
Hingga pagi hari Rayhan sudah bersiap dan menunggu Zia di ruang tengah.
Rayhan mamainkan jari jemarinya, dia mencoba menahan emosinya supaya tak keluar lagi.
Sedangkan Zia baru saja membuka matanya, dia melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya tanpa Zia sadari dia sekarang sedang dalam bahaya karena sebentar lagi dia akan mendapatkan amarah dari kakaknya itu.
Kepala Zia masih sedikit pusing bahkan matanya masih merah.
"Ya ampun apa yang terjadi semalaman" gumam Zia.
Zia langsung masuk ke bath room untuk mandi karena sekarang Zia merasa badannya sangat lengket dengan keringat.
Setelah selesai mandi seperti biasa Zia akan turun dari kamarnya dan makan.
Rayhan sudah menunggu Zia di Sofa ruang tamu, bahkan saat ini Rayhan masih sangat marah pada Zia.
Bukan kali ini saja Zia mabuk tapi sudah Zia lakukan hampir empat kali tapi Rayhan baru mengetahui hal itu sekarang karena kali ini Zia sudah sangat melewati batasnya.
"Duduklah" ucap Rayhan dingin dan datar.
"Ada apa kak aku sangat lapar" ucap Zia menatap kesal pada kakaknya.
"Kita akan pulang ke kampung sekarang" ucap Rayhan.
"Bukan kah sekarang aku harus kerja" tanya Zia.
"Aku sudah menyerah mengurus mu, aku akan serahkan kau pada mamah dan papah" ucap Rayhan yang langsung pergi menuju kamarnya.
Dengan cepat Zia mencari kakak iparnya itu karena hanya Raya lah yang bisa membantu Zia agar bebas dari amukan Rayhan.
"Kakak ipar" teriak Zia.
Raya pun datang dari arah dapur.
"Ada apa Zia" tanya Raya.
"Kak tolong aku, tolong bujuk kakak supaya tak membawa aku ke kampung, kau akan kesepian jika tak ada aku di sini, ayolah kakak ipar" ucap Zia memohon.
Seperti biasa Raya akan menuruti keinginan Zia adik iparnya itu, Raya masuk ke dalam kamarnya yang di sana ada Rayhan yang sedang menelpon seseorang.
"Pak Ray" ucap Raya.
Rayhan menempelkan tangannya di bibirnya memberikan kode pada Raya agar tak bicara padanya.
"Tapi pak Ray, maaf kan Zia dia tak salah" ucap Raya.
"Ray sampai kapan kau akan di manfaatkan oleh Zia, setiap hukuman yang aku berikan selalu saja aku batalkan karena kau yang meminta, untuk sekarang aku tak bisa" ucap Rayhan ketus.
Raya pun paham, dia keluar dari kamarnya dan kembali lagi pada Zia.
"Bagaimana kakak ipar" tanya Zia.
"Maaf aku gagal, Zia dia sangat marah bahkan dia memarahi aku" ucap Raya.
__ADS_1
"Ck seharusnya kakak ipar kau tak menikahi kak Rayhan, tinggalkan saja dia biar dia tau rasanya sakit hati" ucap Zia menggerutu.
"Tapi Zia kau akan pergi, lalu aku bagaimana" tanya Raya.
"Ahh kakak ipar aku sangat sayang padamu, aku tak ingin jauh darimu" ucap Zia.
Zia memeluk kakak iparnya itu karena selama ini kakak iparnya itu yang sudah membantunya dalam segala hal.
Zia mengemas semua pakaiannya, dalam hatinya dia merutuki Rayhan dengan kata kata pedasnya.
"Aku benci kau kak" gerutu Zia.
Sedangkan Rayhan sudah menunggu di mobil bersama dengan Raya istrinya.
"Pak Ray apa sebaiknya kau pikirkan lagi masalah ini, aku takut mamah dan papah akan memarahi Zia dan memberikan hukuman pada Zia" ucap Raya pada suaminya itu.
"Kau mau membela Zia" tanya Rayhan datar.
"Tidak hanya saja aku kasihan melihanya" ucap Raya.
Zia datang kesana sambil menyeret koper yang berisi semua pakaiannya.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah mewah Rayhan menuju kampung tempat tinggal papah dan mamah Rayhan.
"Kak maafkan aku, aku janji akan berubah" ucap Zia memohon agar kakaknya itu supaya berubah pikiran.
"Tetap duduk dan diam" ucap Rayhan ketus.
Mereka menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya, akhirnya sampai juga di kampung halaman tempat tinggal orang tua Rayhan dan Zia.
Raya menyalami pungung tangan mamah dan papah mertuanya itu.
"Zia mamah tak sangka kau akan melakukan hal itu, siapa yang sudah mengajak mu melakukan itu hah" tanya Nita.
"Alena" ucap Zia yang masih menundukan kepalanya karena takut.
"Mah kita hukum saja Zia, papah sudah cape mendengar setiap kenakalan Zia" ucap Topan.
"Ya pah, apa sebaiknya Zia kita masukan saja ke pesantren agar dia bisa menuntut ilmu agama yang baik" ucap Nita.
"Ide bagus mah" ucap Topan.
"Pesantren" ucap Zia tak percaya.
Mereka berbincang bincang namun tetap saja Nita masih marah pada Zia apa lagi Zia adalah anak bungsu yang paling Nita sayang melebihi dari Rayhan.
"Mah maaf bukannya tak mau lama lama, tapi aku harus pulang pekerjaan aku banyak mah" ucap Rayhan.
"Tapi apa kau tak bisa menginap Ray" tanya Nita.
"Maaf mah tapi aku sedang sibuk" ucap Rayhan.
"Mah aku permisi" ucap Raya memeluk mamah mertuanya itu.
__ADS_1
"Jaga diri baik baik sayang, tolong jaga juga Rayhan" pesan Nita.
"Ya mah" ucap Raya.
"Aahh kakak ipar" ucap Zia memeluk Raya, karena sekarang mereka akan berpisah.
"Kau jaga diri Zia jangan telat makan" ucap Raya.
"Ingat pesan ku ini kalau kak Rayhan marah tinggalkan saja dia" ucap Zia.
"Aku akan memikirkannya" ucap Raya.
Rayhan dan Raya kembali pulang ke kota karena sibuknya pekerjaan Rayhan jadi dia tak bisa lagi main main sekarang.
"Pak Ray aku sangat kesepian" ucap Raya.
"Kan ada aku" ucap Rayhan.
"Tetap saja aku merasa kesepian karena sekarang kau akan lembur kan" ucap Raya.
"Aku akan pulang lebih awal sekarang" ucap Rayhan.
"Janji" tanya Raya.
"Janji".
"Aku lega sekarang Ray" ucap Rayhan.
"Kenapa" tanya Raya.
"Ya karena sekarang Zia sudah berada pada Mamah jadi tanggung jawab aku sedikit berkurang sekarang, kau tak akan tau Raya sesusah apa aku mengurus Zia" ucap Rayhan.
"Tapi pak Ray kau akan merindukannya" ucap Raya.
"Ya walau pun begitu aku sayang padanya aku tak mau dia terjerumus kedalam lubang yang sama seperti ku" ucap Rayhan.
"Pak Ray kau romantis" ucap Raya.
"Benarkah" tanya Rayhan.
"Ya" ucap Raya.
Hari ini Raya tak berangkat ke kampus karena Raya sudah terlambat apa lagi tadi Raya pulang dari kampung sekitar pukul dua sore jadi kelasnya sudah selesai.
Sedangkan Rayhan dia langsung ke kantor karena pekerjaan.
{ pak Ray aku akan ke rumah mamah } pesan dari Raya pada Rayhan.
{Ya silahkan Ray} balasan dari Rayhan.
Raya pergi ke rumah mamahnya karena hari ini hari ulang tahun Fikri mantan pacar sekaligus kakak tiri Raya.
Walau pun agak mendadak Raya membawa hadiah yang isinya jam tangan untuk Fikri,
__ADS_1
Setiap ulang tahun Fikri tak akan merayakan ulang tahun karena akan di suprise kan oleh mamahnya.
Bersambung..