Duta & Yumna

Duta & Yumna
83


__ADS_3

Duta hanya melihat slayer itu lalu menatap ke arah Arsista lekat.


"Maafkan aku," ucap Duta tegas lalu pergi begitu saja sambil berlalu dari hadapan Arsista menuju ke arah luar gedung auditorium itu.


Duta harus bergegas ke rumah sakit. Duta merogoh ponsel yang ada di saku kemejanya dan mencoba menghubungin Bunda Sinta, ibu mertuanya yang sdeang menjaga istrinya, yumna di rumah sakit.


Nomornya tersambung tapi tak diangkat. Duta semakin merasa gelisah dan panik. Kalau saja terjadi sesuatu pada Yumna? Bagaimana? Duta langsung menghubungi Ayah dan Bundanya untuk segera pergi ke parkiran dan ambil mobil lalu menuju ke ruamh sakit. Tapi sama saja, Ayah dan Bundanya tak bisa di hubungi. Ada apa ini? Kenapa semua orang tak bisa di hubungi? kak Jone? Kak Daffa? Yuri? Semua sama sekali tak emngangkat telepon dari Duta. Apa mungkin mereka juga punya kesibukan sendiri. Ya ampun, yumna itu istriku, seharusnya aku yang tetap harus bertanggung jawab atas kondisi Yumna saat ini.


Lnagkah kaki Duta di percepat. Kalau ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Mungkin Duta memilih mencari taksi online untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Duta ingin bertemu Yumna saat ini, dan berharap Yumna sudah membuka matanay dan bisa melihat dirinya memakai baju wisuda dan toga speerti ini lalu berfoto bersama.

__ADS_1


Pikiran Duta semakin kacau dan hilang kendali. Ia semakin menpercepat langkahnya dengan setengah berlari. Duta sudah menuruni anak tangga dan menuju halaman kampus. Ramai skelai suasana di lobby kampus. Banyak orang saling berpelukan dan berfoto bersama dengan kekasih, sahabat, teman, keluarga dan sanak saudara jauh.


"Kak Duta!!" teriak seorang gadis yang sanagt ia hapal suaranya. Kaki Duta terhenti dan belum mampu menoleh ke belakang. Jangan sampai suara ini hanyalah halunisasi Duta saja yang berharap Yumna datang ke tempat ini dan memeluk tubuhnya erat.


Duta menggelengkan kepalanya pelan dan membuang jauh suara itu yang hanya terdengar sekali. Fix, ini hanya sebuah ilusi harapan dan kerinduan Duta saja.


Duta melanjutkan kembali melangkah sambil mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Duta kembali terdiam dan emmejamkan kedua matanya. Kepalanya merasakan panas matahari yang begitu terik dan keringat mulai muncul di sekitar dahinya. Duta kembali mendengar suara Yumna. Kali ini suara itu terdengar keras sekali. Apa ini karena efek panas matahari, kepalaku pusing dan telingaku muali tak baik pendengarannya? Atau aku yang etrllau rindu pada gadisku?

__ADS_1


"Kak Duta!!" teriakan ketiga Yumna semakin terasa suara manja gadis itu seolah ingin menyerbu tubuh Duta dan memeluk eratekali.


"Tolong jangan buat aku seperti ini, Tuhan!!" batin Duta berteriak. Duta tidak ingin terus menerus merasa bersalah dalam hal ini.


Duta memang merasa kesalahannya sungguh besar dan tak bisa menjaga Yumna dengan baik hingga Yumna menjadi seperti ini.


Sebuah tepukan pelan di bahu Duta membuat Duta tersadar. Dirinya tidak sendirian, ada orang lain yang masih peduli padanya.


Duta menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat seseorang berdiri tegap dengan buket bunga mawar merah yang besar emnutup wajah orang tersebut. Buket mawar merah itu bertuliskan Congratulation Kak Duta denagn emot hati berwarna merah yang sangat cantik sekali.

__ADS_1


"Ka -kamu siapa?" tanya Duta pelan. Duta tidak mau bahagia dulu sebelum tahu yang sebenarnya. Suara Yumna tadi jelas ada di telinganya.


__ADS_2