
"Hai Na ... Apa kabar? Kakak rindu sama kamu, sini Kakak peluk," ucap Duta dengan senyum manis melebar dan kedua tangannya terbuka lebar untuk menerima tubuh mungil Yumna yang sedang berlari kecil menuju dada bidang Duta sambil menangis penuh haru.
Hatinya begitu lega bisa menatap kembali wajah Duta, suaminya yang tampan dan sangat Yumna rindukan.
"Kak Duta ... Yumna rindu sekali. Akhirnya setelah enam bulan kita beretmu juga," cicit Yumna sendu sambil membalas pelukan Duta dengan sangat erat. Kedua tangan Yumna melingkar dari perut Duta hingga ke belakang punggung Duta sampai kedua tangan itu saling bertemu dan menautkan agar pelukan itu tidak terlepas lagi.
"Kakak juga juga rindu sama kamu, Na. Kita bersama lagi sekarang," lirih Duta dengan anada datar sekali.
Rasa cinta dan sayang Yumna begitu besar kepada Duta. Apapun akan Yumna lakukan demi kebahagiaan suaminya. Yumna tidak peduli lagi dengan apappun, yang terpenting saat ini, Yumna bisa melihat Duta, memeluk Duta dan bahkan mencium suaminya jika perlu. Tentu harus, ciuman itu bukan hal tabu, apalagi bagi orang yang sudah menikah, itu sebagai bukti arsa cinta, rasa aksih sayang, rasa rindu, rasa saling memeiliki dan rasa ungkapan tulus dari hati yang terdalam.
Duta juga memeluk tubuh Yumna dengan erat lalu mencium pucuk kepala Yumna penuh kasih sayang. Tapi ... Ciuman itu sedikit terasa hampa dan hambar. Tidak ada rasa, dan tatapan Duta kosong tanpa ada arti seperti baisanya.
Keringat Yumna begitu banyak muncul di permukaan keningnya dan kedua matanya tertutup rapat serta napasnya mulai sesak, oksigennya yang masuk ke dalam paru -parunya seoalh tersumbat, wajahnya mulai cemas dan bergerak ke kanan dan ke kiri lalu ...
"Hah!!" Yumna terbangun dari mimpi indah namun terasa buruk baginya. Firasat apa itu. Yumna hanya mimp ikah?
Napas Yumna memburu dan tersengal -sengal. Tubuhnya terduduk sambil kedua tangannya mengusap kasar wajah Yumna yang penuh denagn peluh di sekitar wajah dan lehernya. Kedua mulutnya membuka sedikit untuk arus napas keluar masuk agar jantungnya yang berdetak keras bisa segera di netralkan dan kembali tenang.
Kedua mata Yumna mengedar ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa -siapa, tidak ada Duta atau siapa pun disana. Yumna hanya sendiri. Di sampingnya hanya ada beberapa foto yang ia ambil dari dinding di atas ranjang tidur milik Duta. Foto -foto bergambar dirinya bersama Duta.
__ADS_1
Yumna mengambil satu gambar foto yang ada di sana lalu ia tatap wajah Duta, suaminya yang agak berbeda di dalam mimpinya tadi. Duta nampak murung dan wajahnya terlihat gelap serta kabur. Pandangan Yumna tak jelas, padahal tadi raganya sempat ia peluk dengan sangat erat.
"Tadi berarti hanya mimpi? Kenapa terlihat jelas sekali dan nampak nyata. Kak Duta, sebenarnya kamu dimana? Kenapa seolah semesta sedang mempermainkan Yumna," lirih Yumna mengumpat.
Yumna mendesah pelan ... "Yumna rindu Kak. Kapan kita ketemu? Padahal Yumna sudah ada di Jepang. Rasanya dekat tapi hati kita semakin jauh."
Yumna melihat koper yang ada di bawah sudah kosong dan smeua pakaiannya sudah tertata rapi di lemari pakaiannya. Kedua kaki Yumna turun ke bawah dan berjalan keluar dari kamar itu. Tenggorokannya terasa kering. Mimpi tadi cukup menguras tenaga dan energinya. Padahal itu hanya mimpi.
Seluruh ruangan di apartemen itu nampak sekali kosong dan sepi. Yuri, sahabatnya juga tak ada di sana. Entah pergi kemana sahabatnya itu. Mungkin saja sedang keluar dan membeli makanan atau berbelanja di mini market terdekat. Bisa jadi, Yuri tidak enak dan tidak tega membangunkan Yumna yang terlelap tidur. Cukup lama Yumna tertidur, hingga hari mulai menggelap.
Kedua kaki Yumna tetap melangkah ke arah dapur untuk memncari air minum agar tenggorokannya tidak sekering ini.
Saat Yumna duduk dan menikmati susu putih dan roti cokelat yang ada di piring. Kedua matanya terpaku pada kertas yang ada di bawah piring kecil itu. Kertas yang di lipat rapi dan sengaja di selipkan di bawah piring kecil itu. Yumna meletakkan roti cokelatnya dan emngambil kertas yang ada di bawah lalu di buka. Itu surat hanya di ketik bukan tulisan tangan biasa.
Untuk ...
Istriku tersayang, Yumna,
Sayang ... Malam ini pasti kamu sedang tersenyum karena sudah lega melihat kota Jepang, dan tinggal di apartemen kita. Kakak sempat mencium kening kamu dan mengusap pipi kamu yang terlihat makin kurus sekarang. Tapi, Kakak bahagia bisa menyentuh anggota tubuh kamu yang selalu Kakak rindukan dan ingin Kakak peluk, walaupun Kakak ....
__ADS_1
Kakak tidak ingin membuat kamu sedih, Na. Kakak tidak ingin membuat kamu menangis apalagi menangisis keadaan Kakak saat ini.
Maafkan Kakak, yang tidak bisa jujur pada kamu, tentang apa yang terjadi sebenarnya. Bukan berarti Kakak ingin emnyembunyikan sesuatu atau tidak terbuka. Ini hal berat yang pernah Kakak pikul selama hidup. Kakak lebih baik kamu pukuli setiap kita bertemu untuk kencan, karena kamu kesal pada Kakak yang selama ini tak punya waktu banyak untuk hubungan kita. Dari pada Kakak menyakiti hati kamu untuk kesekian kalinya. Kakak yakin ini cobaan terberat bagi kamu juga, Na.
Jujur, saat Bunda bilang, kamu sudah ada di Jepang. Kakak bingung, Kakak marah pada Bunda, bukan berarti Kakak tidak suka denagn kedatangan kamu, tapi Kakak gak sanggup menemui kamu ...
Surat itu belum selesai di baca. Yumna tak sanggup lagi membacanya. Masih ada beberapa paragraf lagi di bawahnya. Beberapa pernyataan dan ungkapan jujur ini sajasudah emmbuat kedua mata Yumna basah dan mengucurkan air mata denagn deras sampai Yumna tak bisa melihat jelas ketikan surat itu. Rasanya kabur karena tertutupi air mata.
Yumna menarik napas panjang dan perlahan ia hembuskan agar hatinya tetap tenang. Sesak sekali rasanya di dada ini.
Kakak tunggu kamu di alamat ini. Datanglah, Kakak ada di sana. Jika, nanti kamu malu melihat Kakak, pergilah. Pergilah sejauh mungkin, agar Kakak tidak bisa mengejarmu lagi dan menyentuh kamu lagi, Na.
Tapi, jika kamu tidak malu, peluk Kakak dengan erat hingga kita tak terelpas lagi.
I love u, Yumna. Now and Forever. Only you are always in my heart ...
Kedua mulut Yumna menganga tak percaya. Tangisannya mulai terdengar sesegukan. Yumna tak berpikir panjang mengambil jaket dan tasnya lalu mencari alamat yang di tuju.
Yumna ingin melihat Duta, apa yang terjadi denagn lelaki itu sebenarnya?
__ADS_1