
Yumna dibawa ke dalam mobil spot hitam tanpa ada nomor platnya. Sepertinya memang sudah di rencanakan. Lita menatap Yumna yang terjatuh dengan luka dan darah yang mengalir dari kepalanya.
Lita ingin menolong Yumna tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
Mobil itu pergi denga laju cepat dan Duta mengejar mobil itu sambil berteriak histeris lantang sekali.
"Yumna!! Janagn kau ambil Yumna, istriku!!" teriak Duta yang tak sanggup berlari lagi dan berdiri di tengah jalan lalu berluutt disana. Kedua kakinya terasa sangat lemah dan lemas setelah berlari jauh mengejar mobil sport hitam yang sama sekali tak kekejar itu.
"Ayo Ta!! Naik!!" ajak Ferdi yang sudah membawa mobil sewaan untuk mengejar Yumna yang ada di mobil sport hitam yang melaju kencang.
Duta menurut dan masuk ke dalam. Demi Yumna apapun ia lakukan. Walau mengorbankan nyawanya demi yumna, Duta pasti akan melakukan demi istri tercintanya.
"Lita mana Fer?" tanya Duta pada Ferdi yang sdeang fokus menyetir.
"Di apartemen. Gue suruh balik. Takutnya ada yang lihat dan kunci pintu. Kan kalau ada tamu bisa cek CCTV," ucap Ferdi yang terus fokus mengejar mobil sport hitam itu.
Tepat di saat berbelok, mobil yang di sewa Ferdi dan Duta terjebak lampu merah dan berhenti. Ferdi masih bis amelihat mobil sport itu melaju dengan cepat. Saat lampu berubah hijau dan Ferdi melaju kencang menyalip beberapa mobil. Tiba -tiba di dpeannya ada dua mobil sport yang sama persis dan sama -sama tidak memasang plat nomor.
"Ta ... Lo tahu yang mana mobilnya? Kenapa ada dua? Jangan -jangan mereka sadar kita buntuti," ucap Ferdi bingung. Di depan ada perempatan, jelas mereka akan mengecoh mobil Duta dan Ferdi.
"Gue gak tahu. Menurut gue kita berhenti mengejar. Kalau keduanya belok kanan dan kiri, kita tetap lurus jadi tidak nampak sedang mengejar mereka," ucap Duta kepada Ferdi. Ferdi emngangguk paham dan menjalankan mobilnya dengan santai dan kecepatan mulai di turunkan untuk tidak terlihat sedang mengejar mobil yang asli tadi.
***
"Mereka bingung Bos. Mereka memelankan laju mobilnya sepertinya mereka sedang membaca situasi," ucap anak buah yang berhasil menjalankan misinya.
"Kau memang hebat. Bawa gadis itu ke Markas besar kita," ucap Bos besar itu dengan senyum smirknya.
Lelaki itu kini tampak beringas dan muali terlihat sifat psikopatnya. Padahal ia sudah melawan sifat itu dengan baik. Tapi, semakin ia menahan sifatnya itu, ia semakin tersiksa.
Tangannya mengepal erat dan tak sabar ingin menyakiti satu per satu orang yang di anggap menganggu dirinya selama ini. Kecerdasannya yang di atas rata -rata membuat ia di kenal sebagai IT terbaik yang tak pernah tersentuh oleh siapapu. Ia pandai melakukan sesuatu hal besar tanpa ada ejjak sedikit pun.
__ADS_1
***
Yuri sudah mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit. Benar saja, ada dua penjaga yang menjaga ruang ICU itu. Keluarga Yuri sudah datang dan juga keluarga Yumna yang ikut menjenguk Yuri. Walaupun mereka tidak di perbolehkan masuk, setidaknya mereka bisa melihat wujud Yuri yang masih utuh tergolek lemah di atas brankar rumah sakit.
Bunda Yuri sejak tadi mennagis histreis melihat beberapa selang yang menempel pada tubuh putrinya. Belum lagi melihat tubuh lebam biru di di lengannya.
Bunda Sinta berusaha menenagkan Bunda Yuri dan menguatakan bahwa Yuri bisa melewati masa kritisnya. Yuri pasti sembuh.
Dafa dan Jone terlihat sedang sibuk menelepon orang dan nampak wajahnya terlihat marah dan serius sekali.
"Bund, Dafa dan Kak Jone mau ketemu Duta dulu. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan. Ini masalah almamater. Bnetar lagi Bunda Gita juga datang kesini," ucap Dafa memberitahu.
"Hati -hati ya. Tangkap saja semua orang yang jahat biar musnah dari muka bumi ini," ucap Bunda Sinta kesal sekali.
***
Dafa, Jone, Duta dan Ferdi bertemu di salah satu kafe kecil dan mereka menceritakan semuanya dengan detail.
"Kalian belum dapat kabar terbaru pasti? Profesor ddi temukan meninggal di ruangannya," ucap Dafa lirih sambil memberikan foto pada Duta dan Ferdi.
"Sepertinya di bunuh. Ada bekas suntikan di lehernya. Tapi pekerjaanya sangat rapih sekali, ini jelas orang yang sudah ahli," ucap Jone menjelaskan.
"Kak ... Yumna di culik," ucap Duta baru bisa jujur. Duta binung harus bagaimna lagi.
"Apa!! Kenapa kamu diam saja!! Bodoh!!" umpat Dafa kesal.
Dafa langsung emnelepon teman -temannya untuk mencari informassi. Begitu juga dengan Jone yang langsug memberikan mandat untuk menjegal epergian Bapaknya Alice yang akan melarikan ke luar negeri.
***
"Cantik sekali dia ... Sayang sudah ada yang punya. Tapi lebih sayang, yang punya tidak pernah bersyukur dan sellau menyia -nyiakan kamu sehingga kamu tidak nbahagia dan merana," ucap lelaki itu berbisik dan mencium kepala Yumna yang masih berlumur darah.
__ADS_1
Yumna sengaja tidak di obati dan tidak di bersihakn lukanya. Selama Yumna masih bernapas, lelaki itu tidak akan membantu Yumna. Lebih baik gadis itu terkapar seperti itu dari pada harus sembuh dan malah menyulitkan dirinya sendiri.
Seharian ini tak pernah lepas pandangannya pada gadis canti yang kuyu dan lemah berada di atas tempat tidur.
Tak lama, gadis itu menggerakkan tangannya dan memegang kepalanya yang terasa sakit dan sedikit perih. Yumna membuka kedua matanya pelan dan menatap ke arah langit -langit kamar dengan tatapan samar. Lalu, kedua matanaya mulai mengedar ke arah lain dan tatapannya terhenti pada sosok laki -laki. Entah siapa, Yumna tak mengenalinya.
"Hai!!" sapa lelaki itu sambil melambaikan tangannya saat Yumna menatap lelaki itu.
Dengan kedua mata di sipitkan agar Yumna dapat melihat dengan fokus.
"Ka -kamu siapa?" tanya Yumna yang langsung terduduk dan ingin berteriak keras.
"Aku? Kamu tanya aku siapa? Cari tahu saja, aku siapa?Boleh berteriak sekencangnya," ucap lelaki itu tersenyum.
"Aku dimana?!! Arghhh ... Sakit sekali. Arghhh ... Pusing!!" etriak Yumna histreis merasakan kepalnya pusing dan pandangannya berkunang lalu merebahkan dirinya kembali. Yumna memegang kepalanya yang masih di selimuti darah merah yang mulai mengering.
Lelaki itu melihat Yumna dan bertanya.
"Apa kamu ingin makan?" tanay lelaki itu mulai iba.
Yumna membuak matanya dan merekam ucapan lelaki itu. Lalu, memutar tubuhnya dan emnatap lelaki itu dan mulutnya terbuka sedikit lalu tersenyum manis.
"Kak Duta? Kak Duta kan?" teriak Yumna penuh semangat.
Kata -kata terakhir yang Yumna ingat adalah kata -kata Duta yang menanyakan "Kamu mau makan?" Itu yang membuat Yumna memanggi lelaki di depannya dengan sebutan Kak Duta.
Lelaki itu meremas kedua tangannya dengan penuh kebencian. Sudah di pisahkan saja, masih saja mengingat nama itu, sungguh menyebalkan sekali.
"Apakah hanya nama itu yang kamu ingat di otak kamu?" tanay lelaki itu dengan senyum penuh arti.
Dengan polosnya Yumna mengangguk pelan. "Hanya itu. Karena Kak Duta tidak akan emmebiarkan Yumna lapar. Iya kan?"
__ADS_1
Lelaki itu hanya terdiam dan emnunduk lalu pergi meninggalkan Yumna di kamar luas itu sendirian.
Tak lama, ada seorang maid dan dokter mauk ke kamar Yumna untuk membersihkan luka Yumna dan di berikan perawatan intensih.