
Karena ngotot ingin pulang Rayhan pun di berikan salep dan obat pereda nyeri namun sebelumnya Dokter ber pesan kalau Rayhan harus di bawah pengawasan Dokter.
Elpan dan Iqbal mengantarkan Rayhan pulang menggunakan heli kopter.
Di sepanjang perjalanan Iqbal dan Elpan terus saja mentertawai Rayhan.
"Puas kalian melihat aku begini" tanya Rayhan.
"Bukan aku hanya baru tau kalau ternyata seorang Mafia takut pada jarum suntik dan dia ingin obat kolek" ucap Iqbal.
Hahahah
Heli kopter itu di penuhi suara tawa dari ke dua teman konyol Rayhan.
"Kita akan mendarat tuan" ucap pilot.
"Ya" ucap Elpan.
Sedangkan di kediaman Rayhan, saat ini Sarah dan Hilman yang tak lain adalah orang tua alena sudah berpamitan akan pulang karena banyak pekerjaan.
Heli kopter mendarat di halaman kediaman Rayhan yang cukup luas, Rayhan turun dengan di papah oleh Iqbal dan Elpan.
Rayhan langsung di bawa masuk kedalam dan di dudukan di sofa.
"Kakak ipar ini obat untuk Rayhan" ucap Iqbal sambil tertawa cengengesan pada Raya.
"Diam Iqbal" ucap Elpan.
"Terima kasih kak El, kak Iqbal sudah bantu pak Ray" ucap Raya.
"Tak masalah dia teman kita juga" ucap Iqbal.
"Ya" ucap Elpan.
"Kak kau terluka" tanya Zia.
"Aku tak terluka" ucap Rayhan sambil meringis karena sakit di bagian yang terkena luka itu.
"Pak Ray mau makan" tanya Raya.
"Nanti saja" ucap Rayhan.
"Mah pah mau makan dulu atau langsung istirahat" tanya Raya.
"Mamah akan istirahat saja" ucap Nita.
"Hati hati mah" ucap Zia membantu mamahnya berdiri.
"Sayang yang ter luka papah kenapa yang di bantu mamah kamu" ucap Topan.
"Ya pah aku akan bantu" ucap Zia.
Zia membantu papah dan mamahnya ke kamar tamu karena mereka akan istirahat.
"Istirahat lah pah, mah aku mau makan dulu" ucap Zia.
Raya melihat luka yang ada pada punggung dan tangan.
"Ya alloh pak luka nya cukup parah bahkan ada yang sampai mengeluarkan nanah" ucap Raya.
"Oh ya" tanya Rayhan.
"Ya apa sakit pak" tanya Raya.
"Tidak" bohong Rayhan.
Iqbal hanya menatap Rayhan dengan tatapan ingin tertawa karena masih mengingat kalau Rayhan takut jarum suntik dan ingin obat kolek.
Elpan melihat ada Rahma di sana dia langsung mendekat pada Rahma apa lagi sekarang Elpan semakin suka pada Rahma namun sayang nya Rahma menolak lamarannya.
Namun bukan Elpan kalau cepat menyerah dia akan terus ber usaha untuk mendapatkan hati Rahma.
"Jul di mana kau kerja sekarang" tanya Rahma.
"Di perusahaan Bu Ajeng mamahnya Fikri" ucap Julia.
"Oh ya selamat kalau begitu" ucap Rahma.
"Ya lalu kemana kamu sekarang" tanya Julia.
"Aku kerja bantu papah" ucap Rahma.
"Katanya Kevin suka pada mu" tanya Julia.
"Aah tak mungkin, bahkan kalau mungkin pun aku tak mau dia na kal Jul" ucap Rahma.
"Ya siapa tau saja berubah" uap Julia.
Elpan datang kesana dan ikut bergabung di sofa yang sama yang di duduki oleh Rahma dan Julia.
"Boleh bergabung" tanya Elpan.
"Boleh" ucap Rahma dan Julia.
Julia menatap pada Rega yang sekarang tengah memijat mijat tanganya mungkin karena sakit.
Julia pun hendak kesana untuk membantu.
"Ra aku akan ke sana" ucap Julia.
"Ya" ucap Rahma.
Julia mendekat pada Rega.
"Mau aku bantu" tanya Julia.
"Jangan nanti malah semakin sakit kalau kau yang pegang" ucap Rega.
"Sombong nya" ucap Julia.
Julia langsung duduk dan membantu memijat mijat tangan Rega.
"Jangan mematap aku seperti itu" ucap Julia.
Rega langsung memalingkan wajahnya saat Julia berkata begitu karena memang benar Rega tadi sempat menatap pada Julia yang sekarang sedang memijatnya.
"Kenapa kau begitu peduli pada ku" tanya Rega.
"Karena kemarin kau sudah menolong aku, terima kasih karena berkat diri mu aku selamat dari preman itu" ucap Julia.
"Kau tak marah karena aku memeluk mu" tanya Rega.
"Tidak" ucap Julia singkat.
"Aku kemarin sempat memegang lekuk tubuh mu" ucap Rega tersenyum tipis.
Karena merasa geram pada Rega yang malah semakin melunjak Julia pun memijat tangan Rega dengan kencang dan membuat Rega kesakitan.
"Aaaaaaa" teriak Rega meringis kesakitan.
"Pelan pelan" ucap Rega.
Semua mata menatap pada kedua sejoli itu.
"Ada apa Jul" tanya Rahma.
"Tidak ada" ucap Julia.
"Jangan terlalu kencang Jul nanti kesakitan" ucap Iqbal.
"Ya kak" ucap Julia sambil di iringi tawa oleh semua orang.
"Baik lah Aku harus pulang, cepat sembuh ya Ray" ucap Iqbal.
"Ya terima kasih" ucap Rayhan.
"Jangan lupa kata dokter kolek nya di minum" ucap Iqbal sambil ter tawa.
__ADS_1
"Kau" geram Rayhan.
Iqbal pulang dari sana, bahkan Alena juga berpamitan pulang karena ada pekerjaan di hotelnya.
"Tuan apa Dion sudah tiada" tanya Lukas yang baru saja kesana setelah di obati Alena di meja makan.
"Aku yakin dia sudah tiada Lukas, bahkan tadi saat aku membakar kapal nelayan itu aku tak melihat ada Dion di sana kalau tenggelam pun mungkin kita sudah menemukannya" ucap Rayhan.
"Aku harap begitu tuan" ucap Lukas.
"Oh ya tuan aku akan pulang ke kosan ada hal yang harus aku bereskan" ucap Lukas.
"Ya hati hati lah di jalan" ucap Rayhan.
"Rega ayo" sahut Lukas pada Rega yang sekarang sedang di pijat oleh Julia.
"Ayo pulang" tanya Rega pada Julia.
"Ke kosan" tanya Julia.
"Ya kosan kita sama kan" ucap Rega.
"Baiklah aku ikut" ucap Julia.
"Ray, Rah, aku pulang ya" ucap Julia ber pamitan.
"Bareng tuan Lukas" tanya Raya.
"Ya" ucap Julia.
"Tuan Lukas titip Julia ya" ucap Raya.
"Baik Nona" ucap Lukas.
"Hati hati di jalan Jul" ucap Rahma.
"Ya" ucap Julia.
Di sana hanya tinggal Rahma dan Elpan serta Raya dan Rayhan dan Zia yang sekarang sedang makan.
"Ray aku akan pulang" ucap Rahma.
"Pulang, nanti saja Rah" ucap Raya.
"Ya Raya tapi aku ada kerjaan di kantor papah" ucap Rahma.
"Mau pulang naik apa" tanya Raya.
"Aku akan pesan taksi online saja" ucap Rahma.
"Kenapa pesan taksi online ada aku kan" ucap Elpan.
"Ah jangan kak takut merepotkan" ucap Rahma.
"Tidak, tidak merepotkan" ucap Elpan.
"Ya Rah kak El benar kamu ikut saja" ucap Raya.
"Baik lah" ucap Rahma.
"Ayo" ucap Elpan.
"Ray aku pulang ya, cepat sembuh" ucap Elpan.
"Ya terima kasih" ucap Rayhan.
"Ya" ucap Elpan.
Sekarang di rumah sudah sepi hanya tinggal Zia saja yang sekarang Raya lihat sedang telponan dengan orang lain.
"Zia aku akan membawa pak Ray ke kamar, kalau kamu butuh ke kamar saja" ucap Raya.
"Ya kak" ucap Zia.
Raya membantu Rayhan untuk ke kamar dan Raya pun akan membersihkan luka pada punggung Rayhan dan mengoleskan salep pemberian Dokter.
"Raya pelan" ucap Rayhan.
Rayhan masuk kedalam kamar dengan masih di papah oleh Raya.
Rayhan berjalan sedikit sempoyongan karena kakinya terasa kram.
Kaki Rayhan terasa sangat berat dan sakit.
Tanpa sengaja Rayhan akan terjatuh dan Raya mencoba menahannya karena Rayhan berat sedangkan Raya kecil jadi Raya tak bisa menahannya.
Bughh
"Awwss" ucap Raya mengerang kesakitan karena Rayhan menindih badannya.
Bahkan ada sesuatu yang menonjol di saku Rayhan dan itu membuat Raya kesakitan.
Mata mereka saling menatap bahkan Rayhan pun hanya bisa tersenyum tipis karena melihat Raya yang sekarang berada di bawah kungkungannya.
"Kalau aku tak sakit mungkin aku sudah membuat Raya kesakitan lebih dari ini" batin Rayhan.
"Pak itu apa" tanya Raya.
"Apa" tanya Rayhan.
"Di saku celana mu, itu membuat aku sakit pak" ucap Raya.
Rayhan bangkit dengan perlahan lalu duduk di bibir ranjang.
Rayhan lupa kalau sejak tadi dia tak melepas pistolnya.
Rayhan mengeluarkan pistol itu dari sakunya dan menyimpan di atas laci.
"Kau membawa pistol" tanya Raya.
"Ya untuk jaga jaga saja" ucap Rayhan.
"Oh" ucap Raya, melihat senjata itu ada di celana Rayhan membuat Raya yakin kalau Rayhan bukan lah laki laki biasa.
"Oh ya pak mau makan" tanya Raya.
"Boleh" ucap Rayhan.
Raya mengambil makanan di dapur, Raya tak melihat ada Zia di sana.
"Mungkin Zia ada di kamarnya" ucap Raya.
Raya membawa satu piring makanan ke kamar, Raya menyuapi Rayhan dengan perlahan dan hati hati.
"Pak Ray kenapa bisa begini, siapa Dion itu" tanya Raya.
"Dion itu orang yang sudah menghancurkan papah bahkan Nenek meninggal karena dia Ray" jawab Rayhan.
"Lalu" tanya Raya.
"Lalu apa" tanya Rayhan.
"Lalu kenapa sekarang dia ada lagi bukan nya kejadian itu dua belas tahun yang lalu" ucap Raya.
"Ya dia baru muncul lagi Ray" ucap Rayhan.
"Sudah lah pak jangan ikut campur lagi, bukan nya urusannya dengan papah yasudah biar papah saja yang selesaikan" ucap Raya.
"Kau tau papah itu orang baik Ray dia tak akan mungkin membalas nya" ucap Rayhan.
"Pak, jika papah saja bisa memaafkan kenapa pak Ray tak bisa" tanya Raya.
"Ray aku ini bukan tuhan yang selalu bisa memaafkan kau tau dia sudah merebut kebahagian aku bahkan kau tau aku hidup tanpa kasih sayang karena Dion" ucap Rayhan.
"Pak sekarang sudah dua belas tahun, lupa kan saja" ucap Raya.
"Kau gampang bilang begitu Raya, aku yang menderita selama dua belas tahun ini" ucap Rayhan.
__ADS_1
"Kau ter obsesi dengan dendam ini pak" ucap Raya.
"Kau hanya tak tau saja Raya" bentak Rayhan marah pada Raya.
Raya tak menjawab dia hanya menundukan kepalanya karena takut pada Rayhan karena sudah membentaknya.
"Aku harap kau tak mencampuri urusan ku" ucap Rayhan yang sekarang berusaha mengontrol emosinya.
Raya tak menjawab dia hanya pergi dari sana tanpa menatap pada Rayhan.
Rayhan melihat Raya yang sekarang sudah pergi meninggalkannya.
"Arggh aku harus apa" geram Rayhan karena Raya se olah tak mengerti pada nya.
Sedangkan Raya sekarang berada di dapur dia menangis di dalam diam, Raya sesekali menghapus air matanya.
"Pak Ray aku semakin yakin kalau kau bukan laki laki biasa" gumam Raya.
Nita datang kesana karena akan mengambil makan.
"Raya kamu sedang apa" tanya Nita yang sekarang sedang ada di belakang Raya.
Raya menghapus air matanya karena tak mau mertuanya itu melihatnya.
"Eh mah" tanya Raya.
"Kamu sedang apa" tanya Nita.
"Aku lagi nunggu Adzan Maghrib" ucap Raya.
"Oh baik lah mamah akan membawakan papah makan" ucap Nita.
"Kau sudah makan" tanya Nita.
"Belum mah nanti saja" ucap Raya.
Sedangkan di kosan, Lukas Rega dan Julia baru saja datang ke kosan tetapi tiba tiba perut Lukas terasa sangat sakit karena punya penyakit lambung yang cukup parah di tambah tadi siang Lukas telat makan.
"Kak aku akan antar dulu Julia" ucap Rega pada Lukas.
"Ya" ucap Lukas.
Rega mengantar Julia ke kosan nya.
"Selamat tidur wanita jutek" ucap Rega.
"Ck beraninya kau" ucap Julia.
"Kosan mu sangat gelap" ucap Rega.
"Ya, bisa kau nyala kan lampunya" ucap Julia.
"Ck dasar penakut" ucap Rega.
Rega masuk di ikuti oleh Julia, Rega mencari cari tombol lampunya.
Clek
Lampu menyala dan di bawah kaki Julia ada tikus yang cukup besar ber warna hitam.
"Aaghhhh tikus" teriak Julia yang langsung memeluk Rega bahkan kaki Julia pun mengangkat ke atas ber tumpu pada pinggang Rega.
Mereka saling tatap, berdekatan se in tim itu membuat Rega merasakan sesuatu yang menjadi hal wajar bagai seorang laki laki.
"Tikus" gumam Julia menatap wajah tampan Rega yang sekarang berada di hadapannya.
"Turun" ucap Rega.
"Tapi tikus" ucap Julia.
"Jul aku laki laki bagai mana kalau aku lepas kendali" ucap Rega.
Julia melepas pelukannya dan turun dari badan Rega.
Rega memeluk Julia dan membuat Julia seketika di buat mabuk oleh has rat nya sendiri.
Namun bukan itu niat Rega dia memeluk Julia karena akan menaikan tubuh Julia ke atas meja yang berada dekat dengan mereka berdua.
"Duduk lah di sini biar aku bereskan ini semua" ucap Rega.
"Terima kasih" ucap Julia.
Saat ini jantung Julia sedang tak baik baik saja bahkan sekarang jantung nya ber detak sangat kencang seperti baru saja mengikuti lomba balap lari.
Rega membersihkan kamar Julia menyapunya hingga bersih,
"Kau mau ikut" tanya Rega.
"Kemana" tanya Julia.
"Aku akan pindah ke apartemen, ya lumayan dari pada di kosan ini bahkan sewa nya juga lumayan murah" ucap Rega.
"Di mana" tanya Julia.
"Di jalan ***" ucap Rega.
"Wah boleh aku ikut, apartemen itu cukup dekat dengan perusahaan mamah nya Raya" ucap Julia.
"Ayo" ucap Rega.
"Berapa biaya nya" tanya Julia.
"Gratis" ucap Rega.
"Ahh yang benar saja" ucap Julia.
"Gratis kalau kau menjadi istri ku karena aku yang akan membayarnya tapi kalau kau mau sendiri yang membayarnya maka biaya nya satu juta per bulan" ucap Rega.
"Mahal nya" ucap Julia.
"Pul Ac pul air pul listrik dan free wifi" ucap Rega.
"Baiklah aku ikut" ucap Julia.
"Aku akan kembali" ucap Rega.
"Tunggu" ucap Julia sambil turun dari meja.
"Terima kasih" ucap Julia.
"Sama sama" ucap Rega.
Rega kembali ke kosannya yang berada di belakang Kosan Julia karena kosan ini memang begitu satu atap untuk wanita dan satu atap untuk laki laki dan kosan itu saling membelakangi.
Rega berjalan kesana dan dia sudah mendapati Lukas yang sekarang sudah pingsan di depan pintu kosan.
"Kak" ucap Rega.
Rega menepuk nepuk pipi Lukas namun ternyata tak ada jawaban dari Lukas, kemudian Rega memeriksa nafas Lukas ternyata Lukas pingsan.
"Kak kau kenapa" tanya Rega.
Rega membawa Lukas ke mobil milik Lukas, dia hendak menjalan kan mobilnya namun Rega lupa kalau Julia akan sendirian di kosan bahkan tak ada orang lagi selain Julia disana.
"Ck wanita itu menyusahkan" gumam Rega.
Rega berjalan ke arah kosan Julia,
Rega mengetuk pintu kosan Julia dan sesaat kemudian Julia membukanya.
"Ikut aku" ucap Rega menarik tangan Julia.
"Kemana" tanya Julia.
"Kak Lukas pingsan kita akan bawa dia ke rumah sakit" ucap Rega.
"Pingsan" tanya Julia.
__ADS_1
Mereka berangkat ke rumah sakit terdekat karena saat sudah tiba disana Lukas langsung di tangani oleh Dokter.
Bersambung..