Duta & Yumna

Duta & Yumna
108


__ADS_3

Satu bulan berlalu ...


Yumna semakin nyaman berada di rumahnya dan kembali berkumpul dengan Bunda Sinta dan kedua Kakak laki -lakinya. Walaupun tanpa Papahnya saat ini bersama mereka lagi. Rasa kehilangan itu pasti ada. Tapi, mereka mulai terbiasa dengan rasa sepi yang masih menyelimuti kedukaan.


"Kamu gak balik ke Paris?" tanya Bunda Sinta yang sudah mulai beraktivitas kembali seperti semula. Bunda Sinta sudah memasak sarapan umntuk kedua putranya yang kini mulai mengambil alih posisi sang Papah untuk mengurus bisnis di dua perusahaan.


"Nanti ya Bun. Yumna masih mau disini. Lagi pula, Kak Duta gak keberatan kok," ucap Yumna pada Bundanya yang sedang menyiapkan susu hamil untuk Yumna.


"Heiii ... Gadis manja. Bukan mau ikut campur nih. Tapi cuma mau ngasih tahu aja. Kamu gak lanjutin kuliah kamu gak masalah. Kakak tetap akan beri kamu jatah bulanan untuk uang jajan kamu. Tapi, sebagai perempuan yang etlah bersuami alangkah baiknya tidak meninggalkan suami terlalu lama. Walaupun Duta mengijinkan," ucap Jone memberikan saran.


Yumna hanya mengangguk kecil memahami apa yang Kak Kone bicarakan.


"Betul banget. Kak Dafa juga setuju. Kalau kamu belum ingin lanjutkan kuliah kamu. Tidak masalah. Lanjutkan nanti saja setelah kamu melahirkan," ucap dafa ikut menasehati.

__ADS_1


"Minum Na, susu hamilnya biar sehat," titah Bunda Sinta pada Yumna.


"Makasih Bunda. Nanti Yumna pikirkan lagi ya," ucap Yumna pelan sambil mengusap perutnya yang mulai terasa membesar.


"Hari ini gak usah pergi sama Nick. Nanti kamu lelah, selain itu kakak juga gak enak terus menerus bohong sama Duta," ucap Jone pada Yumna.


"Ngapain juga harus bohong. Bilang saja Yumna pergi denagn Nick. Kak Duta juga kenal," ucap Yumna santai.


"Duta memang kenal dengan Nick. Tapi, apa kamu tidak bisa menghargai perasaan Duta, Na? Walaupun Nick bilang cuma berteman, bersahabat, atau dia hanay pengen lihat kamu tersenyum lagis etelah kalut dalam jurang kedukaan? Bukan kah kamu sendiri yang bilang, tidak ada pertemanan tulus antara perempuan dan laki -laki, karena pasti salah satunya berharap, atau ngarep menjadi seseorang yang spesial," ucap Jone terus menasehati adik bungsunya yang entah kenapa sedang oleng pikirannya.


BRAK!!


Yumna menggebrak meja makan dan melotot ke arah Jone dan Dafa.

__ADS_1


"Apaan sih!! Kalian itu telalu ikut campur sama urusan Yumna. Kalian gak akan tahu apa yang Yumna rasakan saat ini," ucap Yumna kesal lalu meninggalkan kursi makannya begitu saja dan naik ke atas menuju kamarnya.


Bunda Sinta hanya bisa menatap putrinya yang akhir -akhir ini memang berubah sikapnya.


"Kalian bisa kan, bicara baik -baik dan lembut. Yumna itu paling terpukul saat Papah tidak ada," ucap Bunda Sinta memberikan nasihat pad dua putranya.


Kedua putranya seharusnya bisa menjaga dan merawat Yumna. Bukan malah membuat adik bungsunya itu selalu menangis.


"Bukan begitu Bunda. Kita hberdua hanya ingin menyelamatkan pernikahan Yumna dan Duta saja. Yumna sedang hamil," ucap Jone cemas sendiri.


"Tidak seharusnya kita ikut campur urusan mereka. Toh, jika Yumna merasa gagal emnjalani pernikahannya tentu ia akan bicara pada kita," ucap Bunda Sinta pada kedua putranya.


"Tapi foto -foto itu Bunda?" ucap Dafa masih mempercayai teror seminggu terakhir ini.

__ADS_1


"Semudah itu kalian percaya orang lain di bandingkan pada Duta atau Yumna?" tanya Bunda Sinta pada kedua putranya.


__ADS_2