
Rayhan keluar dari perusahaan Elpan dia terus menatap pada foto laki laku paruh baya yang Elpan berikan padanya tadi.
"Siapa dia, apa benar dia yang melakukan iti" gumam Rayhan.
Saat ini keadaan di luar sangat panas bahkan Rayhan pun merasa kegerahan di dalam mobil walau pun ada AC di dalamnya.
"Kapan aku akan bahagia" keluh Rayhan.
Brugghh.
Seseorang pingsan di hadapan mobil Rayhan dan dengan cepat Rayhan menghentikan laju mobilnya.
"Ya ampun apa aku menabraknya, Hah buat masalah saja" gerutu Rayhan.
Rayhan keluar dan membawa gadis itu masuk kedalam mobilnya karena tak mau sampai orang orang tau kalau Rayhan yang menabraknya.
Rayhan menyenderkan wanita itu pada kursi mobilnya.
"Hah dia lagi" gumam Rayhan menatap wajah cantik yang sekarang sedang pingsan di hadapannya.
"Baiklah aku akan membawanya ke rumah sakit, Ray kau laki laki yang baik" gumam Rayhan sambil mengendarai mobilnya.
Rayhan berhenti di sebuah rumah sakit yang dekat dari sana.
Rayhan menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam rumah sakit itu.
Rayhan melihat kedalam tas gadis itu ada dompetnya di sana, Rayhan membukanya ada kartu identitasnya di sana.
"Raya Annisa humaira" gumam Rayhan.
"Pak Rayhan siapa yang sakit" tanya seseorang yang menemui Rayhan yang sedang berada di rumah sakit.
"Tadi ada yang pingsan di jalan pak jadi saya membawanya ke sini" jawab Rayhan penuh wibawa.
"Kalau begitu saya masuk dulu ke dalam ya pak" sahut Rayhan sambil meninggalkan bapak yang bertanya barusan.
Rayhan berjalan ke arah dimana Dokter memeriksa Raya.
"Bagaimana keadaannya" tanya Rayhan pada Dokter itu.
"Dia pingsan karena mungkin belum makan dan cuaca sedang panas pak jadi kondisinya lemah" jelas Dokter itu.
"Kalau begitu saya permisi pak" sahut Dokter itu pergi meninggalkan Rayhan dan Raya berduaan di ruang pemeriksaan.
"Kenapa aku selalu saja bertemu dengan kamu" sahut Rayhan.
Raya yang tadinya berbaring langsung duduk saat mendengar ucapan Rayhan.
"Terima kasih pak, tapi maaf saya gak meminta bapak untuk menolong saya" jawab Raya yang merasa sedikit pusing.
"Kita pulang biar saya antarkan kamu ke rumah kamu" sahut Rayhan dingin.
"Tidak perlu pak saya bisa sendiri" sahut Raya.
Saat Raya mau turun dari ranjang, kepalanya terasa pusing dan..
Brughh..
Raya jatuh ke pelukan Rayhan.
__ADS_1
Mereka bertatap mata, cukup lama mereka berdua berdekatan begitu.
"Tolong jaga jarak" sahut Rayhan saat tersadar dari tatapan Raya.
"Biar saya yang Antar, kalau kamu pingsan lagi siapa yang akan menolongmu" sahut Rayhan ketus dan dingin.
Raya hanya mengikuti apa saja yang di ucapkan Rayhan.
Sebenarnya dalam hatinya Raya enggan sekali untuk berdekatan dengan Rayhan yang sombong dan angkuh itu.
Rayhan dan Raya masuk ke mobil Rayhan.
Rayhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena jalanan cukup ramai jadi sedikit macet.
Rayhan berhenti di sebuah Restouran, niatnya mau membelikan Raya makanan karena kata Dokter tadi Raya pingsan karena perutnya kosong.
"Turun temani aku makan" sahut Rayhan.
Raya hanya menurut saja, mereka duduk di meja yang kosong keadaan restouran itu cukup sepi, jadi mereka leluasa memilih tempat yang mereka inginkan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rayhan.
"Aku gak makan pak, aku gak punya uang" ucap Raya ketus.
Rayhan tak bicara lagi dia langsung memesan tiga macam makanan dan dua minuman.
Hening..
Hanya itu yang mereka rasakan, tak ada yang mau membuka percakapan karena mereka hanyalah orang asing yang tak sengaja tuhan temukan.
Rayhan melihat luka di tangan Raya.
"Tidak ini cuman bekas luka jatuh saja" jawab Raya gugup karena luka itu adalah luka pukulan dari tongkat oleh pamannya.
"Oh benarkah" ucap Rayhan yang merasa tak percaya.
"Sudahlah jangan di bahas" sahut Raya cepat sebelum Rayhan lebih banyak bertanya lagi.
Pelayan itu datang dengan membawa makanan yang di pesan oleh Rayhan tadi.
"Ini pak makanannya" sahutnya.
"Terima kasih mbak".
"makanlah temani aku makan" sahut Rayhan.
"Tidak terima kasih saya tidak lapar" tolak Raya.
"Jangan menolak, anggap saja makanan yang mau kamu makan ini sebagai rasa terima kasih mu padaku karena aku sudah menolongmu" sahut Rayhan berbohong padahal Rayhan kasihan pada Raya yang pingsan karena belum makan.
Dengan terpaksa Raya memakan makanan itu walau pun perutnya terasa lapar tetapi dia malu jika harus langsung melahap semuanya di hadapan Rayhan.
"Makanlah aku sangat senang jika kamu makan" sahut Rayhan dingin.
"Terima kasih sudah menteraktir saya, jika saya punya uang nanti akan saya ganti kerugian bapak" sahut Raya yang sedang berdiri di dekat mobil mewah Rayhan.
"Masuklah biar aku antar kau sampai rumah" ucapnya.
Dengan terpaksa Raya masuk kedalam mobil, sebenarnya Raya merasa takut kalau harus pulang sendirian karena hari juga sudah mulai petang.
__ADS_1
"Baiklah kalau anda maksa" sahut Raya so jual mahal.
Rayhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia merasa sangat nyaman jika berada dekat dengan Raya, namun karena rasa egonya yang tinggi Rayhan menyangkal perasaannya itu.
"Rumah pamanku yang bercat putih itu, aku turun di sini saja" sahut Raya.
"Tidak aku akan mengantarmu" sahut Rayhan keras kepala.
Sebenarnya Raya takut jika pamannya marah kalau Raya di antar pulang oleh orang lain apa pagi seorang laki laki.
"Baiklah aku akan masuk, anda pulanglah" sahut Raya ketus.
"Oke" Rayhan menganguk anggukan kepalanya.
Rayhan tak pergi dari sana, sebelum memastikan kalau Raya masuk ke rumah dengan selamat.
Rayhan melihat Raya yang mengetuk ngetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam.
"Paman buka aku Raya" teriak Raya.
Paman Raya keluar dengan membawa tongkat panjang yang kemarin di pakai memukul Raya hingga membekas di kulit putih Raya.
"Kamu pulang sudah hampir malam begini, dari mana saja kamu Raya, paman Yakin pasti kamu menjadi simpanan orang kaya ya kan, apa lagi dengan kecantikan kamu itu bisa membuat semua orang suka padamu, dasar murahan" bentak pamannya Raya sambil memukulkan tongkat itu pada tubuh Raya.
"Ampun paman Sakit" rengek Raya merasa kesakitan.
"Ampun? Tak ada ampun bagimu pel*cur" bentaknya lagi.
Rayhan yang melihat adegan itu langsung keluar dari mobil dan akan berusaha melindungi Raya.
"Tunggu" teriak Rayhan yang menghentikan aksi pamannya Raya.
"Jangan sakiti dia" sahut Rayhan datar.
"Siapa kamu beraninya memerintahku" sungut pamannya Raya marah pada Rayhan.
"Dasar manusia tak punya hati" caci Rayhan.
"Jika kau tak mau Raya berada di rumah ini kenapa tak mengusirnya saja, aku siap untuk menghidupi keponakan anda ini" sahut Rayhan marah dan kesal pada laki laki paruh baya itu.
"Kamu mau ambil saja bod*h, wanita sampah ini memang pantas menjadi Pel*cur" teriak pamannya Raya pada Rayhan.
Rayhan membantu Raya berdiri.
"Ikutlah denganku Raya tak perlu tinggal dengan hewan ini lagi" sahut Rayhan menatap nyalang ke arah pamannya Raya.
Mau tak mau Raya mengikuti ucapan Rayhan.
Mereka masuk kedalam mobil dan Rayhan membawa Raya ke rumahnya.
"Ini rumahku untuk malam ini kamu nginap saja disini dan besok aku akan mencarikanmu rumah" sahut Rayhan.
Rayhan membantu Raya keluar dari mobil.
"Mau aku gendong Raya" bisiknya tepat di telinga Raya.
Mau dong di posisi Raya...
Bisa terus bareng dengan laki laki tampan...
__ADS_1