia....
📞📞
"Aku sudah hubungi Zia siapa tau saja dia akan menjenguk" ucap Raya.
"Ya bagus" ucap Nita.
Sampai siang hari mereka hanya diam saja di ruang tengah mengobrol ringan saja,
"Raya antar kan aku ke kamar" ucap Rayhan.
"Ya ayo" ucap Raya.
Raya memapah Rayhan untuk kembali ke kamarnya karena Rayhan yang minta ingin kembali ke kamarnya.
Sedangkan di rumah sakit,
Zia sudah datang ke rumah sakit dia melihat ada Julia dan Rega di kursi tunggu yang berada di sana menunggu Lukas.
"Bagai mana kondisi Kak Lukas" tanya Zia.
"Kak, dia masih di rawat dari semalaman kata dokter tuan Lukas menderita lambung" ucap Julia.
"Bisa aku ke dalam" tanya Zia.
"Bisa kak tadi sedang istirahat" ucap Julia.
"Kau semalaman di sini" tanya Zia.
"Ya aku semalaman karena dia tak mau mengantar aku pulang" ucap Julia menunjuk Rega.
"Pulang saja bersama aku biar aku antar" ucap Zia.
"Boleh kah" tanya Julia.
"Boleh" ucap Zia.
"Baik lah aku masuk dulu" ucap Zia.
Zia masuk kedalam dan melihat keadaan Lukas yang benar saja sekarang tengah ber baring dengan impus di tangannya.
Setelah masuk kedalam ruangan dan ber bincang bincang dengan Lukas, Zia keluar dan mengantar Julia pulang ke kosannya karena Julia tak ada yang antar.
Zia pulang dari sana menuju rumah kediaman kakak nya, sekarang Zia akan beres beres karena besok dia akan ke pesantren lagi.
"Waalaikum salam Zia" ucap Nita.
"Dari mana saja" tanya Nita.
"Beli hadiah lalu ke rumah sakit melihat kak Lukas dan mampir ke toko untuk membungkus hadiah" ucap Zia.
"Banyak lah asalan ayo makan" ucap Nita.
"Tidak mah aku akan beres beres pakaian karena besok aku akan ke pesantren" ucap Zia.
"Ya baiklah" ucap Nita.
Sedangkan di kamar Rayhan, sekarang Rayhan sedang marah marah tak jelas pada Raya bahkan sekarang seakan Raya adalah mahkluk yang paling salah di mata Rayhan.
"Kau tau Raya, aku muak dengan semua ini bisa kah kau diam dan tolong jangan campuri hidup ku" ucap Rayhan.
"Apa salah ku pak" tanya Raya.
"Salah mu, kau terlalu mencampuri kehidupan aku" ucap Rayhan.
"Baiklah aku tak akan mencampuri urusan mu lagi dan kau jangan pernah mencampuri kehidupan ku" ucap Raya yang langsung keluar dari kamar Rayhan dengan keadaan menangis.
"Arggg" geram Rayhan.
Saat itu Zia hendak masuk kedalam kamarnya namun tiba tiba Zia melihat Raya kakak iparnya keluar dari kamarnya dengan keadaan menangis.
Zia masuk ke kamar kakak nya, Zia yakin kalau kakak nya itu marah marah karena seperti itu lah Rayhan kalau ada yang gagal dia pasti marah.
"Kak" ucap Zia masuk kedalam kamar kakaknya.
"Apa" tanya Rayhan ketus.
"Besok aku akan pulang" ucap Zia.
"Ya aku sudah telpon anak buah ku untuk mengantar nya" ucap Rayhan.
"Kak jangan begitu pada kak Raya" ucap Zia.
"Memangnya aku melakukan apa" tanya Rayhan.
"Kau pasti marah pada nya, dia nangis kak" ucap Zia.
"Lalu" tanya Rayhan.
"Kau suaminya jangan marahi dia, kau tau kak Raya sudah mau mengurus mu bahkan dia ber bakti pada mu lalu dengan mudah nya kau marahi dia, kak yang gagal itu usaha mu bukan kakak ipar" ucap Zia.
"Jangan bicara lagi" ucap Rayhan.
"Kak aku tau kau marah karena kau gagal menghabisi Dion itu, tapi kak bagai mana kalau dia sudah meninggal" ucap Zia.
"Jangan lampiaskan semua kesalahan mu pada kakak ipar itu tak ada hubungannya kak" ucap Zia.
"Kau tau apa yang di lakukan kakak ipar mu itu" tanya Rayhan.
"Apa" tanya Zia.
"Dia mengatur kehidupan ku" ucap Rayhan.
"Kak menurut ku itu hal wajar karena dia istri mu maka jangan salah kan dia, yang salah kakak" ucap Zia.
"Aku harus apa" tanya Rayhan.
"Minta maaf dan jangan marah marah lagi" ucap Zia.
"Apa aku bisa" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Tentu saja" ucap Zia.
"Kak kalau bukan kakak yang menghibur kakak ipar lalu siapa lagi" ucap Zia lagi.
"Ya aku akan minta maaf" ucap Rayhan.
Zia kembali ke kamarnya meninggalkan Rayhan yang sekarang masih memikirkan masalah itu.
"Apa aku yang salah" tanya Rayhan.
"Ck baiklah aku tak akan marah marah lagi" gumam Rayhan.
Rayhan berjalan ke luar dengan langkah ter tatih tatih, Rayhan melihat lihat rumah ternyata Raya tak ada di sana.
"Kemana Raya" gumam Rayhan.
Rayhan berjalan menuruni anak tangga, punggung nya terasa sangat perih saat ber gesek gesek dengan pakaian.
Rayhan melihat sofa tak ada siapa siapa bahkan orang tuanya pun saat ini tak tau ada di mana.
Rayhan melihat Raya yang sekarang sedang di dapur bersama dengan Bi Ratna.
Rayhan berjalan kesana Rayhan meng kode pada Bi Ratna untuk pergi dari sana.
"Bibi akan matikan air Non" ucap Bi Ratna.
"Ya" ucap Raya.
Hanya tinggal Raya dan Rayhan saja di sana, bahkan Raya tak tau kalau Rayhan ada di sana karena posisinya Raya membelakangi Rayhan.
"Selalu aku yang salah, apa di dunia ini aku yang paling salah" gerutu Raya.
"Apa jangan jangan saat di laut pak Ray ter bentur pada batu karang" gumam Raya.
Rayhan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu, benar kata Zia bahwa Rayhan lah yang salah karena sudah marah marah tak jelas.
"Kalau dia marah lagi aku gak akan mengobati lukanya" ucap Raya kesal.
"Oh ya kalau bukan kau siapa lagi" tanya Rayhan.
Raya seketika langsung terkejut bahkan dia takut kalau Rayhan mendengar semua ucapan Raya tadi.
Raya menatap ke arah belakang dan benar saja ada Rayhan di sana.
"Pak Ray" gumam Raya.
Rayhan memeluk Raya.
"Maaf aku sudah marah marah, tapi Raya aku sekarang sedang pusing saja bukan ber maksud membuat mu ter luka" ucap Rayhan.
"Tapi aku yang marah" ucap Raya merajuk.
"Oh ya" tanya Rayhan.
"Ya" ketus Raya.
"Baiklah aku harus apa supaya kau tak marah lagi" tanya Rayhan.
Rayhan duduk di samping Raya.
"Ayo lah maaf kan aku Raya aku salah" ucap Rayhan.
"Baik lah tapi dengan satu syarat" ucap Raya.
"Apa" tanya Rayhan.
"Jangan marah lagi" ucap Raya.
"Ya aku tak akan marah" ucap Rayhan.
"Mau makan sesuatu" tanya Raya.
"Aku mau minum teh saja" ucap Rayhan.
"Oh ya pak Ray katanya Dokter sekarang akan datang" ucap Raya.
"Kapan" tanya Rayhan.
"Sekarang" ucap Raya.
"Aku gak mau di periksa, lagi pula aku sudah sembuh kan" ucap Rayhan.
"Tetap saja pak nanti takutnya luka nya inpeksi" ucap Raya.
"Raya bisa kah kau tak panggil aku pak" tanya Rayhan.
"Lalu aku harus panggil apa tak mungkin kan aku panggil nama" ucap Raya.
"Kau panggil Lukas tuan, lalu kau panggil manusia ko nyol itu dengan sebutan kak" ucap Rayhan.
"Manusia ko nyol siapa" tanya Raya.
"Siapa lagi kalau bukan Elpan sama Iqbal" ucap Rayhan.
"Ya lalu aku harus bilang apa" tanya Raya sambil tersenyum.
"Mas atau ayah gitu" ucap Rayhan.
"Ayah" ucap Raya tertawa karena lucu saja panggil Rayhan ayah.
"Aku panggil mas aja ya" ucap Raya.
"Ya sudah kalau kau maksa" ucap Rayhan.
Raya merasa aneh padahal kan yang maksa Rayhan tapi kenapa Rayhan malah menyalahkannya.
Raya menyadari kelebihan Rayhan sekarang kalau ternyata Rayhan tak suka di salahkan dan ingin menang sendiri.
Di rumah sakit Lukas sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter.
"Kak cepat sekali kau sembuh" tanya Rega.
"Ya aku ingin mengantar nona ke pesantren" ucap Lukas.
"Jangan jangan kau suka pada nona" tanya Rega.
"Diam kau" ucap Lukas.
"Aku bahkan tak ber fikir begitu, aku sadar diri Rega" ucap Lukas.
"Ya baik lah" ucap Rega.
"Aku fikir kak kau akan menikah dengan wanita itu" ucap Rega.
"Aku tak akan menikah dengan nya, mana mungkin dia sangat bar bar Rega kau tau kan bagai mana sikap dia" ucap Lukas.
"Aku doa kan kalian ber jodoh" ucap Rega.
"Huss, lalu kau bagai mana" tanya Lukas.
"Bagai mana apa" tanya Rega.
"Hubungan mu dengan Julia, kalian cocok" ucap Lukas.
"Aku akan coba bersikap dingin padanya apa dia suka atau tidak pada ku" ucap Rega.
"Kau sama saja seperti kulkas di hadapan Julia, mana mungkin dia akan suka" ucap Lukas.
"Dia suka malahan dia sangat menempel pada ku" ucap Rega tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Menempel seperti lem" ucap Lukas.
Bersambung..