
Malam harinya setelah Rayhan di periksa Dokter dan di beri obat rasa sakit pada luka Rayhan sekarang mulai mereda, apa lagi semenjak tadi Raya selalu mengoleskan salep pada lukanya.
Rayhan menatap pada sang istri yang sekarang tertidur di sampingnya.
"Kasihan kamu pasti kecapean" gumam Rayhan.
Tokk.. Tokk..
"Masuk" sahut Rayhan.
"Tuan" ucap Lukas yang lansung datang kesana.
Rayhan menempelkan telunjuknya di bibirnya mengkode pada Lukas agar tak berisik karena Raya sedang tidur.
"Ohh maaf" ucap Lukas menurunkan nada bicaranya.
"Ada apa" tanya Rayhan.
"Tuan saya sudah melihat pabrik kepunyaan pak Dion mereka berkembang sangat cepat, lalu kira kira kapan tuan bisa membuka pabrik cabang kepunyaan kita yang baru selesai itu" tanya Lukas.
"Tunggulah saat luka ku sudah membaik karena aku gak mungkin bertemu dengan orang banyak dalam kondisi begini" ucap Rayhan.
"Ya tuan lalu kita apakan cecung*k itu tuan" tanya Lukas lagi.
"Bun*h saja mereka" titah Rayhan.
"Anda yakin tuan" tanya Lukas.
"Sangat yakin, aku memberikan mereka kesempatan kedua dan mereka mengabaikannya lalu apa lagi yang akan aku percayai jika memberikan kesempatan ketiga" ucap Rayhan.
"Saya permisi tuan" ucap Lukas yang langsung pergi dari sana.
"Fyuhh semoga tuhan mengampuni dosa dosa kalian" gumam Rayhan.
Rayhan menatap wajah Raya yang sekarang sedang tidur dengan sangat nyenyak, Rayhan mendekatkan wajahnya pada Raya niatnya Rayhan akan mengecup pipi Raya.
Tapi Raya dengan cepat melihat Rayhan dan bangun dari tidurnya.
"Pak Ray apa ada yang bisa aku bantu, apa pak Ray mau minum" tanya Raya.
"Tidak" ucap Rayhan.
Namun tiba tiba lampu rumah Rayhan padam, membuat Raya terkejut dan memeluk Rayhan dengan sangat erat.
"Pak Ray aku takut" ucap Raya.
"Takut apa" tanya Rayhan yang tak bisa menatap apa apa karena gelap.
Sedangkan di dalam kamar Zia sedang ketakutan karena sejak kecil Zia phobia dengan suasana gelap.
"Aaaaa mamah aku takut" ucap Zia.
Dengan cepat Zia mengambil ponselnya dan menyalakan senter ponselnya, setelah mendapat cahaya Zia berjalan ke kamar Rayhan.
"Ya ampun kenapa senternya padam" gumam Zia.
Ceklek..
"Pak Ray itu apa" bisik Raya pada Rayhan.
"Bukan apa apa" ucap Rayhan.
__ADS_1
Zia mendekat ke ranjang Rayhan walau pun gelap tapi Zia masih bisa berjalan walau pun pelan, dan tiba tiba senter ponsel Zia menyala dan menampakan wajah Zia yang terkena senter.
"Aaaaa hantu" teriak Raya semakin erat memeluk Rayhan bahkan Raya sampai duduk di paha Rayhan dan memeluk Rayhan layaknya balita.
"Kakak ipar ini aku" ucap Zia mengarahkan senternya pada Rayhan dan Raya yang sekarang sedang berdekatan seimtim itu.
"Uuuu kalian sedang pacaran" ucap Zia.
"Gak aku hanya takut saja jadi replek memeluk Pak Ray" ucap Raya.
"Kak ijinkan aku tidur di sini" ucap Zia memohon.
"Apa" pekik Rayhan dan Raya secara bersamaan.
Mereka bertiga tidur di satu ranjang yang sama walau pun ranjang Rayhan Big Size tapi tetap saja terasa penuh jika di pakai tiga orang.
"Zia kenapa kau tak menikah saja supaya kau punya suami dan tak mengganggu aku dan Raya" ketus Rayhan.
"Kak kau tau betulkan Akash menikah dengan wanita tua yang kaya" ucap Zia.
"Ck maksudku bukan Akash" ucap Rayhan.
Posisi Rayhan ada di sisi ranjang sebelah kanan sedangkan Raya di tengah dan Zia di sisi sebelah kiri.
"Awwss" ringis Rayhan karena lukanya tergesek dengan kulit Raya.
"Pak Ray kau kesakitan" ucap Raya yang langsung bangun.
"Tidak hanya tergesek saja dengan kulitmu" ucap Rayhan.
"Maafkan aku" ucap Raya.
Mereka bertiga tidur dalam satu ranjang yang sama sesekali Rayhan terbangun dan menatap wajah Raya yang semakin terlihat cantik saat sedang tertidur.
"Kalau nanti kau sendiri, kau akan apa Zia" gumam Rayhan tersenyum melihat adiknya yang kekanak kanakan itu.
Waktu sudah menunjukan dini hari, Rayhan hanya terjaga sejak tadi karena seperti biasa Rayhan tak akan bisa tidur lagi kalau sudah terbangun malam hari.
Sampai pagi harinya Rayhan tak tertidur lagi, Zia bangun dan menatap kakaknya yang sekarang sedang duduk di ranjang bersandar pada dinding.
"Kak kau tak tidur" tanya Zia.
"Seperti biasa Zia" jawab Rayhan.
"Ck kak apa kita akan terus di hantui dengan masa lalu yang suram ini, aku cape seperti ini terus kak, aku hanya ingin kita seperti dulu lagi" ucap Zia.
"Sabarlah sebelum orangnya tertangkap kita tak bisa bersama" ucap Rayhan.
"Baiklah aku akan pergi ke kamar dan akan berangkat kerja" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.
Rayhan menatap Raya yang masih tidur.
"Raya bangun" bisik Raya tepat di telinga Raya, bahkan hembusan nafas Rayhan bisa Raya rasakan walau pun masih dalam keadaan tertidur.
"Pak Ray aku tak akan masuk kuliah, aku akan menjaga mu" ucap Raya mengeliat.
"Tapi aku akan kerja" ucap Rayhan.
"Apa" ucap Raya yang langsung membuka matanya, menatap Rayhan dengan tatapan tak percaya.
"Luka mu masih belum sembuh Pak, jangan bandel" ucap Raya.
__ADS_1
"Raya aku bosan di kamar" ucap Rayhan.
"Ada aku, aku tak akan membuat mu bosan" ucap Raya.
Namun tiba tiba Bi Ratna datang kesana.
"Den Rayhan ada Bu Ajeng di depan dia ingin menemui anda dan Non Raya" ucap Bi Ratna.
"Aku akan datang" ucap Rayhan.
"Ray ayo kita ke luar" ucap Rayhan pada Raya.
"Kau yakin pak kaki mu saja belum sembuh" ucap Raya.
"Aku sangat yakin, ayo" ucap Rayhan.
Rayhan memaksa untuk bangun walau pun kakinya masih terasa sakit tapi dia memaksakannya.
"Selamat datang Bu" ucap Rayhan.
"Nak Ray kau kenapa luka begitu" tanya Bu Ajeng yang sekarang sudah duduk di Sofa.
"Biasa Bu persaingan bisnis" ucap Rayhan berbohong.
"Aku pikir karena Raya" ucap bu Ajeng.
"Ya ini karena putri mu juga" ucap Rayhan tersenyum.
"Mamah" ucap Raya yang langsung memeluk mamahnya yang baru saja datang itu.
"Ayo mah Duduk" titah Raya.
"Biar aku buatkan makanan dan minuman" ucap Raya yang langsung pergi ke dapur.
"Nak Ray, kedatangan aku kesini hanya ingin memberikan ini" ucap Bu Ajeng sambil menyodorkan dua tiket pesawat.
"Untuk apa" tanya Rayhan heran.
"Untuk kalian honey moon, terima lah nak Ray ini hadiah dari ibu" ucap Bu Ajeng.
"Ini mah ayo di minum ini buatan aku" ucap Raya datang kesana sambil membawa satu nampan yang berisi tiga gelas teh dan cemilan.
"Raya tak perlu, kau layani saja suami mu" ucap Bu Ajeng.
"Oh ya kenapa kamu gak masuk kuliah" tanya Bu Ajeng.
"Maaf bu Raya ngotot ingin menjaga saya" ucap Rayhan.
"Tak masalah" ucap Bu Ajeng.
Setelah berbincang bincang Bu Ajeng berpamitan dan pergi dari sana karena pekerjaannya sangat banyak sekarang, jadi tak bisa lama lama bersama dengan Raya.
"Mamah bawa apa" tanya Raya yang melihat Rayhan mengantongi tiket pesawat pemberian Bu ajeng.
"Tiket pesawat" jawab Rayhan.
"Oh ya untuk siapa" tanya Raya.
"Untuk kita honey moon" jawab Rayhan.
Raya menatap dengan terkejut pada Rayhan.
__ADS_1
bersambung..