
Pagi -pagi sekali Yumna sudah berada di Kampus untuk mengumpulkan tugas maketnya. Yumna sudah membuat janji dengan dosen pengampu mata kuliah yang sedang di ambil semester ini. Dosen itu sungguh killer dan tidak ada kata telat. Demi menjaga hubungan baik antara dosen dan mahasiswinya serta agar nilainya tidak di kosongkan pada mata kuliah penentu untuk bisa lanjut atau tidaknya ke semester depan. Yumna tidak berani macam -macam dengan dengan mata kuliah lanjutan, kecuali itu mata kuliah dasar.
Yumna menunggu dosennya di depan ruang dosen, karena masih terlalu pagi, Yumna lebih harus sabar menunggu. Bru juga duduk dan meletakkan tugas maketnya sambil mengeluarkan roti sobek untuk sarapan pagi yang tertunda tadi.
"Mbak Yumna ya?" tanya seorang OB pada Yumna yang baru saja menggigit roti keju ke dalam mulutnya.
Yumna langsung menurunkan rotinya dan menatap OB itu yang terlihat ragu dan bingung. Yumna menatap name tag yang di sangkutkan pada pakaian seragam di dada kirinya.
"Joko?" panggil Yumna menyapa.
__ADS_1
"Benar mbak. Nama saya Joko. Mbak itu yang namanya Mbak Yumna kan?" tanya Jko pada Yumna mengulang pertanyaan tadi.
"Iya betul. Ada apa ya?" tanay Yumna bingung.
"Ini ada bunga buat Mbak Yumna," ucap Joko yang langsung menunjukkan buket bunga mawar merah yang indah dari balik tubuhnya. Yumna menatap buket mawar merah yang lebat dan cantik sekali.
"Buat siapa? Buat Yumna?" tanya Yumna bingung. Yumna ragu untuk mengambil buket bunga mawar merah itu. Yumna takut, bila bunga itu bukan untuk dirinya. Bisa saja, Joko salah orang dan salah instruksi. Tapi, di Kampus yang namanya Yumna hanya dia seorang, tidak ada lagi. Jadi pasti benar. Sekarang yang membuat Yumna bingung adalah siapa pengirim buket mawar merah itu. Sungguh ciut sekali nyalinya sampai harus menitipkan pada orang lain.
"Iya sih bener. Nama saya memang Yumna. Tapi kan masalahnya bunga mawar itu dari siapa?" tanay Yumna makin bingung.
__ADS_1
"Tugas saya hanya mengirimkan buket bunga mawar merah ini untuk mbak Yumna. Masalah dari siapa atau bagaimana? Saya tidak ikut campur Mbak. Mungkin di dalamnya ada tulisannya atau ada pesannya, coba saja di cek," titah Joko pada Yumna.
"Gak lah. Yumna gak mau terima kalau pengirimnya gak jelas. Apalagi itu buket bunga mawar, bisa jadi masalah nantinya. Bawa lagi aja dan kembalikan sama orangnya. Itu lebih baik," ucap Yumna ketus.
"Satu lagi. Jangan ganggu Yumna lagi sarapan. Udah sana pergi," ucap Yumna dengan suara keras mengusir OB itu sambil melotot kesal.
"Yah ... Jangan gitu dong Mbak. Saya kan cuma di suruh. Lagi pula uang jasanya udah saya pakai buat beli obat panas anak saya," ucap Joko dengan wajah sendu dan sedih.
"Yumna gak mau tahu," ketus Yumna pada Joko.
__ADS_1
"Mbak cuma nerima aja. Langsung di buang juga gak apa-apa. Gak masalah juga kan. Ini yang penting Mbak Yumna mau terima. Soalnya orangnya kan lihat dari jauh Mbak," pinta Joko dengan memelas.
Yumna mengedar pandangannya dan menatap satu per satu di sudut ruangan. Kedua matanya mulai mencari keberadaan seseorang yang memberinya buket mawar merah itu. Namun, tak satubl pun orang ada di sana kecuali dirinya dan Joko.