Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 95


__ADS_3

Sesampainya ke kota Raya dan Rayhan langsung ke kediaman Rayhan sedangkan Lukas akan mengantar dahulu Alena ke dalam rumahnya.


"Kamu kenapa" tanya Rayhan karena melihat istrinya yang cemberut.


"Gak ada" ucap Raya.


"Sini" ucap Rayhan menyuruh Raya naik ke atas pangkuannya.


"Gak mau malu" ucap Raya.


"Malu pada siapa Raya di sini tak ada orang lain, hanya ada aku " ucap Rayhan.


"Tetap saja malu karena ada satpam di sana" ucap Raya.


"Mobil ini tak akan terlihat ke luar karena kaca nya sudah aku ganti" ucap Rayhan.


"Oh ya" tanya Raya.


"Ya ayo naik" ucap Rayhan.


Raya naik ke atas pangkuan Rayhan, Raya duduk di paha Rayhan.


"Kalau sudah begini mau apa" tanya Raya.


Rayhan tak menjawab dia langsung menarik kepala Raya dan memberikan kecupan di ceruk leher Raya.


"Mas geli" ucap Raya.


"Diam" ucap Rayhan.


"Tapi geli mas" ucap Raya.


"Mau lanjut di sini atau di kamar" tanya Rayhan.


"Nanti saja malam mas" ucap Raya.


"Ck kau ini" ucap Rayhan.


"Bukan nya mas ada sesuatu penting dengan Tuan Lukas" ucap Raya.


"Lukas juga belum datang" ucap Rayhan.


Rayhan melu mat bibir Raya, namun baru saja sebentar mobil Lukas masuk ke halaman Rumah Rayhan dan sekarang Rayhan masih berada di dalam mobilnya.


Tokk


Tokk


Lukas mengetuk jendela mobil Rayhan.


Dengan terpaksa Rayhan menghentikan aktivitas nya bersama dengan Raya.


"Lukas kenapa kau tak lama saja di jalanan" gerutu Rayhan.


"Sabar mas" ucap Raya.


"Tapi Raya aku sangat ingin" ucap Rayhan.


"Nanti malam aku berikan ful servis" ucap Raya.


"Malam hari kau tidur" ucap Rayhan.


"Ayo turun" ucap Raya yang langsung kembali ke tempat duduknya.


Raya dan Rayhan turun dari mobil karena akan menemui Lukas.


"Tuan biar saya bawakan barang barang anda" ucap Lukas.


"Ya" ucap Rayhan.


"Aku tunggu kau di dalam" ucap Rayhan yang langsung melempar kunci mobil pada Lukas.


"Siap tuan" ucap Lukas.


"Tunggu Raya aku akan hubungi dahulu Rega" ucap Rayhan.


Sedangkan di apartemen Rega tengah mencari keberadaan Julia di perusahaan itu, tapi tetap saja walau pun GPS nya menunjukan Julia ada di sana tapi tetap saja Rega gak tau sedang apa Julia di sana.


"Jul kau sangat tak peka" gumam Rega.


📞📞


"Ya tuan ada apa" tanya Rega pada Rayhan yang menelpon nya sekarang.


"Datang lah ke rumah ku" ucap Rayhan.


"Baik tuan" ucap Rega.


📞📞


"Ada apa tuan memanggil ku" gumam Rega.


Rega pergi ke sana dengan naik motor Karen baru saja Rega membeli motor,


Selain memudahkan Rega dalam melakukan pekerjaan Rega juga bisa berangkat ke mana mana tanpa harus menunggu kang ojek.


Rega pergi ke sana, dan benar saja hanya dalam waktu perjalanan dua puluh menit Rega sudah sampai di rumah Rayhan.


Rega masuk kedalam rumah Rayhan.


"Ada apa tuan" tanya Rega.


"Tumben kau datang cepat sekarang" tanya Lukas.


"Ya aku naik motor" ucap Rega.


Rega ikut duduk di sana,


"Aku akan bicarakan rencana untuk menangkap Dion Adinata" ucap Rayhan.


"Kenapa tak di markas saja" tanya Rega.


"Shutt kalau di sana akan banyak orang yang tau aku takut akan ada mata mata lagi sama kaya dahulu" ucap Rayhan.


"Lalu apa tuan percaya pada kami" tanya Lukas.


"Emang nya kenapa apa kalian akan ber hianat" tanya Rayhan.


"Tentu saja tidak" ucap Lukas.


"Kami tak ber fikir begitu tuan" ucap Rega.

__ADS_1


Lama mereka mengobrol hingga sampai sore berganti malam pun mereka belum menemukan ide yang bagus untuk menangkap Dion Adinata.


"Aku bingung tuan apa lagi Dion sekarang bersama dengan Van Armasta" ucap Lukas.


"Apa kita langsung saja Serang markas Blooder" sahut Rega.


"Mana mungkin kita akan kalah telak di sana" ucap Lukas.


"Ya kau benar bahkan dengan di bekali senjata saja kita akan kalah jumlah" ucap Rega.


"Apa perlu kita menambah anak buah" tanya Rayhan.


"Jangan tuan karena akan lama untuk melatih mereka lagi" ucap Lukas.


"Lalu" tanya Rayhan.


"Kita latih saja yang ada tuan, aku yakin kalau anak buah kita cukup untuk mengalah kan mereka" ucap Lukas.


"Aku suka ide mu Lukas, tapi tetap saja kita akan kalah telak" ucap Rayhan.


"Tapi kita coba saja dulu" ucap Rayhan.


"Rega kau ajak lah Martin, kau dan dia yang akan melatih anak buah yang lain" titah Rayhan.


"Baik tuan" ucap Rega.


"Dan untuk mu Lukas kau cari lah anak buah yang baru" ucap Rayhan.


"Baik tuan".


"Mau siapa pun kalau dia mau ajak saja, tapi lebih bagus yang sudah punya ilmu bela diri" ucap Rayhan.


"Baik tuan saya akan cari" ucap Lukas.


Semua nya bubar bahkan Lukas dan Rega sekarang sudah akan pulang ke apartemen masing masing.


Sesampainya di apartemen, Lukas dan Rega melihat kalau Julia sekarang tengah mengobrol dengan Fikri yang tak lain adalah kakak tiri Raya.


"Kau lihat itu kan, makannya jangan terlalu dingin pada wanita kalau sudah begini kau bisa apa" tanya Lukas.


"Sudahlah biarkan saja" ucap Rega.


"Yakin tak akan ke sana" tanya Lukas.


"Gak" ucap Rega.


"Kalau aku sih akan ke sana karena laki laki itu kakak tiri nya Nona Raya sekaligus pemilik perusahaan yang sekarang Julia kerja di sana" ucap Lukas.


"Tak aku tak mau" ucap Rega yang langsung masuk kedalam apartemen nya membiarkan Julia yang sekarang masih berada di pinggir jalan bersama dengan laki laki itu.


"Ada yang cemburu dong" ucap Lukas.


"Diam Kak aku hanya ingin istirahat" ucap Rega.


Sedangkan Julia sekarang tengah berbincang dengan Fikri, masalah kampus bahkan masalah Raya juga.


"Kau tinggal di sini" tanya Fikri menatap pada apartemen.


"Ya" ucap Julia.


"Kenapa tak di apartemen yang mewah saja lihat Jul ini sangat kumuh" ucap Fikri.


"Ya aku paham" ucap Fikri.


"Baik lah aku akan masuk, kau hati hati lah di jalan" ucap Julia.


"Ya" ucap Fikri.


Julia masuk ke dalam apartemen nya, Rega yang melihat pun hanya menatap Julia dengan tatapan sekilas padahal Rega sangat ingin ber tanya pada nya tapi Rega terlalu jual mahal.


Malam harinya di kediaman mewah Mutiya atmala, mereka tengah merencanakan cara untuk bisa mengalahkan Rayhan dalam bidang expor impor.


"Kita akan Serang kediaman Rayhan malam ini" ucap Van Armasta.


"Apa tak terlalu mendadak Tuan" tanya Dion Adinata.


"Bukan kah hal bagus kalau kita lakukan secara mendadak" tanya Van.


"Ya aku ikut kau saja" ucap Dion.


Seorang wanita cantik datang ke sana yang tak lain adalah istri Van Armasta.


"Aku akan pergi" ucap nya ketus dan datar.


"Kemana" tanya Van.


"Bukan urusan mu" ucap Mutiya.


"Ck terserah" ucap Van.


Mutiya pergi dari sana meninggal kan Van yang menjadi suami nya tetapi mereka hidup tanpa cinta sedikit pun, mereka bahkan menjadi korban perjodohan orang tua nya.


Van hanya menatap dengan sinis, bahkan dia sangat tak perduli dengan istri nya itu, kalau bukan karena permintaan orang tuanya Van mungkin sudah menceraikan Mutiya.


"Tuan apa perlu saya kawal Nona" tanya salah satu anak buah Van.


"Untuk apa biarkan saja, lagi pula dia tak mau berurusan dengan ku" ucap Van.


Setelah selesai anak buah Van dan Dion melaksanakan semua rencana yang sudah di susun dengan secara mendadak itu.


Begitu lah Van dia sangat ceroboh dalam melakukan sesuatu bahkan dia tak berfikir pada resiko nya nanti.


Di rumah itu hanya ada Van saja karena yang lain sudah pulang, Van menatap pada sang istri yang baru saja pulang dari jalan jalan malam nya.


"Dari mana" tanya Van.


"Sejak kapan kepergian ku menjadi penting bagi mu" tanya Mutiya.


"Kau fikir aku mau bertanya begini pada mu, bahkan aku sangat tak tertarik pada mu" ucap Van.


"Lalu apa penting bagi ku" tanya Mutiya.


"Ck kau hanya sombong saja" ucap Van.


"Apa yang bisa di harap kan dari Mafia seperti mu bahkan tangan mu sangat kotor Van, apa tak ada rasa bersalah dalam hati mu karena sudah membunuh seseorang" ucap Mutiya.


"Jangan campuri urusan ku" ucap Van.


"Baik kalau begitu maka jangan lagi bertanya tanya pada ku" ucap Mutiya yang langsung pergi dari sana menuju ke kamar nya.


"Argh kalau saja aku tak tinggal di rumahnya mungkin saat ini aku sudah mentalak nya" gumam Van.

__ADS_1


Malam hari kira kira tengah malam, anak buah Van sudah berada di kediaman Rayhan namun saat ini mereka tengah mengintai kediaman Rayhan.


Terlihat dari kejauhan, Rumah Rayhan sangat sepi dan sunyi bahkan mereka tak melihat ada penghuninya di sana.


"Apa rumah nya sepi" tanya yang lain.


"Mereka hanya tinggal berdua dan hanya ada pembantu di sana mungkin saja mereka sedang tidur".


"Bukan nya ini sangat bagus bagi kita untuk menyerang kediaman Rayhan dan membawa istrinya".


"Lihat dulu apa di empat arah rumah Rayhan apa ada yang menjaga".


"Tak ada".


"Ayo kita ke sana" ucap yang memimpin di sana.


Namun baru saja mereka keluar dari tempat persembunyian,


Dorr


Suara tembakan menghentikan mereka, ternyata di sisi lain ada anak buah Rayhan yang sudah bersiap akan menyerang.


"Mereka di kawal ketat" ucap yang memimpin.


"Kita mundur saja tuan" ucapnya.


"Ayo pulang" ucap nya.


Semuanya pulang lagi karena tak memungkinkan bagi mereka menyerang sekarang apa lagi anak buah Rayhan lebih banyak sekarang.


"Bagai mana ini kalau tuan Van marah" ucap nya.


"Tak apa kita bicara kan saja kalau anak buah Rayhan sangat banyak".


"Kita coba saja dulu".


Semua anggota Blooder pulang tanpa melakukan apa apa, karena mereka tau kalau sekarang Rayhan sangat ketat dalam penjagaan.


Di kediaman Mutiya atmala.


"Apa gagal" teriak Van pada anak buahnya.


Brakk


Van menggebrak meja karena marah.


"Kenapa bisa gagal hah" tanya Van dengan berteriak.


"Bo doh bisa kah kau sedikit tenang Hah jangan sembarang menggebrak meja itu punya ku kau tak berhak, bahkan kau memegang nya pun kau tak punya hak" teriak Mutiya dari atas tangga.


"Diam kau" bentak Van pada Mutiya.


"Halah sok berkuasa" ucap Mutiya.


"Tetap diam dan jangan urusi kehidupan aku dasar wanita gen deng" ucap Van.


"Kalau kau terus begini keluarlah dari rumah ku aku tak Sudi kalau di rumah ku ada mafia pem Bun uh seperti diri mu" ucap Mutiya.


Van hanya diam saja karena sekarang dia sadar kalau tanpa Mutiya dia bukan siapa siapa.


"Ini rumah ku kalau kau mau tetap di sini maka turuti perintah aku" ucap Mutiya.


"Arggghh" ucap Van kesal.


"Ke markas sekarang" ucap Van pada semua anak buah nya.


"Tapi tuan di markas tak aman" ucap anak buah Van.


"Lalu kita harus kemana" tanya Van dengan membentak.


"Tuan kita akan pulang saja besok kita akan bertemu lagi di sini" ucap anak buah Van.


"Terserah aku harap besok tak akan ada yang meng ganggu kita" ucap Van.


"Lalu bagai mana anak buah Dion yang aku tugas kan ke apartemen anak buah Rayhan itu" tanya Van.


"Kami belum mendapat kabar" ucap anak buah Van.


"Aku akan tunggu kabar dari mereka".


"Baik tuan".


Semua anak buah Van pulang dari sana karena masalah rumah tangga tuan nya yang sangat berantakan membuat mereka tak nyaman untuk berlama lama di rumah itu.


Van berjalan ke arah kamar istrinya, dia melihat kalau istri nya itu sekarang tengah tidur di ranjang.


"Kau fikir dengan memakai pakaian begitu aku akan tergoda Hah rendah sekali pemikirannya" ucap Van.


Van duduk di bibir ranjang, baru kali ini Van ingin tidur bersama dengan istri nya karena selama pernikahan mereka pisah kamar.


Sedangkan di kediaman Rayhan.


Rayhan yang mendengar ada suara tembakan pun sekarang tengah berada di ruang tamu bersama dengan anak buahnya.


"Bagai mana apa kalian melukai dia" tanya Rayhan.


"Tidak tuan" ucap anak buahnya.


"Kenapa" tanya Rayhan.


"Mereka tak menampakan diri tuan bahkan kami tak melihat bagai mana wajah nya".


"Apa mereka anggota Blooder" tanya Rayhan.


"Mungkin saja tuan".


"Aku yakin mereka semakin ingin menghabisi ku, aku harap kalian tetap berada di sini" ucap Rayhan.


"Ya tuan" ucap anak buah Rayhan.


"Kembali lah ke tempat kalian masing masing" ucap Rayhan.


"baik tuan" ucap anak buah Rayhan.


semua anak buah Rayhan kembali lagi ke tempat yang tadi mereka sembunyi.


sekarang Rayhan tengah melihat arah luar dari jendela kamarnya.


"aku tak sangka mereka semakin berontak apa tak bisa kan aku hidup tenang se bentar saja, masalah selalu datang saja apa lagi sekarang musuh ku semakin banyak, aku malah semakin cemas pada Raya aku takut dia kenapa kenapa apa lagi tak banyak yang ingin mengalah kan aku lewat Raya, aku takut semua musuh ku nekad ingin menculik Raya atau bahkan sampai berbuat yang tidak tidak apa Raya, apa aku harus perketat lagi keamanan Raya" gumam Rayhan sambil memijat pelipis nya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2