Duta & Yumna

Duta & Yumna
22


__ADS_3

Tubuh Yumna seketika meremang dan bergetar hebat. Yumna tiba -tiba teringat Yoshua. Ya, lelaki yang berusaha membuat Yumna dan Duta terpisah dan melukai keduanya karena dendam.


Yumna melangkah mundur dan menatap tajam ke arah Bima yang masih tersenyum smirk ke arah Yumna yang ketakutan.


"Kalian? Ngapain di situ? Ini bukan tempat mesum," ucap seorang lelaki yang ternyata dosen mata kuliah Yumna.


Yumna menoleh ke arah dosen itu dan tersenyum kecut. Dosen tua itu salah sangka pada Yumna. Dengan cepat Yumna mengambil maket yang ada di tangan Bima dan berlari ke arah dosen mata kuliahnya itu.


"Pak ... Saya Yumna, anak didik Bapak di kelas studio. Saya mau ngumpulin tugas minggu lalu," ucap Yumna dengan suara bergetar.


Dosen itu membuka ruangannya dan menatap Yumna lalu menatap lelaki yang tadi mendekati Yumna.


"Masuk ke dalam," titah dosen itu pada Yumna.


Yumna mengangguk dan ikut masuk ke dalam ruangan dosen itu untuk mengumpulkan tugas gambar dan maket yang sudah di kerjakannnya. Yumna duduk di sofa kecil yang ada di ruangan itu menunggu dosennya kembali dari ruangan sebelah untuk absen.


"Tadi pacar kamu?" tanya dosen itu pada Yumna. Dosennya ini termasuk dosen anti dengan pergaulan remaja yang mengarah permesuman.


"Ekhemmm ... Bukan Pak. Yumna sudah menikah, kebetulan suami Yumna sedang ikut pertukaran mahasiswa di Jepang," ucap Yumna jujur.

__ADS_1


"Kamu sudah menikah? Siapa nama suami kamu?" tanya dosen itu duduk di kursi kebesarannya.


"Duta Pak," jawab Yumna dengan mantap.


"Duta ... Hemmm, Ketua BEM tahun lalu?" tanya dosen itu tersenyum. Baru kali ini dosen killer itu tersenyum dan membuat Yumna sedikit lega. Ternyata dosennya itu tidak seburuk dengan apa yang ada di pikiran Yumna.


"Betul Pak. Dengar -dengar dia mau wisuda. Malahan sudah kembali pulang karena tugasnya sudah selesai lebih awal di bandingkan yang lainnya, sekaligus mengurus wisuda untuk bulan depan," ucap dosen killer itu menjelaskan. Sesama dosen tentu tahu dan saling bercerita jika mahasiswanya ada yang pintar, jenius, hebat atau malah sebaliknya nakal dan berprestasi buruk. Itu adalah mahasiswa yang akan selalu di ingat dosen.


"Hah? Wisuda? Sepertinya, skripsi juga belum Pak?" ucap Yumna sedikit ragu.


Memang sudah agak lama, Yuman tak berkomunikasi langsung denagn Duta. Yumna hanya menelepon Bunda Gita dan menanyakan kabar Duta, suaminya. Selain Yumna sibuk, pas Yumna menghubungi Duta selalu tidak di angkat karena Duta sedang keluar atau sedang tidur. Waktunya tidak pernah pas.


"Sini, mana gambar kamu? Maket kamu. Kalau istrinya Duta, pasti hasilnya bagus juga kayak Duta. Duta itu jenius, makanya terpilih menjadi mahasiswa yang memwakili kampus kita untuk ke Jepang," ucap dosen killer itu panjang lebar.


Seketika pikiran Yumna buyar mendengar ucapan dosennya itu. Kalau memng Duta pulang ke Indonesia kenapa tidak mengabari Yumna. Bukankah ini berita bagus, walaupun Duta masih buta. Setidaknya Yumna bisa mengurus Duta denan baik sebagai suatu sikap tawaduk kepada Duta, suaminya.


BRAK!!


"Kenapa kamu melamun? Jangan buang waktu saya, kalau kamu hanya ingin melamun!!" teriak dosen killer itu mulai mengeluarkan taringnya.

__ADS_1


"Ahhh ... Maaf Pak. Yumna ... Yumna anu Pak, sakit perut tiba -tiba," ucap Yumna berbohong. Setidaknya Yumna aman karena tidak ketahuan melamun. Pikirannya sedang tidak fokus pada tugasnya malah terbayang wajah Duta saat terakhir Yumna tinggalkan.


Dosen killer itu menatap Yumna tajam dan menyipitkan satu matanya dengan wajah sama sekali tidak percaya pada Yumna.


"Alasan kamu itu klasik. Gak usah bohong sama saya. Mata kamu itu jelas sedang berbohong," tegas dosen killer itu makin marah.


"Maaf Pak. Yumna lagi banyak pikiran," ucap Yumna jujur dan emnundukkan kepalanya dengan dalam.


"Bawa pekerjaan kamu. Kembali lagi minggu depan. Hasilnya sangat tidak memuaskan dan tidak sesuai selera saya. SIlahkan keluar," ucap dosen killer itu dengan suara tegas menyuruh Yumna keluar dari ruangannya.


Yumna tidak punya pilihan lain selain merapikan semua gambar dan hasil print outnya ke dalam tas. Pikirannya benar -benar kacau saat ini.


"Baik Pak. terima kasih. Yumna akan perbaiki lebih baik lagi," ucap Yumna cepat dan pergi dari ruangan dosen itu.


Yumna seengah berlari menuruni anak tangga menuju lantai dasar ke ruang pengajaran untuk memastikan nama Duta benar ada atau tidak di daftar list mahasiswa yang akan wisuda bulan depan.


"Heiii ... Mau kemana cantikk? Aku dari tadi nungguin kamu," ucap Bima mengagetkan Yumna dan menarik tangan Yumna dengan keras dan kasar.


"Bima!! Lepasin Yumna!! Bima!!" teriak Yumna keras saat berada di anak tangga yang sepi itu.

__ADS_1


__ADS_2