
Pagi ini Yumna sudah terbangun dan bersiap untuk ke kampus di pagi hari untuk sesi pertama. Kuliah smester akhirnya ini cukup menguras tenaga dan pikirannya. Tugas yang banyak dan semuanya harus di kerjakan secara personal dan amu tidak mau, Yumna harus lembur setiap malam.
Yumna menlihat dirinya di depan cermin, tubuhnya mulai terlihat berisi dan pakaiannya mulai terlihat kesempitan dengan perut yang semakin terlihat membuncit.
"Perutnya mulai besar. Mana baju ini udah mulai sempit, bikin gak nyaman bergerak aja sih," ucap Yumna kembali ke lemari pakaian dan emncari pakaian yang masaih cukup dan sedikit longgar.
Kedua matanya terus menatap pada tumpukan baju. Semua pakaiannya hanya kemeja pendek dan kaos berkerah saja. Yumna mengambil satu kaos over size tanpa kerah.
Yumna mengganti kemejanya yang mulai sempit dengan kaos oblong bermotif fido dido berwarna putih tulang. Yumna memakai celana leging yang berukuran besar untuk menutupi perutnya agar terlindungi. Kemudian Yumna mengambil jaket levis dengan kerah untuk di pakai menutupi kaos oblongnya.
Rambut panjangnya hanya di kuncir ekor kuda dan wajahnya hanya di olesi pelembab bayi. Yumna langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan cepat.
"Bunda ...," teriak Yumna membawa tas ransel dan satu gulung kertas gambar yang akan di bawa ke kampus.
__ADS_1
Yumna langsung masuk ke ruang makan dan langkah kakinya terhenti melihat Duta ada di antara kedua kakak lelakinya dan Bunda Sinta sedang tersenyum lebar.
Yumna langsung berbalik dan bicara keras untuk berpamitan.
"Yumn alangsung aja ya. Sarapan di kampus aja, udah di tunggu dosen," ucap Yumna cepat.
Duta langsung berdiri dan menegjar Yumna. "Yumna!!" teriak Duta keras membuat Dafa dan Jone saling berpandangan dan menggelengkan kepalanya.
"Dua -duanya masih labil," ucap Jone singkat dan segera menghabiskan sarapan paginya.
"Iya Bun. Yuri juga bilang begitu. Kedua orang tuanya ingin Yuri biar merasakan bekerja dulu. Lagi pula Dafa juga masih mau mengurusi perusahaan Papah biar berkembang dan maju lagi," ucap Dafa santai dan tenang.
"Bagus. Jone? Kamu gimana? Kenapa sampai sekarang belum ada wanita yang kamu bawa ke rumah untuk kamu seriusin sih?" tanya Bunda Sinta pada putra sulungnya.
__ADS_1
"Nanti Bun. Belum kepikiran untuk memiliki hubungan serius sama cewek. Lihat Yumna aja berasa ikut naik roll coaster, berasa ikut jantungan," ucap Jone santai.
"Setiap orang itu gak sama Jone. Yumna dan Duta mungkin menikah terlalu muda, jadi begitu. Di tambah, adik bungsumu itu kan begitu manja dan belum paham berkeluarga, masih maunya seneng -seneng. Beda sama kalian yang laki -laki dan pastinya punya pandangan lain tentang pernikahan," ucap Bunda Sinta pada kedua putranya.
Jone dan Dafa saling menatap dan menarik napas panjang. Kedua kakak Yumna telah berjanji untuk tidak menikah sebelum Yumna dan Duta rujuk dan mereka hidup bahagia serta menunggu keponakannya lahir.
"Kita berdua mau bahagiain Bunda dulu. Bunda adalah wanita yang harus di bahagiakan saat ini bukan wanita yang lain," ucap Jone lembut dan memegang tanagn Bunda Sinta.
Kedua putranya kini sudah besar dan ememgang masing -masing satu perusahaan peninggalan Papahnya. Bunda Sinta juga mulai bisa melupakan tragedi buruk kematian sang suami.
Ponsel Jone berbunyi dan Jone mengangkat telepon itu dan menjawab dengan sopan. Raut wajahnya seketika berubah setelah menerima sambunagn telepon tadi.
"Ada apa Jone? Kenapa raut wajah kamu berubah begitu?" tanya Bunda Sinta bingung.
__ADS_1
"Bang? Kenapa?" tanya Dafa ikut penasaran.