Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 80


__ADS_3

Sudah lama sekali Rayhan dan Elpan menaiki heli kopter, tetapi mereka tak menemukan apa apa bahkan plat mobil dengan nomor itu pun tak Rayhan temukan.


"Bagai mana Ray" tanya Elpan.


"Bagai mana lagi" ucap Rayhan mengeluh.


"Maaf karena aku kau tak bekerja, bahkan aku sudah lama meminjam heli mu ini" ucap Rayhan lagi.


"Tak masalah Ray kita kan teman, jadi kita harus saling membantu" ucap Elpan.


"Terima kasih El" ucap Rayhan.


"Apa kita akan mencari lagi" tanya Elpan.


"Kita pulang saja" ucap Rayhan.


Rayhan menatap pada jam tangan yang melingkar di tangannya itu ternyata waktu sudah menunjukan pukul 4 sore hari.


"Aku rasa Zia juga sudah berada di kota" ucap Rayhan.


Tadi saat Rayhan masih mencari, Rayhan mengirim pesan pada Zia untuk datang ke kota karena sudah Rayhan pastikan kalau Zia sangat cemas mungkin kalau Zia ke kota maka dia akan sedikit tenang bersama dengan Raya.


Heli kopter itu turun di sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya.


Sedangkan sekarang di rumah Rayhan, Zia sudah sampai ke rumah Rayhan.


Zia langsung di sambut oleh Raya yang sejak tadi cemas karena memikirkan mertuanya itu.


"Kak" ucap Zia pada Raya dan langsung memeluknya dengan penuh kesedihan.


"Kak apa kak Rayhan sudah menemukan mamah" tanya Zia.


"Belum ada kabar" jawab Raya.


"Oh ya bagai mana ini aku takut mamah dan papah kenapa kenapa" ucap Zia.


"Kamu jangan cemas, aku sangat yakin kalau mamah dan papah akan baik baik saja" ucap Raya.


"Ya semoga saja" ucap Zia.


Raya dan Zia berada di ruang tengah, mereka sesekali melihat ponselnya karena takutnya ada yang menghubunginya atau memberikan kabar baik.


Saat ini Rayhan berjalan menuju rumahnya, jujur saja Rayhan sekarang merasa sangat geram pada orang yang sudah menculik orang tuanya itu.


Apa lagi sampai sekarang Rayhan tak menemukan orang yang menculik orang tuanya bahkan anak buahnya pun tak ada yang memberi kabar.


Rayhan masuk kedalam rumahnya, saat itu Rayhan melihat ada Raya dan Zia yang sedang duduk di ruang tengah.


"Pak Ray" sahut Raya yang pertama melihat kedatangan Rayhan.


"Kak" ucap Zia yang langsung berlari memeluk kakaknya.


"Kak bagai mana dengan mamah dan papah" tanya Zia.


"Maaf aku tak menemukannya" ucap Rayhan.


"Hah lalu bagai mana kondisi papah dan mamah sekarang" tanya Zia.


"Aku tak tau" ucap Rayhan.


Rayhan berjalan ke dalam kamarnya karena sekarang Rayhan akan mandi, namun pertama tama Rayhan menghubungi semua anak buahnya.


📞📞


..."Datang lah ke markas" titah Rayhan....


..."Siap tuan" ucap anak buahnya....


📞📞


Rayhan mandi dan berganti pakian,


"Berapa orang lagi yang harus aku bu nuh, aku tak tega membu nuh orang lain tapi mereka sendiri yang sudah menggali lubang kuburnya sendiri" gumam Rayhan.


Rayhan turun dari kamarnya.


"Pak Ray mau kemana" tanya Raya pada suaminya yang sekarang sudah rapih.


"Aku akan mencari mamah dan papah" ucap Rayhan.


"Kalau malam aku gak pulang, kalian tidur saja satu kamar aku akan panggilkan Rega kemari untuk menunggu kalian" ucap Rayhan.


"Boleh kah aku panggil Julia juga" tanya Raya.


"Boleh" ucap Rayhan.


Raya segera mengirimkan pesan pada Julia untuk ikut bersama dengan Rega datang kemari.


Sedangkan di kosan.


Julia membaca pesan dari Raya dan langsung datang ke kosan Lukas.


"Tuan" sahut Raya dari arah luar kosan Lukas.


Lukas membuka pintunya.


"Ada apa datang kemari" tanya Lukas.


"Kata Raya aku harus bersama kalian untuk datang ke rumah Raya" ucap Julia.


"Kata siapa" tanya Lukas.


"Aku dapat pesan dari Raya" ucap Julia.


Lukas langsung masuk dan melihat ponselnya yang sekarang sedang di cas.


"Ya ampun tuan Rayhan menghubungi aku sejak tadi" gumam Lukas yang langsung mencabut ponselnya dan kembali menghubungi Rayhan.


📞📞


..."Ya tuan" tanya Lukas....


..."Datang lah ke markas, dan ingat antarkan dulu Rega dengan Julia ke rumah ku biarkan mereka yang berjaga di sini" ucap Rayhan....


..."Baik tuan saya kesana sekarang" ucap Lukas....


📞📞


"Rega segera lah bersiap kita akan berangkat" ucap Lukas.

__ADS_1


"Baik kak" ucap Rega.


Mereka bertiga langsung menuju ke rumah Rayhan kira kira jarak kosan dengan rumah Rayhan hanya lah berjarak 6 km.


Lukas melajukan mobilnya dengan cukup kencang karena takutnya Rayhan akan marah padanya karena keterlambatan itu.


"Ada apa kak Rayhan memerintah kita untuk datang kesana" tanya Rega.


"Rega kau harus berjaga di rumah Tuan Rayhan, kau bisa berkelahi kan" tanya Lukas.


"Berkelahi" tanya Rega.


"Tidak kak itu sangat tidak baik" ucap Rega lagi.


"Tapi ini demi kebaikan semua, kau tau ini pekerjaan mu dahulu" ucap Lukas.


"Oh ya" tanya Rega.


"Ya".


"Apa dulunya aku orang ja hat" tanya Rega.


"Ya begitu lah" ucap Lukas.


"Ya ampun apa saja yang aku lakukan dahulu" gumam Rega.


Mereka sampai di kediaman Rayhan.


Julia dan Rega turun dari dalam mobil.


"Kalian di sini jaga Raya dan Zia" titah Rayhan.


"Baik kak" ucap Rega.


"Masuklah" ucap Rayhan pada keduanya.


Rayhan masuk kedalam mobil yang sekarang sedang di kendarai Lukas.


"Tuan yang benar saja kau meminta Rega untuk menjaga nona Raya" tanya Lukas.


"Ya memang kenapa" tanya Rayhan.


"Tuan, Rega itu amnesia dia melupakan jati dirinya sekarang, bahkan dia lupa pada kita apa lagi pada cara dia ber kelahi" ucap Lukas.


"Kau benar juga" ucap Rayhan.


Rayhan langsung menelpon anak buahnya meminta agar secepatnya datang kesana karena Rayhan takut akan terjadi sesuatu pada Raya dan Zia.


Rayhan langsung berangkat ke markas karena semua anak buahnya sudah menunggu disana.


Sedangkan di rumah saat ini ketiga wanita sudah berada di kamar Raya, mereka bertiga hanya cemas saja bahkan Julia yang baru mendengar ceritanya dari Raya juga langsung merasa panik.


"Kak kita tidur di ruang tamu saja" ucap Zia.


"Baiklah" ucap Raya.


Mereka bertiga membawa bantal dan selimut ke bawah, sedangkan di sana ada Rega yang sekarang sudah tidur di atas sofa.


"Dimana kita akan tidur" tanya Julia.


"Kita akan pakai kasur tipis saja, gak apa kan" tanya Raya.


"Tak masalah" ucap Zia.


Drtt


Ponsel Zia bergetar tanda ada pesan yang masuk, Zia membukanya.


{Malam} pesan dari Adam.


"Dasar Ustadz bucin" gumam Zia sambil tersenyum tipis.


{Siang} balas Zia.


{Aku kira malam} pesan Adam.


{Ada apa} tanya Zia.


{Hanya ingin menanyakan apa bu Nita dan pak Topan sudah ketemu, tadi setelah Sholat isya kami semua men doa kan Mereka semoga saja Alloh mengabulkannya dengan cepat} pesan Adam.


{Amin} pesan Zia.


{Aku akan tidur, jujur saja Raya aku sangat kesepian tanpa mu} pesan dari Adam.


{Aku tau karena aku lucu kan} pesan Zia.


{Terlalu percaya diri} balas Adam.


{Aku akan tidur, selamat tidur Zia} pesan Adam.


Zia mematikan ponselnya dan segera tidur bahkan Julia dengan Raya pun sudah tidur lebih dahulu.


Rumah Rayhan di jaga ketat oleh anak buah Rayhan, tetapi mereka menjaga dari jarak jauh karena tak mau membuat orang lain curiga.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman mewah Dion Adinata.


Topan dan Nita sedang di tawan, bahkan saat ini Dion tak berani membuka penutup wajahnya karena takut akan terbongkar oleh Topan.


Apa lagi sekarang Dion Adinata tau kalau Rayhan bukan lah anak yang biasa karena Rayhan adalah seorang Mafia yang tak akan segan segan membasmi setiap orang yang menganggunya.


Dion menatap pada Topan dan Nita yang sekarang tak bisa bicara karena mulutnya di lakban.


Dion mendekat dan membuka lakban keduanya dengan sangat kasar bahkan Nita meringis kesakitan karena saking sakitnya.


"Siapa kamu" tanya Topan.


"Lepas kan kami" ucap Nita.


"Santai, aku hanya akan membalaskan dendam aku saja" ucap Dion.


"Tunjukan wajah aslimu" ucap Topan.


"Tak perlu kau tau pun seharusnya kau tau aku" ucap Dion.


"Siapa kau" tanya Topan lagi.


"Aku Dion" ucap Dion.


"Dion" gumam Topan mencoba mengingat ingat siapa Dion.

__ADS_1


Topan langsung ingat pada ucapan Rayhan dan Foto yang Rayhan berikan tempo lalu,


"Kau Dion mantan klien aku dahulu kan" tanya Topan.


"Kau ingat pada ku" tanya Dion tersenyum tipis.


"Dion leodra" geram Topan.


"Kenapa kau menculikku apa kau yang melakukan hal ini pada keluarga ku" tanya Topan.


"Lalu menurut mu siapa lagi" tanya Dion sambil membuka wajahnya yang di tutup oleh kain.


"Siapa kau, kau bukan Dion Leodra" tanya Topan.


"Aku Dion Adinata, hahaha aku pikir kau pintar Topan ternyata kau bo doh" ucap Dion.


"Kau tau kenapa aku bisa berubah, banyak sekali dokter kecantikan di dunia ini maka dari itu aku mencoba mengubah wajah ku" ucap Dion.


"Apa kesalahan aku di masa lalu Dion hingga kau sudah merenggut kebahagiaan keluarga ku" tanya Topan.


"Mas kau tau dia" tanya Nita.


"Ya dia klien mas dulu" jawab Topan.


"Hahaha Topan Arya Wijaya, kau tau aku mencari diri mu dari dua belas tahun yang lalu, bahkan kau tau aku sudah menganggap kalian semua sudah meninggal, namun sayang yang meninggal di tempat hanya ibu mu, kenapa bukan kau saja" ucap Dion.


"Kau ja hat Dion padahal apa salah ku pada mu" tanya Topan.


"Kau tanya apa salah mu padaku" tanya Dion menatap tajam pada Topan.


"Biar aku jelaskan" ucap Dion lagi.


Sedangkan di sisi lain, Rayhan sudah sampai di markas dan mengumpulkan semua anak buahnya.


"Ketemu" tanya Rayhan geram.


"Belum" ucap anak buahnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Arghh si al, bagai mana kita bisa gegabah begini" ucap Rayhan.


"Tuan saya kira orang itu sangat pandai bersembunyi tuan" ucap salah satu anak buah Rayhan.


"Ya" ucap Rayhan.


"Pokoknya aku tak mau tau kalian harus cari sekarang bila perlu kalian cari ke samsat dan cari alamat pemilik mobil dengan plat ****" ucap Rayhan.


"Baik tuan" serempak.


"Sekarang" teriak Rayhan.


"Tuan saya punya info" ucap salah satu anak buah Rayhan yang menghadap pada Rayhan.


"Apa" tanya Rayhan.


"Dalang di balik penculikan ini adalah orang yang sama yang melakukan penge bom an di kediaman Lynda House" ucapnya.


"Oh ya, dari mana kau tau" tanya Rayhan.


"Dari informan, lagi pula tuan bukan kah hanya itu saja musuh orang tua anda kan".


"Ya tapi bagaimana dia bisa tau papah, padahal aku sudah menghapus data diri papah" ucap Rayhan.


"Bisa saja tuan bahkan sekarang jaman serba canggih tuan, sekarang banyak yang nipu lewat ponsel, buat menipu saja gampang apa lagi mencari sebuah data diri tuan, bahkan jika kita ingin melihat alamat kita di ponsel kita hanya perlu mendownload aplikasi dan mencantumkan nama kita lalu ada data diri kita" ucap anak buah Rayhan.


"ya kau benar" ucap Rayhan.


"tapi siapa yang berani menculik papah dan mamah, Arggh" geram Rayhan.


Brakk


Rayhan menendang meja yang berada di hadapannya, bahkan meja itu sampai patah katena ulah Rayhan.


Setelah itu Rayhan kembali mencari informasi dari anak buhanya yang dia suruh menjaga rumah nya karena takut ada hal yang akan terjadi pada Raya disana.


{aman} pesan Rayhan.


{aman tuan} jawab anak buahnya.


Rayhan duduk di kursi dia menatap anak buahnya yang sekarang sedang mencari informasi lewat lap top bahkan ada juga yang keluar dan menjadi ke seluruh samsat padahal mereka tau kalau malam hari semua samsat akan tutup.


Tetapi karena tak mau membantah Rayhan mereka pun berangkat untuk mencari walau pun mereka tak menemukannya.


sedangkan di kediaman Dion Adinata,


Dion sedang menyiksa Topan bahkan Dion tak memberikan makan pada Nita dan Topan.


Bugh


plakk


"kau tau Topan, aku menderita selama satu tahun dan itu semua karena kau" ucap Dion sambil memukul dan menampar Topan.


"bicara yang benar sejak tadi kau menampar ku tapi kau tak bilang apa salah aku pada mu" ucap Topan.


"masih tak mengaku juga, apa kau tak sadar kalau kau sudah membuat sengsara, dasar tak tau di untung kau sangat egois Topan" ucap Dion.


Bughh


"ini baru awal Topan, kau akan lebih menderita dari ini" ucap Dion.


Topan meringis kesakitan karena mendapat pukulan bertubi tubi dari Dion.


Bahkan sekarang hidung Topan sudah berdarah karena selalu mendapat pukulan.


"baiklah aku mohon ampun pada mu, maaf kan aku dan beri tau aku apa kesalahan aku pada ku jawab lah aku tak sadar aku tak tau kesalahan apa yang aku per buat sampai kau marah padaku" ucap Topan.


"hahaha akhirnya kau mengaku juga" ucap Dion.


"ya apa beri tau aku" ucap Topan.


"kau yang membuat aku begini Topan, tapi sayang aku tak akan memberi tau sekarang sebelum anak dan menantu mu datang kemari" ucap Dion.


"jangan libatkan mereka, mereka tak salah lagi pula ini hanya urusan aku dan kau" ucap Topan.


"sayang sekali anak buah ku sudah datang kesana" ucap Dion tersenyum penuh kemenangan.


"jangan berani menyakiti mereka karena kalau tidak aku tak akan tinggal diam" ucap Topan.


"apa kau akan mengandalkan anak laki laki mu yang Mafia itu" tanya Dion.

__ADS_1


"mafia" gumam Topan.


Bersambung...


__ADS_2