Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 60


__ADS_3

Keesokan harinya Rayhan dan Raya sudah mempacking semua pakian karena sore harinya mereka akan kembali ke rumah Rayhan, karena pekerjaan disana juga sudah selesai.


"Pak Ray apa tak bisa lebih lama lagi" tanya Raya hati hati takutnya Rayhan marah.


"Memangnya kau mau berapa lama lagi" tanya Rayhan.


"Tidak hanya saja sangat singkat" ucap Raya.


"Ya kan tiga hari, jadi nanti sore pulang kau tenang saja ada waktu selama 6 jam di sini, kau mau apa" tanya Rayhan.


"Bukan kah kau akan bertemu dulu dengan pak Dendra" ucap Raya.


"Ya hitung saja dua jam dan kau punya empat jam untuk kau bersenang senang" ucap Rayhan.


"Yasudah" ucap Raya.


Raya berpikir untuk pergi belanja dan makan makan dengan Rayhan, namun realita tak semanis ekspetasi.


Raya harus menelan kekecewaan saat sekertaris suaminya itu datang dengan membawa koper.


"Dia lagi" gumam Raya.


"Selamat pagi tuan dan Nona" ucap Jeni saat dia sudah berada di penginapan Rayhan.


"Kau datang" tanya Rayhan.


"Ya tuan, niatnya saya akan pulang bareng kalian saja karena kan kita satu tujuan juga" ucap Jeni.


"Ya tak masalah" ucap Rayhan.


Namun Raya memasang wajah yang masam apa lagi Jeni juga tak malu mendekati Rayhan di hadapan Raya, bahkan Jeni juga tak segan segan menggoda Rayhan.


"Bagaimana pertemuan mu kemarin" tanya Rayhan.


"Cukup baik tuan, apa lagi pak Dendra suka pada gambar yang sudah kau buatkan secara mendadak itu" ucap Jeni.


"Ya aku sudah yakin" ucap Rayhan.


"Ayo tuan kita ketemu dulu dengan pak Dendra, supaya kita bisa segera pulang" ucap Jeni.


"Ayo Raya" ucap Rayhan.


"aku tak akan ikut" ucap Raya ketus.


"Kenapa begitu" tanya Rayhan.


"Pak Ray aku malu kalau harus ikut, lagi pula aku hanya akan diam saja kan disana, lebih baik aku di sini saja" ucap Raya.


"Tak bisa kau harus ikut Raya, disini bahaya" ucap Rayhan.


"Bahaya apa" tanya Raya heran.


"Kau akan sendirian di sini, bagaimana kalau ada laki laki yang datang kemari dan membawa mu pergi" ucap Rayhan.


"Setidaknya laki laki itu mungkin akan membahagiakan aku" gumam Raya.


"Kau bilang apa" tanya Rayhan.


"Tidak" ketus Raya.

__ADS_1


"Tuan biarkan saja nona di sini lagi pula ada satpam kan yang akan menjaga nya, kau tak perlu cemas" ucap Jeni.


"Jadi kita bisa pergi berdua" sambung Jeni lagi.


Raya langsung marah pada ucapan Jeni barusan.


"Baiklah aku akan ikut" ucap Raya.


"Yasudah ayo" ucap Rayhan.


Karena Rayhan tak membawa mobil, Rayhan memesan taksi untuk membawanya ke tempat yang sudah pak Dendra sepakati.


Drama di dalam taksi pun terjadi lagi, bahkan sekarang kedua wanita itu berebut untuk duduk di samping Rayhan dengan banyak sekali alasan.


"Nona Raya aku sarankan anda duduk di depan" ucap Jeni.


"Kau tak sopan menyuruh ku" ucap Raya.


"Bukan begitu Nona tapi saya akan membahas masalah ini dengan tuan di kursi belakang" ucap Jeni.


"Tidak bisa aku istrinya dan aku akan duduk di samping suami ku" ucap Raya.


"Nona tapi ini pembahasan sangat penting" ucap Jeni.


"Tidak bisa" ucap Raya namun dengan senyuman terpaksa.


"Ck kau egois" ucap Jeni namun dengan nada pelan.


"Hey kalian ada apa" tanya Rayhan yang sejak tadi menunggu di dalam taksi namun kedua wanita itu belum juga masuk.


"Ini tuan saya sudah bilang pada Nona Raya untuk duduk di depan karena kan kita akan membahas masalah ini" ucap Jeni.


"Baiklah aku akan putuskan" ucap Rayhan.


Rayhan menyuruh kedua wanita itu untuk masuk di kursi belakang sedangkan Rayhan duduk di kursi depan.


"Nah begini kan adil" ucap Rayhan.


"Ck" Jeni berdecak kesal.


Raya hanya menatap pada jendela saja karena kesal melihat Jeni yang sangat berani pada Rayhan.


Sedangkan Jeni sejak tadi menjelaskan pada Rayhan tentang semua perjanjian baru yang pak Dendra berikan.


Di sebuah cafe, Rayhan dan Jeni serta pak Dendra duduk satu meja sedangkan Raya memilih duduk sendiri di pojok karena tak mau mengganggu mereka yang sedang bekerja.


Sesekali Raya melihat pada Rayhan yang sedang fokus, rasa bosan sangat terasa pada Raya, apa lagi sekarang Raya hanya meminum jus yang dia pesan tadi.


Seorang laki laki datang kesana dan melihat Raya duduk sendirian.


"Raya" ucap lagi lagi itu menyapa Raya.


"Hey Kevin, kau ada di sini sedang apa? Ayo duduk" tanya Raya.


Note: Kevin teman satu kampus Raya.


"Aku sedang mengurus perusahaan Raya, aku sudah ijin pada kampus hampir dua minggu yang lalu dan sampai sekarang aku belum juga selesai" ucap Kevin.


"Pantas aku tak melihat mu" ucap Raya.

__ADS_1


"Lalu kau sendiri sedang apa" tanya Kevin.


"Aku mengantar suami aku kerja" ucap Raya menunjuk pada Rayhan.


"Oh istri setia ya" ucap Kevin.


"Haha kau bisa saja" ucap Raya.


"Kapan kau pulang" tanya Kevin.


"Nanti sore" ucap Raya.


"Yah sayang sekali kalau saja aku tau kau ada di sini mungkin aku akan memperlihatkan indahnya Bali pada mu" ucap Kevin.


"Sayang sekali" ucap Raya.


"Lalu bagaimana kabar kau dan Fikri" tanya Kevin.


"Sampai saat ini aku tak pernah bertemu dengannya lagi, kau tau setelah dia tau kalau kita adik kakak, Fikri baik baik saja padaku" ucap Raya.


"Oh ya kau tau Raya, Fikri saat tau hal itu dia menangis di hadapan aku dan Dendi, miris bukan" ucap Kevin.


"Benarkah" tanya Raya.


Hahaha


"Beneran" ucap Kevin sambil tertawa.


Sedangkan di sisi lain Rayhan menatap Raya dan Kevin dengan tatapan marah serta cemburu, kalau saja tak sedang bekerja mungkin Rayhan akan membawa Raya pergi dari laki laki itu.


Tangan Rayhan mengepal kuat di bawah meja, Rayhan iri karena Kevin bisa membuat Raya tertawa sedangkan bersama Rayhan, Raya tak pernah tertawa.


"Tuan Rayhan aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik" ucap Pak Dendra.


"Ya pak aku harap juga begitu" ucap Rayhan.


"Kapan kapan datang lah lagi kemari pak aku sangat menunggu" ucap pak Dendra.


"Ya pak" ucap Rayhan.


"Kalau begitu kami permisi" ucap Rayhan.


"Ya tuan".


Rayhan mendekat pada Raya dan Kevin, dia sangat marah karena melihat istrinya bicara dengan laki laki lain.


" Raya ayo pulang" ucap Rayhan ketus, datar dan dingin.


"Ya" ucap Raya.


"Kevin maaf aku harus pulang, selamat bertemu di kampus" ucap Raya.


"Ya Raya" ucap Kevin.


Rayhan menatap tajam pada Kevin, sedangkan Kevin hanya santai saja karena tatapan Rayhan tak semenakutkan tatapan papahnya, pikir Kevin.


"Selamat pagi tuan" ucap Kevin.


"Pagi" ketus Rayhan yang langsung pergi dari sana.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2