
. Siyue segera menutup kereta dan berbalik menatap pada para sahabatnya.
"Kalau kalian lelah kembalilah kerumah bersama kakek. Aku akan menemui ibu anak ini...!" seru Siyue pada Kakak dan sahabatnya .
"Kami ikut denganmu.." ucap Para sahabat.
"Yue'er...kami pulang dulu ya...aku rindu akan rumah kita..." ucap Simayun yang memang terlihat sangat lelah.
"Boleh kak...lagian kalau kita terlalu banyak yang ikut nggak enak pada rakyat kerajaan Juhan. Dan kau kak Chan Sin...kau bisa pulang lebih dahulu.. pasti ibumu sudah mendengar kedatanganmu . nanti sore kami akan kerumahmu.." ucap Siyue.
"Baiklah aku pergi dulu, walaupun sebenarnya aku ingin ikut kalian .... Aku tunggu kalian di rumahku nanti sore..." ucap Chan Sin.
"Iya kami akan kesana nanti sore..." ucap Siyue .
Mereka segera berjalan kembali. Sedangkan ketiga pengawal dan kedua sahabat Siyue serta Wei Zi masih bersama Siyue.
"Kau tidak ikut Kakak Fang Yan...?" goda Siyue pada Ning Si. Terlihat wajah Ning Si yang memerah karena malu .
'Tidak...aku juga ingin membantumu melihat penyakit ibu mereka..." ucap Ning Si. Siyue segera mendekati ketiga anak itu. Namun Siyue juga melihat beberapa anak seperti mereka iri melihat ketiga anak itu. Siyue tersenyum dan berkata pada anak- anak itu.
"Kalian mau makan bersama kami...? Ayo ikut dengan kami..." ucap Siyue. Tentu saja mereka bahagia walaupun terlihat agak takut. Apalagi melihat pria tampan yang berwajah dingin itu. Melihat itu Siyue tersenyum.
"Jangan takut..Dia suami Kakak.. Dia baik kok..." ucap Siyue. Merekapun akhirnya bersama - sama pergi ke rumah makan yang dekat dengan tempat itu. Dan kebetulan rumah makan yang terdekat adalah sebuah restoran besar dan mewah. Saat mereka mau masuk terlihat mereka tidak di perbolehkan karena membawa anak yang di anggap gelandangan itu. Siyue memakluminya . Namun dia tidak suka dengan sikap mereka .
"Panggil pemilik rumah makan ini..." ucap Siyue dingin . Mereka segera memanggil sang Pemilik. Dan saat sang Pemilik keluar dan tahu Siapa yang menjadi tamunya. Dia segera berlutut meminta maaf. tentu saja sikap sang pemilik Restoran membuat para petugas restoran itu kaget. Seketika mereka mengikuti tingkah bos mereka.
"Maaf...maafkan kami yang Mulia....kalau anda berkenan silahkan...silahkan masuk.."
Ucap sang pemilik Restoran.
"Bangunlah tuan...tidak masalah. Aku hanya ingin membawa mereka untuk makan, dan kebetulan Restoranmu yang paling dekat..." ucap Siyue.
"Trimakasih yang Mulia... silahkan- silahkan duduk...." ucap Pemilik Restoran masih dengan suara gemetar.
Siyue segera membawa mereka duduk di tempat itu. Untunglah tempat itu banyak yang kosong . ada enam belas anak yang ikut Siyue. Hingga restoran itu penuh dengan anak - anak yang terlihat kumuh . Siyue memesan banyak makanan untuk mereka. Dan saat makanan datang , tak butuh waktu lama makanan itu sudah mereka santap. Siyue dan Kawan- kawan yang melihatnya tersenyum haru. Dan tak butuh waktu lama juga mereka telah menghabiskan makanan di atas meja. Siyue berkata sambil menatap mereka satu persatu.
"Apakah kalian sudah kenyang...? Atau ada yang ingin kalian minta lagi...?" tanya Siyue lembut.
"Tidak kak..kami sudah kenyang..." ucap salah satu dari mereka.
"Kak...boleh aku minta di bungkuskan untuk aku bawa pulang...?sebab aku ingat adikku . Dia juga tidak pernah makan makanan seenak ini kak.." ucap seorang gadis seumuran kakak San.
"Boleh...kalian akan membawa setiap orang makanan yang di bungkus ..." ucap Siyue. Lalu Siyue meminta pelayan Restoran untuk membungkuskan makanan yang akan mereka bawa pulang. Setelah selesai Siyue membayar semua makanan yang mereka beli walaupun pemilik tidak mau, Siyue memaksa . Siyue berkata itu adalah kewajibannya membayar semua makanan yang dia beli. Juga tip pada pelayan untuk membersihkan tempat itu kembali seperti semula.
"Kalau anda ingin memberi , bukan pada saya, tapi pada mereka yang membutuhkan . Tapi saya ucapkan trimakasih pada anda tuan..., tuan telah memperbolehkan kami membawa mereka untuk makan di tempat anda. Sekali lagi Trimakasih tuan, kami pergi dulu.." ucap Siyue.
Lalu mereka segera pergi dari tempat itu. Dengan mendaoatkan tatapan kekaguman dari para tamu dan pemilik Restoran . Namun tidak sampai di situ saja perbuatan Siyue. Dia membawa anak- anak untuk membeli baju , makana Ringan dan juga bahan makanan dan kebutuhan sehari - hari untuk di bawa pulang . Tentu saja mereka sangat bahagia. Setelah itu Siyue dan geng pergi mengantarkan San dan kedua Kakaknya pulang . Ternyata Rumah mereka cukup jauh. Ketika sampai Di rumah mereka, Siyue kembali prihatin. Rumah mereka terlihat kecil, kumuh Dan kotor.
"Kalian tinggal di sini berempat...?" tanya Siyue.
"Iya kak...sebenarnya kami dulu tinggal di rumah besar, tapi semenjak Ayah kami meninggal, kami di usir dari rumah kami oleh paman dan bibi...dan akhirnya kami menyewa rumah kecil ini..." ucap Kakak San yang tertua.
"Rumah ini kalian sewa..?" tanya Siyue dengan wajah kaget . terlihat gadis itu mengangguk.
"Mungkin kami juga akan terusir kembali dari rumah ini Kak... Sebab uang sewa yang harus kami bayar dalam dua bulan ini tidak dapat kami penuhi. Apalagi Ibu sakit..."ucap gadis itu dengan wajah sedih.
"Aah... Kakak hampir lupa..Ayo kita lihat penyakit ibu kalian..." ucap Siyue sambil melangkah masuk. Karena terlalu kecil, Siyue meminta sahabat , pengawal dan Suami untuk menunggu di luar saja saat dia memeriksa ibu ketiga anak- anak itu . Siyue pun segera masuk kedalam rumah itu bersama ketiga bocil tadi . Dan betapa mirisnya dia, saat melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat kurus sedang tidur dengan lemah di atas sebuah tempat tidur kayu yang terlihat sudah hampir lapuk. Ruangan itu sangat pengap . namun dengan tenang Siyue masuk kedalamnya. Tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipinya. Dengan cepat Siyue mengusap air mata itu, takut si Wanita melihatnya. Perlahan Siyue mendekati wanita itu. Dia melihat wanita itu memejamkan matanya. Ketika dia merasa ada seseorang yang mendekat, dia fikir itu salah satu putrinya.
"Kau sudah datang Win'er..." ucaonya lemah. Ruwin adalah Putri tertuanya .
Tapi saat matanya terbuka, dia melihat wajah cantik berada di depannya.
"Si..siapa kamu...?" ucapnya curiga.
"Jangan takut ibu..Aku teman Putra putri ibu..itu mereka..." ucap Siyue lembut sambil menunjuk pada anak- anaknya yang berdiri di belakang Siyue.
"Ka..kalian ..." ucap dia kaget.
"Dia Kakak cantik penolong kita bu..dia telah membelikan kami makanan, baju dan bahan makanan buat kita. Dan dia kesini ingin melihat kesehatan ibu..." ucap Putri tertuanya yang bernama Ruwin .
"Apakah Kau seorang tabib...?" tanya Dia pada Siyue.
"Benar..apa sekarang aku boleh melihat penyakit mu.?" tanya Siyue lembut.
Ibu itupun segera mengangguk dan Siyue mulai memeriksa penyakit wanita itu. Setelah memeriksa Siyue merasa prihatin Ternyata Dia mempunyai penyakit semacam tipus tapi mungkin karena terlalu lama tidak di obati dan asupan makanan tidak ada, maka penyakit itu menjadi parah. Melihat penyakit dari sang ibu begitu parah, Siyue berfikir akan membawa mereka tinggal di keluarga Si saja . Bukankah di sana dia bisa membantu di dapur atau membersihkan taman. Dan kesehatan ketiga putranya bisa terjaga.
"Ibu bagaiaman kalau ibu ikut kerumah saya... Di sini ibu tidak ada yang merawat, lagian kata putri ibu rumah ini juga akan di tarik oleh si pemilik karena ibu tidak mampu bayar uang kontrak , apa ibu mau...?" tanya Siyue lembut. Mendengar ucapan Siyue terlihat wanita itu tertegun. Dia terdiam cukup lama. dan terlihat air mata mengalir di pipinya.
Melihat sang ibu menangis mereka bertiga mendekat.
"Ibu...jangan menangis...kalau ibu tidak mau, kita tolak saja bu..." ucap Ruwin dengan air mata mengalir .
"Tidak sayang...ibu menangis bukan karena sedih...ibu menangis karena haru. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini.." ucap sang Ibu.
__ADS_1
"Kalau begitu ibu mau kita ikut kakak cantik ke rumahnya...?" tanya si kecil San dengan wajah gembira .
"Iya ibu mau nak..." ucap sang ibu dengan wajah haru.
"Horeee...kita pergi dari rumah ini..!" seru San bahagia.
" Lo kenapa San gembira saat ibu bilang kita akan pergi dari sini nak...?" tanya Siyue yang keheranan. Sebab seburuk apapun rumah kita, Rasanya kita akan enggak pergi dari rumah yang telah kita tinggali .
"Karena San tidak suka tinggal di sini.. Di sini banyak anak nakal, San sering di pukul atau di tendang oleh mereka. Mereka bilang San anak miskin , San tidak suka tinggal di dini.." ucap San Dengan wajah terlihat lega.
"Apakah kalian juga mengalami hal seperti San juga...?" tanya Siyue pada kedua kakak San. Mereka terdiam dan memandang satu sama lainnya. Dan tak lama terdengar yang tertua yang bernama Ruwin berkata.
"Iya kak.. Kita juga mengalami seperti yang terjadi pada San....Mereka mengganggu, memukul, menendang kami tanpa alasan, mereka hanya bilang kalau kami anak miskin yang tak oantas dan tak seharusnya tinggal di lingkungan mereka..." ucap sang Kakak. Siyuepun terdiam dan tak lama dia berkata.
"Kalau begitu ayo kita pindah sekarang... Agar ibu lebih luat, ibu minum dulu pil ini setelah itu kita kembali kerumahku. Tapi sebelum itu, ibu makan roti ini dulu ya... " ucap Siyue dengan lembut sambil mengambil Roti yang mereka beli tadi .
"Baik Nona..." ucap ibu itu dengan suara lemah .
"Biar aku yang menyuapi ibu kak...dan pil itu harus di minum setelah ibu makan...?" tanya si sulung .
"Benar...kau berikan pil ini pada ibu dan air yang ada di botol ini setelah ibu habis makan, kalau begitu Kakak keluar dulu..." ucap Siyue.
"Baik kak..." jawab gadis itu sambil menerima pil dan Air suci dari tangan Siyue. Setelah itu Siyue melangkah keluar rumah. Di sana terlihat sang Suami sedang duduk dengn tenang di bawah pohon bersama sahabat , Wai Zi , dan ketiga pengawalnya. Siyue mendekati mereka.
"Aku akan membawa mereka kerumahku Han...." ucap Siyue.
"Kenapa...?" tanya Dewa Wiqya sambil mengusap kepala sang Istri. "Ibunya sakit agak parah, dan di sini ketiga anaknya sering di aniaya oleh penduduk sekitar, aku takut mental mereka akan jatuh karena kemiskinan mereka.." ucap Siyue Prihatin .
"Ya Sudah kita bawa saja..." jawab Dewa Widya dengan lembut sambil mengusap kepala sang istri. Melihat Sifat Dewa Wiqya yang berubah 180 derajat saat bersama Siyue , membuat para sahabat dan ketiga pengawalnya , hanya bisa geleng kepala.
"Feng...apakah aku bisa meminta bantuanmu...?" ucap Siyue .
"Bisa...apa..?" tanya Feng Xun.
"Pergi ke rumahku dan meminta Paman Mo Can membawakan kereta untuk membawa Ibu dari ketiga anak itu. hari ini aku ingin membawa mereka pindah kerumah..." ucap Siyue.
"Baik...kalau begitu aku pergi..." ucap Feng Qui. Dia segera pergi dari tempat itu. Setelah kepergian Feng Xun, Siyue kembali masuk kedalam rumah. Kini Ning Si ikut juga sebab mereka akan mempersiapkan ibu San untuk di bawa pergi. Mereka akan membawa barang yang sangat mereka butuhkan saja. Sisah barang yang tak penting mereka tinggal.
"Biar barang- barang ini nggak usaha di bawa ya bu... di sana juga nggak akan kepakai..." ucap Siyue. Ibu san hanya mengangguk .
Karena letak rumah Siyue memang tidak terlalu jauh, maka dalam 30 menit kemudian paman Mo Can dan Feng Xun telah datang dengan kereta yang agak besar. Sepertinya kereta barang. Siyue yang baru keluar dari rumah tersenyum.
"Nona Paman datang..." ucap Paman Mo Can. Akhirnya mereka membawa keluarga San kerumah Siyue. Sampai di sana Siyue bisa melihat, Rumah yang mereka bangun dulu kini semakin besar dan mega, terlihat sekali rumah mereka kini sepertinya Rumah terbesar di kota Juan. Tentu saja melihat itu membuat Siyue tersenyum.
"Paman....apakah ini rumah kami...?" tanya Siyue .
kereta sudah memasuki pekarangan . dan para pembantu dan penjaga segera membantu membawa ibu San ke ruang kamar yang masih kosong di area para pembantu. Ruangan itu bersih dan luas untuk tidur empat orang. Namun Siyue meminta pada Paman Mo Can untuk menyiapkan satu kamar lagi untuk kedua Kakak San. Melihat apa yang di perbuat Siyue, ibu San Menangis haru.
"Ibu tidak usah sedih dan menangis. Tinggalah di sini dengan nyaman sampai ibu sembuh . Setelah ibu sehat nanti , ibu bisa membantu para bibik untuk membersihkan dan menjaga rumah ini. Dan ibu akan mendapatkan bayaran setiap bulan dari paman Mo Can.." ucap Siyue. Mendengar ucapan Siyue , Paman Mo Can segera menyela .
"Tapi Nona..Paman dengar dari Kakek, kalian akan kembali ke Alan Atas tiga hari lagi. Apa itu benar Nona..?" tanya Paman Mo Can.
"Iya Paman...kami hanya tiga hari di alam bawah ini...ada masalah Paman" ucap Siyue.
"Apa boleh paman ikut Nona...?" tanya Paman Mo Can dengan wajah terlihat berharap.
"Paman mau ikut...? Tapi bagaimana dengan keluarga Paman...?" tanya Siyue.
"Nona tahu kan Paman sudah tidak ada keluarga lagi, hanya satu keponakan Paman yang ada, dan dia sudah berkeluarga dan mempunyai putra. Jadi kalau paman pergi Dia bisa mewakili paman menjaga rumah ini ..." ucap Paman Mo Can .
"Kalau memang itu keinginan paman, baiklah paman boleh ikut Dan Paman bisa memberitahukan semuanya pada keponakan Paman. Dan Siyue minta keponakan paman menjaga mereka juga..." Ucap Siyue sambil menunjuk ke tiga anak dan satu ibu itu dengan dagunya.
"Pasti Nona... Nanti akan aku beritahu mereka..." ucap Paman Mo Can .
Setelah memeriksa dan memberi obat pada Ibu San kecil. Siyue segera meninggalkan mereka. Ketika keluar dari kamar Ibu San Kecil , ternyata Xiona berada di dekat pintu .
"Hey...kenapa kau ada di sini Ona...?" tanya Siyue.
"Non... Apakah Nona cuma sebentar di sini...? Nubi mendengar dari Tuan Besar kalau kalian hanya beberapa hari di sini. Dan tadi aku juga mendengar perkataan Nona dengan paman Mo Can...?" ucap Xiona dengan wajah hampir menangis .
"Iya Ona...aku hanya tiga hari di sini... Setelah itu aku akan kembali ke Alam Atas..." jawab Siyue. Kini terlihat Xiona mulai menangis.
" Lalu Nona akan kembali meninggalkan Ona...?" ucapnya di sela tangisannya.
"Apakah kau ingin ikut juga..?" tanya Siyue sambil tersenyum lembut. Mendengar ucapan Siyue, Terlihat wajah Ona tersenyum cerah. Wajah itu kini terlihat cantik setelah lama Siyue tidak bertemu dengan Xiona. Gadis ini kini terlihat bersih cantik dan sepertinya tidak sebodoh dulu lagi. Ada kekuatan yang Siyue rasakan sekarang.
"Tunggu Ona...apakah kau sekarang sudah belajar berkultivasi...?" tanya Siyue dengan wajah terkejut. Terlihat ona mengangguk malu- malu. Tapi Siyue bisa merasakan ketegaran dan kekuatan di tubuh Xiona.
" Waaa....aku senang Ona.. Coba kau ceritakan padaku..." ucap Siyue sambil menyeret Xiona duduk di taman yang ada di depan sebuah kamar dan yang ternyata itu kamar Siyue. Mereka duduk berhadapan.
"Setelah Nona Pergi, Nubi sangat sedih. Hampir dua bukan Nubi sakit. Setelah mendapat kemarahan dari Paman Mo Can, Nubi sadar harus bangkit. Kalau Nubi memang ingin pergi bersama Nona, Nubi harus bisa seperti Nona ...bisa melindungi Nona , setidaknya Nubi harus bisa menjaga diri sendiri agar tidak menjadi beban Nona.. Dari sanalah Nubi akhirnya mempelajari buku Yang Nona berikan pada Nubi . untunglah Nona sudah memberi pelajaran pada Nubi cara membaca dan cara berkultivasi. Walaupun saat itu Nubi tidak serius. Dan akhirnya dalam satu tahun, Nubi sudah benar- benar bisa berkultivasi dan bisa memiliki kekuatan. Saat itu kekuatan Nubi ada di Alam dasar tingkat tiga .. Dan saat ada pendaftaran murid baru di Perguruan Lentera Putih, Nubi ikut mendaftar. Dan syukurlah Nubi di trima. Dari sanalah Nubi mulai meperdalam ilmu Nubi Nona dan sampai sekarang Nubi masih menjadi murid perguruan itu..." ucap Xiona sambil memandang Siyue dengan penuh hormat.
"Ha ha ha...ternyata kau kini bukan Xiona yang aku kenal dulu...maafkan aku tidak mengajakmu pergi saat itu.. Karena aku takut kalau aku tidak bisa menjagamu.. perjalananku saat itu sangat panjang dan berbahaya..." ucap Siyue.
__ADS_1
"Tidak masalah Nona...kalau Nona tidak meninggalkan Nubi, mungkin Nubi akan selalu tergantung pada Nina...dan akan menjadi beban selamanya..." ucap Xiona lbur.
"Trimakasoh Ona...tapi kau tahu...kau kini juga semakin cantik Ona..." goda Siyue.
" Nona ..Nubi hanyalah gadis yang desa yang tidak akan menjadi seperti ini jika Nona tidak menolongku....." ucap Xiona malu. Tak urung wajahnya memerah.
"Janfan merendah..Selamat Ya...aku bangga padamu ..." ucap Siyue sambil memeluk pelayan sekaligus sahabatnya itu yang merupakan orang yang paling dekat dengan Yueyue. Dialah orang yang terdekat yang selalu membela Siyue saat Siyue di buly dan di hina orang. Dia yang akan memberikan tubuhnya jika Yueyue akan di sakiti orang. dan kini gadis itu telah menjelma menjadi gadis yang cantik.
"Kalau kau nanti pergi, bagaimana dengan Kekasihmu...?" goda Siyue.
" Nona....Nubi belum memiliki Kekasih..!" seru Xiona dengan wajah memerah.
"Benarkah..?Apakah benar gadis secantik ini tidak ada yang ingin mendekati dirimu..?" tanya Siyue tak percaya. Terlihat Xiona menunduk malu.
"Memang ada Nona.. Tapi Nubi tidak berfikir untuk menerima mereka. Yang ada di dalam fikiran Nubi hanyalah ingin mempersiapkan ilmu agar Nubi bisa ikut Nona saat Nona kembali walaupun entah itu kapan..." ucapnya pelan.
"Lo...seandainya Aku tidak kembali bagaiaman...?" tanya Siyue kaget.
"Mungkin Nubi tidak akan pernah menikah..." ucapnya lagi dengan tenang .
Tuk...
Sebuah sentilan mengenai kening Xiona.
"Aaauuu..sakit Nona...!" seru Xiona sambil memegang keningnya.
"Apa kau sampai segila itu ha... Kau tidak mau pada pria hanya karena menunggu kedatanganku " seru Siyue marah.
"Nona...tapi memang Nubi hanya ingin bersama Nona... Ya kalau sudah bersama Nona , apapun yang Nona Suruh akan Nubi lakukan. Asal Nubi bisa bersama Nona..." ucap Xiona .
"Dasar anak bodoh..." ucap Siyue sambil menyentil kembali kening Xiona.
"Aauuu...sakit Nona...!" seru Xiona.
"Biar... Biar otakmu ini bisa berfikir dengan jernih.." kata Siyue kesal.
Namun dia kembali memeluk tubuh semampai itu dengan lembut. Dia tak pernah menyangka kalau gadis ini benar- benar setia pada Yueyue .
"Waah...siapa Dia Beb...sampai kau melupakan aku ..." ucap Dewa Wiqya yang mendekat pada keduanya. Melihat kedatangan sang Suami, Siyue segera melepas pelukannya .
"Sayang Dia Ona, yang delaku menjagaku saat aku masih lemah. dan Ona..perkenalkan ini Suamiku...Namanya Dewa Wiqya..." ucap Siyue sambil memegang tangan sang Suami yang berada di bahunya. Dewa Wiqya berdiri dengan gagah di dekat Siyue .
"Suami....? Nona telah menikah...!?" seru Xiona dengan wajah bahagia.
"Iya.. Dan dalam beberapa minggu lagi. orang tua kandungku akan menikahkan kami..." ucap Siyue.
"Tunggu kata Nona ini Suami Nona, tapi kenapa masih mau menikah lagi...?maksud Nona dia calon suami Nona..?" tanya Xiona bingung.
"Dia Suamiku ...karena Kami telah menikah di Nirwana, dan di sana Ayah dan Bunda tidak menghadiri, jadi mereka ingin kembali menikahkan kami..." jelas Siyue.
"Tunggu...menikah Di Nirwana. Maksud Nona...?" tanya Xiona bingung . Siyue mendekatkan wajahnya ke telinga Xiona.
"Dia seorang Dewa Ona..." ucap Siyue.
"Apaaa...dia seorang.." tiba - tiba Xiona langsung menyembah.
"Maaf..maafkan hamba yang lancang yang Mulia...salam sejahtera yang Mulia Dewa Wiqya..." ucap Xiona sambil menyembah. Dan sikap serta ucapan Xiona di dengar oleh para pelayan yang lewat dan kebetulan juga Paman Mo Can lewat dan mendengar juga. Akhirnya ke hebohan di taman membuat para pelayan Siyue lainnya tahu . dan mereka segera datang dan ikut sujud memberi hormat. Melihat kejadian itu, Siyue hanya bisa mengangkat bahunya saat Dewa Wiqya menatap dia.
"Sudah- sudah bangunlah. Aku terima pengorbanan dan salam kalian. Semoga kebahagian bersama kalian.sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian. Kare aku datang kemari bukan sedang menjalankan tugas . aku datang sedang mengantarkan istrimu kembali ke alam bawah ini...ayo bangun..dan perlu kalian ketahui juga, kalau Nona yang kalian tunggu ini. Sekarang juga seorang Dewi...dia Dewi Keadilan Dewi Siyue...." ucap Dewa Wiqya sambil memeluk pinggang sang istri.
"A...apaa...De...Dewi...!" seru Paman Mo Can dan Xiona bersamaan.
"Seorang Dewi...!" seri yang lainnya.
"Benar..." ucap Dewa Wiqya dengan wajah tenang.
"Ya Dewa....Nona...!" seru Xiona dan paman Mo Can kembali.
"Sayang...." ucap Siyue lembut .
"Tidak apa- apa..karena mereka orang terdekarmu, dan mereka harus tahu siapa istri ku..." ucap Dewa Wiqya lembut.
"Yang Mulia Dewi maafkan Kami..." ucap Paman Mo Can.
"Sudah - sudah ayo bangun... Aku tetap Siyue yang dulu walaupun ku seorang Dewi. Sekarang bangunlah.. Dan kembali bekerja.. Dan kau Ona juga Paman Mo Can ... Kalian Persiapkan diri untuk ikut aku ke Alam Atas . Dan untuk yang lain...kalian harus menjaga rumah ini seperti rumah kalian sendiri... Ta sudah aku akan masuk kamar dulu..." ucap Siyue .
"Trimakasih yang mulia Dewa Wiqya dan Dewi Siyue...." ucap mereka bahagia.
'Tunggu...Selama aku berada di sini, aku tidak ingin mendengar kalianenyebutku Dewi, panggil saja aku Nona ..." ucap Siyue.
"Baik yang Mulia..." ucap mereka bersamaan setelah memberi hormat,mereka kembali ketugas mereka dengan wajah bahagia. Mereka tak pernah menyangka kalau bisa bertemu dengan seorang Dewa. Dan majikan mereka ternyata sekarang sudah menjadi seorang Dewi .
Udahan dulu ya...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan Komennya author tunggu .
Bersambung .