
Yumna dan Duta sudah berada di halaman parkir gedung apartemennya. Sebelum masuk ke dalam gedung apartemennya, Duta mengajak Yumna untuk berbelanja kebutuhan bulanan dan makanan untuk sehari -hari.
"Na, Belanja dulu ya. Di rumah gak ada apa -apa, kulkas juga kosong, toples gak ada isinya, kebutuhan bulanan di lemari serba guna juga sudah pada habis," titah Duta saat mematikan mesin mobilnya dan melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya.
"Iya Kak. Gak apa -apa belanja dulu? Katanya temen -temen Kakak pada mau datang? Nanti mereka datang, Kakak malah gak ada," ucap Yumna sambil membuka pintu mobil dan bersiap keluar.
"Ini Kakak telepon biar mereka nunggu kita di lobby saja," ucap Duta lalu menelepon Kahfi.
Yumna dan Duta masuk ke dalam super market yang ada di lantai dasar. Gedung apartemen itu cukup lengkap fasilitasnya. Duta sibuk menelepon Kahfi dan menanyakan ada berapa orang yang akan hadir ke rumahnya.
Yumna mengambil kereta belanja dorong berukuran besar dan mendorong mulai dari bagian sayur -sayuran, daging dan buah, sebelum akhirnya mereka berjalan melihat bumbu dan kebutuhan lainnya.
Duta mematikan teleponnya dan menatap Yumna yang sedang memilih sayuran segar dan mengambil beberapa bahan masak lain, seperti bawang merah, bawang putih, cabai, sere, kunyit, kencur, jahe dan sebagainya.
"Ambil saja smeua yang kamu butuhkan. Gak usah di pilih -pilih, toh sama saja ukurannya paling beda beberapa mili gram saja timbangannya," ucap Duta menjelaskan.
Tahu sendiri kan, kalau perempuan belanja tentu banyak sekali pilihannya. Jangan ada yang busuk, harus yang besar dan berisi, di timang -timang beratnya, di lihat lagi harganya, pokoknya sedikit ribet.
"Bukan menimbang mana yang berat atau tidak, tapi lebih memilih isinya, ada yang busuk dan layak gak untuk di konsumsi," jawab Yumna masih memilih jenis tofu.
"Oke Nyonya. Saya siap menunggu," jawab Duta terkekeh. Wanita selalu benar, jika wanita salah lihat kembali peraturan dalam rumah tangga, wanita selalu benar. Intinya wanita tidak pernah salah dan tidak bisa di salahkan.
Duta memilih beberapa buah apel merah dan di masukkan ke adalam plastik. Sejak lama tinggal di Jepang, makan buah menjadi bagian terpenting bagi Duta. Beberapa waktu disana, cukup mengubah gaya hidup Duta etrlebih soal pola makan sehat.
"Apel merah? Bukannya Kakak lebih suka melon?" tanya Yumna agak bingung.
__ADS_1
"Kakak suka apel merah juga dan buah yang lain, termasuk buah itu," goda Duta sambil melirik ke arah tubuh Yumna di bagian dada.
"Buah? Apa? Ohh ini gambar buah kiwi. Kak Duta juga suka?" tanya Yumna polos. Kebetulan di kaos berkerah Yumna ada gambar buah kiwi terbelah dua di dekat saku kaosnya.
"Duhh ... Kok kiwi sih? Polos amat ya, istri Kakak," ucap Duta mengacak rambut Yumna dengan gemas.
"Apaan sih Kak. Gak berubah deh, sukanya bikin Yumna jelek terus di depan umum," cicit Yumna kesal sambil merapikan rambutnya dengan jari -jarinya lalu di kuncir menjadi satu.
"Gemes tahu gak sih. Buah itu, bukan buah kiwi gambar, itu yang ukurannya 34B," ucap Duta terkekeh sendiri lalu memasukka bungkusan bersiis apel dan kini mulai mengambil dua buah melon utuh dan satu sisir pisang.
Yumna menoleh ke arah Duta dan emlihat ke bagian dadanya. Sepertinya ukurannya tidak sebesar itu.
"Kak Duta? Hayooo ... Punya siapa yang ukurannya 34B? Punya Yumna kan cuma 32A," bisik Yumna yang berdiri sejajar dengan Duta.
Duta menoleh dan menatap Yumna lalu tersenyum.
"Arghhh ... Dasar suami mesum. Kak Duta pulang dari Jepang kok malah berubah gini sih?" ucap Yumna merasa ada yang berubah dari Duta, suaminya.
"Sini Kakak mau cerita sama kamu, Na. Kakak ini bukan berubah, tapi kehidupan selama di Jepang itu mengajarkan Kakak selain harus setia dengan pasangan, Kakak juga harus mencintai pasangan Kakak dengan sepenuh hati, dengan tulus dan ikhlas. Gak cuma itu, Kakak juga gak boelh mengedepankan ego Kakak, setidaknya Kakak itu harus bisa membuat kamu bahagia. Dengan cara apa? Ya, dengan cara kamu tersenyum lalu tertawa. Bukannya kamu suka kalau Kakak speerti ini, kelewat bucin dan akhirnya memang kakak sudah tidak bisa menggeser posisi kamu dari hati Kakak," ucap Duta merangkul Yumna dan mendorong kereta belanja itu. Sampai di salah satu lorong berisi minuman instant sachet, Duta mencuri start dan mencium pipi Yumna membuat gadis itu menoleh ke arah Duta dan ... cup.
Kedua bibir mereka saling mengecup, Duta yang sudah memprediksi gerakan Yumna akan menoleh ke arahnya, sedangkan Yumna merasa Duta sedang menggoda dan mempermainkannya.
"Arghhh ... Kak Duta, sukanya ngambil kesempatan dalam kesempitan. Ini di supermarket, kalau ada yang lihat gimana?" cicit Yumna sambil menunduk malu.
Duta menoleh ke arah kanan, kiri dan ke belakang. Disana tidak ada satu orang pun kecuali mereka berdua. Hanya saja memang ada cermin di atas sebagai cermin pantauan, tapismeua orang nampak sedang sibuk dengan kegiatan berbelanjjanya masing -masing, mana ada yang iseng melihat mereka tak senagja berciuman.
__ADS_1
"Mana? Gak ada orang kok? Cuma kita aja," jawab Duta tetap tenang dan terlihat santai. Lagi pula apa yang harus di takuti, kalau mereka ketangkap basah dan dianggap sudah berbuat mesum, tinggal tunjukkan cincin kawin mereka dan buku nikah mereka. Selesai bukan?
"Iya gak ada yang lihat, tapi itu ada cermin, ada CCTV juga! Penjaga CCTV pasti lihat apa yang kita lakukan?" ucap Yumna kesal.
"Ya ampun, Na. Itu cuma kecupan lho Na, bukan ciuman yang penuh hasrat dan nafsu. Orang juga maklum kali," ucap Duta membela diri sambil mengambil beberapa pack minuman kopi sachet, dan teh celup serta susu.
Yumna tak mau berdebat dan memilih agak menjauh dari Duta dan mulai mengambil beberapa minuman rasa yang ia suka.
"Jangan kebanyakan minum minuman rasa begitu. Gak bagus buat kesehatan. Mending minum, sayang. Susu untuk program hamil. Cobaik satu kotak dulu, siapa tahu, Tuhan memberikan hadiah terbaik di ulang tahun pernikahan kita," pinta Duta pada Yumna, istrinya.
"Tapi ... Yumna mau KKN, semester depan, Kak," ucap Yumna lirih. Mana mungkin Yumna KKN dalam keadaan hamil, tentu tidak boleh.
"Kalau memang hamil, jangan ambil KKN dulu, nunggu lahiran aja. Kamu bisa fokus sama kuliah dan ngulang aja mata kuliah yang nilainya kurang baik. Baru semester depannya ambil KKN dan skripsi bersamaan," titah Duta memberikan solusi.
"Kakak mau Yumna cepet -cepet punya anak?" tanya Yumna dengan tatapan sendu.
Duta menghentikan langkahnya dan mengusap pipi Yumna dengan ibu jarinya dan merapikan kunciran asal itu ke belakang punggung Yumna.
"Kalau kamu belum ingin, Kakak gak masalah kok. Kalau kamu mau fokus kuliah dulu, Kakak akan dukung itu, dan kalau kamu ingin menjadi wanita karir, kakak akan tetap support. Tapi, kembali lagi Na. Kamu itu perempuan, kamu itu istri, suatu hari kodrat kamu akan menjadi ibu. Siap atau gak siap, kita pasti akan memiliki anak, kecuali kamu tak pernah menginginkan kehadirannya," ucap Duta lirih.
"Ekhemmm ... Bukan gak mau, tapi belum siap kak. Yumna takut gak bisa ngurus dan malah menelantarkan," ucap Yumna pada Duta.
"Kita belajar bersama mengurus anak. Mumpung kita muda, biar kita semangat kerja. Suami yang seharusnya bekerja, bukan istri. Kakak mau buat aturan untuk kamu. Kamu boleh bekerja, asal waktu kerjamu tidak melebihi waktu kerja Kakak. Lalu, jika kakak atau anak kita sakit, kamu bersedia ijin atau cuti dan mengurus kita. Kamu sanggup?" tanay Duta pada Yumna yang tertegun mendengarnya.
Pupus sudah harapan Yumna untuk menjadi wanita karir. Arsitek muda, cantik, hebat, selalu ada dalam bayangannya. Itu impian dan keinginan yang ingin di wujudkan Yumna.
__ADS_1
"Bingung? Bimbang? Apa dilema?" tanya Duta kembali saat melihat Yumna menatap dirinya tanpa berkedip.