Duta & Yumna

Duta & Yumna
89


__ADS_3

Pagi ini, Yumna sudah terbangun saat masih gelap. Ia ingat pesan Bundanya untuk melayani Duta, suaminya dengan baik. Itu adalah kewajiban istri. Apapun yang di sediakn oleh istri, tentu akan di hargai oleh suami. Apalgi posisi Yumna sedang mengandung benih cinta mereka.


Yumna mengguyur tubuhnya dan keramas agar pagi ini tampak lebih fresh. Yumna membuat teh manis panas dan susu hamil untuk dirinya dan Duta. Lalu membuat sarapan pagi sbeisa Yumna. Maklumlah, anak manja yang tak terbiasa di dapur harus di paksa untuk bisa.


"Sayang ... Seger banget sih. Wangi lagi. Bikin pengen nih pagi -pagi," ucap Duta tiba -tiba memeluk Yumna dari arah belakang emmbuat Yuma kaget.


"Kak Duta. Ngagetin aja deh. Untung gak tumpah ini air panasnya," ucap Yumna sedikit kesal sambil mengerucutkan bibirnya ke depan karena kesal.


Duta mencubit gemas bibir Yumna sambil memutar sedikit.


"Nanti Kakak cium lho kalau bikin gemes terus. Kamu kok curi start awal mandi sih, Na," ucap Duta berbisik sambil menciumi leher Yumna yang terlihat jenjang dan mulus. Tangan Duta masuk ke dlaam kaos Yumna dan mengusap perut istrinya yang masih rata dengan perlahan.


Yumna memang tidak mendesah tapi tubuhnya sedikit bergetar merinding kegelia. Namun Yumna sama sekali tak menolak.


"Mandi lagi yuk, bareng Kakak," bisik Duta yang merasa kurang puas dengan permainan semalam. Yumna terlihat sudah kelelahan setelah seharian beres -beres kamar sewanya.


"Eumhh ... Mau bikin sarapan sayang," ucap Yumna mencoba menolak secara halus.


"Baru jam lima sayang. Sebentar saja," pinta Duta terus berusaha merayu Yumna.


"Iya sebnetar. Ini tanggung. Kakak tunggu di kamar saja," ucap Yumna pelan. Mau menolak tapi tidak mungkin kan.


"Kakak tunggu ya sayang," jawab Duta mulai terlihat bersemangat lagi.


Yumna membawa dua gelas minuman hangat dan meletakkan di meja kecil sebagai tempat penyimpanan makanan.


Duta sudah siap bertempur. Tubuhnya sudah polos dan terlentang di atas ranjang. Yumna tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang tidak biasa ini.


Yumna melepas handuk yang melilit rambut panjangnya dan beringsut naik ke atas kasur memeluk suaminya denagn belalai gajah yang berusaha mencari tmpat ternyaman.


Duta memluk istrinya dan menciumi seluruh wajah Yumna yang dingin karena telah mandi pagi. Harum aroma sabun cair favorit mereka membuat Duta semakin kepayahan menahan hasratnya yang tak terbendung.


"Buka ya sayang," cicit Duta lembut sambil berusaha membuka baju Yumna dengan menariknay ke atas.


Yumna memilih diam dan membiarkan Duta melakukan semuanya atas keinginannya sendiri. Mulai menciumi semua tubuh Yumna yang terlihat indah sempurna di dpean matanya. Akhir -akhir ini, Duta menjadi laki -laki normal yang terkadang kehilangan akal sehatnya. Menginginkan itu setiap hari. Rasanya setelah melakukan itu, tubuhnya terasa segar dan ebrsemangat kembali.


Duta terlihat kalap dan menikmati semuanya dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Hawa dingin pagi itu sama sekali tak terasa dingi, yang ada tubuh mereka berdua terasa hangat dan terus berkeringat. Olah raga pagi di kasur itu memang membuat candu. Janjinya hanay sekali, lalu berlanjut dua kali, dan tiga kali. Kalau tidak ingat ini adalah hari pertama Duta masuk kerja, mungki Duta kan terus berada di atas tubuh Yumna dan tak akan turun.


"Terakhir ya," pinta Duta yang perlahan memegangbelalai panjangnya dan bersiap mengeram di dalam gua ternyaman millik pribradi.


Duta tak ada lelahnya dan terus bergerak maju mundur sesuai dengan hasrat nalurinya hingga puncak kenikmatan itu di gapai dengan sempurna. Cipratan mayonise itu keluar meleleh dari lubang karena tak cukup manmpung.


Sekali lagi, Duta menciumi wajah Yumna dengan puas dan berbisik.


"Terima kasih ya sayang," ucap Duta lirih.


Duta langsung turun dari tempat tidur dan emngangkat tubuh Yumna lalu mandi bersama. Waktu sudah menujuk pukul neam pagi tepat. Walaupun tempat kerja Duta hanya cukup di allui dengan sepuluh menit berjalan. Setidaknya hari pertama masuk kerja ini, tidak memberikan kesan buruk pada om wisnu.


Duta sudah selesai terlebih dahulu, tidak lupa tadi Duta mengeramasi Yumna dan menyabuni punggung Yumna. Duta merapikan tempat peraduan mereka dan Yumna membuat sarapn di dapur dengan lilitaan handuk saja. Rasanya jadi terburu buru dan tak smepat untuk mengambil baju.


Duta sudah bersiap dengan pakaian kerjanya yang telah di siapakn oleh Yumna di atas meja rias itu.


"Ayo kita makan Kak," ucap Yumna membawa dua mangkuk panas ke dalam kamar dan meletakkan di atas karpet allu menurunkan dua gelas minuman yang mulai mendingin dan dua tiples berisi kerupuk dan cemilan keripik yang coock di makan dengan menu sarapan pagi ini.


Duta menatap sarapannya dan tersenyum manis, lalu menatap Yumna yang sedang mencari pakaian lalu memakainya.


"Kenapa? Maaf ya Kak, cuma mie instan," ucap Yumna lirih.


Yumna menatap Duta dan memeluk tubuh lelaki tampan itu.


"Makasih ya Kak. Yumna yang beruntung memiliki Kakak. Suami yang baik, sayang dan peka. Tidak pernah menuntut istrinya untuk menjadi seperti istri -istri hebat lainnya. Kakak benar -benar bisa menerima Yumna apa adanya," ucap Yumna lembut.


"Tentu saja sayang. Tentu bisa. Karena cinta Kakak tulus sama kamu, Na. Sayang Kakk tidak maian -main," ucap Duta lembut.


"Udah ahhh ... Bikin hidung Yumna mengembang ini. Dimakan kak," pinta Yumna memberikan satu mangkuk mie instan dan satu gelas teh manis.


"Terima kasih istriku sayang," ucap Duta denagn sneyum bahagia.


"Sama -sama suamiku, sayang," jawab Yumna sambil terkekeh sendiri.


Duta menikmati mie instant itu dengan cepat sambil mencampurkan kremesan kerupuk pangsit di atasnya dan di beri saus sedikit.


"Kamu jadi ke kampus? Untuk daftar kuliah?" tanya Duta lembut.

__ADS_1


"Ekhemmm ... Mneurut Kakak gimana? Yumna bimbang," ucap Yumna jujur.


"Lanjutkan kuliahnya ya sayang. Demi Kakak, demi anak kita, dan demi kedua orang tua kamu," titah Duta menasehati.


"Tapi Kak ...," ucap Yumna pelan.


"Gak ada tapi -tapian. Mau kakak anter untuk daftarnya?" tanya Duta pelan.


"Gak Kak. Yumna gak mau ganggu pekerjaan Kakak. Nanti Yumna ke kampus sendiri untuk mendaftar," ucap Yumna pelan.


"Oke. Kakak tunggu kabar kamu, Na. Kakak butuh kabar kamu kalau kamu sudah sampai di kampus. Satu hal lagi, bilang kalau kamu sudah menikah dan sedang hamil. Biar tidak ada yang mengira kamu dengan pikiran buruk mereka. Paham kan maksud Kakak?" tanya Duta pada Yumna.


"Paham Kak," jawab Yumna dengan cepat.


Duta meletakkan mangkuk kosong itu dan bersiap untuk berangkat kerja.


"Kakak berangkat dulu. Ini uang untuk jajan kamu hari ini. Belilah makan untuk siang nanti atau jajanan apapun yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, beli. Makan malam biar Kakak yang belikan untuk kamu sepulang kerja. Satu hal lagi, jangan terima makanan dari siapa pun, orang yang tidak kamu kenal," ucap Duta pada Yumna.


"Iya Kak," jawab Yumna sambil memeluk pinggang Duta dan mengantarkan Duta hingga ke pintu depan.


Duta memeluk istrinya dan emncium kedua pipi Yumna dan ekning Yumna lalu berlutut di depan Yumna dan emmbuka sedikit kaos yuman dan mencium perut Yumna.


"Jangan nakal ya sayang. Kasihan Mama Yumna, nanti lelah," bisik Duta pada buah hatinya.


Yumna tersenyum lega, Duta begitu sayang pada dirinya dan buah hatinya. Nikmat mana yang di dustakan memiliki suami yang super baik seperti ini.


Duta kembali berdiri dan mengecup bibir Yumna.


"Hati -hati di rumah ya. Kalau pergi, hati -hati juga," titah Duta pada istrinya.


"Kakak juga hati -hati. Jaga hati, jaga mata," ucap Yumna pada suaminya.


"Pasti sayang. Hatinya udah mentok sama kamu, Na," kekeh Duta dan berlalu pergi menuruni paviliun itu dan berjalan menuju kantor barunya.


Yumna masuk kembali ke rumah dan mengunci pintu rumahnya dan membereskan mangkuk kotor bekas sarapannya tadi baru mengganti pakaian dan bersiap menuju kampus sekalian berjalan -jalan untuk kesehatan kandungannya.


Baru juga selesai mencuci piring dan menyapu kamar. Dari arah depan terdengar suara ketukan pintu yang agak keras.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ...


Yumn apun berteriak keras, "Siapa?!"


__ADS_2