Duta & Yumna

Duta & Yumna
98


__ADS_3

Yumna terdiam di sepanjang jalan menuju pulang ke rumah sambil menikmati es krim yang ia beli tadi. Duta sendiri sibuk denagn ponselnya dan sesekali menelepon temannya untuk pekerjaan besok yang ternyata harus di persentasikan sore hari.


Sesampai di rumah, Yumna langsung mengganti pakaiannya dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan Duta menutup semua pintu dan mengunci lalu menutup hordeng dan emmatikan lampu di ruangan depan. Saat masuk ke ruangan tengah, Duta melihat Yumna, istrinya duduk termenung dan sepertinya sedang ada masalah yang di pikirkan.


"Heiii ... Kesayangannya Kakak. Kenapa cemberut? Orang hamil gak boleh banyak melamun apalagi cemberut. Bisa -bisa bayinya ikut cemberut juga," ucap Duta menyentuh tangan Yumna dan memegang erat tangan itu lalu di cium dengan penuh kasih sayang.


Yumna menatap Duta, suaminya lalu berusaha tersenyum secara paksa.


"Lagi mikirin apa sih?" tanya Duta sambil memegang pipi Yumna. Tangan Duta lalu merapikan rambut panjang Yumna dan menyelipkan beberapa helai rambut yang menutup wajah Yumna.

__ADS_1


"Kok diem? Cerita aja? Kalau ada sesuatu yang mengganjal atau mungkin kamu gak suka sama kampusnya? Kita bisa cari kampus lain yang penting kamu itu nyaman, Na. Jangan sampai, kamu jalanin dengan rasa tidak nyaman. Kakak ijinkan kamu kuliah karena kamu yang ingin. Klaau Kakak sejujurnya ingin kamu di rumah saja. Mengurus rumah dan menunggu Kakak pulang kerja. Biar kamu tetap aman selama kehamilan kamu. Tapi, Kakak juga gak mau egois kan? Kakak mau kamu juga ikut terlibat aktif mengungkapkan setiap keinginan kamu," imbuh Duta pada Yumna.


Yumna menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Yumna gak apa- apa, Kak. Mungkin Yumna lelah saja seharian ini berada di luar rumah, denagn cuaca dan kondisi yang agak berbeda jadi agak bikin Yumna kurang bisa beradaptasi dengan cepat," uxcap Yumna berbohong.


"Yakin? Kamu gak lagi bohongi, Kakak? Benar tidak ada masalah yang sdenag kamu pikirkan? Kakak kenal kamu sudah lama Na. Kalau ada yang kamu sembunyikan dari Kakak, tentu Kakak akan tahu," ucap Duta pada Yumna.


"Oke. Kamu sekarang tiduran. Biar Kakak pijat kaki kamu, biar lelahnya hilang. Kakak mau ganti baju dulu, lalu buatkan susu untuk anak kita. Tidurlah dulu," titah Duta pada Yumna. Yumna langsung mengangguk setuju tanpa banyak bicara. Lebih baik Yumna ikuti keinginan Duta, agar Duta tidak curiga dengan apa yang saat ini ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Yumna merebahkan tubuhnya. Punggungnya saat mengenai kasur begitu terasa sangat nyaman sekali. Duta mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Lalu pergi menuju dapur untuk membuatkan Yumna susu hamil.


Duta kembali dengan segelas susu strawbery hangat untuk istrinya. Lalu meletakkan di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mulai memijat kaki Yumna yang sejak tadi menatap suaminya.


"Kak ... Yumna gak apa- apa. Kakak juga capek bekerja seharian. Sekarang malah ngurusin Yumna," ucap Yumna pelan.


"Kamu itu istri Kakak, tanggung jawab Kakak. Jadi jangan berpikiran kalau ini terasa tak adil. Malah Kakak yang bersyukur banyak memiliki istri seperti kamu, Na. Kamu mau mandiri dan kakak ajak hidup sederhana seperti ini. Kakak malah merasa belum bisa membahagiakan kamu," ucap Duta menjelaskan.


"Tapi Kak ...," ucapan Yumna terhenti saat Duta menutup bibir Yumna dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Jangan jawab apapun juga. Ini bukti tanggung jawab Kakak sebagai suami. Minum dulu susunya, biar anak kita sehat, sayang," ucap Duta pada Yumna.


Yumna mengangguk kecil dan bangkit untuk duduk tegak dan menerima segelas susu hamil buatan suaminya. Memang benar, semua yang yang di buat suami itu terasa begitu enak dan membuat hatinya senang. Perutnya terasa bergerak karena terisi susu hangat itu. Usia kandungannya masih trisemester pertama. Perutnya pun masih terlihat rata. Tapi, Yuman bisa merasakan ada kehidipan di dalam tubuhnya itu.


__ADS_2