
Di sebuah rumah sakit Van armasta datang bersama dengan anak buahnya, karena ingin melihat kabar anak buah Dion yang sudah cukup pulih.
"Tuan kata Dokter ada tiga orang yang meninggal" ucap anak buah Van.
"Baiklah cepat kremasi" ucap Van.
"Bagai mana sekarang" tanya Dion.
"Aku sudah fikir kan tapi nanti saja, Rayhan tak tau kan kalau kau masih hidup jadi manfaatkan itu" ucap Van.
"Baik tuan" ucap Dion.
"Aku akan atur strategi nya, kau tunggu saja rencana dari ku" ucap Van.
"Tuan apa Rayhan akan mencurigai kita" tanya Dion.
"Tak akan aku yakin Rayhan tak tau, maka dari itu aku tekan kan pada mu jika ingin menemui ku telpon aku saja" ucap Van menatap datar.
"Lalu tuan bagai mana aku akan bekerja" tanya Dion.
"Ck kau ini begitu saja tak paham, kau punya anak buah yang banyak kan kenapa tak titah saja mereka" ucap Van.
"Tapi tuan aku" Ucap Dion ragu ragu.
"Argghh Ya sudah kalau kau tak mau bekerja sama dengan ku, lebih baik jangan" ucap Van marah.
"Tidak tuan aku sangat ingin menghancurkan Rayhan, dan hanya dengan mu saja aku bisa menghancurkan Rayhan" ucap Dion.
"Ya sudah kalau begitu ikuti semua rencana ku" ucap Van kesal pada Dion.
"Baik tuan" ucap Van.
Di kediaman Rayhan, saat ini Raya terlambat karena Rayhan tadi yang minta pada Raya, dengan cepat Raya bergegas mandi.
"Ray sarapan dulu" tanya Rayhan saat melihat sang istri berjalan ke arahnya yang sekarang berada di meja makan.
"Mas aku tak akan keburu kayanya aku berangkat sekarang saja ya, nanti siang aku akan ke kampus membayar uang pendaftaran ulang" ucap Raya.
"Ya baiklah hati hati di jalan" ucap Rayhan.
"Tunggu Raya" ucap Rayhan.
"Ya, oh ya aku lupa" ucap Raya yang langsung mendekat lagi pada Rayhan, Raya menyodorkan tangannya hendak menyalami tangan Rayhan.
Namun Rayhan malah memberikan kartu no limit nya pada Raya.
"Mas salim bukan kartu" ucap Raya.
"Tak apa bayar saja pakai kartu itu" ucap Rayhan.
"Tapi Mas uang ini juga masih ada" ucap Raya.
"Tak apa pakai uang ini saja" ucap Rayhan.
"Terima kasih mas" ucap Raya.
"Ya" ucap Rayhan yang langsung mencium kening Raya.
Sedangkan di apartemen Julia sudah bersiap akan ke perusahaan Bu ajeng, karena jarak yang cukup dekat jadi Julia santai saja apa lagi sekarang masih pukul setengah delapan.
"Belum berangkat" tanya Rega yang melihat Julia sedang memakai sepatu.
"Belum kalau sudah berangkat mungkin aku sudah pergi" ucap Julia.
"Mau aku antarkan" tanya Rega.
"Tidak usah aku bisa sendiri lagi pula jaraknya dekat kan" ucap Julia.
"Lalu kau akan kemana" tanya Julia.
"Aku akan kerja" ucap Rega.
"Kerja apa" tanya Julia.
"Jual beli" ucap Rega.
"Jual beli apa" tanya Julia.
"Kau gak akan tau" ucap Rega.
"Ya sudah, aku akan berangkat" ucap Julia.
Julia pergi meninggalkan Rega yang masih berada di sana.
Rega terus saja menatap pada Julia yang sekarang sudah pergi.
"Selamat pagi kak" ucap seorang wanita yang sekarang sudah berada di samping Rega.
"Pagi" ucap Rega.
"Bisa aku pinjam korek api" tanya wanita cantik itu.
"Untuk apa" tanya Rega.
"Rokok" ucapnya.
"aku tak punya lagi pula aku tak merokok, kalau pun iya aku pakai Vape" ucap Rega.
"Oh maaf mengganggu" ucap Wanita itu.
Julia nenatap Rega dan wanita itu dari jauh.
"Aku yakin dia itu titisan laki laki play boy karena dia sangat mudah akrab dengan orang lain" ucap Julia ketus.
Julia tak sengaja melihat ada Rahma disana yang sekarang tengah turun dari mobil Elpan.
"Rahma" sahut Julia.
"Jul" ucap Rahma.
"Sedang apa di sini" tanya Julia.
"Aku akan kerjaan sedikit dari Papah jadi aku harus datang kemari" ucap Rahma.
"Oh ya" ucap Julia.
"Bagai mana kau bisa datang bareng dengan kak El" tanya Julia.
"Tadi aku bertemu di jalan" ucap Rahma.
"Baiklah nanti siang jangan lupa" Rahma lagi.
"Apa" tanya Julia.
__ADS_1
"Bayar uang pendaftaran ulang" ucap Rahma.
"Ya" ucap Julia bingung karena dia tak punya uang, bahkan punya uang pun Julia bayarkan pada apartemen yang baru semalam dia tempati.
"Kita bareng aja yu, tak apa biar aku jemput ke sini nanti" ucap Rahma.
"Ya baiklah" ucap Julia.
Julia sangat bingung karena dia tak punya uang untuk membayar biaya pendaftaran ulang apa lagi sekarang uang Julia sudah habis.
"Kenapa mendadak begini" gumam Julia.
Julia membuka ponselnya yang sejak semalam tak Julia buka dan benar saja ada pemberi tauan kalau harus segera membayar.
"Ya alloh" gumam Julia.
Sedangkan sekarang Rahma sudah masuk ke dalam ruangan Bu Ajeng bersama dengan Elpan.
"Kak terima kasih sudah menemani aku" ucap Rahma.
"Tak masalah" ucap Elpan.
"Aku akan masuk kalau kak El bosan mendengar wawancara biar tunggu saja di luar" ucap Rahma.
"Rahma wawancara itu adalah makanan sehari hari aku mana mungkin aku bosan" ucap Elpan.
"Lihat kak perusahaan mamahnya Raya bagus ya" ucap Rahma.
"Ya" ucap Elpan.
"Suatu saat nanti aku juga akan sukses seperti Bu Ajeng" ucap Rahma.
"Amin" ucap Elpan.
Rahma dan Elpan masuk kedalam ruangan Bu Ajeng.
"Permisi Bu aku Rahma dari perusahaan pak Argam Mahoji, aku di tugaskan memberikan ini" ucap Rahma.
"Kamu temannya Raya kan" tanya Bu Ajeng.
"Ya" ucap Rahma.
"Wah kamu karyawan nya pak Argam" tanya Bu Ajeng.
"aku putrinya" ucap Rahma.
"Waw ibu tak sangka kalau kamu anak pak Argam" ucap Bu Ajeng.
"Ya Bu, dan ini berkas dari papah" ucap Rahma menyodorkan berkas yang ada di tangannya ada bu Ajeng.
"Apa ini suami mu" tanya Bu Ajeng pada Elpan.
"Calon nya bu" ucap Elpan.
"Oh" ucap Bu Ajeng.
Sedangkan di perusahaan ternama di kota itu Raya tengah menyiapkan berkas nya sambil memakan roti yang tadi dia beli di jalanan.
"Ya ampun kenapa sangat susah sekali" ucap Raya.
"Bu, ada klien yang datang kemari" ucap Salah satu karyawan kantor.
"Baik lah ayo kesana" ucap Raya.
"Ayo bu" ucapnya.
"Selamat datang tuan" ucap Raya.
"Terima kasih" ucap nya.
Raya membicarakan semua barang yang ada di kantor Rayhan, bahkan klien pun mendengarkan dengan teliti.
Di kediaman Rayhan, saat ini Rayhan tengah berkumpul bersama dengan papah dan mamahnya di ruangan tamu,
"Ray kata Dion kau adalah Mafia benar kah itu" tanya Topan.
"Apa" Rayhan tersentak kaget mendengar hal itu karena sebelumnya dia tak pernah menceritakan hal itu pada papah dan mamah nya tapi kenapa sekarang mereka tau kalau Rayhan adalah Mafia.
"Sudah lah mas jangan percaya pada ucapannya, dia itu ber bohong" ucap Nita.
"Tapi Nit Mas hanya ingin tau saja, siapa tau kan benar" ucap Topan.
"Jangan percaya pah, dia itu memang bohong apa lagi kan waktu itu keadaanya lagi genting, mungkin saja dia bilang begitu hanya untuk menakuti papah" ucap Rayhan berbohong karena tak mau papah dan mamahnya tau tentang Rayhan yang sebenarnya.
"Ya papah awal nya juga tak percaya tapi papah hanya ingin memastikan saja" ucap Topan menatap putranya.
"Kata aku juga apa mas jangan di dengarkan dia itu orang tak baik" ucap Nita.
"Ya mah" ucap Topan.
"Maaf pah mah aku berbohong karena bukan saat nya aku membongkar sifat dan kerjaan aku yang asli" batin Rayhan.
"Baik lah ayo Ray makan saja" ucap Nita.
"Sudah mah" ucap Rayhan.
"Ayo makan lagi karena kan kamu harus segera minum obat dan sembuh" ucap Nita.
"Ya mah" ucap Rayhan.
Di kantor Rayhan, sekarang sudah siang hari dan waktu nya istirahat Raya tadi sudah menghubungi Rahma dan Julia untuk ke kampus membayar uang pendaftaran ulang.
Saat ini Raya sudah berada di mobil pribadinya untuk menjemput Rahma ke perusahaan papahnya Rahma.
Sedangkan Di perusahaan Bu ajeng yang tak lain adalah mamahnya Raya, saat ini Julia tengah berada di ruangan Bu Ajeng.
"Bu saya mau ijin" ucap Julia.
"Ijin kemana" tanya Bu Ajeng.
"Saya akan membayar biaya pendaftaran ulang" ucap Julia.
"Dengan Raya" tanya Bu Ajeng.
"Ya" ucap Julia.
"Baiklah masuk lagi jam 2 sore ya" ucap Bu Ajeng.
"Baik bu terima kasih" ucap Julia.
Julia langsung pergi dari sana menuju apartemennya karena akan mengambil uang.
Julia sampai di apartemenya dia masuk untuk mencari cari uang untuk membayar karena biaya itu bukan hal yang main main karena jumlah nya juga cukup besar.
__ADS_1
"Aku harus mencari dimana" gumam Julia saat melihat apartemennya sudah berantakan tapi Julia tak menenukan apa apa.
Julia melihat celengannya yang berada di dalam lemari kecil milik Julia.
Julia membawanya ke ruang tengah yang cukup sempit itu.
Julia memejam kan matanya dia melempar celengan ayam itu ke lantai dan langsung pecah, uang nya pun sudah berserakan di lantai.
Julia menghitung uang itu namun tetap saja kurang hanya ada dua ratus ribu saja yang Julia dapatkan, dan biaya nya sekitar delapan ratus.
"Dari mana aku mencari enam ratus lagi" gumam Julia.
Tak jauh dari sana ada Rega yang sekarang sedang melihat Julia dari jarak jauh.
Rega berjalan mendekat pada Julia.
"Ada apa" tanya Rega.
Terlihat oleh Rega kalau saat ini Julia tengah menghapus air matanya.
"Tak ada" ucap Julia.
"Lalu kenapa itu berantakan" tanya Rega.
"Aku " ucap Julia terpotong karena ponselnya berdering.
Drtt drt
📞📞
..."Ya Ray" tanya Julia pada Raya yang sekarang sedang menelponnya....
..."Ayo aku sudah dekat apartemen mu" ucap Raya....
..."Ayo bentar aku pakai baju dulu" ucap Julia....
..."Kau tak pakai baju" tanya Raya....
..."Bukan tak pakai aku salin dulu masa ke kampus pakai baju kantor gak mungkin kan" ucap Julia....
..."Ya baiklah" ucap Raya....
..."Aku sebentar lagi sampai" ucap Raya....
..."Ya" ucap Julia....
📞📞
"Maaf Rega aku harus bersiap karena sekarang aku akan ke kampus" ucap Julia.
"Kamu butuh uang berapa" tanya Rega yang langsung to the poin.
"Aku" tanya Julia.
"Ya berapa biaya kuliah mu itu" tanya Rega.
"Tidak usah aku punya" ucap Julia.
"Tak apa kau teman ku kan, aku punya uang segini cukup" ucap Rega.
"Tapi kalau kamu beri kan uang ini pada ku lalu kau, aku gajian pun satu bulan lagi" ucap Julia.
"Tak apa pakai saja" ucap Rega.
"Tapi" ucap Julia.
Rega memberikan uang itu pada tangan Julia.
"Ayo pergi lah teman teman mu menunggu mu" ucap Rega.
"Aku janji akan menggantinya bulan depan" ucap Julia.
"Tak apa pakai saja" ucap Rega.
Julia memeluk Rega yang sekarang berada di hadapannya.
"Terima kasih Rega kau benar benar teman ku" ucap Julia.
"Ya sama sama, sudah lepaskan lihat pak Satpam lihat" ucap Rega.
"Maaf" ucap Julia yang langsung mandi dan mengganti pakaiannya.
Julia turun dari apartemennya dan benar saja Raya dan Rahma sudah ada di sana.
"ayo berangkat" ucap Raya.
"ayo" serempak Julia dan Rahma.
Mobil pun melaju ke arah kampus karena kalau bukan sekarang mereka pasti akan di persulit saat akan masuk nanti.
"jul bagai mana kerjaan kamu" tanya Raya.
"baik Ray, aku senang kerja di sana walau pun sekarang aku bekerja di ruangan aku sangat, terima kasih Raya" ucap Julia.
"ya tak masalah" ucap Raya.
"oh ya Jul bagai mana hubungan mu dengan Rega itu, aku lihat kalian semakin akrab" tanya Rahma.
"biasa biasa saja, hanya sebatas teman Ra" ucap Julia.
"masa sih" tanya Rahma tak percaya pada Julia apa lagi yang Rahma lihat tadi adalah Julia memeluk Rega.
"lalu bagai mana hubungan mu dengan kak El, Rah" tanya Raya.
"kau tau Ray kak El melamar aku dan aku menerima nya, aku harap hubungan kita bisa langgeng" ucap Rahma.
"wah selamat segera lah menikah" ucap Raya.
"ya Rahma segera menikah karena aku yakin kak El baik, ya kan Ray" tanya Julia.
"ya kak El sangat baik apa lagi kak El juga kaya" ucap Raya.
"ya begitu lah orang kaya dengan orang kaya dan orang sederhana bersama dengan orang sederhana" ucap Julia.
"aahh Jul jangan begitu aku yakin kau akan mendapatkan laki laki yang sayang pada mu" ucap Rahma.
"amin aku berharap begitu Rahma, aku ingin seperti kalian yang bisa menikah dengan orang kaya dan aku menjadi nyonya yang kaya yang kerja nya hanya duduk saja terus semua kebutuhan aku semua pembantu yang kerjakan" ucap Julia.
"jangan banyak menghayal Jul bahkan aku juga yang menikah dengan Mas Ray tapi tetap saja aku yang mengerjakan pekerjaan rumah karena kan tugas wanita memang begitu" ucap Raya.
"ya kau benar Ray" ucap Rahma.
"aku hanya ingin saja, mungkin suatu saat nanti aku bisa menjadi orang kaya" ucap Julia.
__ADS_1
"ya Jul kaya belum tentu senang" ucap Rahma.
Bersambung...