Duta & Yumna

Duta & Yumna
13


__ADS_3

Duta dan Yumna mulai tenang. Kini saatnya Yuman mendengarkan cerita panjang lebar Duta, kenapa keadaannya bisa sampai begini.


Duta meminta Yumna duduk di pangkuannya, selain Duta ingin bebas memeluk tubuh Yumna, ia juga melatih otot lututnya dengan adanya beban di atas pahanya. Mungkin dengan begini reaksi dan respon otot lututnya akan sedikit berbeda.


Yumna beringsut naik ke atas paha Duta dan duduk manis sambil menyandarkan tubuh mungilnya di tubuh Duta. Duta sama sekali tak keberatan baahkan Duta senang dengan perlakuan manis Yumna. Duta benar -benar rindu pada istri kecilnya. Enam bulan itu waktu yang lama jika tak bertemu, apalagi bagi pasanagn muda yang baru saja menikah seperti Duta dan Yumna. Gelora kemesraan mereka itu kan baru tinggi -tingginya tapi harus di batasi oleh ruang dan waktu.


Yumna mulai terbiasa denagn kondisi Duta yang tak lagi bisa menatapnya. Duta tak lagi bisa melihat senyum manisnya, kedipan mata Yumna, dan candaan yumna yang sering membuat Duta tertawa. Duta hanya bisa mengingat semua wajah dan sneyuman manis istrinya dan emncium aroma wangi khas istrinya serta memeluk raga istrinya itu secara nyata.


Betapa beruntungnya, Duta memiliki Yumna yang begitu mencintainya dan setia. Apapun masalah yang mereka hadapi, yumna tak pernah pergi meninggalakna Duta, walaupun sempat syok saja, tapi itu tak akan lama. Bagi Yumna, kesetiaan dan tetap stay untuk mendampingi suaminya.


"Mau denger Kakak cerita? Kamu kuat dengernya? Janji gak nangis ya?" pinta Duta pada Yumna.


Yumna mengangguk pelan di tubuh Duta. Gerakan wajah anggukan di dadanya terasa sekali kalau Yumna begitu menunggu cerita itu.


"Kalau masalah nangis, itu wajar dong Kak. Gak bisa di tahan," ucap Yumna pelan.


Duta hanya mengulum senyum dan menatap kosong ke depan. Yumna melihat Duta dari arah samping. Lelaki itu tetap hebat di matanya, walaupun sekarang lelaki itu sedang mengalami cobaa berat, kedua matanya buta, dan kakinya masih sulit di gerakkan.


"Jadi malam itu ...." ucapan Duta terhenti. Malam nahas yang benar -benar masih jelas dalam ingatannya. Malam yang membuat Duta menjadi seperti ini.

__ADS_1


"Malam itu? Gimana kejadiannya? Siapa yang melakukannya?" tanya Yumna yang semakin penasaran.


Duta mengerjapkan kedua matanya yang ettap saja terlihat gelap dan gelap saja.


"Malam itu Kakak bahagia sekali. Urusan Kakak dengan profesor sudah selesai. Dan apa yang Kakak buat sudah Kakak tulis untuk skripsi, dan nyatanya acc. Kakak terlalu bahagia malam itu, Kakak ingin cepat samapi di apartemen dan bergegas menelepon kamu, Na. Waktu itu rencananya Kakak akan pulang sehari, mau kasih kejutan buat kamu, tapi ...." ucapan Duta kembali terhenti. Rasanya sesak menceritakan kejadian buruk itu kembali.


"Tapi kenapa? Kejadian itu terjadi Kak? Siapa sih, pelakunya? Kenapa Kakak diam saja?" tanya Yumna muali gemas dan kesal.


"Beberapa hari sebelumnya, Kakak emmag sudah di ikuti orang. Setiap berangkat dan pulang seperti ada yang membuntuti. Tapi Kakak berusaha tidak berpikiran negatif. Kakak anggap itu hal wajar dan bukan untuk mencelakai Kakak. Kakak merasa tidak pernah iseng atau bermasalah denagn orang, tentu hidup kakak akan lurus -lurus saja. Ternyata tidak begitu ...." ucap Duta sambil menarik napas dalam.


Yumna mulai tegang mendengarnya. Yumna tak menyela ucapan Duta. Yumna nampak serius mendengar ucapan Duta.


Yumna yang emmeluk tubuh Duta pun makin mengeratkan kedua tanagnnya hingga keduanya saling menghimpit agar tak terleapas lagi.


"Terus? Siapa yang melakukannya? Kakak kenal? Kakak tahu? Lalu masalahnya apa?" tanya Yumna kembali. Jujur, Yumna benar -benar penasaran soal ini.


"Yoshua dan Alice, mereka pelakunya. Yoshua iri pada Kakak, dan Alice juga ingin membuat Kakak jatuh dan membuat malu Kakak di Kampus atas ulahnya. Itu yang Kakak dengar, tapi pastinya kakak belum tahu. Denger -denegr sih, mereka sudah di tangkap, tapi Kakak gak bisa lihat, ingin rasanya mendatangi mereka dan meminta penjelasan yang detail, ada masalah apa mereka pada Kakak, sebenarnya. Mereka pikir kakak sudah mati, di hari yang sama ada korban kecelakaan yang mati di dekat jalan itu dan mereka pikir itu Kakak," ungkap Duta pada Yumna.


Sudah jelas semuanya kan? Semua hanya terpaku pada satu saja, masalah iri. Yoshua sangat menginginkan jabatan Duta di era itu. Yoshua hanya kalah tiga suara saja dari Duta, itu yang buat Yoshua emosi dan marah lalu melampiaskn kepada Duta.

__ADS_1


***


Beberapa kemudian, kesehatan Yumna semakin membaik dan Duta juga makin lebih baik lagi. Gairah semangat sembuhnya Duta makin menggelora. Semenjak ada Yumna, Duta makin antusia untuk sembuh.


Kejutan kedua bagi Yumna adalah, semua keluarganya juga hadir untuk menjenguk dan mensupport Duta. Walaupun samapi saat ini Duta belum mendapatkan donor mata untuknya. Yumna terus memotivasi Duta setidaknya Duta bisa sembuh satu per satu. Duta bisa berjalan saja terlebih dahulu. Yumna terus menemani Duta terapi jalan, setiap pagi, Yumna membawa Duta ke taman hanya untuk latihan berjalan.


"Kamu yakin gak malu bawa Kakak ke taman, Na? Kakak ini gak cuma gak bisa jalan tapi buta juga. Kaca mata hitam ini untuk mengelabui mereka agar kamu tidak malu sama keadaan Kakak," ucap Duta pelan.


"Kak Duta ngomong apa sih? Gak penting banget ngomongnya," cicit Yumna yang terus membantu Duta berjalan dengan tongkat berjalannya.


"Memang ada yang lebih penting dari ini?" tanya Duta tertawa sambil berjalan tertatih dengan tongkat yang di cepit pada ketiaknya.


"Ada dong," jawab Yumna langsung.


"Apa itu. Kakak boelh tahu? hal yang penting menurut kamu?" tanya Duta sambil berusaha berjalan.


"Yumna mau punya anak, Kak," jawab Yumna lirih.


Sepertinya hanya ini satu -satunya jalan agar cinta mereka bisa saling lekat dan rekat satu sama lain. Dengan Yumna hamil, tentu rasa ingin sembuh Duta lebih tinggi karena mau tidak mau, Duta pasti ingin menjaga Yumna. Betul kan?

__ADS_1


__ADS_2