Duta & Yumna

Duta & Yumna
88


__ADS_3

Seharian ini, Yumna dan Duta membereskan rumah sewanya agar lebih nyaman untuk di tempati. Memindahkan posisi letak kasur dan lemari pakaian serta dapur. Setelah ini, mereka berdua akan pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan untuk di rumah, seperti makanan, minuman dan perlengkapan yang mereka belum bawa sebelumnya.


"Belilah apapun yang kamu inginkan, Na. Jangan lupa, beli banyak cemilan da stok susu hamil yang banyak. Takutnya Kakak pulang malem atau tidak bisa di buru- buru pulang kerja karena harus penyesuain sama kerjaan juga," ucap Duta sambil mengusap kepala Yumna dengan sangat lembut.


Kedua mata Yumna menatap sendu ke arah suaminya. Belum juga kerja, tapi rasanya Yumna sudah muali kesepian dan hampa. Yumna memang sudah terbiasa tanpa Duta, suaminya karena Duta memang sejak dulu sibuk. Tapi, kali ini ia sednag hamil, inginnya setiap hari di perlakukan manja dan manis oleh sang suami. Rumah tangga Yumna kembali di uji lagi, Yumna harus sabar demi si buah hati dan kesuksesan keluarga kecilnya.


"Iya Kak Duta, yang penting Kak Duta tetep semangat kerjanya, terus saatnya kontrol kandungan Yumna, Kak Duta harus siap dan siaga," ucap Yumna manja.


"Pasti cantik. Kalau urusan si buah hati, pasti Kakak akan lakukan apapun juga," ucap Duta berjanji sambul memencet hidung mancung Yumna dengan sangat gemas.


"Auu ... Sakit Kak," ucap Yumna sambil melotot.


"Kamu sih gemesin aja," ucap Duta terkekeh sendiri.


Yumna dan Duta berputar di supermarket, masuk di lorong dan mengambil semua barang yang memang mereka butuhkan.

__ADS_1


"Spreinya ambil dua, Na. Satu warna biru dan satu lagi warna pink. Jangan lupa handuknya juga dua, keset, lap untuk piring dan kompor," titah Duta mengingatkan.


"Iya Kak. Mau beli perabotan juga?" tanya Yumna pelan.


"Seperlunya sayang, yang penting ada dua piring, dua gelas untuk kita makan. Nanti kalau Kakak sudah gajian kita bisa mencicil membelinya lagi," ucap Duta pelan.


Yumna nampak mengangguk kecil dan menurut. Yumna tak berani banyak bertanya, apakah Duta tidak memiliki uang lebih untuk biaya hidup di Paris? Kalau memang kurang, Yumna memiliki sedikit tabungan di rekeningnya. Bunda Sinta juga menambahkan isi saldo rekening Yumna sebagai tambahan saja.


"Kakak gak pegang uang?" tanya Yumna akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Ada kok, Na. Bukan gak pegang uang. Kita hidup satu bulan disini, Na. Kakak takut uang yang kakak bawa itu kurang, tapi sebisa mungkin itu cukup dan tak membuat kamu lapar serta kesusahan. Mintalah apapun yang kamu butuhkan, Na. Kamu tahu, Kakak baru mulai akan bekerja dan baru bulan depan Kakak menerima gaji. Paham kan maksud Kakak," ucap Duta pada Yumna.


Yumna menegangguk paham. Benar sekali, ini Paris bukan Indonesia yang beli gorengan masih denagn harga seribu. Mungkin di Paris satu gorengan bisa lima rupiah bila di rupiahkan.


"Iya Kak. Maaf ya Kak. Kalau bawa Yumna ke pRis jadi merepotkan," ucap Yumna memeluk Duta.

__ADS_1


"Heii ... Kamu ngomong apa sih? Sama sekali gak merepotkan, Yumna sayang. Tapi memang kita belajar mengatur keuangan dengan baik, haris bisa berhemat tapi bukan mnegurangi kenikmatan. Intinya belilah yang kita perlu dan pasti kita makan atau kita gunakan. Jangan buang -buang uang. Apalagi kamu juga sedang hamil," ucap Duta menjelaskan.


"Apa Yumna gak usah melanjutkan kuliah saja ya, Kak?" ucap Yumna pelan.


"No. Kamu harus tetap lanjutkan kuliah kamu, Na. Sayang lho sudah semester lima. Kalau kamu berhenti atau cuti, nanti kamu akan malas lagi memulainya. Kakak ingin melihat orang tua kamu bangga sama kamu, Na, sama Kakak juga yang tetap bisa membuat kamu menjadi seorang sarjana arsitek. Tetap kuliah ya sayang. Jangan ada kata malas," titah Duta pada Yumna sambil mengacak pucuk rambut Yumna.


"Tapi ... Nanti uang Kakak habis. Kuliah disini gak murah biayanya, Kak," ucap Yumna sambil mendorong trolly dan memasukkan persediaan susu, gula, kopi, dan teh untuk di rumah sewanya.


"Kalau untuk itu, Kakak sudah siapkan untuk kamu, sayang," ucap Duta tersenyum manis.


Duta memang tidak mau membawa uang yang di berikan kedua orang tuanya kemarin. Duta hanay membawa uang yang ia dapatkan dari Jepang. Saat itu ia mendapatkan bayaran yang cukup besar karena proyek yang mereka kerjakan berhasil. Sebagian sisa uang jajan Duta yang memang ia sisihkan untuk di tabung demi keperluan masa depannya.


Duta juga menjual motor dan mobilnya yang ada di Indonesia untuk tambahan bekal selama di Paris. Duta ingin hidup mandiri dan menjaga Yumna dengan baik.


Kedua orang tua Duta juga tak bisa berbuat apa -apa. Tapi diam -diam, Bunda Gita menitipkan satu kartu ATM lewat Yumna. Bunda Gita berpesan itu adalah hadiah untuk si buah hati. Bunda Gita juga berpesan agar Duta tidak mengetahui itu karena Duta sempat menolak. Yumna juga ikut menolak, tapi Bunda Gita memohon agar Yumna mau menyimpannya.

__ADS_1


__ADS_2