Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 73


__ADS_3

Hari ini Rayhan sedang sibuk di kantornya, karena banyak sekali pekerjaan yang tak Rayhan kerjakan dan di handle oleh Lukas sedangkan Email yang di kirimkan Lukas juga harus Rayhan baca kembali karena takut ada yang salah.


"Arrgg aku punya karyawan, aku punya anak buah, aku juga punya sekertaris tapi kenapa semuanya selalu tergantung pada ku" gumam Rayhan.


Rayhan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan para karyawannya, Rayhan melihat kalau semuanya baik baik saja dan tak ada yang harus di curigakan.


Tetapi saat Rayhan melihat meja kerja sekertaris Jeni, dia tak ada di mejanya.


"Kemana Jeni" tanya Rayhan pada Karyawan yang lain.


"Tuan Sekertaris Jeni pindah" ucap Salah satu karyawan.


"Pindah tapi dia tak memberi tau aku" ucap Rayhan.


"Sudah tuan pada tuan Lukas" ucap karyawan Rayhan lagi.


"Terima kasih" ucap Rayhan datar dan langsung pergi dari sana menuju ruangan Lukas yang berada bersebelahan dengan ruangannya.


"Lukas" tanya Rayhan.


"Ya tuan" ucap Lukas yang langsung bangkit dari duduknya.


"Jeni pindah dan kau tak memberi tau pada ku" ucap Rayhan.


"Maaf tuan tapi kabar itu baru datang sekarang tuan" ucap Lukas.


"Pantas saja pekerjaan aku banyak sekarang" ucap Rayhan.


"Tuan akan aku carikan Sekertaris yang lebih bagus dari Jeni" ucap Lukas.


"Tak perlu, besok Raya akan bekerja sebagai sekertaris di sini" ucap Rayhan.


"Baik tuan" ucap Lukas.


"Lukas kau tau kemarin saat aku ke tempat itu, ada banyak orang disana yang sepertinya sedang mencari sesuatu" ucap Rayhan yang kembali mengingat kejadian kemarin.


"Apa tuan tau siapa mereka" tanya Lukas.


"Aku tak bertanya pada mereka" ucap Rayhan.


"Tuan apa mungkin mereka tau kalau Rega masih hidup" ucap Lukas.


"Aku tak tau Lukas, tapi mungkin saja benar, apa itu anak buah Dion" ucap Rayhan.


"Bisa jadi tuan" ucap Lukas.


"Aku sangat penasaran dengan hal itu" ucap Rayhan.


"Tuan, Rega sudah berada di kosan aku apa kita akan bawa Rega ke sana" tanya Lukas.


"Siang ini saat waktu istirahat kita akan bawa dia ke sana, siapa tau dia ingat sesuatu" ucap Rayhan.


"Baik tuan" ucap Lukas.


"Aku akan kembali ke ruangan ku, kau bekerjalah yang giat" ucap Rayhan.


"Baik tuan" ucap Lukas.


Rayhan kembali ke ruangannya, saat ini dia sedang memikirkan rencana agar Rega segera pulih karena Rayhan sangat penasaran dengan siapa Dion yang akan bertanggung jawab pada masalahnya dahulu.


"Tapi insting ku jatuh pada Dion Adinata klien aku" gumam Rayhan.


Rayhan menatap pada jam dinding sekarang sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, sekarang hari sabtu kata Raya sekarang hanya tinggal satu pelajaran saja.


Rayhan mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Rayhan menghubungi Raya karena akan menjemput Raya.


📞📞


..."Ray" tanya Rayhan....


..."Ya pak" tanya Raya....


..."Kapan pulang" tanya Rayhan....


..."Bentar lagi pak" ucap Raya....


..."Kirim pesan pada ku Raya, aku akan jemput" ucap Rayhan....


..."Ya pak Ray" ucap Raya....


📞📞


Di sebuah rumah yang mewah terdapat Dion dan kedua anak buahnya, serta ada istri tua Dion disana.


Dion Adinata mempunyai dua orang istri tetapi istri tuanya tak tau kalau Dion adinata menikah lagi.


"Aku mau kalian memikirkan rencana untuk membuat Rayhan pelan pelan tersisihkan" ucap Dion.


"Tuan bagaimana kalau kita bakar saja rumah Rayhan sama seperti dahulu kita membakar rumah orang tuanya" ucap anak buah Dion.


"Jangan tuan, Rayhan sekarang bukan orang sembarangan bahkan perusahaannya sekarang sedang berkembang pesat bahkan Rayhan juga sudah masuk ke televisi dan koran, kalau saja kita melakukan hal itu kita akan segera tertangkap apa lagi anak buah Rayhan tak akan diam saja, Topan dengan Rayhan itu berbeda" ucap anak buah yang lain.


"Pandai" ucap Dion.


"Sekarang bagaimana" tanya anak buah yang satunya lagi.


"Aku ingin Rayhan hancur dan saat dia sudah menjadi gelandangan nanti aku akan datang dan mentertawai dia" ucap Dion sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Pah sudah jangan begitu, tak baik merusak hidup orang lain" ucap Minah istri tua Dion Adinata.


Jika selama ini Dion terkenal sebagai seorang Ayah dan suami yang baik tetapi itu hanya di berita saja, karena aslinya Dion adalah laki laki yang tak cukup satu wanita.


"Diam kau, jangan banyak bicara" bentak Dion pada istrinya.


"Aku bingung pada mu Pah, sampai kapan kau akan menyalahkan kesalahan mu pada orang lain sedangkan jelas jelas kau yang salah, kau yang tak becus bekerja" ucap Minah.


"Ck kau tak tau kan, bagaimana Si Topan itu meng gagalkan pertemuan saat detik detik kita akan melakukan meeting dengan klien, bahkan makalah yang sudah aku dan dia susun pun ada di tangan dia, kau tau betul Minah aku rugi berapa saat itu" ucap Dion.


"Tapi Pah, Topan juga sudah ijin pada mu gak akan datang karena istrinya sedang koma" ucap Minah lagi.


"Arggh kau malah membela Topan, dasar li cik apa tak bisa kah kau membela aku sedetik saja" ucap Dion marah pada istrinya.


"Tobat lah Pah, kau sudah tua kalau kau meng habiskan waktu mu hanya untuk balas dendam apa yang akan kau dapat kan" tanya Minah.


"Ck aku akan tenang selama nya bahkan sampai aku mati pun aku akan tenang jika bisa membalaskan dendam ini" ucap Dion.


"Apa yang akan kau daparkan dari ini" tanya Minah.


Plakk..


Dion menampar istrinya itu karena sangking marahnya sang istri malah membela orang lain bukannya membela dirinya.


"Sudah aku bilang kalau aku bisa membalas dendam aku bisa hidup tenang" ucap Dion geram.


"Tapi dahulu kau sudah mengebom rumah Topan bahkan Ibunya pun sampai meninggal, dan dengan teganya kau mengambil semua harta mereka" ucap Minah.


"Tak semua Minah, aku tau harta yang sekarang Rayhan dapatkan itu adalah hasil dari kekayaan Topan yang terlewat kan" ucap Dion.


"Se tan" ucap Minah.


"Tetap diam dan jangan mencampuri urusan aku" ucap Dion mendorong istrinya itu.


Dion menatap pada jendela rumahnya itu, dia kemudian duduk kembali di sofa rumahnya yang sangat mewah itu.


Dion menatap datar, dia mengingat masa lalunya yang membuat semua perusahaanya bangkrut bahkan sampai membuat Dion menjadi gelandangan.


Flash back onn


Dion sudah bersiap akan bertemu dengan kliennya, kemarin kemarin Dion sudah menyiapkan berkas pembahasan bersama dengan Topan Arya Wijaya.


Dion sudah bersiap akan menghadiri meeting room yang disana sudah banyak kliennya yang menunggunya, namun sudah sepuluh menit Dion menunggu tak ada tanda tanda kedatangan Topan kesana.


"Dimana dia" tanya Dion menatap pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Pak Dion apa masih lama" tanya Klien yang cukup berpengaruh di perusahaannya sekarang.


"Mohon tunggu sebentar lagi tuan, mungkin teman saja sedang terjebak macet" ucap Dion yang sudah semakin cemas karena Topan tak datang.


Kemarin juga saat membuat berkas makalah, Topan terlihat sangat hancur bahkan matanya merah namun kerja Topan sangat bagus dan konsisten.


"Bagaimana pak Dion" tanya Klien.


"Maaf, tapi pak Topan belum datang" ucap Dion.


Namun tiba tiba Dion mendapat pesan, dari Topan yang isinya Topan tak bisa datang karena istrinya sedang koma dan anaknya masih bayi yang tak bisa di tinggalkan.


"Maaf pak Dion kalau begini, kita batalkan saja kerja sama ini karena kau sudah menyita waktu berharga saya pak Dion, saya mohon maaf penyuntikan data saya pada perusahaan ini, saya akan tarik semuanya" ucap Klien.


"Tapi tuan, saya bisa meng handle ini semua, tolong kasih saya kesempatan lagi tuan" ucap Dion memohon.


"Kami tak bisa lagi pak" ucap Klien yang langsung pergi dari sana.


Dion sangat kecewa pada kinerja kerja Topan padahal sebelumnya, Topan sangat konsisten pada kerja sama ini.


"Topan" gumam Dion marah.


Saat itu Dion yang marah pun datang ke perusahaan Topan, namun saat itu Topan tak ada disana karena Topan sedang menjaga anak dan istrinya di rumah sakit.


Hingga Dion akan mengamuk di perusahaan itu, sampai para satpam mengusir Dion dengan kasar dari perusahaan Topan itu.


Keesokan harinya Dion di kejutkan dengan kabar bahwa perusahaanya sudah di sita oleh pihak klien, bahkan saat itu hanya perusahaan itu lah yang menjadi harta satu satunya Dion.


Saat itu Dion hanya punya rumah saja, dia terpaksa menjualnya dan tinggal di rumah kontrakan yang sangat kecil, hingga saat itu Dion berambisi untuk menghancurkan Topan.


Hingga di susun lah rencana untuk menge bom rumah kediaman Topan, dan setelah itu Dion ke luar negri dan melakukan oprasi plastik.


Sehingga Dion membuat identitas baru untuk dirinya dan hidup dengan harta Topan yang Dion rebut.


Flash back off..


Siang hari Rayhan menjemput Raya di kampusnya karena sudah mendapat pesan, Rayhan pun langsung tancap gas untuk menjemput Raya.


Saat ini Raya sudah menunggu di luar kampus, namun ada hal yang membuat Raya risih, sejak tadi ada seorang laki laki yang memantaunya dari kejauhan.


Namun saat Raya melihatnya orang itu tak ada, tapi sudut mata Raya bisa melihat kalau ada laki laki yang sedang memata matainya.


"Apa cuman perasaan aku saja" gumam Raya berusaha tetap tenang.


Mobil Rayhan berhenti di hadapan Raya, dengan cepat Raya masuk kedalam karena merasa aman kalau bersama dengan Rayhan.


"Pak Ray" tanya Raya.


"Ya".


" ada laki laki yang sejak tadi memata matai aku" ucap Raya.

__ADS_1


"Siapa" tanya Rayhan.


"Aku tak tau, tapi tadi ada di sana" ucap Raya.


Rayhan kemudian melihanya dari jendela mobil namun tak ada siapa siapa disana hanya ada teman kuliah Raya saja.


"Mungkin kau salah Ray" ucap Rayhan.


"Benar pak Ray" ucap Raya.


"Oh pantas saja laki laki itu melihat mu, lihat Raya pakaian mu sangat minim" ucap Rayhan.


"Aku pakai gaun di bawah lutut dan tak menampakan lekuk tubuh ku" ucap Raya.


"Tetap saja itu akan menggoda laki laki Raya" ucap Rayhan.


"Ahh kau tak peka pak Ray" ucap Raya.


"Ya aku minta maaf" ucap Rayhan.


Rayhan mengantar Raya ke rumah, bahkan sekarang Rayhan juga ikut masuk kedalam padahal Rayhan sudah janji pada Lukas kalau sekarang akan membawa Rega.


"Pak Ray tak langsung ke kantor" tanya Raya.


"Tidak aku akan istiharat dulu" ucap Rayhan.


"Oh baiklah, aku akan mandi dulu" ucap Raya.


Namun Rayhan mencekal tangan Raya, menghentikan Raya yang sekarang akan masuk kedalam kamarnya.


"Pak Ray" ucap Raya.


Rayhan menarik tangan Raya sehingga membuat Raya terjatuh ke pelukan Rayhan.


"Pak Ray malu ada bi Ratna" bisik Raya.


"Baiklah ayo ke kamar" ucap Rayhan.


Rayhan menuntun Raya untuk masuk kedalam kamar, Rayhan dengan perlahan membuka kancing kemeja Raya satu persatu.


"Pak Ray aku akan mandi" ucap Raya.


"Nanti saja" ucap Rayhan.


"Tapi pak Ray" ucap Raya.


Rayhan men cium bibir Raya yang berwarna merah muda itu, Raya merasakan hal itu, mungkin ini hal pertama yang Raya rasakan secara sadar karena kemarin kemarin Raya tak sadarkan diri.


"Boleh" tanya Rayhan.


Raya menganggukan kepalanya, dengan wajah yang malu malu, bahkan Raya sejak tadi hanya memejam kan mata saat Rayhan membuka kemeja yang dia pakai.


Rayhan melihat kalau Raya memejam kan matanya sedangkan tangannya bergetar seperti ketakutan.


"Raya tenang lah aku tak akan menyakiti kamu" ucap Rayhan.


"Pak Ray" ucap Raya.


"Ya".


"Lakukan dengan perlahan" ucap Raya.


Rayhan melakukan hal itu di siang hari bahkan sampai jam istirahat selesai Rayhan masih berada di kamarnya.


Bahkan Lukas yang sekarang sedang berada di perusahaan Rayhan pun hanya menatap jalanan melihat sang tuan datang kesana karena tadi Rayhan berjanji akan mengajak Rega ke tempat kecelakaan itu.


"Tuan Rayhan kemana" gumam Lukas.


Lukas mengutak atik ponselnya dan secepatnya menghubungi Rayhan, namun tak ada jawaban dari Rayhan.


"Kemana tuan" gumam Lukas lagi.


Hingga jam makan siang selesai, Lukas menunggu Rayhan di loby bahkan Lukas sampai tak makan siang karena menunggu Rayhan.


"Apa tuan tak ada datang, lebih baik aku masuk lagi dan bekerja, lagi pula jam makan siang sudah selesai" gumam Lukas.


Sebelum masuk ke ruangannya Lukas memesan dahulu makanan ke kantin karena Lukas sejak tadi sudah kelaparan.


Sedangkan Rayhan sekarang dia sudah selesai melakukan itu, dia kecapean di atas ranjang sedangkan Raya sekarang sudah di kamar mandi.


Raya tersenyum mengingat kejadian barusan, hal yang sangat Raya tunggu tunggu akhirnya kesampaian juga.


"Aku bukan lagi gadis sekarang" gumam Raya.


Sedangkan Rayhan saat ini tengah menatap pada jam yang mengantung di dinding.


"Astaga sudah pukul satu, dan aku lupa mengajak Rega" ucap Rayhan.


Rayhan pun melihat ponselnya dan banyak sekali panggilan tak terjawab dari Lukas.


"Aku yakin Lukas menunggu ku" gumam Rayhan.


Rayhan kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang di dalamnya ada Raya yang sedang mandi.


"raya bisa aku ikut mandi, sudah pukul satu aku harus segera kembali ke kantor" ucap Rayhan.


"masuklah" ucap Raya.

__ADS_1


Rayhan mandi bersama dengan Raya karena sekarang dia sibuk akan kembali ke perusahaan lagi.


Bersambung..


__ADS_2