Duta & Yumna

Duta & Yumna
76


__ADS_3

Yumna sudah bersiap diri. Setelah mandi, Yumna memakai pakaian terbaik dan merias wajahnya hingga terlihat cantik.


Duta menunggu Yumna di bawah sambil berbicara serius denagn Bunda Sinta dan Kak Jone soal keinginannya tadi.


"Kak Duta ... yumna sudah siap," ucap Yumna dengan wajah sumringah dan senyum termanis.


Yumna menghampiri Duta dan ikut duduk di samping Bunda Sinta dan Kak Jone.


Duta menatap sang istri dengan takjub. Semakin hari, Yumna malah semakin cantik dan dirinya semakin jatuh cinta pada istri kecilnya itu.


"Cantik banget sih anak gadis Bunda. Mau kemana?" tanya Bunda Sinta seolah belum tahu.


"Gak tahu Bun. Kak Duta yang ajak Yumna. Yumna boleh pergi kan?" tanay Yumna sedikit manja.


"Tentu boleh dong sayang. Kalau perginya sama Duta, Bunda pasti akan ijinkan. Kalau perginya dengan yang lain, Bunda gak akan pernah ijinkan," ucap Bunda Sinta tegas dengan tatapan lekat.


"Uhh Bunda. Terima kasih Bunda," ucap Yumna sambil memeluk Bunda Sinta.


"Memangnya mau di ajak kemana Ta?" tanya Bunda Sinta basa basi.


"Ekhemm itu Bunda, Tadi Yumna mau es krim, terus sekalian mau cari gaun cantik buat Yumna untuk acara wisuda Duta, lusa," ucap Duta menjelaskan.


"Arghhh ... Iya, Kak Duta lusa wisuda ya. Yumna ikut datang?" tanya Yumna bingung.


"Tentu harus hadir dong sayang. Kan, Kakak sudah siapkan kursi khusus untuk kamu di acara wisuda itu karena memang Kakak pesan undangan khusus untuk kamu," ucap Duta dengan wajah berbinar.


Yumna tersenyum lebar mendengar penuturan Duta yang telah mempersiapkan kursi khusus untuk dirinya.


"Kursi khusus? Berarti Yumna nanti duduk di dalam sama Bunda Gita dan Papahnya Kak Duta," tanya Yumna pada Duta.


"Iya Na. Karena kamu juga spesial dan sangat berarti buat Kakak," jawab Duta singkat.

__ADS_1


"Ekhemmm ... Udah -udah bucinnya. Jiwa jomblo gue bisa hanyut. Udah jadi mau jalan gak?" tanay Jone yang mulai kepanasan melihat adegan sedikit mesra itu.


"Ihh ... Kak Jone, apaan sih," ucap umna kesal.


"Yuk Na. Bunda, Kak Jone, Duta dan Yumna pamit dulu mau pergi," ucap Duta sopan.


"Iya Ta. Hati -hati ya," titah Bunda Sinta menasehati.


"Jagain adek gue dengan bener. Awas kalau kenapa -kenapa lagi," ancam Kak Jone pada Duta.


"Siap kak, permisi," pamit Duta lalu mencium punggung tangan Bunda Sinta dan Kak Jone lalu menggandeng Yumna menuju mobilnya.


Duta membukakan pintu mobilnya lalu mempersilahkan Yumna masuk ek dalaam mobilnya.


"Silahkan masuk taun puteri Yumna," goda Duta dengan senyum manis.


"Salfok nih sama tuan puterinya," ucap Yumna terkekeh.


"Kok salfok sih? Terus apa dong? Bidadari Yumna?" tanya Duta mengulum senyum.


"Kalau jadi istri Kakak mau?" tanay Duta pada Yumna.


Yumna tercengang dan menatap Duta denagn lekat. Wajahnya berseri merah ada rasa senang dengan permintaan Duta barusan, tapi itu juga harus ada persetujuan dari Bunda dan Ayahnya serta kedua Kakaknya.


"Kenapa? Kaget? Atau gak mau?" tanya Duta cemas dengan jawaban Yumna.


"Mau Kak. Tapi, bukannya Yumna harus tanya Bunda dan Ayah," ucap Yumna pelan.


"Iya. Nanti Kakak bilang sama Bunda dan Ayah, kalau Kakak mau melamar kamu," ucap Duta dengan senang. Setidaknya, Yumna mau ia nikahi dalam waktu dekat.


Sudah lama sekali rasanya keduanya tidak melakukan aktivitas yang hanya di lakukan berdua saja, seperti saat ini, mereka berjalan -jalan di pagi yang cerah hanya untuk mencari tempat penjual es krim, duduk bersama dan mengobrol. Hal itu saja sudah membuat Yumna senang.

__ADS_1


Mobil Duta sudah parkir di depan kedai es krim yang sering mereka kinjungi sejak SMA. Ini adalah tempat favorite mereka untuk nongkrong berdua.


"Ayo turun bidadarinya Duta," ucap Duta sambil membuka pintu mobil untuk Yumna.


"Treima kasih calon suami," kekeh Yumna menggoda Dutaa.


"Tadi bilang apa?" tanay Duta meminta Yumna untuk mengulang sambil menole pipi Yumna dengan gemas.


"Calon suami," ucap Yumna mengulang tanpa berdosa.


"Sudah siap? Jadi istri Kakak kan?" tanya Duta dengan serius.


"Siap gak siap," ucap Yumna lirih.


"Kok jawabnya ambigu gitu? Siap gak siap?" tanay Duta lembut.


"Nunggu keputusan Ayah dan Bunda," jawab Yumna singkat.


Duta menagngguk paham. Hanaya itu yang Yumna mau, agar Duta secepatnya meloloskan drama kali ini.


"Ya sudah, yuk masuk ke dalam. Bidadarinya Duta mau makan es krim apa?" tawar Duta pada Yumna yang masih bingung melihat semua jenis es krim yang terpampang di etalase besar.


"Enak semua Kak," jawab Yumna bingung. Kedua matanya mengerjap indah, arsanya ingin di beli smeua es krim itu.


"Pilih yang kamu suka. Atau mau di campur? Rainbow juga ada," tawar Duta menunjuk menu baru. Ada Rainbow buah, rainbow cokelat, rainbow cake dan rainbow lolipop.


"rainbow? Apa bedanya?" tanay Yumna menatap menu baru itu.


"Ohh itu, setiap jenis rainbow ada lima rasa kak, tapi sejenis. Rainbow buah ya semua jenis rasa buah, kalau cake, ya yang berhubungan denagn cake, begitu juga dengan cokelat dan permen. Sudah ada kelompoknya masing -masing," jelas pelayan itu pada Yumna.


"Wuhhh ... Lima rasa? Boleh juga. Yumna mau rainbow cake. kak Duta mau apa? Rainbow cokelat ya. Biar Yumna bisa icip," pinta Yumna dengan nada memohon.

__ADS_1


"Boleh. Kita ambil tiga ya, sama rainbow buah? Gimana? Kita makan bareng -bareng," tawar Duta pada Yumna.


"Iya Kak," jawab Yumna sennag sambil memegang tangan Duta spontan. Yumna begitu sumringah kalau keinginannya terkabul.


__ADS_2