
Senyum Yumna terus terbit di sudut bibirnya. Ia benar -benar senang sekaligus bahagia, karena apa yang di katakan Duta, suaminya tepat sekali, bahwa dirinya sedang hamil.
"Kak Duta," teriak Yumna dengan sangat keras dari dalam kamar mandi.
Duta yang sedang mencari baju di lemari pun langsung berlari ke arah kamar mandi dan membuka pintu itu dengan cepat.
"Kenapa Na?" tanya Duta ikut panik.
Yumna menatap Duta dan langsung memeluk tubuh lelaki tampan itu dengan erat dan air matanya langsung luruh berlinang.
"Yumna hamil Kak. Yumna seneng tapi juga sedih," ucap Yumna lirih.
"Kenapa? Kenapa harus sedih? Mau jadi Ibu itu harus senang dan bahagia, biar bayinya juga tumbuh sehat dan bahagia," ucap Duta pelan sambil melepaskan peluakn dari tubuh Yumna.
Ibu jari Duta langsung mengusap air mata Yumna, lalu berbisik, "Jangan nangis. Anak kita gak mau lihat Ibunya mennagis. Nanti dia ikut nangis di perut ini."
"Yumna senang Kak. Setidaknya Yumna makin mantap untuk ikut Kakak ke Paris. Yumna mau selalu ada di samping Kakak," ucap Yumna masih terisak dengan kedua tangan masih mengalung di bahu Duta.
__ADS_1
Tangan Duta memegang perut Yumna yang masih rata dan mengusap pelan perut itu hingga Yumna merasa kegelian.
"Geli Kak," ucap Yumna jujur.
"Nanti lama -lama juga terbiasa. Jadi, Lusa kita bisa berangkat ke Paris?" tanya Duta memastikan keyakinan Yumna, sang istri.
Kali ini, anggukan kepala Yumna begitu mantap dan penuh keyakinan. Ia siap menemani suaminya, dan sepertinya, Yumna akan ikut pindah kampus lalu melanjutkan kuliahnya di sana. Setidaknya, Yumna tak akan berpisah lagi dengan Duta dalam waktu yang cukup lama.
"Yumna mau. Yumna siap menemani Kak Duta, kemana pun Kak Duta pergi," ucap Yumna penuh semangat.
"Terima kasih ya, Sayang. Sudah mau Kakak repotkan soal ini," ucap Duta sedikit terharu.
Waktu dua hari ini memang di persiapkan untuk melengkapi surat -surat yang harus di bawa Duta dan Yumna selama di Paris. Yumna yang sudah pasti akan melanjutkan kuliahnya dan Duta yang telah siap untuk bekerja dengan posisi sebagai arsitek muda bebakast di salah satu perusahaan besar di Paris.
Om Wisnu, Sahabat Ayah Duta, sudah menyiapkan tempat untuk Duta dan Yumna tinggal. Kontrak kerja Duta selama tiga tahun pertama. Jika, Duta berhasil menyabet banyak proyek besar, maka ia akan di angkat menjadi karyawan tetap dan promosi jabatan sebagai kepala bagian perancangan.
Yumna sudah merapikan dua koper besar, satu miliknya dan satu lagi milik Duta.
__ADS_1
"Kamu sudah siap untuk berangkat besok?" tanya Duta saat keduanya sudah berada di atas tempat tidur dan akan istirahat malam.
Pesawat mereka akan terbang tepat jam sembilang pagi dari bandara internasional.
***
Hari ini adalah hari keberangkatan Yumna dan Duta. Setelah ini mereka berdua akan berjuang sendiri untuk rumah tangganya. Duta berjanji pada orang tua Yumna akan sellau menjaga Yumna dan calon bayinya dengan baik hingga persalinan Yumna tiba.
Yumna dan Duta sudah duduk di kursi dalam pesawat yang segera akan terbang membawa mereka ke negeri orang.
"Sudah siap untuk berangkat. Sebentar lagi akan terbang," ucap Duta yang terus menggenggam tangan Yumna.
"Siap Kak. Tapi, Perasaan Yumna kok sedikit gak enak ya," ucap Yumna lirih.
"Sayang, Jangan berpikiran yang aneh -aneh ya. Kita banyak berdoa aja dalam perjalanan panjang ini," ucap Duta meyakinkan Yumna.
Pesawat akan terbang cukup lama hingga sampai di Negara Paris. Kepala Yumna bersandar di lengan kekar Duta sambil mendengarkan musik melalui earphonenya agar Yumna tak merasa panik selama perjalanan ini.
__ADS_1