
Rayhan sampai di markas disana banyak sekali anak buahnya yang sedang merapihkan senjata untuk di kirim, Rayhan mendekat pada anak buah yang kemarin dia suruh mencari informasi.
"Tuan selamat datang" ucap seluruh anak buah Rayhan yang semuanya menunduk menghadap Rayhan.
"Bagaimana informasi dari anak buah ku yang ada di singapura" tanya Rayhan.
"Tuan katanya tak ada yang bernama Dion yang anda maksud, mereka bilang kemungkinan besar orang bernama Dion itu masih berada di negara ini" ucap anak buah Rayhan.
"Ya tapi dia sangat pandai bersembunyi" ucap Rayhan.
"Tuan kita sudah mencarinya selama dua belas tahun ini, tapi tetap saja tak membuah kan hasil" ucap anak buahnya.
Rayhan hanya menatap sekilas pada orang itu, benar juga yang dia katakan karena sudah dua belas tahun ini Rayhan tak menemukannya.
Hanya menemukan Foto saja dan hal itu masih tetap tak membuahkan hasil.
"Apa sekarang waktunya aku menyerah, lalu bagaimana dengan dendam atas kematian Nenek" batin Rayhan.
Rayhan menatap pada anak buahnya.
"Kalian bekerja lagi, pastikan pengiriman sekarang berhasil" ucap Rayhan.
"Siap tuan" serempak.
Bughh
Plakk
Rayhan mendengar suara perkelahian di luar markasnya, dia pun langsung keluar melihat keributan apa yang terjadi di luar.
Betapa terkejutnya Rayhan saat melihat Elpan yang sedang di pukuli oleh anak buahnya Rayhan.
"Hentikan, dia temanku" ucap Rayhan.
"Maaf tuan orang ini menerobos masuk" ucap anak buah Rayhan.
"Kau boleh pergi" titah Rayhan yang hanya tersenyum saja melihat temannya itu di pukuli.
"Kau senyum, lihat wajah tampan aku ya ampun ini semua gara gara anak buahmu" gerutu Elpan.
"Sudah hanya luka biasa" ucap Rayhan.
"Tetap saja" gerutu Elpan.
"Masuklah, lain kali kalau mau datang beri tau dulu aku jadi anak buahku tak menyerangmu" ucap Rayhan.
"Harus nya kau menyuruh anak buahmu untuk bertanya dulu bukan langsung memukuli ku" ucap Elpan yang langsung duduk di kursi.
"Hahah seharusnya aku bangga pada anak buah ku karena dia sigap dan cekatan" ucap Rayhan.
"Tapi aku bukan musuh mu Ray" ucap Elpan.
"Ya maafkan anak buah ku, lalu mau apa kau kesini tanpa body guard Tuan Elpan" tanya Rayhan.
"Ada hal yang harus aku bicarakan" ucap Elpan.
__ADS_1
"Apa" tanya Rayhan.
"Aku ingin menyewa anak buahmu untuk menjaga aku, karena besok aku akan pergi ke hongkong melihat proyek ku yang aku bangun di sana" ucap Elpan.
"Lalu" tanya Rayhan.
"Aku ingin menyewa anak buah mu" ucap Elpan.
"Silahkan kau pilih saja, mau berapa banyak pun terserah kau" ucap Rayhan.
"Benarkah" tanya Elpan tak percaya.
"Tentu saja, tapi ingat jangan sampai mereka terluka" ucap Rayhan.
"Siap Bos" ucap Elpan.
"Lihat sini, dia Elpan dia ingin menyewa kalian untuk menjaganya di hongkong aku harap kalian semua mau menjaganya" ucap Rayhan.
"Siap tuan" serempak.
"Kau pilihlah El" ucap Rayhan.
"Terima kasih Ray" ucap Elpan.
"Aku harus pergi sekarang ada kerjaan yang harus aku selesaikan" ucap Rayhan yang langsung pergi dari sana.
Rayhan pergi ke perusahaanya karena kata Lukas tadi perusahaannya sedang banyak pekerjaan jadi Rayhan kesana dan membantu Lukas menyelesaikan pekerjaanya.
Hari sudah semakin gelap, Rayhan memutuskan untuk pulang ke rumahnya, jujur saja dalam hati Rayhan sangat malu pada kedua orang tuanya karena sudah dua belas tahun ini dia tak menemukan penjahat itu.
Rayhan duduk dan ikut bergabung dengan mereka.
"Kamu kenapa Ray kenapa mukanya masam begitu" tanya Nita.
"Mah, pah aku gagal mencari penjahat itu" ucap Rayhan menundukan kepalanya.
"Tak masalah nak kami sudah melupakannya" ucap Topan.
"Tapi mah bagaimana dengan kematian Nenek" tanya Rayhan menatap pada papahnya.
"Ray biarkan saja mereka, kau harus percaya Alloh itu tidak tidur mereka akan mendapat karma nya sendiri" ucap Topan.
"Ya nak, sekarang fokus saja pada kehidupan mu jangan urus lagi masalah itu, kami sudah melupakannya" ucap Nita.
"Ya mah tapi tetap saja rasanya belum puas kalau mereka belum merasakan akibatnya" ucap Rayhan.
"Nak sudah jangan begitu" ucap Nita.
"Ray kata Zia kau akan menikah, dengan siapa" tanya Topan menatap pada Putra sulungnya itu.
"Dasar Zia si mulut ember" batin Rayhan.
"Ya pah aku akan menikah" ucap Rayhan memilih mengiyakan saja ucapan orang tuanya itu.
"Dengan siapa" tanya Topan.
__ADS_1
Rayhan bingung harus bicara apa karena sampai saat ini dia belum menemukan wanita yang akan dia jadikan istrinya.
"Ada pah, aku akan segera memperkenalkan nya pada kalian" ucap Rayhan.
"Ya mamah harap calon istri mu itu baik dan bisa menyayangi kamu" ucap Nita.
"Ya harus mah" ucap Rayhan.
"Kau sudah besar sekarang Ray, papah tak sangka dulu kau hanya lah anak kecil yang suka papah gantikan popok" ucap Topan.
"Pah sekarang aku sudah besar" ucap Rayhan.
"Dan aku besar tanpa kasih sayang kalian" batin Rayhan menjerit.
Rayhan hampir saja menjatuhkan air matanya, namun dengan cepat Rayhan bangkit dari duduknya.
"Aku akan tidur kalian tidur lah" ucap Rayhan yang langsung pergi ke kamarnya.
Rayhan mandi karena seharian ini dia sangat lelah dan kecapean bahkan badannya sangat lengket oleh keringat.
Rayhan memakai piyama untuk tidur.
"Apa aku akan langsung menyerah, oh ya ampun Rayhan kau sudah dua belas tahun mencarinya apa kau akan menyerah begitu saja, apa kau akan membiarkan orang yang memisahkan keluarga mu hidup dengan tenang" ucap Rayhan pada diri sendiri.
Tak terasa Rayhan tidur dengan sangat nyenyak padahal kemarin kemarin mimpi buruk itu selalu saja hadir di mimpi Rayhan, bahkan sampai membuat Rayhan bergadang semalaman.
Pagi hari...
Seperti biasa Rayhan bersiap akan berangkat ke kantor, Rayhan makan dengan sangat lahap karena hari ini dia memakan masakan ibunya lagi.
Hari Ini Zia pun masuk kerja karena sudah agak baikkan, mereka makan di meja makan tak ada percakapan saat makan.
"Mah aku akan berangkat kerja" ucap Rayhan.
"Ray mamah akan pulang" ucap Nita yang berhasil menghentikan langkah Rayhan yang akan pergi dari meja makan.
"Kenapa pulang Mah, kan kakak akan membawa calon istrinya untuk datang" ucap Zia. "Ya kan kak" tanya Zia pada Rayhan.
Rayhan menatap pada adiknya itu.
"Ya mah jangan pulang sekarang diam lah di sini satu atau dua minggu lagi" ucap Rayhan.
"Ayolah pah Pliss" ucap Zia memohon pada Topan papahnya.
Topan menatap pada Nita.
"Baiklah papah akan tinggal lagi di sini, asalkan beneran ya Rayhan akan membawa calon istrinya datang" ucap Topan.
"Ya kan kak" ucap Zia menatap tajam pada Rayhan.
"Ya pah" ucap Rayhan.
Rayhan, Lukas dan Zia berangkat ke perusahaan kepunyaan Rayhan, sejak tadi Zia senyum senyum sendiri karena akhirnya Rayhan akan menikah dan setelah Rayhan maka Zia pun akan segera menikah.
Bersambung..
__ADS_1