
Jone menutup ponselnya dan menatap ke arah Bunda Sinta dan Dafa bergantian.
"Kenapa Nak?" tanya Bunda Sinta ikut cemas.
"Kabar buruk Bunda, Dafa," ucap Jone meneguk air putih hingga habis. Tenggorokannya tiba -tiba saja mengering mendengar kabar buruk itu dari seorang intel yang senagja Jone bayar untuk menyelidiki kasus aneh ini.
"Papah memang sengaja di bunuh. Mereka menemukan bukti lain," ucap Jone kemudian.
Bunda Sinta dan Dafa langsung menutup mulutnya agar tak berteriak histeris. Sebenarnya Dafa dan Bunda Sinta sudah curiga akan hal ini, tapi Bunda Sinta selalu berpikir positif, ini semua adalah takdir.
"Bukti apa Jone? Bukti apa? Bunda mau ketemu orang itu," pinta Bunda Sinta sudah tidak sabar ingin mendengar dan melihat langsung bukti baru apa yang di temukan orang bayaran Jone itu.
__ADS_1
"Sabar Bunda. Kita tidak bisa buru -buru, karena harus cari waktu yang tepat agar aman. KIta juga gak tahu, siapa yang sebenarnya di cari oleh musuh kita itu. Apa benar Papah? Atau Bunda? Atau Jone? Atau Dafa dan atau Yumna? Kita gak tahu, mereka mengincar siapa, kan? Bisa jadi mereka mengincar kita semua? Kita harus berhati -hati," ucap Jone kemudian.
"Kak? Yumna, Kak? Dia sedang hamil. Bisa saja orang itu datang ke kampus dan ingin mencelakakan Yumna dan kandungannya," ucap Dafa mulai khawatir dengan Yumna, adik bungsunya.
Dengan cepat, Jone menekan tombol nomor Yumna untuk segera meneleponnya.
***
Arsista hanya diam seribu bahasa. Ia bahkan belum mengetahui bagaimana nasib Papahnya pasca operasi besar yang sudah terlaksana.
"Anda menangis sejak tadi, Nona? Apa anda tidak bahagia?" tanya seorang perias pada Arsista sambil mnegelap wajah Arsista yang make upnya mulai luntur terkena keringat. Terpaksa perias itu mengulang lagi dan menambal make up di wajah Arsista.
__ADS_1
"Bisa bantu aku pergi dari tempat ini? Papah ku sedang sakit keras di rumaha sakit. Aku harus menemuinya sekarang juga," pinta Arsista denagn wajah bingung.
Arsista tidak mencintai Nick. Ia bahkan becnci pada laki -laki yang pernah menjadi saudara tirinya itu. Ia bahkan dendam dan berjanji akan menghancurkan Nick, tapi malah hidupnya sekarang yang hancur.
"Anda akan menikah sebentar lagi. Lagi pula gedung ini sangatlah luas dan tidak mungkin kamu bisa pergi dari tempat ini, Nona," ucap perias itu ikut bingung.
"Tolong aku, miss. Aku mohon. Kamu pasti bisa membantuku. Calon suamiku itu adalah orang jahat. Dia mengambil kesempatan emas mencari keuntungan denagn emnikahiku di saat Papahku sakit keras," ucap Arsista denagn nada memohon dan wajah yang memelas.
Mendengar ucapan Arsista yang nampak serius dan memelas, perias itu ikut iba denagn kedaan Arsista.
"Aku harus bagaimana? Anda tahu, tadi Tuan Nick sudah menasehati agar aku bekerja denagn baik. Jika sampai aku membantumu pergi dari tempat ini, maka hidupku pasti akan hancur, karirku juga ikut hancur," ucap perias itu dengan wajah gusar dan dilema.
__ADS_1
"Tolong aku, Misss. AKu mohon," ucap Arsista sambil emnangkupkan kedua tanagnnay denagn nada memohon.
Perias itu tidak tahu jika wanita di depannay ini adalah wanita jadia -jadian, wanita ular berkepala dua. Sepertinya Arsista tidak ingat dengan ancaman Nick jika berani mengkhianatinya. Hidupnya akan hancur seperti berkeping -keping bagai kaca yang dijatuhkan begitu saja.