
Yumna menangis sejadi -jadinya, tangannya terkepal erat dan emmukulkannya pada udara yang tak tersentuh. Hatinya terluka melihat keadaan Duta saat ini, tepat di depan matanya sendiri. Yumna melihat Duta tak bisa berbuat apa -apa, mengejar Yumna pun tak mampu. Apalagi harus mencari Yumna bila bersembunyi dari lelaki tampan itu.
Kedua telapak tangan Yumna mengusap kasar wajahnya yang telah basah karena derasnya air mata yang turun ke pipinya dan bercampur dengan cairan bening yang turun dari hidungnya.
Yumna menatap lekat ke arah Duta dari sela -sela jarinya yang terbuka sedikit. Lelaki itu mengepalkan tangannya dan memukul tangannya ke pegangan kursi rodanya dengan keras lalu berteriak dengan keras.
"YUMNA!!!" teriak Duta dengan suara yang keras sekali. Nadanya begitu lantang namun begitu menyentuh dan meyayat hati Yumna.
Bukan hanya Duta yang terpukul dengan kondisinya saat ini. Yumna pun syok melihat semua ini. Harapannya seperti pupus begitu saja. Yumna tetap terdiam tak bersuara menahan isak tangisnya. Rasanya mulutnya ingin berteriak sekeras- kerasnya dan terus merutuki kebodohannya selama ini. Penyesalannya sungguh tak termaafkan.
Dalam hatinya terus membatin, mungkin jika saat itu Yumna ikut Duta ke Jepang, ceritanya tentu akan berbeda dan bisa jadi kejadian ini tak mungkin menimpa Duta, suaminya.
Yumna memundurkan langkahnya hingga tubuhnya tak bisa lagi bergerak dan merapat di dinding pembatas itu. Kedua mata Yumna masih menatap Duta dengan tatapan nanar dan sendu, yang jelas Yumna tak bisa lagi berkata -kata. Yumna hanya bisa menangis dan kini tubuhnya luruh begitu saja ia jatuhkan ke lantai hingga teduduk dengan punggung menyandar di dinding pembatas itu.
Tatapannya tak lepas dari gerakan Duta yang terus terlihat pasrah sambil mencari Yumna denagn kedua tangannya. Mungkin Duta masih berharap Yumna ada di sana, di smapingnya dan tidak pergi meninggalkan Duta.
"Na ... Yumna, kamu benar -benar pergi?" panggil Duta memastikan. Tangan Duta meraba -raba menembus angin mencari keberadaan Yumna sambil memutarkan kursi rodanya. Duta berharap, Yumna tidak pergi meninggalkannya, Duta masih membutuhkan Yumna, sosok istrinya kini penting untuk memotivasi hidupnya.
Wajah Yumna sudah kusut tak karuan, kepalanya di sandarkan pada dinding dan mendongak ke atas langit. Taburan bintang begitu banyak dan indah memberikan cahayanya yang kemilau. Lama -lama pandangannya itu kabur dan kepalanya semakin berat untuk di tegakkan.
Wajah Duta seperti pasrah saat tak menemukan Yumna di sana. Mungkin sudah takdirnya ini terjadi, tak masalah jika memang Yumna malu mengakuinya. Bisa jadi ini karma bagi Duta, karena Duta dulu juga secara tidak langsung mengesampingkan Yumna sebagai kekasihnya.
Duta mengusap wajahnya dengan telapak tangannya dengan asal. Ia hanya ingin wajahnya tak lagi terlihat habis menangis. Duta terdiam sambil menekan tombol seperti memanggil seseorang.
Tak lama, Bunda Gita dan suaminya datang dari arah pintu lain. Tentu tatapan Bunda Gita tertuju pada Yumna yang terduduk di pojokan dinding pembatas itu.
__ADS_1
***
Tubuh Yumna lemah dan lemas. Tubuh mungil itu kini ada di atas brankar rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif.
Duta yang buta dan tak bisa berjalan tetap berada di kursi roda dan menemani Yumna. Sejak semalam Yumna tak sadarkan diri dan sampai sekarang belum juga siuman.
Tangan Yumna di genggam erat oleh Duta dan di ciumi punggung tangan yang terasa dingin itu sejak semalam hingga Duta sendiri tertidur dengan kepala di letakkan diatas kasur samping tubuh Yumna berbaring.
Kedua mata Yumna mulai bergerak dan membuka perlahan hingga matanya benar -benar terbuka lebar. Tangannya mulai bergerak dan pergerakannya mengenai kepala dan rambut Duta. Lelaki itu terkesiap dan mencari -cari tangan Yumna lalu terduduk tegap. Walaupun saat ini ia hanya bisa menemani tanpa bisa merawat Yumna dengan baik, setidaknya Duta masih ingin bisa membuat berati keberadaannya di samping Yumna.
"Na ... Kamu gak apa -apa, Sayang?" tanya Duta lembut.
Yumna membuka kedua matanay hingga pandangannya kini bertemu dengan kedua mata Duta yang kosong menatapnya.
Tangan Yumna terulur dan menyentuh wajah Duta yang hangat.
"Kak ...." panggil Yumna kemudian.
Akhirnya suara lembut itu di dengar oleh Duta. Duta tersenyum manis sekali, dan kini hanya bisa Yumna nikmati seluruh mimik wajah Duta tak mungkin Duta bis amelihat wajah Yuma yang sedih melihat kondisi Duta.
"Na ... Yumna ... Kakak pikir kamu pergi. Kamu ninggalin Kakak. Kakak tadi malam panggil -panggil kamu, tapi tak ada jawaban. Kakak kacau, Kakak pasrah, jika memang kamu mau pergi, pergi saja, Kakak tidak apa, Kakak apsti bisa melalui ini semua, Kakak bisa melepas kamu, jika kamu ingin bahagia. Kakak ikhlas," ucap Duta menggenggam tangan Yumna sambil menangis sesegukan.
"Kakak bicara apa? Yumna gak akan pergi, sebelum mimpi Yumna terwujud," ucap Yumna pelan.
Duta terkesiap, ia bingung dengan ucapan Yumna barusan. Mimpi apalagi yang bisa Duta wujudkan untuk istri tersayangnya itu. Mengambil minum pun, Duta tidak bisa melakukannya untuk Yumna sekarang ini.
__ADS_1
"Mimpi? Maaf kalau Kakak sudah mematahkan harapan kamu, memusnahkan semua mimpi kamu, Na. Kakak tidak bisa mewujudkan semuanya," ucap Duta menangis.
"Kakak pasti bisa mewujudkan mimpi Yumna. Tolong Kak, kabulkan keinginan Yumna kali ini, agar kita semakin terikat satu sama lain. Yumna akan merawat Kakak sampai Kakak sembuh, Yumna akan carikan donor mata untuk Kakak, agar Kakak bisa melihat Yumna lagi. Kakak mau kan? Berjuang mewujudkan mimpi Yumna?" tanay Yumna dengan cepat.
Duta mengangguk cepat dan menciumi tangan Yumna berkali -kali.
"Kakak mau Na. Kakak siap mewujudkan semuanya. Kakak mau berjuang jika itu menjadi mimpi kamu. Tapi, Kakak minta kamu sabar, mungkin prosesnya tidak semudah apa yang kita bayangkan. Selama ini, Kakak juga berusaha Na, mencari donor mata, namun tak satu pun ada yang cocok. Itu tidak mudah, Na. Sangat tidak mudah," ucap Duta menangis sendu.
Duta merasa terharu saat ini. Kondisinya yang seperti ini, masih di akui oleh Yumna. Yumna tidak malu, bahkan Yumna masih menyemangati Duta untuk sembuh dan berusaha mewujudkan mimpi -mimpinya satu per satu.
Yumna bangun dari tidurnya dan duduk lalu kedua kakinya turun dari brankar yang ia pakai. Kini tubuhnya sudah berdiri di samping Duta dan memeluk tubuh Duta dengan erat.
"Yumna akan selalu di samping Kakak. Yumna gak akan pergi meninggalkan Kakak. Maaf jika tadi malam, Yumna melepas genggaman tanagn Kakak, jujur Yumna kaget Kak," ucap Yumna lirih.
Yumna terus memeluk tubuh Duta. Kini Yumna bersujud di depan Duta dan mengalungkan tangannya di leher Duta sambil menautkan kedua kening mereka. Yumna berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap setia dan tetap menemani Duta dalam keadaan dan kondisi apapun.
"Makasih ya Na ... Kakak tidak tahu harus bagaimana jika kamu meninggalkan Kakak tadi malam," lirih Duta berbisik.
"Yumna masih ada Kak, Yumna tidak akan pergi dari Kakak," jawab Yumna lirih.
Ruangan rawat inap itu masih sepi dan sunyi. Yumna mendekatkan wajahnya dan menautkan bibirnya di bibir Duta. Yumna rindu sekali denagn kemesraan ini. Bibir Duta yang sedikit tebal masih terasa hangat saat menyentuh bibirnya. Yumna tahu, Duta juga merindukan dirinya. Ciuman mereka semakin dalam dan mereka menikmati rasa rindu mereka yang selama membuncah dalam hati mereka. Duta semakin larut dan hanyut dalam rindunya, Duta terbawa suasana dan ******* bibir mungil dan tipis Yumna. Duta tak kuasa membendungnya lagi. Mungkin kalau kondisinya baik -baik saja, ia sudah bergumul di dalam ruangan sempit untuk mencurahkan rasa cinta mereka dan rasa rindu yang mereka rasakan selama enam bulan ini.
"Kakak cinta sama kamu, Na. Terima kasih sudah mau tinggal di hati Kakak," ucap Duta lirih di sela -sela ciumannya. Duta tak melepas ciuman itu.
Ucapan Duta membuat Yumna menatap Duta dan meengeratkan lagi pelukannya pada tubuh Duta. Kerinduannya terbayar sudah dengan ciuman hangat dan mesra dari Duta pagi ini. Benar -benra mengangumkan sekali.
__ADS_1