
Bohong kalau Yumna tidak panik. Pasalnya Yumna tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Duta selama ini. Bisa saja Duta memang memiliki penyakit turunan? Atau penyakit dalam lainnya. entu ada kemungkinan kan?
Yumna malah bingung dan mondar mandir masuk ke dalam kamar lalu keluar lagi menuju balkon. Sedangkan Duta masih membungkukkan tubuhnya dan emmegang bagian dadanya sambil meringis kesakitan.
"Kak? Kakak kenapa Kak? Ke Dokter ya Kak? Apa ke rumah sakit?" tanya Yumna mulai kacau.
"Na ... tolong Kakak bawa ke kasur saja," rintih Duta pada istrinya sambil berusaha menggapai tubuh Yumna.
Yumna langsung merangkul Duta dan membantu berdiri untuk di bawa perlahan memasuki kamar. Dengan cepat Duta malah menarik tubuh Yumna dan mengangkat tubuh Yumna lalu masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu kamar tidur.
"Kak Duta!! Ihh nyebelin banget bikin Yumna deg -degan tahu!! Turunin Yumna!! Kakak mau ngapain?" tereiak Yumna terus meronta. lain di bibir lain di hati. Bibir berteriak tapi bahasa tubuhnay malah memeluk erat tubuh Duta yang membawa tubu mungil istrinya untuk di rebahkan di kasur peraduan mereka.
"Bisa gak sih kalau gak perlu teriak -teriak begitu? Kayak mau di apain aja," bisik Duta sambil mengusap pipi Yumna dengan jari telunjuknya.
Wajah Duta makin mendekat ke arah wajah Yumna. Posisi Duta yang tadinya duduk di tepi ranjang setelah emrebahkan tubuh Yumna, kini ikut setengah menindih tubuh Yumna, istrinya.
__ADS_1
"Kakak mau apa?" tanya Yumna polos sekali. kedua mata Yumna menatap lembut kedua mata Duta yang tak berkedip memuja istrinya.
"Kamu cantik sekali malam ini, Na?" bisik Duta dengan napas berat yang berungkali mendesah pelan seperti menahan gairahnya.
Lampu kamar tidur sudah mati, tapi pintu kaca yang menghubungkan antara balkon dengan kamar tidur tidak di tutup dan angin dingin malam itu menusuk hingga ke kulit mereka dan keduanya semakin mencari kehangatan dengan berpelukan. Tirai putih yang ikut terbang terbawa angin sesekali membuat suasana malam itu semakin bergelora. Gairah nakal yang terpendam di campur dengan rindu yang sudah membuncah membuat keduanya semakin tak peduli lagi suara -suara yang ada di sekitar mereka.
Duta menciumi wajah Yumna dan tak ada yang terlewatkan setiap inchi. Duta yang juga sudah menahan ingin bersama Yumna sejak kedatanagnnya beberapa hari lalu membuat pikirannya malam ini kacau dan kalap.
"Emhhh ... Kak ...," desah Yumna saat jari jemari Duta mulai berhasil membuka pakain tidur Yumna dan berjalan pelan menyusuri tubuh mulus itu.
Keringat basah sudah membasahi keduanya saat senam panas itu akan segera di mulai.
"Buka ya Na," pinta Duta dengan napas yang mulai berat dan terengah -engah.
Yumna hanya menganggukkan kepalanya pelan dan pasrah menerima perlaukan Duta yang begitu manis.
__ADS_1
"He em ...," jawab Yumna mbil menggigit bibir bawahnya. Baru saja, Duta mencium bibir Yumna dengan liaar sekali. Rasanya Duta belum pernah seberani ini. Dulu saja, agak berhati -hati melakukannya tidak seburu -buru ini.
Duta langsung bangkit berdiri dan melepas piyama handuknya. Yumna sendiri melepas pakaian tidurnya yang sudah tak berkancing itu.
Pergulatan panas itu segera di mulai. Ranjang king size yang selalu sepi, dingin dan tertata rapi itu kini sudah basah karena keringat dan cairan yang keluar dari masing -masing tubuh keduanya. Tak hanya itu saja, selimut yang sudah terjatuh ke lantai dan bantal gulinga yang sudah tersebar di kasur. Belum lagi sprei yang muali acak -acakan dan sebagian terelpas dari kasur empuk itu.
Benar -benar keduanya sangat menikmati pertemuan pertama itu. Udara dingin yang keluar dari AC makin tak terasa dingin. Angin malam dari luar juga tak mampu lagi menusuk hingga ke pori -pori kulit. Smeua terasa panas dan tak bisa menghilangkan keringat itu dalam sekejap.
"Uhhh ... Kak ...," ucap Yumna lirih sekali saat Duta sudah lemas dan masih belum turun dari atas tubuh Yumna.
"Maaf ya. Berat ya, Na?" tanya Duta lembut sambil mengecup dahi Yumna lalu kedua pipi Yumna dan etrakhir kecupan di bibir mungil Yumna.
"Gak berat kok. Cuma Yumna mau pipis," ucap Yumna terkekeh sambil membalas ciuman Duta.
"Kirain berat," ucap Duta yang langsung turun dari tubuh Yumna lalu tubuh Duta terlentang di kasur. Rasanya luar biasa sekali malam ini.
__ADS_1