
Sepeninggal dokter itu, Duta duduk termenung menunggu Yumna bangun. Kedua matanya tak lepas menatap Yumna yang masih tergolek lemah di kasur. Sup jagung buatan Duta juga masih ada di atas nakas dan belum tersentuh sedikit pun. Mungkin sup jagung itu sudah dingin, udang goreng tepungnya juga sudah tak renyah lagi.
"Kakak harus bagaimana Na? Jiwa kakak memang tak bisa lepas untuk berbuat sosial. Tapi, aku juga tidak mau melihat kamu seperti ini setiap hari. Kenapa kamu tak pernah bisa jujur dengan dirimu sendiri? Dengan kakak? Berbagilah Na? Suka dan duka seharusnya kita jalani bersama. Kakak harus bagaimana!! Arghh!!" teriak Duta tanpa sadar dengan suara keras dan lantang membuat Yumna menggerakkan tubuhnya dan mulai mengerjapkan kedua matanya.
Kedua bola mata Yumna mulai bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Kak? Kakak ... Kak Duta," panggil Yumna lirih.
Duta mendengar namnay di panggil dan menatap ke arah Yumna yang kini sedang menatapnya. Tatapannya begitu sendu, kedua matanya tidak membuka dengan sempurna. Yumna memang lemah dan sedang sakit.
"Sayang? Kamu sudah bangun?" teriak Duta dengan wajah sumringah lalu berlari ke arah Yumna dan duduk di tepi ranjang mencium kening Yumna lalu memegang erat tangan Yumna yang masih terasa dingin. Tubuh Yumna masih menggigil, mungkin memang Yumna butuh istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi dan bahagia, ini adalah yang paling penting.
Duta menciumi punggung tangan Yumna berulang kali, Duta sangat senang melihat Yumna sudah bisa membuka kedua matanya.
"Makan dulu yuk? Kakak masaka sup jagung, tapi kayaknya sudah dingin. Atau kamu mau makan sesuatu biar Kakak belikan? Atau mau makan di luar? Tapi harus mau makan biar sembuh," pinta Duta dengan suara lembut.
"Lihat senyum Kakak saja, Yumna sudah kenyang. Gak ada lagi rasa lapar," jawab Yumna sambil tersenyum lebar.
"Masi bisa bercanda ya, istri Kakak ini. Mulai nakal dan suka godain Kakak ya. Kamu ini sakit sayang. Kamu harus banyak makan, banyak istirahat, minum obat dan jangan pusing mikirin tugas. Biar nanti Kakak bantu kerjakan," ucap Duta pelan sambil mengecup bibir Yumna yang kering.
"Mau janji sama Yumna?" tanya Yumna pada Duta yang membuat Duta bingung. Janji soal apa ini? Apa jangan -jangan Yumna mendengar semua yang di bahas teman -temannya tadi siang? jantung Duta ikut terpacu dan ada rasa bersalah terhadap Yumna.
"Janji soal apa? Kalau soal menemani kamu dan menjaga kamu, tentu Kakak akan lakukan semuanya demi kamu, sayanga," ucap Duta berusaha tenang dan santai sambil menoel hidung Yumna.
Yumna menggelengkan kepalanya pelan sambil melebarkan senyumnya. Justru itu mmebuat Duta semakin panik. Pikiran Duta mulai ke arah masalah kampus. Pasti itu! terka Duta dengan sangat yakin sekali.
__ADS_1
"Kenapa Kak Duta malah berpikir ini soal hubungan kita? Ini sama sekali bukan tentang kita, walaupun memang saling berkaitan," ucap Yumna lirih.
"Lalu? Soal apa?" tanya Duta masih bisa mengontrol rasa cemasnya.
"Yumna mau ke Paris, mau naik kereta gantung, mau main salju," ucap Yumna denagn wajah tersenyum bahagia dan kedua matanya berbinar indah.
"Paris? Kamu mau liburan, Sayang? Honeymoon kita yang tertunda ya? Sekalian kita fokus untuk membuat baby Tana," ucap Duta lembut sambil menjawil dagu Yumna dengan gemas.
"Kok baby Tana? Memang aank kita perempuan?" tanya Yumna bingung.
"Bukan sayang. Masalah gender bagi Kakak tidak ada bedanya, mau perempuan mau laki -laki atau kembar sekali pun. Itu amanah terindah untuk kita kan? Baby Tana itu, baby dari Papata, alias Papah Duta, dan Mamana, Mama Yumna," ucap Duta terkekeh membuat Yumna juga spontan tertawa. Anhe -aneh saja suaminya ini. Bisa -bisanya ikutan yang viral.
"Ya ampun Kak. Bisa -bisanya sih dapet yang begituan. Aneh tahu gak?" ucap Yumna kesal.
"Liburan semester. Gak usah lama -lama, sebentar saja. Tiga hari juga cukup," ucap Yumna dengan senyum sumringah. Sepertinya Duta akan mewujudkan keinginannya.
"Kita liburan kesana, setelah ujian terkahir semester kamu. Nanti kita ikut travel honeymoon aja," ucap Duta tanpa menyia -nyiakan keinginan Yumna yang tiba -tiba itu.
"Serius Kak? Kakak mau bawa Yumna ke Paris? Kita naik ke menara eiffel terus menginap di hotel yang viewnya menghadap kesana. Terus naik kereta gantung, pokoknya jalan -jalan dan kuliner," ucap Yumna dengan arsa bahagia sekali.
"Serius sayang. Kita pergi kesana, tapi sekarang kamu harus makan, dan Kakak mau beli vitamin buat kamu, biar kamu tetep sehat dan bisa negrjain tugas," pinta Duta sedikit berbohong soal vitamin. Padahal Duta ingin menebus resep obat yang di berikan oleh dokter pribadinya.
Yumna mengangguk kecil, "Yumna mau makan sapo tahu boleh? Sekalian nanti beli vitamin?" Yumna menatap ke arah Duta.
"Kamu mau ikut sayang? Sup jagung Kakak gak ada yang makan dong? Gini aja, Kakak hangatkan sup jagungnya nanti kamu icip sedikit. Lalu kita pergi. Kalau kamu gak mau makan, kamu lemas nanti. Gimana?" ucap Duta pada Yumna.
__ADS_1
"Iya deh. Boleh. tapi Kak, tugas Yumna belum selesai. Gimana?" tanya Yumna menatapke arah Duta.
"Maksudnya Kakak harus bantu kamu kan? Memang tugasnya apa sih?" tanya Duta lembut.
"Bikin gambar tema pusat perbelanjaan berlantai tujuh. Tanpa ada eskalator semuanya menggunakan lift atau tangga darurat," uca Yumna memberikan kisi -kisinya.
"baiklah nonan cantik. Sekarang ijinkan suami kamu yang ganteng ini menghangatkan sup jangungnya," ucap Duta terkekeh.
"Uluhh ... suami ganteng gak tuh?" ucap Yumna terkekeh.
"Kalau Kakak gak ganteng, Kamu pasti gak mau, Na," ucap Duta mengulum senyum.
"Uhhh ... Sok tahu banget sih. Apapun kondisi Kakak, gimana pun Kakak sekarang. Yumna tetep cinta, tetep sayang. Pernah Yumna pergi dari Kakak? Ada juga Yumna nangis saat Kakak tidak menghubungi Yumna," ucap Yumna denagn wajah kecewa.
"Suttt ... Udah ya, jangan bahas itu lagi. Kakak gak mau denger kamu bahas ini. Intinya sekarang kita sudah bersama dan hidup bareng. Kakak hanya ingin akmu sellau terbuka dan jujur tanpa ada rahasia," ucap Duta tegas sekaligus memberikan sedikit nasihat agar terlihat permintaan Duta itu natural sekali.
"Iya Kak. Ekheemmm ... Kakak lagi ada prooyek apa sama temen -temen mantan anggota BEM angkatan Kakak?" tanya Yumna penasaran. Ini yang sejak siang ingin di ketahui Yumna.
"Ohh soal itu. Cuma lagi penegn kumpul aja. Gak lebih. Kakak panasin dulu sup jagungnya ya. Nanti kita ngobrol lagi, sambil Kakak suapin," ucap Duta pada Yumna dan bergegas pergi dengan nampan di tangannya.
Rasanya tidak mungkin Duta bicara jujur soal masalah kampus yang sedang ingin di tinjau oleh Duta bersama etamn -temannya. Masalah ini saling berkaitan dan tak mungkin di diamkan. Satu per satu scenenya jadi jelas. Bisa jadi, soal Atika, Alice dan Yoshia semua itu juga kena jebakan betmen dari satu orang yang memang ingin emngadu domba. Bima? Kini tersangka yang jelas -jelas memiliki banyak bukti bersalah. Jangankan itu Duta melihat jelas dengan ekpalanya sendiri, bagaiman Bima ingin menggagahi Yumna namun terselamatkan.
Sepertinya harus mencari tema lain agar Duta selamat malam ini dari cecaran pertanyaan Yumna yang tak mungkin ia jawab dengan sebenarnya.
Duta menghangatkan semua makanan termasuk susu putih Yumna dan emmbawa kembali ke dlaam kamar untuk menyuapi Yumna.
__ADS_1