Duta & Yumna

Duta & Yumna
6


__ADS_3

Duta memanggil nama Yumna beberapa kali, namun Yumna sudah tidak mengindahkannya sama sekali. Yumna terjatuh terduduk di dapur sambil menyandar pada dinding kulkas yang baru saja ia tutup setelah memebereskan beberapa makanan dan minuma ke dalamnya.


Yumna kecewa, ia tak habis pikir, Duta seperti tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan Yumna yang akan datang kesana hanya ingin sekedar melepas rindu dan memeluk lelaki itu.


Sambungan telepon itu pun di matikan sepihak oleh Yumna. Yumna tidaak ingin Duta tahu kalau ia sedang bersedih dan menangisi keadaannya sendiri yang terasa di asingkan oleh suaminya sendiri, di abaikan dan tak di harapkan. Intinya Duta sama sekali tak menghargai Yumna sama sekali atas usaha Yumna selama ini.


"Kamu jahat Kak Duta!!" teriak Yumna denagn suara keras dan lantang sambil meremasl ponselnya setelah mematikan sambungan telepon itu.

__ADS_1


Duta mencoba menghubungi Yumna kembali tapi Yumna hanya menatap nama suaminya muncul dari layar ponselnya. Ponsel itu bahkan Yumna lempar menjauh dari dirinya. Rasanya sudah enggan dan malas untuk mengangkat sambungan telepon itu. Untuk apa? Kalau hanya bilang minta maaf!! Seribu maaf yang di ucapkan Duta malah membuat Yumna semakin sakit hati dan kecewa.


"Kita sudah menikah, Kak!! Kenapa kamu gak berubah? Yumna bahkan akan paham dengan kondisi Kak Duta yang memang selalu sibuk, bahkan super sibuk. Tapi denagn melihat kesibukanmu, melihat lelahmu yang denagn sungguh belajar daan menyelesaiakn studi kamu disana, itu akan membuat Yumna bangga, membuat Yumna semangat menyelesaikan kuliah Yumna di sini tanpa mengeluh. Melihat semangat Kak Duta yang berjuang untuk Yumna dan kelaurga kecil kita nanti, tentu akan membuat Yumna semakin yakin hidup bersanding denagn Kak Duta. Tapi ... Rasanya kalau seperti ini terus? Yumna pun ingin menyerah saja, bukankah lebih baik kita akhiri semua? Menjalani kehidupan kita masing -masing tanpa menganggu satu sama lain? Tanpa harus memikirkan Kak Duta, tak perlu lagi cemas, tak perlu lagi mendoakan, tak perlulagi menyimpan rindu, tak perlulagi menyimpan cerita hanya untuk di ceritakan saat Kak Duta menelepon Yumna. Semuanya harus berakhir, dan samapai disini, kalau Kak Duta sama sekali gak punya effort apa -apa untuk Yumna. Sejak dulu dan sedari dulu, Yumna selalu berusaha memahami Kak Duta, menayyangi Kak Duta sebesar itu, mencintai Kak Duta seluas itu, tanpa ada kata curiga, tanpa ada kata cemburu, semua Yumna lakukan karena Yumna tidak mau setiap bertemu di awali denagn cek cok, di akhiri dengan keributan besar. Yumna lebih suka memendam, sampai Kak Duta bercerita sendiri teatng kesibukannya, keterkaitannya dengan si A, B atau C. Yumna gak pernah posesif, Yumna gak melarang karena Kak Duta cinta akan organisasi. Sekarang?!! Hubungan kita sudah resmi, sudah SAH, masih saja ada jarak di antara kita, masih saja harus ada yang Kak Duta tutupi tanpa ada keterbukaan!! Yumna BENCII KAK DUTA!!" teriak Yumna di dapur denagn histeri, keras dan lantang.


Air mata Yumna sudah tak terbendung lagi. Rasa sakit hatinya karena kecewa dengan penolakan sepihak kedatangannya ke Jepang membuat Yumna semakin bertanya -tanya dan berpikiran negatif. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa harus seperti ini? Apa yang sebenranya di sembunyikan dari Yumna?


Sesak rasa di dada Yumna saat ini. Ia sudah menunggu waktu liburan semesteran ini untuk bertemu Duta, suaminya. Saat ia mau berangkat, justru Duta bicara yang kurang mengenakkan. Kalau dekat dan Duta ada di depan Yumna mungkin pipi Duta sudah merah di tampar oleh Yumna karena telah mempermainkan perasaannya.

__ADS_1


***


Duta masih memegang ponselnya yang telah mati dengan tatapan kosong ke depan. Hatinya juga seeprti tertusuk -tusuk dan itu terasa nyeri sekali. Batinnya bisa merasakan kesedihan yang tengah di rasakan Yumna saat ini. Andaikan Duta ada di sana dan keadaannya tidak seperti ini, tentu Duta sudah berlari mengejar Yumna dan emmeluk istri kecilnya itu dengan erat, ia hapus air mata Yumna denagn ibu jarinya dan bibirnya akan mengecup sleuruh wajah Yumna agar wanita kesayanagnanya itu kembali tersenyum dan tak di biarkan bersedih lagi.


Tapi apa daya yang bisa dilakukan Duta saat ini? Duta bahkan tak bisa berbuat apa -apa dengan kondisinya yang seperti ini. Duta menunduk, air matanya jatuh ke bawah dan membasahi selimut putih yang ada di rumah sakit itu.


Papah Duta mendekati anal lelaki semata wayangnya itu dan mengusap punggung Duta dengan lembut. Sesama lelaki, Papah Duta tidak mau ikut campur urusan Duta dan Yumna, mungkin kalau hanya sekedar emnasehati dan emmberi gambaran sudah pasti. Tapi untuk mengikuti apa yang seharusnya di lakukan, Duta adalah pria dewasa yang sudah matang, segala keputusan mau baik atau buruk, tetaplah keputusannya. Kedua orang tuanya hanya bisa mengikuti dan menghargai.

__ADS_1


"Duta ... Kalau boleh Papah kasih masukan sedikit untuk kamu. Kamu itu lelkai hebat, anak Papah ssatu -satunya dan paling Papah banggakan. Sebagian sifat yang saat ini kamu miliki adalah sifat yang Papah turunkan, yang paling jelas terlihat adalah keras kepala, egois dan tidak mau terkalahkan. Sikap itu memang bagus jika kamu terapkan sebagai pemimpin organisasi, agar tidak ada yang menggoyahkan kamu, agar kamu tidak di anggap sebagai pemimpin yang lemah. Tapi, kalau kamu memimpin rumha tangga, tidak dengan cara seperti itu. Jadi pemimpin organisasi dan jadi pemimpin rumah tangga itu jauh berbanding terbalik. Kamu pernah menjabat sebagai Ketua OSIS, Ketua Himpunan Mahasiswa, dan terakhir mejadi Ketua BEM, jujur Papah bangga dengan semua prestasi kamu, kamu bisa mengatur waktu kamu yang sibuk anatra belajar, tugas kuliah dan organisasi dengan baik tanpa ada yang terbengkalai, itu yang Papah patut acungi jempol. Makanya Papah selalu membebaskan kamu untuk selalu berkarya, mengasah semua kreatifitas yang kamu miliki, dan nyatanya kamu berhasil!! Kamu sekarang sudah berhasil, kamu sukses menunjukkan pada Papah, dengan semua prestasi besar ini, Duta. Sampai beberapa bulan lagi, kamu bisa wisuda dan kamu akan menjadi sarjana yang paling muda di Kampus kamu, dan itu membuat Papah menangis haru atas semua yang kamu usahakan, kamu upayakan untuk membua Papah dan Bunda bangga pada kamu. Tapi ingat, kamu sudah punya Yumna, Kamu pemimpin rumah tangga, Kamu imammnya, dan Yumna makmumnya. Apapun masalah yang sdeang kamu hadapi saat ini, harus kamu bicarkan dari hati ke hati dan pelan. PApah yakin, Yumna itu menantu yang baik dan lembut. Ia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja dengan keadaan kamu yang seperti ini. Papah dan Bunda malah yakin Yumna rela meninggalkan kuliahnya untuk mengurus kamu, merawat kamu sampai kamu sembuh. Cara kamu salah tadi, kamu akan menyesal jika mengulang kesalahan yang sama. Apa kamu tahu, rasa sakit hati perempuan jika sudah tersakiti? Mungkin ia bisa nekat melakukan apapun? Atau kamu ingat? Yumna punya sindroom takut akan pisau bukan? Rasa trauma itu belum hilang? Terus kalau ia menangis dan terus berteriak lalu pingsan? Di Apartemen tidak ada orang, Ta? Kamu gak kasihan? Kmau gak berpikir sejauh itu? Ini yang Papah bilang, menjadi seorang pemimpin organisasi dan rumah tangga itu berbanding terbalik, salah satunya hati dan perasaan. Mungkin menjadi pemimpin organisasi, kamu harus mengesampingkan hati dan perasaan kamu, karena apa? Dunia organisasi itu keras, satu sama lain bisa saling menjatuhnkan dan menyimpan dendam. Jika memimpin rumah tangga, hanya ada pasangan kamu, kamu harus tetap pakai hati, perasaan, dnegan sayang, dengan cinta agar tetap harmonis dan hangat. Lihat, kalau begini bukankah malah runyam, bikin emosi, cek cok, salah paham, betul gak? Pikirkan baik -baik, kalau seperti ini terus, Papah yakin, Yumna pasti menyerah dengan sikap kamu," tegas Papah Duta menasehati. Papah Duta terus mengusap pelan punggung Duta dan Bunda Gita memeluk anak lelaki itu seolah emmberikan dukungan penuh dan menyemangati Duta kembali.


__ADS_2