Duta & Yumna

Duta & Yumna
36


__ADS_3

Duta melirik ke arah belakang Yumna dan menatap dokter Asmah.


"Dokter Asmah?!" ucap Duta.


"Hai pasien" jawab Asmah ikut tertawa lucu.


Duta menatap Yumna dan tersenyum lalu mengecup pipi Yumna denagn cepat.


"Yuk, Kita ngobrol bareng sama dokter Asmah," titah Duta pada Yumna.


Yumna mengangguk setuju dan membalikkan tubuhnya yang masih dalam rangkulan Duta. Duta pun membukakan kursi untuk Yumna dan keduanya duduk bersampingan.


"Ini dokter Asmah. Dokter yang membantu kesembuhan Kakak," ucap Duta dengan binar bahagia pada Yumna.

__ADS_1


"Iya. Yumna tahu, tadi Kak Asmah sudah memperkenalkan diri," ucap Yumna yang merasa canggung.


"Apa kabarnya Duta? Aku pun sudah menikah dengan Lukas," ucap Asmah menjelaskan.


"Wah ... Selamat ya. Semoga bahagia selalu," ucap Duta ikut bahagia.


"Aamiin. Tapi sayangnya, Lukas masih mencintai gadisnya yang dulu," ucap Asmah sedikit kecewa dan melirik ke arah Yumna.


Duta menatap Asmah beralih memandang ke arah Yumna, istrinya.


Duta tahu, Yumna sedang bingung saat ini. Tuduhan Asmah baru saja secara tidak langsung untuk dirinya yang memang dekat dengan Lukas sejak semester satu yang lalu.


Yumna menarik bibirnya dan menagngguk kecil. Tangan Yumna juga ikut membalas genggaman Duta yang sudah meremasnya sejak tadi agar Yumna tetap tenang dan tidak terlalu memikirkan ucapan Asmah.

__ADS_1


"Kalian sudah bahagia. Sudah bertemu, usdah saatnya, aku juga hidup bahagia bersama suamiku, Lukas," ucap Asmah seolah meminta tolong agar Duta dan Yumna bisa membantunya.


"Maaf jika masa lalu masih membayangi Lukas. Nanti, biar aku bicara baik -baik dengan Lukas," ucap Duta menjelaskan. Sebagai ucapan terima kasih Duta kepada Asmah, tidak ada salahnya jika Duta dan Yumna menjelaskan hal ini dengan baik pada Lukas.


"Terima kasih Duta, Yumna. Maaf kalau kehadiranku sempat emmbuat Yumna kaget," ucap Asmah sedikit terkekeh.


"Ya. Gak apa -apa Kak Asmah. Yumna hanya merasa aneh saja. Kak Duta tidak pernah memeluk wanita lain," ucap Yumna sedikit cemburu.


"Sayang ... Lihat kedua mataku itu masih menatap kosong ke depan. Saat itu, Asmah bialng, dia sudah menemukan donor mata untuk Kakak. Ya, awalnya Lukas yang akan mendonorkan kedua matanya untuk Kakak. Lukas terpuruk saat ginjalnya mulai tidak berfungsi satu dan yang satunya lagi juga sudah mulai tidak bisa berfungsi dengan baik. Saat itu, Kakak hanya berpikir, baik sekali Lukas pada Kakak. Alasannya agar kedua mata itu menjadi kenangan dan masih bisa di gunakan untuk menatap kamu, sayang. Tapi, takdir berkata lain dan perjalanannya menjadi berbeda," ucap Duta begitu sendu dan lirih.


Setahun terakhir kehidupannya seperti berhenti. Namun sinar kebahagiaan kembali muncul disaat yang tepat.


"Ja -jadi, Lukas sudah mau memberikan kedua matanya untuk Kakak? Pantas terakhir dia akan pergi, dia bilang ini pertemuan terakhir. Entah apa maksudnya dan ternyata Yumna masih bisa ketemu lagi dnegan Lukas dengana sikap yang jauh berbeda," ucap Yumna merasa kecewa dengan Lukas.

__ADS_1


Duta mengusap pelan kepala Yumna. "Jangan benci dia. Dia sebenarnya orang baik. Mungkin kita perlu membantu dia untuk bersyukur mendapatkan perempuan sebaik dan sehebat Asmah." Duta melebarkan seneyumnya dan menarik tubuh Yumna kembali dalam pelukannya.


Suatu pelajaran berharga untuk di renungi. Tidak ada yang sama, dan tidak akan pernah ada yang abadi. Seseorang bisa berubah sikapnya kapanpun karena tujuan tertentu. Tapi, alangkah baiknya tetap berbaik sangka hingga semua terbongkar dengan caranya sendiri tanpa harus menggali lebih dalam di waktu yang belum tepat, karena akan menimbulkan luak dan sakit hati.


__ADS_2