Duta & Yumna

Duta & Yumna
87


__ADS_3

Baru juga pesawat berada di udara beberapa jam. Yumna mulai merasa mual dan pusing. Sesekali Yumna menahan rasa ingin memuntahkan isi perutnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Duta pada Yumna. Yumna menutup mulutnya dengan tisu dan mencium aroma minyak kayu putih untuk menghilangkan rasa mualnya.


"Mau muntah Kak," ucap Yumna lirih.


"Kamu tegang ya? Jangan tegang, Sayang. Di bikin santai atau tidur kayak tadi lagi di sini," titah Duta pada Yumna, istrinya sambil menepuk lengannya yang kekar siap untuk di jadikan bantalan kepala Yumna.


"Gak Kak. Yumna gak mau lengan Kakak keram dan sakit seperti tadi," ucap Yumna. Tadi Duta sempat mengeluh pegal dan linu di area sikut karena menahan kepala Yumna.


"Itu kan tadi. Sekarang gak kok. Lengan Kakak siap untuk membuat kamu nyaman," ucap Duta memberikan ketenangan pada Yumna.


"Tadi bilangnya capek," ucap Yumna kesal. Pasalnya Yumna tadi sedang nyaman dan tertidur pulas malah di bangunkan karena Duta lelah dan tangannya mulai terasa keram.

__ADS_1


"Itu kan tadi, Sayang. Sekarang gak kok," ucap Duta lembut lalu menarik kepala Yumna dan menyenderkan di lengan kekarnya.


"Kak ...," ucap Yumna lirih saat kepelanya sudah merasakan nyaman di lengan kekar itu.


"Sudah ... Jangan banyak bicara. Tidur Na. Kamu itu perlu istirahat yang cukup biargak lelah karena kamu sedang mengandung," ucap Duta lembut sambil mengusap wajah Yumna pelan.


"Iya Kak," jawab Yumna pelan sekali.


Yumna menutup kedua matanya dan mulai berada di alam mimpi, berharap saat membuka kembali kedua mata itu,mereka berdua sudah sampai di negara tujuan mereka.


Beberapa jam kemudian pesawat mendarat dengan sempurna. Semua penumpang bernapas lega setelah hampir satu hari full mereka berada di atas awan.


Duta dan Yumna sudah berada di lobby dan menunggu jemputan dari supir Om Wisnu. Mulai hari ini, Duta dan Yumna akan tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang nyaman dekat dengan kantor milik Om Wisnu, agar Duta lebih mudah untuk pulang pergi ke kantor dengan berjalan kaki saja.

__ADS_1


Supir Om Wisnu telah menjemput dan mengantarkan Duta serta Yumna ke rumah kontrakan. Rumah kontrakan itu sebuah paviliun kecil yang berada di lantai dua. Rumah milik pasangan Candra dan Maheswari. Keduanya tak memiliki anak dan mengadopsi anak dari saudaranya yang saat ini sedang menyelesaiakn studi di Indonesia.


Ceklek ...


Rumah kontrakan itu sudah bersih dan siap di pakai oleh pasangan muda pengantin baru itu. Walaupun di kamar itu hanay ada sebuah kasur springbed tanpa ranjang dan lemari pakaian dari bahan plastik serta dapur dengan kompor dan alat memasak seadanya.


"Kamu suka Na? Betah gak? Kalau kira -kira gak cocok, kita bisa cari tempat lain yang lebih nyaman dari ini," ucap Duta pada Yumna.


Yumna berjalan masuk ke dalam dan menatap seluruh ruangan besar itu. Hanya ada tiga ruangan saja. Ruang depan sebagai ruang tamu, ruang tengah sebagai kamar tidur dan bagian belakang untuk dapur serta ada kamar mandi mungil yang bersih dan cantik.


"Yumna suka kok. Ini tidak capek bersih -bersihnya," ucap Yumna melebarkan senyumannya lalu memeluk Duta dengan erat.


Duta membalas pelukan itu dan emngusap punggung Yumna lembut.

__ADS_1


"Beneran suka? Gak kepaksa? Ini kecil rumahnya, Na. Gak apa -apa? Kita harsu mandiri sekarang," ucap Duta pada Yumna.


__ADS_2