
Pagi ini seperti biasa Duta mengantar Yumna ke kampus. Duta selalu mengantarkan istrinya sampai di depan kelas lalu mencim keninga Yumna sebagai tanda kasih sayang. Duta akan melihat gadis itu masuk dan ikut menunggu dosennya mulai mengajar dan pergi untuk misinya. Duta akan kembali berdiri di depan kelas Yumna saat waktu kuliah Yumna hampir selesai menunggu gadis itu keluar dan membawanya pulang.
Duta ke lantai bawah dan berpura -pura masuk ke bagian pengajaran dan menanyakan persiapan wisuda yang tinggal tiga minggu lagi. Duta melihat delapan temannya jugaa ada di Kmapus itu dan berpencar, smeuanya sali tidak menyapa dan cuek. Itu salah satu trik mereka agar musuh tidak melihat pergerakan mereka.
"Permisi Pak. Saya Duta yang ikut wisuda besok. Undangan pelepasan saya hilang. Apa bisa minta salinannya. Kemarin saya simpan berikut dengan berkas legalisir namun tidak ketemu," ucap Duta pelan.
"Hilang? Uhh ... Jarang seklai ada kasus seperti ini. Coba saya tanyakan dulu pada Pak Dekan dan Ketua Prodi apa?" tanya pegawai pengajaran.
"Prodi Arsitektur, Pak," jawab Duta sopan.
Pegawai itu mengangguk dan masuk ke dalam ruangan yang ada di dalam untuk menghubungi dekan dan ketua prodi. Beberapa saat pegawai itu keluar kembali dan membacakan apa yang ada di tulisan sana.
"Ekhhemm bisa ini untuk dapat salinan. Bikin surat saja atau berita acara bahwa undangan asli untuk pelepasan dan wisudah hilang lalu minta otorisasi dari ketua proodikamu, lalu ke dekan, itu saja. Urus dari sekarang dan terakhir nanti baru saya print kan salinannya. Kalau tidak ada otorisasi saya tidak beran memperbanyak," ucap pegawai pengajaran itu menjelaskan.
"Baik Pak. Terim akasih atas informasinya. SAaya akan segera membuat dan meminta tanda tangan para petinggi," ucap Duta sopan.
Duta sambil melirik ke kanan dan ke kiri lalu mencari sesuatu informasi yang penting dari sana. Duta keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah papan pengumuman. Hari itu Duta ke kampus dengan jaket kulit dan topi.
"Ohh ... Ini dia. Masih aktif ternyata," batin Duta di dalam hatinya lalu naik lagi ke lantai tiga menuju ruang dosen dan berjalana di selasar.
Duta menatap waktu pada jam tangannya. Jangan sampai ia terlambat menjemput Yumna. Duta duduk di salah satu bangku kayu yang panjang dan bersandar sambil membuka buku yang ia bawa. Tak lama di sebelahnya pun ada orang yang sepertinya akan bimbingan. Dua mahasiswa yang terlihat sedikit kacau baik penampilannya dan wajahnya.
Dua lelaki itu nampak sedang berbincang dan salah satunya mengangkat telepon lalu menjawab. "Iya. Baik Pak. Langsung masuk. Oke Pak."
Duta tak bergeming dan tak melirik ke arah dua lelaki itu. Sekali saja melirik karena ingin tahu, maka urusannya bakal semakin panjang nantinya. Duta berusaha mengingat, mencerna dan berpikiir keras.
Tak lama dua lelaki itu masuk ke dalam ruangan dosen. Ya, itu ruangan dosen yang sedang Duta incar. Cukup lama di dalam, kalau bimbingan rasanya tidak mungkin. Biasanya bimbingan skripsi itu hanya dua puluh menit sampai tiga puluh menit lamanya karena dosen hanya membaca dan merevisi untuk segera di perbaiki oleh mahasiswanya. Sepertinya memnag ada yang aneh.
Dutra penasaran dan makin ingin tahu apa yang sebenarnya di lakukan di dalam. Tapi, waktu sudah menunjukkan pukul saat Yumna akan keluar kelas. Terpaksa Duta mengakhiri pengintaiannya sesaat. Setelah ini, Duta akan mengajak Yumna ke knatin. Setidaknya mereka akan pulang sianghari atau ke perpustakaan.
Saat Duta berbalik dan ingin tuurn ke lantai dua melihat Lita dan Edo sedang berjalan ke arah Duta. Lita nampak cuek dan semakin menggandeng tangan Edo sambil berbincang dan menatap Edo. Duta juga tak mau ikut campur.
Duta menruni tangga dan di anak tangga bertemu Omesh. Keduanya hanya saling mentapa tajam tanpa menyapa. Omesh langsung naik dan Duta turun ke bawah.
Langkah kakinya pelan menuju ruang kelas Yumna dan benar saja, Yumna tengah bersiap merapikan alat tulisnya dan menunggu dosen mata kuliahnya keluar dari ruangan.
Yumna mencangklong tasnya dan berjalan ke arah Duta yang sudah melebarkan tangannya untuk memeluk istri mungilnya itu lalu mengecup kening Yumna.
"Lama ya Kak?" cicit Yumna lirih.
"Gak kok. Tadi Kakak sambil jalan -jalan aja sih, jadi gak terasa," ucap Duta pada Yumna.
__ADS_1
"Jalan -jalan kemana? Awas aja tebar pesona," ancam Yumna pada suaminya sambil memberikan kepalan tangannya tepat di wajah Duta.
Duta terkekeh dan merangkul tubuh Yumna lalu berbisik, "Jangan bawel, mending makan bakso urat. mau gak?"
"Mauuu ... Boleh kan makan bakso urat?" tanay Yumna pada Duta.
"Boleh asal jangan pake sambal dan saos terus minum obatnya. Stau lagi pesen minumnya hanya boleh teh panas," titah Duta pada istrinya.
"Uhhh ... Es teh manis dong. Atau teh solo yang lagi viral," pinta Yumna pada Duta.
"Ini istri siapa sih, nawar mulu kerjaannya bikin gak nolak kan," ucap Duta terkekeh sendiri.
"Dih ... Istri siapa? Emang gak di akui? Cantik gini gak di akui, kesel ih sama mantan Ketua BEM ini," goda Yumna yang masih berada dalam rangkulan Duta.
Keduanya terekkeh bersama dan berjalan menuju kantin.
"Sekarang pinter lebay juga nih, istri abang," ucap Duta sambil mencubit gemas pipi Yumna.
"Ya iyalah Abang Duta si pemes kampus. Kalau gak lebay gak bakal di lirik, malah lirik yang lain annti," ucap Yumna mengulum senyum.
"Enak aja. Kakak gak begitu. Kakak gak pernah lihatin ciwi -ciwi lain di kampus ini kecuali ayank Yumna aja," ucap Duta mencium pipi Yumna masih dalam edisi gemas -gemas pengen gigit.
"Ha ha ha ... Mantan Ketua Bem kok jadi lebay bin bikin bucin sih," ucap Yumna.
"Suka sih. Suka banget malah, tapi kalau lihat Kak Duta jadi kelihatan bukan Kak Duta. Dalam pikiran Yumna selalu saja melihat Kak Duta itu, seorang pemimpin yang handal, hebat, tegas, berwibawa, no bucin dan gak bisa lebay," ucap Yumna menatap wajah Duta sekilas yang serius menatap jalan ke arah kantin.
"Ya udah kalau suka, akan Kakak pertahankan sikap seperti ini. Biar kamu selalu suka," ucap Duta pelan.
Semakin dekat ke arah kantin, Duta melihat sosok yang berbeda di sana dan sosok itu langsung pergi. Perawakannya sama seperti?
"Ekhemm ... Lihat apa sih Kak? Wajahnya serius amat?" tanya Yumna mentaap ke arah depan dan melihat apa yang Duta lihat.
"Itu kan ...," ucapa Yumna terhenti dan Yumna tidak mau berandai -andai. Itu hanya tampak belakang, smeua orang bisa memiliki perawakan yang sama dan tidak mesti orang yang ia kenal.
"Jadi makan baksonya kan?" tanay Duta yang langsung mencari tema lain sambil melirik ke arah Yumna yang terlihat bingung.
"Jadi dong. Kapan lagi makan sama idola kampus," ucap Yumna terasa menohok bagi Duta.
"Kakak orang biasa sama seperti kamu, Na. Gak ada idola, gak ada femes, sama semua sayang," ucap Duta pelan.
Baru bicara begitu, ada segerombolan mahasiswi cantik yang menyapa Duta.
__ADS_1
"Ini Kak Duta kan? Manta Ketua BEM yang paling ganteng dalam sejarah kampus. Alsinya ganetng banget. Mau minta foto boleh Kak?" tanya salah seorang wanita.
"Maaf ya, istri saya sedang ngidam mau buru -buru makan di kantin. Lain waktu aja," ucap Duta tegas menolak dan segera membawa Yumna ke arah kantin.
"Kak Duta kok di tolak. Biasanya Kakak gak pernah sombong, nolak orang mau foto," tanya Yumna bingung.
"Ini bukan waktu yang tepat. Lagi pula Kakak udah bukan Ketua BEM, sudah punya istri cantik yang perlu di jaga hatinya. Jadi, Kakak gak mau macem -macem," ucap Duta pelan.
"Uluhhh ... Makin sayang adik sama abang," goda Yumna pada suaminya lalu terkekeh bersama.
***
"Eh ... Elo pada denger gak tadi Kak Duta bilang apa? Gue takut saraf motorik gue salah penerimaan nih. Takut kuping gue congekan," ucap gadis tadi masih tak percaya.
"Itu dia lagi jalan sama istrinya," ucap salah satu temannya.
"Istri? Mereka udah nikah? Kok gak heboh di Kampus?" tanya yang lain dnegan suara lantang dan sedikit nyolot.
"Lo gak denger tadi. Mau buru -buru ke Knatin karena istrinya lagi ngidam. Fix, bininya lagi hamil. Itu tandanya, bininya yang ngejar Kak Duta," ucap yang lain lagi mulai ghibah.
"Betul banget. Secara Kak Duta itu kan keren, hebat dan masa depannya cerah. gak mungkin dia nikah muda kan? Pasti tuh cewe kasih obat lalu dia bikin seolah kak Duta tertidur dengannya. Modus begituan sih kebaca," ucap cewek yang lain.
"Bisa juga di pelet," ucap sinis si pentolan genk.
"Gue sih percaya. Karena gue pernah satu kelas sama tuh cewe. Katanya sih, mereke pacaran dari SMA gitu dan semept mereka lamaran dan mungkin emang nikah diam -diam," ucap salah satu permepuan yang pernah satu kelas dengan Yumna.
"Ohh begitu. tapi anhe aja. Ceweknya tadi emang cantik tapi kayak kurang pas gitu ya,"
"Suttt ... Udah deh. Kak Bima, Ketua BEM yang sekaramg juga gak kalah keren, anak basket lagi," ucap salah satu gadis yang menyukai pentolan anak basket itu.
"Kak Edo juga kere. Tapi ada ulet bulu yang nempel terus, namanya Lita," ucap yang lain mengungkap.
"Cewek sok cakep itu? Heh, gak usah bahas tuh cewek. Males gue dengernya," ucap yang lain mulai malas menggibhah.
***
"Uhhh ... Bakso urat mercon," ucap Yumna sumringah.
"Bukan mercon, bakso urat telor yang itu. Kamu gak boleh makan pedes dulu, Na," titah Duta yang mulai memtongkan bakso bulat besar itu pada mangkok Yumna.
"Iya Kak," jawab Yumna lirih dan menuruti Duta.
__ADS_1
"Perempuan pintar. Jangan bawa diri ke arah yang gak baik. Lagi sakit malah mau makan pedes, annti lambung kamu bermasalah. Kamu itu mau ujian akhir, setelah itu kita mau honeymoon. Kamu harus jaga kesehatan, Na," ucap Duta terus menasehati.
Yuman mengangguk kecil dan emnatap Duta, suaminya yang masih sibuk memotong bakso menjadioi potongan kecil, agar Yumna mudah menikmatinya tinggal did tusuk garpu dan masuk mulut.