
Arsista hanya bisa diam dan menatap Nick dengan rasa tak percaya. Arsista pikir selama ini Nick adalah orang baik dan tidak akan pernah bepikir untuk balas dendam. Ternyata dirinya salah. Semua kejahatan yang ia lakukan bersama Papahnya di ungkit habis dan tuntas di selesaikan oleh Nick. Nick memang mencari semua kesalahan yang pernah Arsista lakukan terlebih kejadian yang berkaitan dengan Yumna, sahabatnya.
Nick sudah berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar khusus itu dan Arsista berteriak keras.
"Bunuh aku saja secepatnya Nick!! Biar aku bisa menyusul Papahku!!" ucap Arsista dengan suara keras sekali.
Nick menoleh ke arah Arsista dan menatap tajam ke arah dua bola mata yang terlihat sednu dan penuh amarah.
"Tidak smeudah itu Sista! Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Kalau memang ingin aku lakukan aku bisa sewa pembunuh bayaran untuk membunuhmu saat ini juga. Tapi aku ingin melihat kamu mati perlahan dan tersiksa karena merasakan sakit. Kamu tahau, Yumna adalah sahabatku. Dia wanita yang baik dan sampai saat ini aku mencintainya. Tapi setelah aku tahu, dia sudah menikah. Aku tak lagi mencari tahu tentang dirinya tapi aku menjaganya dari jauh agar ia tetap bahagia dengan pilihannya dan hidupnya," ucap Nick dengan penuh kejujuran. Ketulusan cinta Nick untuk Yumna bukan untuk menyakiti gadisnya tapi ingin selalu membuat gadis yang selalu ia cintai itu tersenyum dan tidak menangis.
__ADS_1
"Aku tidak mau bodoh sepertimu Nick. Tidak ada cinta yang tak harus memiliki. Bagiku cinta itu harus dimiliki. Apapun caranya," ucap Arsista beragumen.
"Silahkan. Itu pilihanmu. Nikmati saja cintamu yang tak pernah berbalas itu!!" ucap Nick denagn suara keras dan emmbanting pintu ruangan itu.
Nick berjalan menuju kamar pribadinya dan emrebahkan tubuhnya lalu menatap ke arah langit -langit kamarnya.
Pikiran Nick saat ini hanya tertuju pada Yumna. Andai saja, di dunia ini ada gadis yang mirip seperti Yumna, Nick tidak akan menyia -nyiakan seperti waktu itu dan langsung akna menikahi. Ternyata terlambat selangkah berakhir duka lara yang begitu lama. Sampai saat ini Nick masih belum bisa melupakan Yumna.
"Ini Kak ... Minum dulu," titah Yumna pada Duta.
__ADS_1
Duta mendongak kepalanya dan emnatap senyum amnis istrinya dengan pakaian tidur yang nampak seksi dengan segelas kopi yang sudah di letakkan di atas meja kerja Duta.
"Sayang ... Ini sudah larut malam. Kok belum tidur sih? Bukannya tadi sudah tidur?" ucap Duta pelan.
Yumna berjalan meendekati Duta dan duduk di pangkuan Duta. Semakin besar kandungan Yumna, semakin manja pula Yumna pada suaminya itu.
"Tadi kebangun. Terus nyelesein gambar dikit lagi. Terus bikin kopi buat Kak Duta. Tadi pas lewat lagi serius banget. Capek ya, Kak? Kerja terus, lembur terus," ucap Yumna pada Duta sambil merapikan rambut Duta yang berantakan karena tarikan jari -jarinya kalau penat melanda otaknay.
Duta memeluk tubuh Yumna dan menatap istrinya lekat penuh cinta.
__ADS_1
"Kakak kan sudah punya tanggung jawab sekarang. Bukan hidup sendiri tapi ada kamu dan anak kita yang bakal lahir. Keduanya jadi penting dan harus di prioritaskan kebahagiaannya. Kerjaan Kakak masih dalam tahap wajar kok. Belum begitu melelahkan. Kalau lelah tinggal ke kamar lihat kamu tidur pulas sambil mengusap perut kamu, rasanya lega sekali bisa membuat istri masih bisa nyaman tidur dan kenyang dari hasil jerih payah Kakak. Kamu bahagia kan, sayang?" ucap Duta mengecup pipi Yumna yang semakin terlihat tembem dan menggemaskan.