
Lukas menatap Asma dengan tatapan sinis. Sejak dulu hingga sampai saat ini, tak sedikit pun Lukas bisa peduli dengan Asma. Walaupun dalam wasiat itu jelas, Lukas harus menikahi Asma.
"Aku tidak pernah lupa pada apapun Asma. Tapi aku juga tidak bisa berbohong jika Yumna masih aku prioritaskan di hati dan di pikiran ku, Asma. Jadi maaf jika kamu tersakiti soal ini. Ini semua bukan inginku, aku sudah berusaha melupakan gadis itu. Semakin aku lupakan, bayangan Yumna terus menari di alam mimpiki setiap malam, seolah ia masih membutuhkan aku untuk menjaganya, Asma," ucap Lukas sambil menatap ke arah luar jendela. Lukas berusaha tegar.
Asma menundukkan kepalanya dan sesekali menyeka air matanya yang turun ke pipi. Rasanya ternyata sesakit ini emncintai seseorang yang tak pernah balik mencintainya dan malah mencintai orang di masa lalunya yang tak mungkin lagi bisa di dapatkan. Cinta ini gila dan memang buta.
"Kalau memang tidak mungkin untuk bersama. Aku akan pergi dan menjauh darimu Lukas. Mungkin sampai di sini pengabdianku untuk merawat kamu," ucap Asma lirih dan meninggalkan Lukas sendirian di ruangan itu. Asma pergi menuju kamar tidurnya dan mengunci kamar itu lalu menanagis dengan teriakan yang ertahan dan memukul -mukulkan kepalan tangannya di kasur.
Hatinya bukan lagi hancur tapi juga ini sangat emnyakitkan sekali.
***
Yumna sudah berada di apartemen miliknya. Kembali beraktivitas seperti biasa.
"Kok melamun sih? Masih kepikiran sama Kak Duta?" tanya Bunda Sinta yang datang membawakan segelas susu putih untuk Yumna.
"Masih Bunda. Ponselnya beneran sudah gak aktif lagi. Ini Yumna telepon sudah tidak tersambung lagi," ucap Yumna lirih.
"Mungkin Kak Duta lagi gak mau di ganggu, Na. Ini minum dulu. Ohh ya ... Liburan semster ke Bali ya?" pinta Bunda Sinta pada Yumna.
"Ke Bali?" jawab Yumna terasa enggan dan malas.
__ADS_1
"Kamu kan ulang tahun, Sayang. Bunda udah sewa tempat buat acara ulang tahun kamu," pinta Bunda Sinta denagn nada memohon.
Yumna meneguk susu putihnya dan menghabiskan hingga gelas itu kosong.
"Lihat nanti ya Bun. Yumna mau fokus kuliah," ucap Yumna.
"Ya sudah terserah kamu saja. Bunda juga gak mau memaksa. Sekarang kamu istirahat biar besok tubuh kamu semakin baik lagi," pinta Bunda Sinta pada putrinya lalu mengecup kening Yumna dan menutup tubuh Yumna dengan selimut.
***
Beberapa hari kemudian ...
Yumna yang sudah semakin sehat mulai kembali ke Kampus. Sudah dua hari ini, Yumna tinggal sendiri lagi di apartemen. Bunda Sinta dan kedua kakak Yumna telah kembali ke Bali untuk melnajutkan usaha mereka.
"Pak ... Boleh lihat daftar wisuda bulan depan?" tanya Yumna dengan sopan.
"Wah gak bisa Mbak. Sudah tutup kemarin, dan berkasnya sudah di berikan pada panitia yang mengurus wisuda," ucap seorang Bapak tua yang sudah lama bekerja di bagian pengajaran.
"Yah telat dong. Bapak lihat ada nama Duta di sana gak?" tanya Yumna tidak mau menyerah masih mencoba mencari celah.
"Ya ampun Mbak. Mana Bapak ingat satu per satu nama mahasiswanya. Mbak saja sering kesini, Bapak gak pernah ingat nama Mbak," ucap Bapak itu tersenyum tulus.
__ADS_1
"Ohhh gitu ya Pak. Ya sudah Pak, terima kasih," ucap Yumna lirih. Rasanya semuanya sia -sia. Yumna kembali keluar dan berjalan menuju papan pengumuman mungkin saja di sana akan ada sesuatu yang menarik atau informasi penting.
Yumna mulai melihat satu per satu informasi penting di papan pengumuman itu. Mulai dari nilai kuis hingga nilai tugas dari beberapa dosen pengampu mata kuliah. Tidak hanya itu saja pengumuman tentang lowongan pekerjaan atau siapa saja yang lulus tes serentak untuk masuk ke perusahaan tertentu. Informasi tentang beasiswa dan jam kosong atau pengunduran waktu kuliah.
"Hah? Pak Jarot malah masuk jam delapan? Udah dateng pagi -pagi malah gak ada," ucap Yumna pada dirinya sendiri dengan kesal.
Yumna tak menemukan apapun di sana dan berjalan menuju kantin kampus. Kalau bosan nanti ke Perpustakaan.
"Yumna!!" panggil seseorang dengan suara keras dari arah belakang Yumna. Suara itu suara laki -laki yang tak asing lagi di telinganya.
"Lukas?! Lukas!!" teriak Yumna sambil berlari menghampiri Lukas.
"Apa kabar?" tanya Lukas pelan pada Yumna dan melepas kaca mata hitam untuk melihat senyum manis gadis yang telah lama ia cintai.
"Baik. Kamu gimana kabarnya? Sudah lama kamu menghilang. Kamu mulai kuliah lagi?" tanya Yumna pada Lukas.
"Ini buat kamu," ucap Lukas memberikan buket mawar merah yang cantik. Tapi buket ini berbeda dari buket yang dua kali di terima Yumna. Memang sama -sama buket mawar merah tapi sepertinya dari toko yangberbeda.
Yumna meneriam buket mawar merah itu dengan senyum lebar.
"Makasih ya, Kas. Kamu selalu ingat apa ynag Yumna suka," ucap Yumna sambil mencium buket mawar mearh itu.
__ADS_1
"Bukan selalu, tapi tidak pernah terlupakan sedikit pun. Sarapan yuk? Biar ngobrolnya enak," pinta Lukas pada Yumna yang masih tersenyum manis pada Lukas. Yumna mengangguk setuju dengan ajakan Lukas lalu keduanya berjalan menuju kantin kampus.
Satu pasang telinga mendengar pembicaraan kedua sahabat itu. Ada rasa cemburu tapi, semua ini harus ia ikuti karena suatu perjanjian.